
Syukurlah menjelang malam dan waktunya untuk tidur beristirahat. Ke-dua anak kembar itu tak rewel dan tak membuat Nayna merasa bersalah lagi.
Cilla dan Cillo, kini mereka sudah bobok nyenyak di rumahnya pemilik mushola tadi yang begitu baik, mau menampung Nayna serta anaknya ini di rumah mereka.
Nayna sudah berbaring di sisi sang buah hati, namun matanya belum bisa ia pejamkan. Padahal jiwa serta raganya sudah begitu lelah .
Wanita itu menatap langit-langit kamar ini, yang sebelumnya tak pernah Nayna pikirkan akan menginap di rumah orang yang tak di kenal namun sangat baik.
Nayna mengingat kembali pada kata-kata nya orang kaya tadi yang akan menjadi calon isteri Bima.
''Kenapa perempuan itu sangat tak suka dengan ku, padahal sebelumnya kami tak pernah kenal bahkan bertemu saja belum pernah. Lalu kenapa rasanya begitu benci padaku ? Apa sebenarnya salah aku. Aku tidak pernah ada niatan ingin merebut Bima ataupun seperti yang orang-orang itu sudut kan padaku, tidak.'' ucap Nayna lirih menahan sesak di dadanya.
Tak terasa air mata mengalir tanpa di minta.
''Ma, apa Mama sudah tidur ? Nayna harap Mama di berikan kesesatan ya Ma.'' ucap Nayna mengingat pada Mama mertuanya yang begitu baik.
Kemudian Nayna teringat dengan kalung pemberian Mama Ayyu, Nayna pun meraba kalung itu yang kini sedang dia pakai.
Nayna meraba kalung dengan membayangkan kehangatan Mama Ayyu yang merasa seperti ada di dalam hatinya ini.
''Ma, tolong maafkan Nay. Sebenarnya Nay gak bisa pergi meninggalkan Mama. Tapi jujur ma,Nay gak sanggup menerima cemoohan seperti itu Setiap hari. Nay begitu menyayangi Mama.'' ucap Nayna masih mendekap erat kalung pemberian Mama Ayyu.
''Bima, kamu . Kenapa kamu sangat tega Bim, Mbak tidak akan merasakan sesakit ini Bim. Bila kamu juga tak menganggap Mbak seperti yang orang-orang tuduhkan Bima, mbak pikir kamu akan selalu ada di sisi Mbak, tapi ya akhirnya kamu membuka mata Mbak dengan posisi Mbak ini yang sebenarnya Bim. Hanya aku gak nyangka kamu, hikssss kamu bisa mengatakan itu.'' tangis Nayna pun pecah.
Sudah pasti akan terasa sakit, bila di kecewakan oleh orang yang telah kita percayai.
''Semoga kau bahagia Bim, dengan kekasih mu.'' doa Nayna dan tetap mendoakan yang terbaik untuk orang yang pernah baik kepadanya dan dua anaknya. Walaupun Bima nampak kejam, tapi sebelum kejadian ini Bima sangat baik pada Nayna dan si kembar.
***
Walaupun tadi sempat ada kekacauan, tapi acara lamaran ini pun berlanjut. Dengan kondisi Mama yang nampak bersedih.
''Besan, kenapa Anda bersedih karena mantan menantu anda itu pergi. Lihatlah anak kandung Anda'' menunjuk Bima. ''Nak Bima kini dia akan menikah, maka restui lah dia.'' ucap bibi nya Calista
__ADS_1
Mama sudah sangat muak, tapi tadi Bima memohon pada Mama Ayyu agar tetap merestui dan melanjutkan pertemuan ini.
''Terserah kalian saja.'' ucap Mama singkat saat tadi ada yang meminta pendapat Mama soal tanggal pernikahan Bima dengan Calista.
''Yasudah baik tak apa, berarti semua sudah setuju kan kalau hari pernikahan Bima dengan Calista itu akan berlangsung Satu Tahun lagi.'' ucap Mami Calista pada semua yang hadir.
''Ya kami lah yang menjadi saksi dan kami merestui.'' ucap serempak mereka yang hadir.
Calista tersenyum senang, ''Honey. Akhirnya ya kita akan menikah juga ya.'' Calista bergelayut manja di lengan Bima yang kokoh ini.
Sementara itu Bima kini dia nampak diam saja, ada yang mengganggu pikirannya ini sudah larut malam. Apakah Nayna sudah sampai di tempat tujuan dan bagaimana dengan kedua ponakannya itu.
''Honey hei, lihat aku kenapa sih? Malah melamun saja , ayo kita rayakan pesta lamaran ini.'' tegur Calista ketika Bima hanya diam saja
''Baby aku lelah dan ini sudah malam.'' ucap Bima dengan tak langsung seperti menyuruh Calista pulang
''Ya baiklah, tapi besok kita bertemu lagi ok.'' pinta Calista
Sial ada apa dengan nya, kenapa dia nampak tidak semangat begitu. Padahal biasanya dia tak pernah menolak ku. Dia akan menuruti semua keinginanku. Tapi hari ini, gara-gara si janda gatel itu. Bima cuek pada ku. Awas kau wanita gatel, Pelakor. gerutu Calista dalam hati. Dan dia mengatai Nayna.
⛅⛅
Mentari sudah terbit.
Kini malam pun berganti jadi cerah, dan tak lagi gelap.
''Selamat pagi Bu.'' Nayna sudah bangun dan sambil menunggu dua anaknya bangun Nayna pun menghampiri si ibu pemilik rumah yang baik hati ini dan menyapa nya.
Beliau sedang menggoreng tempe Sepertinya karena saat Nayna datang ke dapur tercium aroma khas tempe.
''Eh pagi neng, sudah bangun ya.'' ibu itu menyahut dengan ramah.
''Iya sudah Bu, ibu sedang menggoreng tempe ya Bu, boleh aku bantu Bu.'' tawar Nayna
__ADS_1
''Ah gak usah neng kamu tunggu saja di depan.''
''Gak apa-apa Bu, aku merasa tak enak hanya diam saja boleh ya aku bantu Bu.'' kekeh Nayna
Nayna ini bukanlah wanita yang suka diam saja, justru dia senang bila melakukan aktivitas seperti beberes rumah dan juga memasak.
Bahkan kini di rumah ini, Nayna yang memasak semua hidangan hari ini. Tadi pun si ibu menolak saat Nayna akan masak, bukan apa-apa karena tak enak kalau tamu malah yang masak kan, tapi ya begitulah Nayna dia memaksa.
Kini Cillo dengan Cilla sudah bangun, mereka cekingukan menatap sekeliling ruangan yang menurut mereka ini terasa asing.
''Bunda.'' Cilla anak perempuan itu langsung menangis karena takut di tempat baru
''Eh anak anaknya Bunda sudah bangun ya.'' ujar Nayna menghampiri.
Si bayi kembar itu pun dengan kompaknya mereka langsung memeluk tubuh Nayna dan ada rasa lega karena sang ibu ada di rumah tersebut.
Begitu yang Cilla dan Cillo rasakan.
Kini setelah semua beres, Nayna sudah memandikan dua anaknya itu. Bahkan ibu ini sangat baik, tadi saat ke pasar beliau rela memberikan baju ganti untuk Cilla dan Cillo, yang memang benar Nayna tak membawa baju ganti satu helai pun.
Sebelum Nayna pergi, ibu muda dua anak itu pun lebih dulu memeluk si ibu yang baik hati ini , Sudah mau di repotkan ini.
''Bu, terima kasih banyak ya Bu. sudah mau menolong kami dan membiarkan kami tinggal di rumah ibu ini, bahkan ibu rela memberikan baju untuk Cilla dan Cillo, terima kasih banyak.'' ucap Nayna tulus.
'Ya sama-sama neng, ibu iklhas kok melakukan semua ini. Bukankah kita memang harus saling menolong sesama kan.'' ucap ibu itu juga tulus.
''Hm benar Bu, Yasudah aku pamit pergi ya Bu, terima kasih'' tak hentinya Nayna mengucapkan terima kasih banyak.
''Sama-sama, kamu hati-hati lah Nak. Anak kembar yang lucu, jaga ibumu ya Nak. baik-baik lah kalian. Nenek doakan keselamatan Kalian.'' walaupun tak kenal tapi ibu ini mendoakan si kembar.
Setelah itu Nayna pun pergi ke suatu tempat yang memang itu menjadi tujuan nya.
Rupanya Nayna ini memiliki saudara, dia adalah bibi adik dari almarhum ayahnya. Dulu bibinya sempat bilang dan berpesan pada Nayna agar tinggal saja di rumahnya. Namun saat itu Nayna resmi menikah dengan Bimo, sehingga kemarin Nayna tinggal di rumah Mama Ayyu ibu dari suaminya .
__ADS_1