
Ipul keluar dari kamarnya, dia tidak mau menganggu lely yang akan istirahat. Mungkin istrinya butuh ketenangan. dan merenung sendirian.
Ipul melihat jam di ponselnya, sudah lewat jam sebelas. Dia belum masak, lebih baik pesan online saja. tapi dia ingat, dia pesan saja di rumah makan ibunya riky, kan menu favorit istrinya ada di sana. Maka dia memesannya dengan menelfon riky, untung saja riky sedang ada di warung ibunya. maka dia mau mengantar kerumah Ipul.
Setelahnya dia menelfon ayah mertua, agar kedua mertuanya datang kerumahnya. Untuk mendamaikan lely yang sedang marah.
Tapi apalah daya Ipul, ternyata kedua mertuanya sedang keluar kota untuk menghadiri undangan teman mereka, dan mungkin sampai di rumah malam.
Ipul hanya bisa pasrah, semoga lely setelah bangun nanti dia bisa di ajak bicara. Dan bisa ingat dengan dirinya.
Dia pergi kedapur, untuk memasak nasi dan membersihkan meja makan yang memang sudah bersih. Di menyusun piring dan keperluan makan siang nanti. Nanti pas makan siang tinggal mengambil nasi dan menyusun lauk yang dia pesan ke rumah makan ibunya Riky.
Tidak berapa lama Riky datang mengantar pesanan Ipul. Dan ipul membayarnya, dia mengajak riky untuk mampir sejenak, tapi riky masih ada pekerjaan mengantar pesanan di warung ibunya.
Ipul mengunci pintu pagar dan garase kembali, dan meletakan lauk pesanan tadi di meja makan dan memindahkan ke piring, lalu menutupnya dengan tudung saji. Nanti kalau mau makan tinggal mengambil nasi di mejik com.
Lalu dia pergi keatas, dan duduk saja di ruang nonton yang ada di atas dekat kamarnya. Dia ingin masuk kekamar, tapi dia was-was, kalau lely nanti marah. Dia tidak ingin di amuk oleh lely yang sedang tidak bersahabat.
Saat azan zuhur berkumandang Ipul memberanikan diri untuk masuk ke kamar. Dia ingin mengajak lely sholat zuhur.
Tok... tok.. tok... Ipul membuka pintu kamar.
"Sayang, aku masuk ya!. Kita sholat Zuhur dulu, habis itu kita makan. Aku ada memesan lauk favorit kamu di rumah makan di persimpangan depan". Ucap ipul.
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk!? mangil sayang lagi. Keluar!!". ucap Lely. Yang ternyata dia masih duduk di kasur.
"Kita sholat zuhur dulu, nanti kita makan siang di bawah. Ayo, kamu berwudhu". ucap ipul menarik lely turun dari tempat tidur.
"Kamu... jangan pegang aku!". ucap lely menepis tangan ipul.
"Ya sudah, aku berwudu duluan, habis itu kamu yang berwudhu". ucap ipul menuju kamar mandi.
"Kenapa kamu berwudhu di sini?". Tanya lely.
"Kan biasanya juga disini". Jawab ipul pada lely.
"Sekarang tidak boleh. kamu keluar dari kamarku". teriak lely pada ipul.
"Sayang.. kok kamu mengusir suami mu keluar kamar kita". Jawab ipul mendekat pada lely.
__ADS_1
"Suamiku?! aku belum menikah!. Suami dari mana datangnya?". Sewot lely.
"Sayang, kita sudah menikah, sudah lebih dua bulan. itu foto pernikahan kita". ucap ipul menunjuk foto pernikahan mereka yang di pajang di figura besar di dinding kepala tempat tidur.
Lely memutar badannya untuk melihat foto tersebut, la memandang cukup lama. Bergantian memandang foto dan ipul yang sedang berdiri di depannya.
Lely memijit kepalanya, dan menangis. Ipul panik.
"Sayang, kamu kenapa?!". ucap ipul mendekat ke lely.
Saat akan memegang lely tangannya di tepis oleh lely.
"Jangan pegang aku!". ucapnya keras.
"Ya.. ya.. tidak aku pegang. Tapi kamu tidak apa-apa kan?!". tanya ipul.
"Tidak apa-apa!". jawab lely masih menangis, tapi jawanbanya masih tegas.
"Ya sudah, aku berwudhu dulu, setelah itu kamu yang berwudhu ya?. kita sholat zuhur bersama". ucap ipul masuk ke kamar mandi.
Setelah berwudhu Ipul menyuruh Lely berwudhu. Sementara lely di kamar mandi ipul menyiapkan sajadah dan mukena Lely untuk sholat. Dan duduk di sajadahnya menunggu lely.
"Sayang. ini mukena kamu sudah abang siapkan". ucap ipul melihat lely yang sedang mencari-cari.
Lely memakai mukenanya dan ipul pun berdiri untuk melaksanakan sholat berdua dengan lely.
"Sudah siap?!" Tanya ipul.
Lely mengangguk. Dan ipul melaksanakan sholat zuhur mengimami lely. Dan lely mengikuti ipul sebagai makmumnya.
Selesai sholat ipul seperti biasa menyerahkan tangannya untuk di salami lely. lely menerima dan mencium tangan ipul dan ipul mencium kening lely. Awalnya lely menolak untuk dicium keningnya oleh ipul. Tapi di urungkanya, seperti dia sudah sering melakukannya.
Selesai sholat mereka makan siang dengan lauk yang di pesan ipul di rumah makan orang tua Riky. Seperti biasa ipul duduk berdampingan dengan lely, dan Ipul menyedokan nasi untuk lely.
"Sayang, ini ayam hijau favorit kamu, yang abang pesan di rumah makan depan perumahan. kamu ingat kan?!". ucap ipul memberikan pada piring lely.
"Dari mana kamu tahu?!". ucap lely.
"Dari yang punya rumah makan, kata mereka kamu langanan disana". jawab ipul.
__ADS_1
"Ayo makan, apa aku suapi seperti biasa". ucap ipul mau mengambil sendok yang ada di piring lely.
"Tidak usah, aku bisa sendiri". jawab lely dengan sedikit ngegas.
"Ya sudah, kamu makan yang banyak. Kamu kan baru sembuh". ucap ipul mengalah.
"Aku sehat kok, siapa yang sakit!". jawab lely sambil menyuap nasi kemulutnya.
"Istri abang, ternyata pemarah juga kamu sayang". ucap ipul tersenyum.
Dari tadi lely selalu menjawab keras dan melotot, seperti orang marah saja. Hingga Ipul sedikit kaget dengan istrinya itu.
"Istri... istri... aku mau tanya sama ayah dan ibu, apa benar kamu suamiku. atau jangan-jangan kamu mengaku-ngaku saja, jadi suamiku". Ucap lely melotot pada ipul.
"Ayah dan ibu sedang keluar kota, mungkin malam baru sampai di rumah". Jawab ipul tersenyum.
"Kenapa kamu bisa jadi suamiku?!". Tanya lely melotot pada ipul yang ada di sampingnya.
"Habiskan dulu makananya, tidak baik berbicara saat makan". Ucap ipul menambah lauk kepiring lely, yang sudah habis satu.
Lely kembali menghadap piring makannya, sambil menikmati makan siangnya dia selalu memandang ipul dengan terus melotot. Ipul selalu membalas dengan senyuman, sesekali mengusap kapala lely. Meskipun di tepis oleh lely ipul selalu mengusap kepala lely saat lely melotot padanya.
Selesai makan ipul membawa piring kotor ke tempat cuci piring, dengan sendirinya lely membawa lauk untuk di taruh di lemari makanan. Ipul melihatnya tersenyum, pasti istrinya itu mengerjakan seperti yang biasa dia lakukan selama dua bulan ini.
Lalu mendekati ipul yang sedang menyabuni piring, dan lely membantu membilasnya, dan meletakan di rak piring basah seperti biasa.
Ipul membiarkan saja, pasti dia belum ingat dengan ipul, tapi dia ingat dengan semua kebiasaannya sehari-hari.
.
.
.
.
like dan koment ya 🙏
Terima kasih sudah mampir di tulisan ottor ini 🙏🙏
__ADS_1