
Andinie dan para polisi telah sampai di rumah sakit.
Segera Andinie berteriak memanggil dokter untuk menangani Cillo yang sudah tak sadarkan diri.
''Tolong ... Tolong selamatkan bos saya!'' pinta Andinie dengan setengah berlari masuk rumah sakit dan meminta pertolongan dokter.
''Apa yang terjadi dengan pria ini Nona ?'' tanya dokter tersebut
''Bos saya terkena tembakan tolong selamatkan dokter.'' beritahu Andinie
''Yaudah ayo sus bantu bawakan ke ruangan operasi langsung !'' perintah dokter tak menunggu lama.
''Baik dok.'' dengan sigap para perawat itu mendorong belangkar menuju ruangan operasi.
Kini tinggal lah Andinie duduk seorang diri menunggu hasil pemeriksaan dokter pada Cillo , dan para polisi yang ikut membawa Cillo ke rumah sakit sudah kembali pergi setelah menanyakan kejadian yang sebenarnya pada Andinie .
Lalu tak lama kemudian Seperti terdengar suara ponsel berdering di saku jas milik Cillo yang kebetulan di pegang Andinie sekarang ini.
''Ponsel nya bos berdering.'' Andinie bergumam dengan kebingungan antara menjawab atau tidak karena ini tidak sopan namun ketika di lihat siapa yang mengubungi Cillo sepertinya ini penting sebab itu dari Cilla kembaran Bos nya.
DdddzZz
Ponsel itu masih terus berdering.
''Aku angkat gak ya? Tapi sepertinya ini penting.'' akhirnya wanita itu memutuskan untuk menjawabnya.
[Halo?]
__ADS_1
[Halo Bang, kamu dimana sih ? Eeh tunggu! Kenapa jadi suara cewek? Bang halo?]
[I-iya.] balas Andinie
[Siapa kamu? Kenapa ponsel Abang saya bisa ada padamu ?] tanya Cilla
[Maaf Bu, ini saya Andinie sekerasnya bapak Cillo.]
[Andinie kamu? Lalu sekarang dimana Abang ?]
Kemudian Andinie menjelaskan semua yang terjadi lewat panggilan itu, hingga kini semua anggota keluarga Cillo menuju rumah sakit setelah mendapatkan kabar mengejutkan tentang Cillo yang tertembak.
Kembali di rumah sakit Andinie masih setia duduk menunggu hasil operasi lalu tak lama kemudian ruangan sudah terbuka dan keluarlah perawat tak membuang waktu Andinie segera berdiri dari duduknya lalu bertanya bagaimana dengan hasilnya.
''Suster gimana operasi nya, apa berjalan dengan lancar kan sus?'' tanya Andinie cemas
''Ya Tuhan ini beneran sus? T-tapi Bos saya bisa diselamatkan kan sus?'' Andinie jelas saja dia terkejut
''Kita doakan saja semoga pasien secepatnya sadar kembali.''
''Iya sus.''
''Baik lebih jelasnya nanti bisa tanyakan lagi pada dokter ya Mbak, kalau begitu saya permisi.''
''Iya sua terima kasih.''
''Sama-sama.''
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Andinie memaksa dia ingin masuk ke ruangan dimana saat ini Cillo tengah berbaring lemah.
Tak Tak.
Suara sepatu Andinie terdengar nyaring di ruangan yang sepi itu.
Perlahan wanita itu mulai mendekati Cillo yang sedang memejamkan mata seperti damai tanpa suara.
''P-pak Cillo, i-ini saya Pak.''
''Pak, tolong maafkan saya yang sudah mengubungi Anda.''
''Disini saya lah yang bersalah, seharusnya tadi itu saya gak memberitahu Anda dan pastinya kejadian ini tidak akan menimpa pada Anda, ini semua salah saya, maafkan saya hikss.'' Andinie terisak sambil menunduk dan dia benar-benar merasa bersalah juga berpikir ini semua adalah kesalahannya.
Seharusnya Andinie tak menghubungi Cillo saat itu, bila ia tahu akan terjadi seperti ini.
Andieni masih menunduk menyesal dengan tetesan air mata penyesalan dan andai tahu akan terjadi semua ini Andinie tidak akan menelpon Cillo saat itu.
''Tolong maafkan saya Pak.'' ucapnya berbicara sendiri
Brukkkk
''Cillo!'' ucap seseorang begitu masuk dengan sedikit kasar di ikuti Tiga wanita di belakangnya masuk ke ruangan Cillo berada saat ini.
Andinie cukup kaget di buatnya seorang pria baya datang secara tiba-tiba sambil terlihat marah dan Andinie mengenal siapa orang tersebut ialah Presdir di tempatnya bekerja.
Andinie sadar tatapan Presdir tertuju padanya dengan begitu tajam nan menusuk ia juga sadar kalau dirinya lah yang harus bertanggung jawab atas yang terjadi pada Cillo.
__ADS_1