Istriku Lely

Istriku Lely
Persiapan lahiran


__ADS_3

"Coba kamu telfon dokter yang biasa memeriksa kamu. mana tahu masih ada dirumah sakit". usul ipul.


"Baik bang". ucap Lely.


Sementara lely menelfon dokter yang memeriksa nya. ipul juga menelfon temannya di bengkel.


Mengatakan tidak akan masuk setelah makan siang ini.


"Bang, aku tidak balik kebengkel ya. karena menemani istriku periksa. katanya pinggangnya sudah mulai sakit. izinkan pada bis ya". ucap ipul pada rekan kerjanya.


"Baik pul. semoga kami segera dapat kabar gembira". ucap teman ipul.


"Do'a kan ya bang".


Lalu mereka menuju ruang praktek dokter yang berada di rumah sakit ini. Lely langsung saja masuk.


Karena sudah di tunggu perawat, yang sudah dapat pesan dari dokter yang sedang praktek. Ipul mengiringi kedalam.


"Kamu tidur sebentar, biar di periksa". ucap dokter wanita itu.


Lalu perut lely di periksa detak janting bayi. dan juga di usg.


"Kamu sudah ada tanda belum?". tanya dokter.


"Tadi saat sholat zuhur sih tidak dok". jawab lely jujur.


"Boleh aku lihat ya?". ucap dokter itu menunjuk bagian bawah lely.


"Boleh dok". ucap lely tanpa sungkan.


Karena memang harus diperiksa.


"Wah, sudah ada tanda nih. pantas sakitnya sudah mulai merayu-rayu si bumil!!". ucap sang dokter. saat menyingkap cd lely.


"Nanti kamu periksa di ruang bersalin saja, untuk melihat pembukaan jalan lahir.


Sus.. buat surat rawat ya buat dokter lely. biar diperiksa di ruang bersalin". ucap dokter itu.


"Baik dok". jawabnya.


"Kamu masih bisa jalan kan?!. sebaiknya kamu banyak jalan. tapi pelan saja


Kamu datang saja keruang bersalin. nanti aku telfon yang jaga disana. Habis praktek ini aku susul kesana". ucap dokter itu.


"Baik dok. terima kasih". ucap lely dan ipul.


Mereka berjalan santai saja ke ruang bersalin sambil mengobrol. Ipul membimbing istrinya berjalan.


"Abang telfon ibu ya". ucap ipul.


"Iya bang. tapi aku periksa dulu bang. baru kabari ibu dan semua". ucap lely.


Sampai di ruang bersalin lely menemui dokter jaga disana. Ternyata dia sudah di tunggu dokter dan beberapa perawat.


Lely langsung di periksa dokter disana.


"Semangat dokter lely. ini sudah bukaan empat". ucap dokter itu.


"Sebaiknya langsung ambil kamar rawat ya dok. biar bisa istirahat sambil menunggu". ucap dokter itu.

__ADS_1


"Baik dok". jawab lely.


"Kamu masih jam dinas?!". tanya dokter itu lagi.


"Masih dok. tadi masuk pagi". jawab lely.


"Kamu masih bisa jalan-jalan sambil jaga nampaknya. satu jam lagi habis jam dinasnya". ucap dokter itu.


"Kamu lapor saja sama piket kamar kalau kamu mau ambil kamar rawat. biar disuapkan perawat". tambah dokter itu.


"Baik dok". ucap lely.


Lely dan ipul pergi keruang rawat ibu dan anak. Ternyata perawat di sana juga sudah tahu kalau lely akan melahirkan.


Dan kamar rawat yang akan lely tempati juga sudah di siapkan. kamar yang dekat dengan ruang istirahat dokter dan perawat.


ipul dan lely disuruh perawat masuk kekamar rawat.


Lalu ipul menelfon ibu dan mertuanya. Mengatakan keadaan istrinya yang akan melahirkan.


Dan ipul berpesan, supaya tidak buru-buru. karena lely masih bukaan empat.


Menurut dokter jaga tadi kalau tidak ada halangan, akan lahir menjelang tengah malam. Sekarang baru pukul dua siang.


Mertua dan ibu ipul bilang akan kerumah sakit selesai sholat ashar saja. mereka akan memasak terlebih dahulu untuk lely makan.


Para ibu sangat memperhatikan makanan buat bumil. katanya biar ada tenaga untuk lahiran.


Ipul dan lely hanya mendengar, yang terbaik menurut ibu dan mertuanya saja.


Tidak betah tiduran. karena sakit pinggang dan perut lely sudah mulai terasa. lely pun berjalan-jalan di lorong ruang rawat inap. Dia sudah membuka seragam dokternya.


"Masih. abang ambil ya, kamu tunggu saja di kamar, atau ruang dokter jaga". usul ipul.


"Aku mau jalan ikut abang. sekalian belanja cemilan". ucap lely.


"Hati-hati jalannya. pelan saja ya". ucap ipul.


Ipul sebenarnya deg-deg an, melihat istrinya sering meringgis menggosok pingangnya. Tapi dia tidak mau menampakkannya.


Ipul membimbing istrinya menuju mini market dekat parkiran. lely membeli beberapa cemilan dan roti. juga minuman mineral.


"Banyak sekali sayang". ucap ipul melihat istrinya memasukan beberapa makanan kekeranjang yang ipul bawa.


"Buat abang ronda. kan menurut dokter tadi prediksi lahirnya menhelang tangah malam.


Jadi harus sediakan cemilan buat abang roda nanti, biar tidak tegang, cemas, dan panik". ucap lely santai.


Ipul tersenyum, ternyata istrinya tahu, kalau ipul akan cemas dan tegang. saat inipun dua sudah mulai merasakannya.


"hmm.. kopi gula sekalian ya sayang". ucap ipul nyengir.


"Iya.. ada lagi bang?!".


"Itu saja dulu. nanti ibu juga banyak bawa bekal ronda". ucap ipul.


Selesai berbelanja mereka mengambil perlengkapan untuk bayi di atas mobil. juga ada guling bumil yang selalu ada dimobil.


Karena sering dibawa untuk pindah tidur, dari rumah ibu dan rumah mereka.

__ADS_1


"Sudah mau lahiran dokter?!". ucap satpam rumah sakit, saat mereka melewati pagar tempat satpam berjaga.


"Inshaaalh pak". ucap lely.


"Semoga lancar ya dok". balasnya.


"Aamiin.. terima kasih pak". jawab lely.


Sebelum masuk kamar, lely mengambil absen pegawai di dekat lobby. karena sekarang sudah pukul tiga lewat sedikit. sudah habis jadwal dinasnya.


Ipul yang dari tadi menemani istrinya jalan. Istirahat sejenak setelah sholat ashar.


Ipul merebahkan tubuhnya di kasur untuk yang menunggu pasien. karena lely menempati kamar vip.


Sedangkan lely duduk di pinggir dipan yang ipul tiduri.


Ipul mengosok-gosok pingang lely. sesekali mengusap perut buncit istrinya.


"Anak ayah sehat-sehat ya. Ayah tidak sabar menunggu kamu". ucap ipul mengusap perut istrinya, dan sesekali mengecupnya.


"Abang istirahat saja sebentar. nanti, tidak akan sempat untuk tidur atau tiduran". ucap lely.


"Kamu rebahan dulu, sebentar lagi abang temani jalan lagi". ucap ipul menyuruh istrinya rebahan.


Lely tidur miring membelakangi suaminya, menghadap dinding. memeluk guling bumil yang dibawa tadi.


Dan ipul di belakang istrinya di pinggir tempar tidur sambil terus mengusap perut dan punggung istrinya bergantian.


Ipul mendengar dengkuran halus istrinya, lalu Ipul menyelimuti kaki istrinya, agar tidak dingin. walau istrinya masih pakai kaus kaki.


Terlihat beberapa kali istrinya mengeliat, mungkin sedang kontraksi. ipul terus mengusap pinggang dan punggung istrinya, agar istrinya tetap tertidur sebentar.


Menjelang pukul lima ibu dan ayah datang ke rumah sakit. membawa keranjang sesang. yang pasti itu makanan.


Saat masuk kamar mereka pelan berjalan, karena tahu menantunya tertidur.


Mereka tidak banyak bicara, hanya duduk sambil menunggu. Ipul duduk di tepi ranjang masih terus mengusap pinggang lely.


Tidak lama kemudian Ayah dan ibu lely juga datang, juga membawa tentengan besar. dipastikan juga membawa makanan.


"Apa sudah lama istrimu tidur?!". tanya ayah mertua.


"Baru yah, paling lama sepuluh menit". jawab ipul.


"Apa sudah periksa, sudah bukaan berapa?!". tanya ibu mertua.


"Tadi pukul dua kata dokter baru bukaan empat. dan menurut perkiraan dokter tadi, bisa jadi lahirnya menjelang tengah malam.


Katanya anak pertama agak lama". jawab ipul.


"Bisa jadi menjelang subuh. dulu ibu waktu melahirkan anak pertama malah satu hari lebih". jawab ibu mertua.


"Iya, ibu masuk rumah sakit subuh, dan abang zul lahir tengah malam". jelas ayah mertua.


"Wah beda ya dengan aku, ipul malah tidak sabar untuk keluar. sakitnya menjelang subuh. eh jam setengah tujuh pagi sudah lahir". ucap ibu ipul tertawa.


"Ipul ingin selalu cepat. gesit dan lincah kalau dia". ucap ayah ipul.


Membuat mereka tertawa.

__ADS_1


__ADS_2