
''Bunda, Nenek.'' ucap Cillo menangis melihat sang Nenek
''Bunda , Ayah.'' juga ucap Cilla melihat pada Bima
''Nak, sudah ya.'' kata Nayna.
''Bim lepaskan Mama, biar Mama mengejarnya dulu.'' pinta Mama menyentak tangan Bima yang sedari tadi menghalangi Mama akan menahan Nayna.
''Ma.'' panggil Bima ikut mengejar Mama yang sedang mengejar kepergian Nayna.
''Nayna, tunggu sebentar Nay !'' Mama pun berlari dan dapat mengejar Nayna.
''Ma, kenapa mengejar Nay lagi.'' ujar Nayna
''Kamu tidak boleh pergi Nayna, dan kau akan membawa mereka kemana? Ini sudah malam Nay. Tolong maafkan kata-kata Bima tadi, dia tak bermaksud seperti itu padamu Nay.'' ucap Mama niat menahan Nayna agar tak pergi.
''Ma, Nay tahu dan Nay mengerti. Ya mungkin Bima tak ada maksud apa-apa. Hanya di sini Nay yang ingin pergi ma.''
''Apa maksudmu ? Kau tega akan meninggalkan Mama ?'' tanya Mama sedikit marah.
''Bukan seperti itu ma, sumpah. Nay tak ada maksud kaya gitu, gak mungkin Nay bisa seperti itu pada Mama gak mungkin. Cuma keadaan lah yang memang harus nya seperti ini. Ma tolong, kali ini biarkan Nay pergi ya, benar kata Bima bila Mama masih kukuh menginginkan Nay untuk tinggal maka Mama sangat tak adil bagi Bima.''
__ADS_1
''Tapi Nay--''
''Ma, tolong ya. Ini demi Bima ma, Nay mohon ya ma. Kali ini saja berikan Nay waktu untuk menenangkan diri. '' mohon Nayna
''Lalu kamu mau pergi kemana ? Bisa besok lagi kan?'' ucap Mama khawatir
Nayna tersenyum, ''Nay sudah memiliki tempat kok ma. Tenang lah ya ma.'' Ucap Nayna
''Apa maksudnya sudah punya tempat ? Apa memang ini rencana mu yang niat akan meninggalkan Mama Nay ?'' Mama sedih bila benar Nayna memang ingin meninggalkan Mama.
Nayna cepat menggeleng, ''Tidak ma. Bukan gitu maksudnya Nayna, gak mungkin Nay mampu meninggalkan Mama tidak ma.''
''Ya lalu gimana Nay ?''
''Tapi kan Nay, kamu dan Bima tak melakukan apapun di rumah, toh kita kan ini keluarga.'' ucap Mama
''Iya Mama benar, memang kami tak melakukan hal yang melanggar, namun ma. Kita tak tahu bagaimana dengan tanggapan orang.'' ucap Nayna
''Nay jangan pikirkan omongan orang.'' kata Mama
''Tidak bisa seperti itu ma, karena kita ini akan hidup dimana ada tetangga. Dan Nay tak sanggup bila mendengar tuduhan seperti itu, ma tolong !'' kembali mohon Nayna.
__ADS_1
''Baiklah, tapi Mama ingin memeluk dulu Cilla juga Cillo.'' ingin Mama
Nayna pun mengangguk, ''Abang, adek. Baik-baik lah ya sayang nanti di sana, jangan lupa jaga bunda mu. Jangan bandel, dan selalu ingat ya pada Nenek, hiksss Nenek menyayangi kalian, maafkan nenek Abang Cillo adek Cilla, nenek tak mampu menahan lagi kepergian kalian, tapi percayalah sayang Nenek begitu sayang kalian. Nenek tak ingin kita berpisah.'' dalam tangisnya Mama memeluk serta mengucapkan beberapa kata untuk sang cucu.
Sementara Cillo juga Cilla mereka hanya diam karena belum mengerti apa-apa.
''Ma, maafkan Nay ma. Sehat-sehat lah di rumah ya ma, jangan cemaskan Nay dan anak-anak. Insyaallah nanti kami berkunjung, ma. Nay sangat sayang mama.'' ucap Nayna kini memeluk tubuh yang sudah ia anggap ibu kandung nya itu.
''Baiklah, walaupun Mama tak yakin setelah ini Mama bisa hidup tanpa kalian.'' ucap Mama lirih.
''Ma, tolong jangan bicara seperti itu.'' pinta Nayna menggeleng. Kemudian dua perempuan itu pun menangis dengan saling berpelukan.
''Nay bawa lah ini.'' tiba-tiba Mama memberikan kalung nya untuk Nayna bawa pergi.
''Tidak ma, Nay gak Bisa.''
'''Ssttt Nay, untuk kali ini menurut lah jangan menolak, ini semua untuk kalian untuk Cillo Cilla. Ayo ambil, jangan menolak ini.'' tegas Mama
''Ma, hiksss ... Terimakasih ma, dan maaf.''
''Ya, baik-baik lah jangan lupa selalu kabarin Mama.''
__ADS_1
''Hm ma, baik. Nay pergi ma.''
''Nay, hikssss ... Hati-hati Nayna, Cillo. Cilla.'' Mama menahan sesak di dadanya menatap kepergian Nayna serta Cucunya.