
Tidak terasa kehamilan lely menginjak delapan bulan. Tapi ipul masih belum bisa memakan nasi putih dan lauk. Tapi sudah bisa makan nasi goreng.
Dan tidak begitu mempengaruhi pekerjaan ipul ikut menjaga toko dan menjaga adiva. walau sering mual dan tidak mau memakan nasi.
"Ayah sudah siap belum?!". Tanya Adiva mengetuk pintu kamar mandi.
karena saat ini ipul berada di kamar mandi. Adiva sudah tiga tahun usianya sekarang.
"Sebentar sayang!". jawab ipul dari dalam kamar mandi.
"Ayah muntah lagi?!". tanya adiva.
"sedikit. mungkin masuk angin". jawab ipul keluar
"Cepat yah. nanti bunda telat!". ucap Adiva menarik tangan ipul menuruni tangga.
Lely sudah menunggu di toko. karena tadi mereka sudah kebawah akan berangkat mengantar lely kuliah, tapi ipul mual lagi.
Entah kenapa ipul tiba-tiba mual, padahal beberapa hari ini tidak mual.
"Ayo sayang!". ucap ipul membimbing istri di kanan dan putrinya adiva dikiri.
"Bang, kalau abang tidak enak badan, biar aku jalan sendiri saja". ucap lely. mengiring ipul keluar dari toko.
"Tidak apa, sekalian menemani kamu jalan pagi". jawab ipul membimbing adiva.
Semenjak kehamilan lely tujuh bulan, lely berangkat kuliah pagi memang jalan kaki. Kadabg siangnya pun juga jalan kaki.
Karena jarak toko ke kelas lely tidak sampai sepuluh menit. dan tidak menyebrang jalan.
Mereka berjalan santai saja kekampus. Banyak teman dan mahasiswa i yang kenal mereka menyapa ramah. mereka salut melihat lely yang sedang hamil besar bersemangat kuliah.
Tidak jarang juga mereka gemes melihat adiva yang ceria. juga salut melihat ipul yang siaga dan perhatian pada lely yang hamil besar.
__ADS_1
Lely kuliah hanya sampai jum'at. setiap sabtu pagi dan minggu pagi ipul juga sering mengajak lely jalan pagi ketaman, atau sekedar jalan di trotoar jalan sederetan ruko tempat tinggal mereka.
Bagaimana tidak, lely sedang hamil anak kembar. Dan saran dokter lebih banyak berjalan di pagi hari, agar bisa lancar saat malahirkan normal.
Ipul yang suami siaga jadi sering mengajak istrinya jalan pagi. Ditoko sudah diurus karyawan tetap dan ipul hanya ikut di toko setelah menemani istrinya, dan semua urusan rumah selesai, akan ikut membantu di toko setelah itu.
Adiva pun sangat senang saat diajak jalan pagi bersama. Dan saat ayahnya sibuk di toko, adiva pun betah di meja kasir belajar di buku mewarnai atau buku menulisnya.
Adivalah yang sering mengingatkan dengan bertanya kapan bundanya di jemput. Padahal hanya jalan kakibdari toko kekampus.
Tapi ipul dan Adiva menunggu saat itu. untuk sekedar jalan kaki saja.
"Sayang. Hari ini pulangnya pukul berapa?!". tanya ipul saat sampai di depan gedung fakultas istrinya.
"Lekas bang, Hanya satu kelas saja. paling setengah sebelas selesai. dan nanti kelas siang juga pukul tiga". jawab lely sambil menyalami dan mencium tangan ipul juga menciumi wajah adiva.
"Nanti Ai ikut jemput bunda ya!". ucap Adiva.
"Iya sayang". ucap lely.
"Dada bunda!". ucap Adiva.
Ipul selalu menjaga istri dan anaknya. Walaupun tidak bekerja seperti dulu, ipul sudah punya kesibukan di toko atk dan tempat fotocopy yang dibuat dan di modali oleh mertua dan abang ipul.
Dan ipul bersungguh-sunguh mengembangkan usaha toko dan fotocopynya. Toko ini adalah sumber keuangan keluarga kecilnya.
karena kata mertua dan abang ipar usaha ini adalah untuk ipul dan keluarga kecilnya. Walau lely dan adiva juga ada dapat bantuan belanja dari nenek dan orang tuannya.
Hal ini tidak membuat ipul kecil hati. Sebab kata ayah mertuanya, uang bulanan untuk lely memang bagian dari warisan dari neneknya. Orang tua ayahnya.
Nenek lely memberikan semua cucunya warisan. Setiap cucu mendapat satu petak sawah, satu kebun dan satu kontrakan. sudah atas nama lely semuanya.
Dan dari uang hasil sawah, kebun dan kontrakan itulah yang lely terima setiap bulan. Juga untuk Abang zul.
__ADS_1
.
"Bang, Ayah mengusulkan kalau aku melahirkan di kota kampung kita saja. karena keluarga besar di sana semua.
Tapi kata bang zul, lebih baik disini saja. Kapan lagi kita kumpul disini semua, usul bang zul.
menurut abang bagaimana?!". tanya lely saat mereka akan tidur.
Usia kandungan lely sudah hampir hpl nya. dua minggu lagi perkiraan lahiran.
"Senyaman kamu saja sayang. Menurut abang usulan ayah ada baiknya. Tapi usulan bang zul ada baiknya juga. karena kamu kan sedang ujian, mana sempat cuti". ucap ipul.
"Iya, kalau tidak ikut ujian bisa ketinggalan satu semester nanti!". jawab lely.
"Jadi menurut abang, sekarang kamu fikirkan ujian dulu sayang. Dimana lahirannya nanti itu yang terbaik". jawab ipul memeluk istrinya.
"Iya bang!". jawab lely membalas pelukan suaminya.
Mereka saling berhadapan, karena perut buncit lely mengharuskan tidur miring.
Ipul mengelus perut buncit istrinya itu, dan...
"Hai sayang ayah berdua. Tidak sabar ya vertemu dengan ayah!". ucap ipul.
Dia tersenyum mengelus perut istrinya yang menyembul. karena kedua bayinya yabg masih dalam perut bergerak ingin menyapa ayahnya.
"Haha.. ha.. sabar sayang. menurut dokter kalian bisa bertemubayah dan bunda dua minggu lagi. Kakak kalian juga tiddk sabar menunggu kalian!". ucap ipul.
Ipul memang sering mengajak bayi dalan kandungan istrinya berbicara dan bercerita. Juga setiap mau tidur ipul mengaji dan membaca ayat pendek dan asmaul husna menjelang tidur, sambil mengelus perut istrinya.
Hal ini karena pengalaman dulu, saat istrinya hamil Adiva. .
.
__ADS_1
.