
Lamunan tentang Suami buyar ketika tangan Nayna tak sengaja teriris pisau. ''Awwsh aduhh.'' pekiknya tertahan dan dia kaget.
''Nay kamu kenapa ?'' Mama jadi ikut panik
''Em ini ma, tangan Nay --'' sambil menunjukkan jari dan belum sempat menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh Mama.
''Aduhh Nay, kenapa dengan jari mu, tuh kan Mama bilang jangan melakukan apa-apa dulu Nay, jadi gini kan kamu teriris pisau. '' omel Mama dan membawa tangan Nayna lalu Mama memeriksa luka di tangan si menantu.
Nayna tersenyum menghangat, Nayna tak merasa sakit hati dengan omelan Mama Ayyu justru Nayna merasa beruntung. Itu artinya menunjukkan kasih sayang Mama Ayyu kepadanya.
''Sini duduk dulu, Mama obati'' Mama pun mendudukkan Nayna di kursi lalu wanita baya itu mengambilnya obat dalam kotak.
''Ma. Ini gak luka besar kok, biar Nay obati sendiri ya'' Nayna tak enak bila Mama yang ingin mengobati
''Ssstttt, sudah kamu diam dan nurut biar Mama yang obati. Ok!''
''Baiklah '' angguk Nayna
Setelah selesai memberikan obat merah dan memberikan plester di tangan Nayna.''Nah udah selesai, kamu tunggu saja di depan jangan dulu bantuin Mama.'' ucap Mama
Nayna mengangguk saja dengan tersenyum, lalu Nayna memegang tangan Mama dengan erat. ''Ma.'' panggil Nayna.
''Ya!'' balas Mama
''Ma, terima kasih banyak. Mama sudah sangat baik ... Banget sama Nay, Mama selalu membuat Nay nyaman dan tenang Nat bahagia dengan Mama, makasih ya Ma.'' ucap Nayna tulus.
''Iya Nay, sama-sama. Kan kamu anak Mama juga sudah pasti Mama menyayangimu '' balas Mama memeluk Nayna.
***
Kini saatnya acara pertemuan dan tinggal menunggu kedatangan pacar Bima.
Bima sendiri dia sudah siap dengan pakaian kasual nya, Bima nampak sangat tampan dan semakin gagah terlihat dari balik cermin yang kini Bima sedang menyisir rambutnya.
Sementara itu Nayna pun di suruh bersiap oleh Mama Ayyu karena akan ikut hadir dalam acara sebagai kakak Bima.
''Ma, sebaiknya Nay gak perlu ikut bergabung saja ya ma.'' pinta Nayna di waktu sore tadi.
''Ya tidak bisa begitu dong Nay, kamu harus ikut serta dalam acara ini, ingat kamu kan anak Mama gak mungkin Mama gak ajak kamu . Dan mungkin kamu juga tidak mungkin hanya diam di dalam kamar saja kan.''
''Tapi ... Ma.'' Nayna langsung menunduk bagaimana dia harus mengatakan nya lagi, sebenarnya Nayna sedikit tidak enak dan mungkin dia akan menjadi pengganggu saja nantinya.
Apa lagi saat Nayna teringat dengan pesan serta beberapa foto kemarin rasanya Nayna seperti pengganggu saja nantinya dan Nayna tak mau dengan kehadirannya ini akan membuat keributan.
Cukuplah para tetangga yang menyebutnya seorang benalu dalam rumah ini, jangan lah ada lagi juga tidak mau Nayna sampai keluarga calon istri Bima menganggapnya seperti itu juga.
Pertama akan membuatnya sakit hati dan kedua, takut ini menjadi masalah.
''Nay, jangan pernah berpikir hal aneh-aneh. Kamu keluarga kami sudah pasti apapun yang terjadi di rumah ini, kau akan ikut serta di dalamnya ya. Sudah sana sebaiknya kamu siap-siap, dan urus anak-anak mu. Bersiaplah ya Nay. '' Mama menepuk-nepuk pundak Nayna beberapa kali.
Nayna pun kini hanya bisa mengangguk saja kemudian dia berlalu pergi ke kamar, dan mengurus dua anaknya dengan memakai kan pakaian yang sudah Mama siapkan.
Pakaian yang serasi untuk acara formal ini.
__ADS_1
''Adek, Abang. Sini pakai dulu baju sayang.'' Ucap Nayna memanggil dua anaknya yang satu tengah melukis dan adiknya sedang menonton film Cinderella kesukaan nya.
''Eh eh, kok masih pada diam hm? Ini Bunda sedang bicara loh.'' tegur Nayna lagi
''Iya Bunda .'' ucap Cello lebih dulu menengok
''Ini pakai bang bajunya ayo!,''
''Iya Bunda .'' kini Nayna sudah membantu memakaikan pakaian punya Cello sekarang giliran sang adik yaitu Cilla.
''Adek, ini Bunda panggil kamu. Sini pakai dulu baju nya'' Nayna menghampiri Cilla dengan menyuruh Cilla memakai baju.
''Tidak mau Bunda, itu ... Itu'' kekeh Cilla masih mau menonton film dan tak mau di ganggu rupanya.
''Eh Dek, lihat Abang saja sudah siap loh. Nanti keburu nenek manggil lagi terus kamu nya belum siap, gimana ?''
Cilla pun menatap sang kakak yaitu Cillo benar juga Abang nya sudah berganti pakaian. Akhirnya Cilla pun mau dan mengangguk pada Bunda nya .
''Nah begitu kan baru namanya anak pintar.'' puji Nayna memakaikan pakaian untuk Cilla.
''Sudah beres, kalian tunggu dulu di sini ya, jangan kemana-mana. Bunda juga mau ganti pakaian dulu.'' pesan Nayna pada dua anaknya.
''Bunda baju ?'' seru Cillo menunjuk pada Nayna dan maksudnya Nayna juga sama mau memakai baju seperti mereka begitu.
''Ya Bunda juga mau pakai baju sama dengan adek dan Abang. Tunggu ya jangan kemana-mana ingat!'' kembali pesan Nayna.
Cillo mengangguk paham sementara Cilla hanya mendengarkan saja.
Beberapa saat kemudian, ada seorang pria datang ke ruangan kamar Nayna sebelumnya dia sudah mengetuk pintu terlebih dahulu .
Orang itu berniat untuk melihat Cilla dan Cillo.
Tok
Tok
Tok
Saat mengetuk pintu dan yang membukakan itu rupanya Cillo.
Bima menengok ke dalam kamar dan hanya ada Cilla dengan Cillo. Tidak ada Nayna. 'Ah mungkin Mbak Nay lagi sama Mama' pikir Bima pun lantas dia masuk saja.
''Eh paman.'' panggil Cillo sambil tersenyum
''Hm Abang sudah siap rupanya, duh tampan sekali ponakan nya paman ini ya.'' ucap Bima melihat Cillo siap dengan pakaian yang cocok juga dengan nya dengan pakaian yang Bima kenakan saat ini juga lantas Bima mengendong Cillo dan mencium pipinya.
''Hehehe.'' Cillo hanya membalas dengan tertawa karena geli di cium Bima.
''Mana adek mu?'' tanya Bima
''Adek, itu'' tunjuknya ke dalam.
''Paman mau melihat adik mu juga ayo kita samperin.'' ajak Bima masih mengendong Cillo
__ADS_1
Cillo kembali hanya menjawab anggukan.
''Hai Princess, lagi apa ?'' tanya Bima menghampiri Cilla sedang asik menonton nya sedari tadi.
''Eh Ayah.'' Cilla langsung memeluk Bima dan sedikit merebut tempat di sisi Cillo Abang nya.
''Geser!'' kata Cillo mendorong Cilla
''Tidak, mau Ayah !'' Cilla tak mau mengalah.
''Paman.'' si abang mengadu
''Bang, mengalah dong sini duduk di sisi kanan. Dan adek sisi kiri ya, biar adil.'' ujar Bima menengahi.
''Ayah Cindelella'' tunjuk Cilla ingin Bima melihat pada kartun kesukaan nya Cilla masih tidak bisa berkata huruf R.
''Iya seru ya film nya Cilla suka ?'' tanya Bima
''Suka Ayah suka !'' antusias Cilla.
''Paman, Abang mau bibin.'' pinta Cillo juga dia katanya ingin mobil mobil-lan.
''Baik, nanti paman belikan Abang mobil baru . HM mobil remote mau bang?'' Bima menawarkan
''Mau mau.'' jawab Cillo cepat
''Ayah! Ayah!'' tegas Cilla tak suka menyebut Paman.
''Iya nanti Ayah belikan boneka Barbie mau gak dek?'' menatap Cilla.
''Boneka Ayah ? mau.'' angguknya senang tentu saja.
Kemudian ada yang keluar dari ruangan walk in kloset, seorang wanita keluar dengan pakaian kasual dan bercorak batik hitam ada kehijauan nya.
Wanita itu belum menyadari kalau di ruangan ini ada seorang pria, yang sedang melihat nya kesana kemari. Yang tengah mencari sesuatu entah apa itu.
''Ishhh, di mana ya jarum nya kok gak ada?'' ucapnya pelan sambil tangannya mencari sesuatu. Dan dia sedang tak memakai jilbab di depan Pria itu tanpa sadar karena sibuk mencari barang.
Tangan yang kiri memegang baju depan dada, sedangkan tangan yang kanan sibuk mencari jarum.
Pria tadi nampak terpaku di tempatnya, ketika dia melihat yang sangat jarang orang rumah ini lihat yaitu, rambut Nayna yang terurai.
Bibir pria ituu tiba-tiba terangkat tanpa sadar dia tersenyum merasa ada yang aneh dengan kakak iparnya ini. Saat tak memakai hijab nya.
Kenapa Mbak Nayna jadi nampak manis saat tak memakai jilbab dan terlihat rambutnya itu.. bisik hati Bima.
''Bunda..!'' suara Cilla nyaring memanggil Nayna
''Sadar Bim, sadar .'' Bima geleng-geleng kepala ketika ada suara membuyarkan pikirannya.
''Iya sayang, apa. Tunggu ini Bunda lagi nyari jaru---m Eh.!'' saat berbalik badan mata Nayna langsung membola sempurna.
''Aaahhh, Bim. Ka-kamu!'' Nayna panik saat sadar dia tak memakai jilbab nya di depan Bima.
__ADS_1