
Saat Roy dan Pak Yoshua tengah memperdebatkan masalah Yoshua yang gagal mendapatkan tanda tangan dari sekretaris Cillo, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menginjak ranting di tempat itu.
Yoshua maupun Roy langsung menoleh kearah suara dengan pikiran yang penuh tanda tanya menebak siapa dan apa yang bersuara tadi.
''Siapa di sana?'' teriak Roy
''Keluar kau, siapa kau?'' ucap Roy kembali
''Siapa kamu?'' kini giliran Yoshua yang memanggil namun tidak terdengar suara yang menjawab tapi rupanya Roy tak tinggal diam pria itu pun berjalan mendekati arah suara tadi di ikuti Yoshua.
Sementara itu asal suara ranting yang terinjak tadi itu rupanya ulah Andinie yang memang sedari tadi menyaksikan perdebatan dan obrolan antara Yoshua dengan Roy, namun sayangnya Andinie tak sengaja ia malah menginjak ranting kecil yang sudah kering sehingga itu menimbulkan suara.
Oh Tuhan, tolonglah aku. batin Andinie.
''Kau!''
''Andinie!''
Dan kini Andinie sudah di ketahui keberadaannya oleh dua pria itu.
Mata mereka saling bertemu dengan pandangan keterkejutan dari Yoshua dan tatapan marah dari Andinie juga Roy yang kesal bisa-bisanya Andinie berada di sana juga.
''Sedang apa kau hah?''
''Jawab!''
''Saya disini karena curiga pada Anda Pak Yoshua, dan ternyata dugaan saya ini benar Anda tega sekali pada Pak Cillo.'' pekik Andinie
''Saya sudah tahu semuanya, sungguh tidak tahu malu sekali Anda Pak, tega ya mengkhianati Pak Cillo.'' lanjut wanita itu
''Ini bukan urusan mu, jangan ikut campur!'' balas Yoshua
''Oh tentu ini juga menjadi urusan saya, karena Pak Cillo itu Bos saya.'' ujar Andinie
''Dan untuk Anda, apa motif Anda berbuat hal ini kepada Bos saya hah? Bukankah sudah tidak ada kerja sama lagi Pak Cillo dengan Anda? Lalu untuk apa melakukan seperti ini?'' kini Andinie meminta jawaban Roy
''Bagus lah kalau kau sudah tahu, tapi sebaiknya kau pulang dan tidur saja jangan ikut campur wanita! Ini urusan ku dengan si Cillo.'' sahut Roy tidak mengatakan juga apa tujuannya.
''Saya tidak akan membiarkan kalian menghancurkan perusahaan ataupun Pak Cillo.''
''Banyak omong sekali kau!'' tiba-tiba Roy mengambil sesuatu di celana nya dan langsung mengarahkan senjatanya pada Andinie.
Andinie jelaas terkejut dia langsung membuka mata lebar juga bibirnya terbuka dia tak menyangka pria ini sangat berbahaya.
''Wanita seperti mu tidak pantas hidup, terlalu banyak ikut campur dan kau harus secepatnya pergi dari dunia ini, kau harus mati!'' pekik Roy kemudian dia semakin mengarahkan pistol tersebut di depan wajah Andinie yang mulai berkeringat ketakutan.
''J-jangan ... T-tidak!'' Andinie terbata
''Rasakan ini!''
Dorr
__ADS_1
Dorr
''Aahhhk!''
''Ya Tuhan.''
''Pak Cillo!''
''Bangun pak! Bangun!''
''Tolong ...''
''Siapa pun tolong!''
''Pak Cillo ayo bangun Pak!'' Andinie mencoba menyadarkan Cillo , membangunkan pria itu.
''A-andinie k-kau ti- tidak a-apa apa k-kan?'' suara Cillo begitu rendah dan mulai melemah
''Pak, kenapa Anda melakukan ini? Kenapa menyelamatkan saya, anda terluka.'' ucap Andinie ia menangis histeris.
''T-terima kasih D-dinie.'' Cillo jatuh pingsan.
Saat Roy juga Yoshua akan kabur namun itu tidak terjadi sebab saat itu juga datang lah polisi yang sebelumnya sudah Cillo hubungi untuk datang ke tempat itu.
''Berhenti disana!''
''Kalian sudah kami kepung!''
''Tidak lepaskan!'' teriak Roy
''Lepaskan, saya gak bersalah.'' ucap Yoshua
''Ayo cepat ikut kami ke kantor polisi, kalian harus di berikan hukuman.'' dengan menembak salah satu kali Roy yang berniat kabur, anggota polisi pun membawa Roy dan Yoshua ke kantor polisi untuk menjalankan hukumannya.
''Maaf kan kami yang terlambat datang.'' ucap kepala polisi Kepada Andinie
''Pak tolong saya, cepat bawa Bos saya ke rumah sakit Pak, dia terluka parah hikss.'' mohon Andinie
''Ok mbak, ayo saya bantu.''
**
Sementara itu di Bandara, saat ini keluarga Cillo telah sampai di Bandara dan tengan menunggu kedatangan Cillo yang katanya sedang di perjalanan untuk menjemput mereka ke rumah.
Tapi nyatanya sudah berjam-jam justru Cillo tidak juga sampai ke Bandara itu, sehingga ini membuat Nayna merasa khawatir pada Cillo ia takut terjadi sesuatu pada anaknya yang tak ada kabar lagi.
''Sebenarnya kemana anak itu? Kenapa senang sekali membuat orang itu khawatir.'' ucap Bima sudah marah-marah sedari tadi.
''Astaga Cillo, kau membuatku ingin menghajar mu rasanya.''
''Cilla, ayo telpon lagi Abang mu, tanyakan dimana dia!'' Bima sudah seperti orang kerasukan antara marah dan cemas.
__ADS_1
''Baik Yah.'' Cilla kembali mencoba menghubungi nomor Cillo.
''Yah sabar, tenang dulu.'' Nayna sebisa mungkin menenangkan Bima walaupun dia sendiri juga sama cemas nya.
Tut
Tut
''Eh , ini ponselnya Pak Cillo bunyi.''
''Oh Nona Cilla yang menelpon, aduh bagaimana ini? Aku harus jawab apa?'' Andinie panik sendiri
Namun karena ponselnya terus berdering maka dengan terpaksa Andinie pun menjawab karena dia yakin kalau tidak juga di angkat akan Terus berdering.
[H-halo!]
[Halo Bang, kamu dimana sih?]
[Eh tunggu, halo ... halo ... Ini siapa? Mana Abang saya?]
[Ya Nona, ini saya Andinie sekertaris nya Pak Cillo,]
[Loh Andinie, ini kamu. Kenapa bisa Ponsel Abang sama kamu? Apa kalian datang kesini bareng?] pertanyaan beruntun terdengar dari Cilla.
[Bukan Nona, ta-tapi ini Pak Cillo.] Andinie kesusahan mengatakan yang sebenarnya.
[Ada apa? Katakan!]
[Nona, sebenarnya Pak Cillo sedang berada di rumah sakit.]
[Apa? Bagaimana bisa?] pekik Cilla membuat semuanya khawatir.
Kemudian Andinie pun mengatakan semuanya yang terjadi dari awal di kantor hingga kejadian hari ini.
''Kurang ajar sekali, berani-beraninya ada orang yang melakukan ini kepada putra ku, belum tahu saja siapa aku ini.''
''Dan ini semua salah wanita itu, untuk apa datang ke tempat seperti itu benar-benar bo-doh.'' Bima langsung marah begitu mendengar penjelasan dari Cilla.
''Ayah jangan marah-marah terus Yah, ingat kondisi Ayah.''
''Bagaimana tidak marah, jelaas ini salah nya wanita itu memang tidak becus sekali dia dalam bekerja, dan sekarang dia membuat anak kita yang terluka, Ayah akan memecatnya.'' pekik Bima kesal karena ini kejadian bermula dari Andinie, begitu pikir Bima.
''Ayah disini Andinie tidak bersalah, justru dia ingin menunjukkan kebenaran--''
''Kebenaran Apa Cilla, yang ada Abang mu sekarang ini terluka parah dan jadi korban.''
''Sebaiknya Sekarang kita berdoa dari pada saling menyalahkan.'' ucap Amira menyela pembicaraan.
''Yang di katakan Amira benar Ayah, itu yang harus kita lakukan sekarang.''
''Kau benar Nak.'' akhirnya Bima mencoba tenang dan mereka langsung menuju rumah sakit saat itu juga.
__ADS_1