
Dokter dan perawat yang menangani Calista sudah melakukan tugasnya dengan berjalan lancar, kini Calista pun dia harus beristirahat sejenak di rumah sakit ini untuk memulihkan lagi keadaan nya juga berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak di inginkan seperti kekurangan tenaga atau pun darah.
''Semuanya sudah selesai, saya permisi.'' pamit sang dokter
''Iya Dok, terima kasih.'' balas Calista
dokter mengangguk dan berlalu,
Dua jam kemudian, Rey dan Papi pun masuk kedalam untuk melihat Calista langsung.
''Sayang gimana, apa masih sakit atau pusing ?'' tanya Rey perhatian
''Gak pusing kok, udah gak sakit juga.'' balas Calista
''Ah yang bener itu dah gak sakit ?'' tanya Rey lagi
''Huum Rey, udah biasa aja.'' Calista meyakinkan
''Tapi tadi kamu di apain sayang, pasti luka mu sangat dalam ya?'' ucap Rey
''Emang gimana ?'
''Iya tadi kamu jerit jerit seperti kaya dulu saat kamu mau melahirkan.'' ucap Rey
''Emang gitu ya tadi ? Koo kamu bisa tahu ih Rey, kan kamu di luar, tapi sakit-an melahirkan lah.'' seru Calista
''Iya tahu orang kedengaran Keluar juga, iya kan Om ?'' Rey menatap Papi
''Iya, emang kedengaran di luar dan dia sampai panik loh honey.'' Papi mengejek Reyhan
''Pasti dia kayak emak-emak ya Pi, heboh.'' Calista ikut mengejek sang pacar
''Hahaaaa, bisa jadi honey.'' sahut Papi
''Ya itu kan karena aku mencemaskan mu sayang.'' ucap Rey ia mengakui
''Oh Rey, thanks you.'' kata Calista
''Sama-sama, jadi udah gak sakit ?''
''Gak, tapi ya ada lah dikit sakit.'' kata Calista
''Sudah pasti masih sakit mah, tapi Secepatnya kamu harus sembuh sayang.'' timpal Papi
''Kenapa Pi ?''
''Kok kenapa, apa kamu gak mau cepat pulih?''
'Ya mau dong.''
''Iya makanya cepat sembuh agar kalian cepat bersama juga.'' kata Papi
__ADS_1
''Cepat bersama?'' Calista menatap papi dan Rey bergantian
''Kenapa melihat kami seperti itu? Apa salah kalau kita Cepat bersama hm? Memang kamu gak mau apa kita segera menikah?'' tanya Rey
''Ya mau, tapi ada apa nih kamu dengan Papi?''
''Apa, kita gak ada apa-apa dan gak gimana-gimana.'' balas Rey dia akan membuat kejutan untuk calon istrinya ini.
**
Calista sudah pulang ke rumahnya, tadi Papi nya mengajak Calista untuk pulang ke rumah besar di kota. Tapi wanita itu menolak dengan halus dan ia mengatakan kalau dirinya lebih betah tinggal di rumah sang paman, dengan suasana yang lebih ramai dan ramah asli bukan seperti di rumahnya atau saudara-saudara Mami nya yang kini Calista akui memang bermuka dua semua.
''Baiklah kalau kamu masih ingin disini honey, tapi kalau kamu sudah ingin ke rumah besar kamu bilang Papi, nanti akan Papi jemput.'' ucap Papi
''Iya Pi, nanti aku bilang papi.'' balas Calista dan ia tidak memikirkan kapan itu sebab dia benar-benar tidak ingat pulang untuk saat ini.
Papi pun sudah pulang, kini Bibi yang langsung bertanya apa yang terjadi dan bagaimana bisa Calista kena tusuk.
''Ya Allah Teh, ini kenapa? Kenapa bisa kaya gitu atuh Teh?'' pekik Bibi beliau kaget campur khawatir pada Calista
''Bi, ini karena ulah Jo.'' kata Calista ia kini duduk menyender di kursi dengan tangan sebelah kanan yang di perban.
''Jadi dia itu bawa-bawa barang tajam begini Teh, lalu bagaimana yang terjadi ?''
Calista menceritakan yang semuanya dimana awalnya pisau itu ingin di tusukkan pada Reyhan tapi Calista tidak mau pria nya terluka sehingga Calista maju dan dia lah yang terkena.
''Ya Allah Teh, lain kali jangan berbuat kaya gitu ah ya. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana nantinya Teh ? Ini sangat bahaya lalu, apa si Aa gak nolongin kamu ya gimana gitu caranya agar kamu tidak kena tusuk pisau.'' bibi mengomeli ulahnya Calista ini karena Bibi tidak mau ponakannya terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan.
''Yasudah sudah, tenangkan dirimu Teh ada Bibi iya Bibi mengerti maksud mu.''
''Iya Bi, Sani mana?'' Calista belum melihat adik sepupunya
''Sani ada di kamar tapi dia tidak mau keluar kamar Teh, dia hanya menangis dan juga mungkin dia masih shock bahkan tadi Sani gak mau ketemu kamu dia gak siap karena merasa ini salahnya.'' jelas Bibi
''Apa Bi, kenapa dia gak mau temui aku. Dan ini bukan salahnya bi, ini adalah musibah yaudah Bii tolong antar aku ke kamarnya.'' pinta Calista
''Iya ayo.''
''Eh mau kemana, ke kamar ?'' tanya Rey menghampiri setelah menidurkan Arjuna tadi
''Aku ingin menemui Sani Rey, dia kayaknya masih shock ketakutan soal tadi.'' jawab Calista
''Yaudah sini aku gendong, Bi , biar aku bawa dia.'' ucapnya pada Bibi dan Bibi hanya tersenyum
''Rey, aku bisa sendiri ok kaki ku gak sakit Rey.'' tolak Calista bukan apa-apa dia malu saja jarak dekat begini tapi reaksi Rey mungkin agak berlebihan.
''Ya biarin aja lah sayang mau dekat kek, mau kakimu gak sakit juga udah biar aku gendong, iya kan Bibi setuju kan?'' Rey menatap bibi kemudian ia menaik turunkan alisnya meminta dukungan
''Iya iya sudah sana bawa ''
''Siap Bi,
__ADS_1
jangan menolak lagi.'' Rey berbisik di telinga Calista
Happ
Ia pun menggendong sang wanita.
Tok Tok
''San, Sani ini Teteh, apa kamu masih gak mau bertemu Teteh ?'' panggil Calista di depan pintu
''San, jangan gini dong gak perlu menyalahkan mu Sani, ini bukan salah kamu ini musibah San apa kamu gak mau ketemu Juna ?'' panggil wanita itu lagi masih mencoba membujuk adiknya
Ceklek!
''Apa Juna sudah di temukan ?'' tanya Sani buru-buru ia langsung membuka pintu ketika mendengar nama Arjuna
'Huum sudah, sana lihat.'' jawab Calista
''Tapi Teh, hiksss aku yang bersalah disini teh, a-aku minta maaf.'' ucap Sani dengan menangis
''Gak San, Teteh katakan sekali lagi padamu ya ini bukan salah kamu Sani. Jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri Ok, ayo kita ke kamar Juna.'' ajak Calista sambil memeluk Sani
''Iya ayok Teh, tapi makasih ya Teh, Teteh gak marah sama Sani.'' ucapnya
''Iya, marah kenapa toh kamu gak berbuat salah Sani.''
**
Besoknya dua hari pun berlalu.
Tapi selama dua hari ini, Calista merasakan keanehan dalam diri si pria. Dimana pria nya jadi cuek tidak menanyakan kabar bahkan datang ke rumah pun sudah tidak ada.
''Sebenarnya kemana ya ini orang tiba-tiba aja menghilang kabar, sibuk apa sih dia itu sampai lupa sama aku juga Juna, bahkan dua hari ini ponselnya juga sering tidak aktif, dia gak ada tuh nanyain Juna aneh gak sih, tiba-tiba saja berubah.''
''Kamu kemana sih Rey, kamu ngehilang gini aneh kamu. Aku gak melakukan salah kan sama dia, apa kamu gak rindu aku atau Juna kamu gak ingat dia Rey, ihh kamu nyebelin Rey aku benci ...''
''Awas aja ya kamu, kalau kesini aku bakal balas cuekin kamu Rey Aku gak mau bicara sama kamu.'' Calista TERUS menggerutu dia kesal tapi khawatir karena Reyhan tidak ada kabarnya.
Calista pun ia merenung seorang diri di ayunan yang ada di belakang rumah dengan melihat bulan malam ini.
Udara malam semakin terasa dingin tapi Calista ia engan masuk rumah masih betah di luar.
''Awas ya kamu ....'' teriak Calista tapi tiba-tiba ada sebuket bunga 🌹 muncul di belakang tubuhnya dan ada seseorang yang memberikan nya.
''Untuk mu sayang.'' ucap orang itu dengan suara begitu merdu
Tapi Calista tetap acuh , lalu seseorang itu memberikan barang lain dan itu adalah cincin.
''Honey, Will you marry me ?'' ucap si pria mantap dan meminta jawaban sang wanita sekarang
__ADS_1