
Syukurlah hari ini, Bima sudah bisa berjalan untuk beberapa langkah. Walaupun belum bisa jalan jauh tapi kini Bima menunjukkan kemajuan pesat.
''Ayo ayah, ayo cepat kesini Ayah.'' Cilla dengan senang dan heboh menyuruh Bima berjalan mendekati nya.
Sungguh lucu, Bima sudah seperti anak kecil yang baru belajar saja.
''Paman ayo, kesini paman ayo.'' Cillo juga merasa senang saat Bima sudah dapat melangkah.
''Hah ... Ayah capek sayang, ayah istirahat dulu.'' Bima pun setelah sampai melangkah berjalan pada dua ponakannya kini Bima langsung duduk selonjoran karena Bima merasakan lelah.
''Ayo ini minum dulu, kamu pasti lelah kan. Tapi aku senang Bim, kamu bisa berjalan cukup jauh sekarang. Dan itu artinya kamu akan segera sembuh.'' ujar Nayna sambil memberikan Bima minum. Lalu duduk di samping Bima.
''Kamu Koo terlihat senang banget mbak, aku sembuh. Apa karena kamu sudah tak ingin merawat ku Mbak ?'' ucap Bima
''Kamu sendiri kenapa selalu nuduh kaya gitu Bim, ya sudah pasti lah aku senang kamu akan sembuh. Tapi bukan karena seperti yang kau tuduhkan Bim. Aku senang kamu bisa berjalan, bukan nya ini juga yang kamu inginkan kan Bim.'' kata Nayna
''Iya sih ada benar nya kamu Mbak, aku akan semangat berjalan lagi, ya aku harus cepat sembuh.'' kini Bima menunjukkan ekspresi yang sumringah
''Nah, begitu dong itu baru namanya Bima Satria Sanjaya.'' ujar Nayna menepuk pundak Bima beberapa kali.
''Ya aku memang harus sembuh Nay, agar aku cepat kerja, aku akan menikahi mu dengan sah dan tentunya karena aku tak sabar ingin segera menagih hak ku.'' bisik Bima tepat di telinga Nayna
''Bim, kok bahas kesana lagi sih.'' Nayna mendelik dan mengomel.
Bima membawa Nayna dalam pelukannya, ''Pokoknya kamu harus siap, ketika aku minta.'' tegas Bima
Nayna langsung beranjak karena dia malu bila membahas hal seperti itu. Nayna lebih memilih bersama anak-anak.
''Bunda sudah buatkan ice krim nih di kulkas.''
''Ice krim Bunda, mau.'' Cilla langsung merengek meminta
''Abang juga mau Bun.'' pinta si sulung
''Yasudah tunggu ya, Bunda ambilkan.'' Nayna beranjak tapi Bima menahan nya lalu bertanya, ''Mau kemana ?''
''Aku akan ambil dulu ice krim kedalam sebentar.'' ujar Nayna
''Bun, tolong ambilkan ponsel Ayah juga ya.'' pinta Bima
''Hah oh i-iya.'' Nayna masih belum terbiasa menyebutkan nama Ayah dan Bunda dengan Bima.
''Cillo kesini bang.'' Cillo menoleh lalu mendekati Bima di ikuti oleh Cilla. Mereka duduk di samping Bima.
''Ada apa Paman ?'' tanya Cillo
''Ayah mau bilang padamu, tapi kamu harus dengarkan ini baik-baik ya sayang.''
''Iya Paman.'' angguk Cillo
''Apa kau menginginkan perhatian dan kasih sayang dari seorang Ayah ? Apa kau ingin bertemu ayah mu?'' ucap Bima pada Cillo
''M-mau paman, tapi Ayah Abang mana? bukan nya cudah pelgi ayah ?'' kata Cillo
''Sekarang Ayah mu sudah kembali, dan mulai detik aku menjadi Ayah mu. Panggil aku ayah, jangan Paman lagi ok.'' jelas Bima
''Kenapa paman?'' Cillo belum paham rupanya.
__ADS_1
''Begini saja, aku sekarang Ayah mu, dan kau rubah panggilan mu pada ayah ya, jangan lagi panggil Ayah paman ok jangan, tapi panggil ayah Bima.'' Bima menegaskan kalau mulai saat ini Cillo dan Cilla memanggil nya Ayah.
''Jadi ini ayah.'' ulang Cillo menunjuk pada Bima
''Benar.''
''Yeee, ayah ayah Cilla asikkkk.'' Cilla langsung senang walaupun dia sedikit mengerti.
Cillo langsung mendekap erat tubuh Bima. Sosok ayah yang ia rindukan.
***
Bima sudah bisa berjalan lagi dengan normal beberapa bulan ini.
''Bun .. Bun ... kesini sebentar.'' panggil Bima setengah berteriak
.''Iya kenapa?'' Nayna datang dengan tergopoh-gopoh
''Kamu lagi apa?''
''Ini lagi jemur baju, ada apa kau butuh sesuatu?''
''Tidak ada, aku ini sudah sembuh sayang, kalau butuh apa-apa aku sudah bisa ambil sendiri.'' Bima terkekeh sebab jika dia memanggil Nayna, maka jawaban Nayna akan menyebut butuh apa? Seolah Bima ini masih sakit .
''Lalu apa?''
''Sini duduk dulu, ayah ingin mengatakan sesuatu.'' Bima menarik Nayna hingga wanita itu duduk di samping nya .
''Begini besok Ayah akan mulai masuk kerja di kantor lagi.'' ucap Bima
'Oh ya, apa kamu sudah sembuh total bi--m eh Ayah?'' Nayna masih kesusahan menyebutkan ayah pada Bima
''Hm iya aku sudah sangat sembuh sekarang, sku juga bosan di rumah mulu. Aku ingin beraktivitas kembali.'' jawab Bima
''Oh yasudah, tapi kok di rumah bosan sih. Apa aku ngebosenin?'' Nayna menggoda Bima.
''Tidak, kamu gak ngebosenin Bun, tapi aku ingin melahap mu, malam ini boleh ya?'' Bima berhasil membalas menggoda balik istrinya.
Sampai Nayna bersemu merah..
**
Malam harinya.
Seperti biasa, Nayna membereskan kasur yang akan mereka tempati untuk tidur. Nayna dan Bima sudah tidur di atas ranjang yang sama, tapi masih belum melakukan itu.
Bima datang dan ia memeluk tubuh Nayna dari belakang. ''Bim.'' Nayna terkejut
''Tidur yuk.'' ajak Bima sambil menciumi rambut Nayna kesukaannya.
''Iya tunggu dulu, aku ingin lihat dulu si kembar.'' kata Nayna mau pergi.
''Kan sudah ada Mama dan bibi, juga mungkin mereka udah pada tidur. Tuh gak kedengaran suara mereka.'' ucap Bima menahan kepergian Nayna
''Yasudah.'' Nayna menuruti lalu dia melepaskan jilbabnya dan berbaring di ikuti Bima.
''Bun.'' Bima mengajak bicara istrinya
__ADS_1
''Iya ?'' Nayna menoleh
''Kamu mau gak besok ikut ke perusahaan?'' tiba-tiba ajak Bima
''Mau apa aku kesana,?''
''Aku ingin memperkenalkan dirimu sebagai istri direktur.'' kata Bima
''Oh begitu, em kain kali saja ya.''
''Kenapa lain kali sayang?''
''Aku merasa tidak percaya diri Yah.''
''Harus percaya diri dong, kamu sekarang istrinya bos Nay.'' tegas Bima
''Iya, tapi lain kali aja ya gak apa-apa kan?''
''Baiklah, sekarang ayo tidur.''
''Hm iya.''
Nayna sudah mau tidur bahkan sudah ingin terlelap tapi kemudian dia terganggu ketika ada tangan menelusup dalam pakaian nya.
Plakk
Refleks Nayna menggeplak dan menahan tangan orang itu yang ingin masuk semakin dalam. Nayna membuka mata, di lihatnya si pelaku tengah menampilkan senyum menggoda.
''Aku mau Nay, ayolah sekarang!''
''Em i-itu.''
''Ayo Nay, jangan menolak suami.''
Itu kelemahan seorang wanita, bila sudah di berikan ungkapan seperti itu.
**
Perlahan entah siapa yang memulai, kini Nayna sudah tak berbusana hanya di tutupi dengan selimut saja.
Bima mulai menciumi Nayna, lalu semakin turun ke leher dan meninggalkan jejak kepemilikan. ''Ahhhh Bim...'' Nayna melenguh memberikan reaksi *******.
Tangan Bima menuntut si Otong yang Sudah mengeras begitu tinggi menjulang. ''Apa kau siap?''
''Iya.'' Nayna mengangguk
Blesss!
''Ahh Bim ... Ahhhh ahhhh!'' sudah masuk juga inti nya Bima pada sarangnya dan kecebong itu keluar lalu mulai bersarang dalam rahimnya Nayna.
''Bim, ahhh!''
''Keluar kan lah sayang, suara indah mu.'' bisik Bima mencium rakus.
Bima dan Nayna pun mengerang nikmat sama-sama, setelah menggapai puncak.
Kau milikku sekarang Nayna Naima Aisyah istriku.
__ADS_1
Kau pun telah menjadi milikku Bima Satria Sanjaya suamiku.
Muahhh'' kecupan terakhir sebelum tidur.