Istriku Lely

Istriku Lely
Awas Kedengaran


__ADS_3

"Sayang, kamu mengantuk tidak?!". tanya ipul pada lely.


"Belum bang. Kenapa?!" tanya lely.


"Kita ngobrol diwarung yuk". ajak ipul.karena ipul belum mengantuk.


"Ayo..". Lely setuju.


Mereka berjalan ke warung, dan ipul duduk di meja biasa pelangan sarapan pagi. Ipul mengambil cemilan, ada kacang biskuit dan kerupuk.


Dia membawa kemeja tempat duduk dimana lely duduk.


Ipul mengajak fauzi duduk disana, mereka mengobrol tentang kegiatan kuliah fauzi. Fauzi kuliah di universitas di kota ini, dan mengambil jurusan tata boga.


Fauzi memang suka masak, karena itu dia mengambil jurusan tataboga. Dia ingin punya cafe atau restoran, itu yang dia bilang waktu mengambil jurusan itu.


Sesekali Fauzi melayani pembeli yang datang berbelanja, ada saja yang dibeli. seperti mi instan, telur, sabun sampo, gula kopi, pembalut dan banyak lagi yang belanja kebutuhan yang diperlukan malam ini ataupun untuk pagi.


Meskipun rumah ibu ipul berada agak di pinggir kota, tapi disekitar terdapat dua buah universitas besar. ada universitas yayasan tapi cukup besar dan terkenal di kota kecil ini.


Ada kampus kesehatan yayasan nama pahlawan nasional, dan juga kampus pertanian cabang universitas negri yang pusatnya berada di ibukota provinsi.


Bahkan ada beberapa lembaga pendidikan swasta disekitar kecamatan tempat tinggal ibu ipul ini.


Makanya banyak rumah kontrakan dan tempat kos disekitar sini. Sehingga warung ibu ipul salah satu warung yang sering dikunjungi oleh anak kos atau keluarga yang mengontrak. meskipun ada juga warung yang lain sekitar sini.


Ternyata Fauzi tidak kaku seperti lely bertemu tadi sore. ternyata dia suka bercerita. Jadi memang benar perkataan ipul tadi, bahwa Fauzi menjaga pandangannya tadi pada lely.


Karena lely masih memakai pakaian yang tidak boleh dilihat oleh yang bukan muhrimnya.


"Abang belum memasukan motor?! biar aku bantu ya!. Aku mau memasukan motor bang fauzi". ucap Sani yang tiba-tiba datang kewarung melalui pintu depan.


"Oh iya, belum masuk motornya, kunci motor abang digantung dekat konsen pintu kamar abang". jawab ipul, dan memberi tahu letak kinci motornya.


"Baik bang". ucap Sani menuju pintu pagar dan mengunci pagar itu.


Lalu dia memasukan motor abangnya Fauzi terlebih dahulu kedalam rumah. Tidak berapa lama dia keluar dan memasukan motor ipul.


Dan Sani masuk warung melalui pintu yang berada di dalam rumah, ternyata dia sudah mengunci pintu depan setelah memasukan motor abangnya.


"Apa kita tutup warungnya bang?". tanya sani.


"Boleh, sudah hampir jam sembilan". jawab Fauzi.


Sani mengambil sapu, dan menyapu lantai warung. ipul membantu menata kursi dan menutup roling yang di samping.


Lely yang tidak tahu mengerjakan apa, dia duduk saja dekat etalase yang ada kursi putarnya.

__ADS_1


Fauzi memeriksa kompor dan masakan sarapan pagi ibu, apakah sudah tertutup atau belum. lalu mengambil kantong sampah yang berada dekat etalase dapur yang sudah penuh. Dan dia membawanya keluar. tidak berapa lama dia kembali.


Sani menyapu debu lantai sampai roling depan dekat pagar, karena hanya debu makanya sani mengumpulkan saja di tepi beton pagar. Pagi saat ibu membuka warung, warung sudah bersih.


kemudian Fauzi dan ipul menutup dan mengunci roling warung setelah Sani masuk kedalam warung. Dan mereka masuk kedalam rumah setelah mematikan lampu warung.


sunguh kerja sama yang solid. padahal sendiri bisa saja di kerjakan. tapi karena mereka sudah terbiasa saling bantu, maka mereka mengerjakan bersama-sama.


Sesampai di dalam rumah, sani mematikan lampu depan.


Ipul menyuruh lely untuk berwudhu, karena mereka belum sholat isya. Ipul mengambil teko dan sebuah gelas, dan meletakannya di kamar.


Begitu juga dengan Fauzi dan sani, mereka membawa air minum degan gelas yang berukuran besar. Mereka sudah biasa membawa minum kekamar, karena sering haus tengah malam.


Setelah sholat isya, ipul dan lely tidur saling berpelukan. Karena tempat tidur ipul ukurannya kecil, ukuran singel.


Lampu kamarpun sudah diganti dengan lampu kecil yang tergantung di sudut ruangan, dekat meja yang munkin dulu meja belajar ipul.


Lely tidur telentang, dan ipul miring memeluk lely. Saat memeluk lely tangan ipul tanpa sengaja memegang pa***** lely. ipul sedikit kaget, karena merasa tidak ada penghalang dari balik baju.


"Sayang.. kamu...".


"Tidak pakai dalaman bang, yang dibawah juga tidak". ucap lely memotong ucapan ipul.


"Hah..".


"Oo... baguslah, tidak butuh proses lama kalau lagi mau". ucap ipul menyusupkan tangannya kedalam baju lely, dan langsung meremas sesuatu yang ipul mulai sukai.


"Ssshh .. abang...". ucap lely.


Ipul malah membungkam mulut lely dengan mulutnya. Lama ipul ********** dengan pelan dan mulai mendamba.


Entah kapan terjadi, ternyata ipul sudah berada diatas tubuh lely. mulut ipul tidak berhenti *******, dan tangan ipulpun mulai nakal.


Dengan sangat pelan ipul mengerakan tangannya melepaskan tangan lely dari lengan bajunya. hingga ipul mengeluarkan baju lely melalui lehernya.


Dan... tubuh polos lely terpampang di remangnya kamar. ipul berinisiatif membuka sendiri bajunya, hingga tubuh atas mereka sama-sama polos.


ipul menjelajahi tubuh bagian depan deli dengan lidah dan mulutnya. Dan meninggalkan beberapa jejak bekas gigitan nakal ipul. Bahkan gigitan itu juga berada di paha dan betis lely. Ipul yang nakal, menjelajahi setiap inci tubuh yang halal dia nikmati.


Ipul yang akan menyicil malam ini, tidak mengalami kesulitan. meskipun tempat tidur kecil, tapi ipul bersemangat untuk menyicil.


Saat penyatuan mereka berhasil, mereka memulai dengan gerakan lembut dan meresapi. saling meraba dan saling mengecup.


Gerakan mereka yang awalnya santai dan berirama slow. beberapa menit kemudian.


tuk...tuk... tuk... tuk.. tuk...

__ADS_1


krit... krit.. krit.. krit....


tuk... tuk... tuk...


krit... krit... krit...


"Abang....". tiba- tiba lely menahan pinggul ipul yang bergerak cepat. dengan kakinya agar berhenti bergerak.


"Ada apa?!". tanya ipul yang sedang on menahan deruan nafasnya.


"Tempat tidurnya berderit, dan berbunyi membentur dinding seperti orang mengetuk pintu". juga menahan deruan nafasnya.


Ipul melihat kearah kepala tempat tidurnya. dan mengerakkan pingulnya dua kali.


tuk... tuk...


kriit.. krit...


Ipul tersenyum, ternyata setiap ayunan ipul menyicil diiringi irama benturan kepala tempat tidur dengan dinding dan irama deritan dipan.


tuk...tuk...


Kriit.. kriit...


Hentaka ipul menyicil.


"Abang... awas kedengaran kesebalah... malu...". ucap lely.


tuk... tuk...


Kriit... kritt.....


"Abang... kita pindah kebawah saja". ucap lely.


tuk... tuk....


krit... kriit...


"Abang....".


"Iya sayang, kita pindah". ucap ipul dengan tidak iklas melepas penyatuan mereka. meskipun hanya beberapa saat.


Ipul bangkit melepaskan penyatuan mereka, dan menarik tubuh polos lely dari tempat tidur.


Setelah lely berdiri, ipuk mengangkat kasur singelnya itu dan meletakannya di lantai. lalu memasangka seprainya kembali. Dengan senjata ipul yang masih siap untuk bertempur.


Setelah seprainya terpasang ipul mengajak lely tidur di kasur yang terbentang di lantai dan melanjutkan cicilan ipul tanpa diiringi musik benturan tempat tidur dan dinding serta deritan dipan.

__ADS_1


Tapi irama penyatuan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata- kata, hanya merasakan goyangan yang seirama. yaitu irama kenikmatan. Erangan dan *******...


__ADS_2