
''Welcome ... '' si kembar sudah menunggu kedatangan Bima ke rumah. Pada saat Bima datang mereka langsung menyambut kedatangan sang paman dengan suka cita.
''Ya Tuhan, Cilla Cillo.'' Bima terkejut dan tentu senang, di buatnya ini surprise yang indah dan cukup menghalau rasa sesak dalam diri Bima.
''Ayah ... ''
''Pama, ayo masuk paman.'' ajak Cillo dengan heboh
Tumben nih anak heboh sekali, biasanya cuma acuh. batin Bima
Nayna mendorong Bima untuk ke tengah.
''Ayah, gendong.'' pinta Cilla belum mengerti keadaan Bima, padahal sebelumnya nenek nya sudah mengatakan kalau sang paman tengah sakit di kaki nya. Tapi menurut Cilla tangan Bima kan tidak ikut sakit.
''Dek, paman mu lagi sakit. Nanti dulu ya di gendong nya.'' Nayna menjelaskan dengan membujuk sang anak.
Cilla mengerucut bibir mungkin marah , tapi terlihat lucu.
''Sayang, jangan marah gitu dong nanti Paman gendong setelah sembuh ya, sekarang doa kan paman ok.'' ujar Bima
''Ciapa paman? Ayah!'' Cilla menegaskan
''Em iya, ayah.''
''Dek, ayah sudah pelgi.'' sahut Cillo menampilkan wajah murung
''Tidak, ayah dak pelgi Abang. Ini, ayah.'' Cilla memeluk tangan Bima
''Tapi Dek, ini kan paman.'' kembali ucap Cillo
''Paman ciapa bang? Ini ayah, ayah Cilla bang.'' semakin menempel pada Bima
''Nek ... '' Cillo meminta kejelasan
Semua langsung diam, bila sudah membahas hal ini. Sebab bagaimanapun mereka menjelaskan, Cilla dan Cillo masih kecil tidak akan mengerti hanya dengan menjelaskan, ditambah Cilla yang selalu kukuh menganggap Bima ayahnya.
''Eh bang, adek, ini Bunda bawa sesuatu kalian mau lihat gak?'' Nayna sengaja mengalihkan perhatian mereka dengan memberikan paper bag yang ia bawa, berisi coklat kesukaan keduanya.
''Mau bunda.''
''Adek mu, Bun.''
''Bi, tolong bawa anak-anak.''
''Iya nona.'' si kembar pun bermain dengan bibi Tia.
Mama mendekati Bima, dari sejak Bima di rawat ini untuk yang kedua kalinya bertemu dengan Mama Ayyu, dan Bima belum menceritakan tentang dirinya yang batal menikah. Walaupun Bima tahu Mama nya sudah mengetahui tentang pernikahan nya yang batal ini.
''Bim.'' Mama langsung mendekap Bima anak nya, tentu Mama ikut sakit hati dengan perlakuan Calista pada Bima.
''Ma, dia sudah menghina ku, ma.'' ucap Bima dalam pelukannya sang Mama
''Sudah sayang, jangan lah di pikirkan ya. Sekarang fokus lah pada kesembuhan mu. Tunjukkan pada mereka kau ini pria yang hebat, kau bisa hidup walaupun tanpa dia!'' Mama menasehati dan menyemangati Bima.
''Baik ma, ta-tapi ma aku, aku sudah gak bisa berjalan lagi.'' Bima kini dia sulit menerima sebab dia tidak bisa berjalan kembali. Dan itu membuat Bima drop, rapuh.
__ADS_1
''Ssssttt, kita akan berusaha sayang. Mama akan memperjuangkan kesembuhan mu. Mama ingin kau kembali hidup dalam keceriaan sayang, percaya pada Mama ya.'' Mama menangkup wajah Bima agar anaknya melihat kesungguhan Mama Ayyu.
Bima mengangguk..
Suatu hari ...
Mereka tengah berkumpul.
''Bim.'' Mama memanggil
''Iya, ma?''
''Bim, maafkan Mama sebelumnya bila Mama mengatakan ini ...'' ucap Mama dengan sengaja menjeda ucapannya.
''Ma ada apa?'' Bima khawatir
''Bima, kami tahu kan Mama ini sudah tua, bahkan Mama kini sakit-sakitan Bim.'' Bima mengangguk
''Jadi gini Bim, Mama sakit-sakitan sementara kamu juga kini butuh perawatan iya kan Bim, maksudnya kamu butuh yang merawat Bim, Mama gak mungkin dan maafkan Mama, Mama tidak bisa ikut merawat mu Bim, maka Mama ingin katakan, Nay bagaimana kalau kamu sementara waktu merawat Bima, kamu bersedia kan Nay ?
Maafkan Mama meminta mu begini Nay, tapi jujur Mama juga tidak sanggup rawat Bima. Dan untuk mu Bim, bukan maksud Mama mengejek mu, tapi semua ini kenyataannya memang begitu.'' lanjut ucap Mama dengan serius dan meminta Nayna mengurusi Bima, juga penuh harap.
''Mama benar, Bima juga tak mau membebani Mama, Bima juga mengerti kondisi Mama. Tapi semua keputusan Bima serahkan padamu, Mbak.'' sahut Bima artinya Bima setuju dengan usul Mama.
''Apa maksudnya kamu juga meminta ku, ini Bim ?'' ucap Nayna
''Iya.'' hanya itu jawaban Bima
Aku bukan gak mau merawat nya, tapi aku suka merasa tak enak bila terlalu dekat dengan nya. Kita bukan muhrim, lalu bila sering bersentuhan rasanya tak enak. Tapi, aku kasihan juga sama Mama. Mama benar, Mama sakit gak mungkin rawat Bima. Namun bila sering berdekatan, aku agak risih sebenarnya. Walaupun niat ku untuk menolong. Nayna memikirkan hal ini dalam pikirannya.
Bismillah ...
Nayna akhirnya mengangguk, ''Baiklah ma, nay bersedia merawat Bima. Hanya untuk merawat saja kan.'' jawabnya akhirnya setuju. Semoga ini jalan yang baik yang ku pilih.
''Iya Nay, hanya merawat nya saja, memang apa lagi ?'' goda Mama.
''Hehe, iya ma.'' Nayna jadi malu.
***
Hari hari Bima, kini di habiskan dengan bersama Nayna mereka kini menjadi seperti satu paket saja, Bima jadi terbiasa dengan Nayna, bahkan saat Nayna jauh sedikit saja, ataupun Nayna pergi cukup lama, Bima akan berteriak teriak memanggil Nayna. Seperti sekarang.
Bima sedang berjemur karena sehabis mandi tadi, ah Seperti anak bayi saja kamu Bim ...
''Bim, aku ke dalam dulu ya.'' ucap Nayna
''Mau apa?'' tanya Bima seolah enggan di tinggal eh Nayna, padahal yang harus Nayna urusi ini bukan hanya Bima iya kan, Nayna masih punya dua anak lain lagi loh.
''Aku ingin memandikan dulu si kembar, takut keburu siang. Kamu tahu kan, mereka akan susah lagi bila hari sudah siang.'' jawab Nayna menjelaskan dia mau apa pada Bima.
''Oh, yasudah tapi jangan lama Mbak.'' pinta Bima
''Ya aku gak janji, takutnya mereka mandi nya lama.'' balas Nayna
''Aki gak mau tahu, pokonya cepat mbak.'' tegas Bima
__ADS_1
''Iya deh, yaudah aku masuk dulu.''
''Hm..''
Beberapa saat kemudian,
''Mbak ... Mbak, Nay ... '' suara Bima terdengar memanggil Nayna lagi, padahal ini belum lama bahkan Nayna baru saja memakai kan baju untuk si kembar.
''Duh, itu ngapain sih paman kalian, teriak-teriak kaya gitu kan Bunda, lagi urus Kalian.'' omel Nayna kini buru-buru memakai kan pakaian pada anaknya.
''Bun, Ayah napa ?'' tanya Cilla
''Iya bunda juga gak tahu kenapa sayang, paman mu menyebalkan ya.''
''Iya Bun, paman lucu, teliak-teliak.'' sahut Cillo.
Hufffttt
Mana ada lucu, menyebalkan sih iya.
*
''Mbak Nay...''
''Iya ada apa sih, kenapa berteriak begitu.''
''Kamu kenapa lama sih Mbak, aku kepanasan nih.'' Bima mengomel
''Kan aku lagi ngurusin si kembar dulu, bukannya aku dah bilang ke kamu kan.'' balas Nayna
''Iya aku tahu, tapi kamu lambat terlalu lama aku panas nih, tahu gak.'' omel Bima
''Yasudah lah, sana cari yang gesit. Bila menurut mu aku LAMBAT.'' tegas Nayna dan akan berlalu pergi
''Eh tunggu.'' Bima segera mencekal tangan Nayna hingga Nayna tidak jadi melangkah pergi.
''Kenapa lagi, apa lagi ?'' cetus Nayna
''Iya baiklah, aku minta maaf aku mengaku salah, maaf atas Ucapan ku barusan, mau kan Mbak maafkan aku.'' Bima minta maaf akhirnya mengakui dia salah
''Hm iya.'' balas Nayna
''Mbak,'' Bima semakin menarik Nayna hingga wanita itu kini menghadap Bima
''Kau boleh marah dan kesal padaku. Tapi Mbak Nay, ku mohon ... tolong untuk jangan pernah tinggalkan aku.'' pinta Bima dengan raut wajah serius
''I-iya baiklah.''
''Beneran gak akan meninggalkan aku?''
''Iya, tidak akan.''
''Terima kasih.'' Bima berucap tuulus.
Kemudian Bima tiba-tiba memanyunkan bibirnya ... Dan, ''Aww pedih.''
__ADS_1