
''Tolong Dien terima cinta saya, saya tidak mau di jodohkan saya mohon Dien kamu mau ya!'' ucap Chillo Sampai memohon seperti itu namun dengan nada tidak mau di tolak
Andinie memang malu karena dilihat langsung oleh kedua orang tua Chilo tapi tak bisa dia pungkiri juga kalau dia memang senang sekali.
Dengan malu-malu Andinie pun akhirnya mengangguk mengiyakan permohonan Chillo.
''Apa Dien ? Apa itu maksudnya ?'' tanya si pria memastikan
''I-iya pak saya mau.'' jawabnya lirih
''Serius Dien jadi kamu terima nih? Kamu setuju?''
''Benar pak.'' angguknya
''Oh syukurlah terima kasih Andinie!'' spontan Chillo memeluk tubuh wanita itu
''Ah Pak!'' Andinie kaget
''Abang hei lepaskan! Kalian belum jadi muhrim ya ampun.'' tegur Nayna sambil menarik baju Chillo hingga pelukannya terlepas.
''Ya ampun Bun, kenapa pakai narik baju Abang segala udah kayak ke anak kecil saja.'' protes Chillo
''Ya emang kamu bukan anak kecil tapi pikiran mu itu yang kayak anak kecil, kalian bukan muhrim jadi jangan dulu peluk pelukan bang.''
''Oya iya deh Bun, tadi Abang khilaf dan spontan peluk nya juga kok.'' Chillo ngeles
''Ah alasan saja kamu ini.'' kata Nayna
''Elah Bun, gak percayaan banget sama anak sendiri.''
''Bunda cuma ngingetin kamu Bang.''
''Iya makasih Bun udah mengingatkan, emang Bunda ini yang terbaik.''
''Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan nya?'' tiba-tiba tanya Bima
Andinie pun seketika menatap Chillo, ''Pak apa secepat ini?'' bisik nya
''Ya ... Harus Dien,''
''Kenapa buru-buru ?''
''Memang sebaiknya secepatnya aja Dien, agar saya tidak jadi di jodohkan mereka Dien. Kamu mau ya?'' pinta Chillo
''Tapi kan aku belum bicara dengan bapak.'' kata Andinie
__ADS_1
''Kamu gak usah khawatir, nanti kita bicarakan sama-sama.''
''Sama-sama Maksudna ?''
''Iya nanti saya ke rumah mu, untuk melamar mu pada bapak mu Dinie.'' jelas Chillo
''S-serius pak ?'' Andinie kaget
''Ya serius lah, saya dari tadi itu serius Andinie gak sedang bercanda.''
''Ouh iya pak maaf.''
''Kalian ini malah pada bisik-bisik bukannya jawab pertanyaan Ayah.'' Bima menegur
''Oh sorry Yah, untuk soal pernikahan atur saja Secepatnya ya, Abang serahkan pada kalian saja ya Yah, Bun. Cuma Abang minta waktu dulu untuk bertemu Bapak nya Andinie dan mengatakan niat Abang ini.'' jawab Chillo mantap
''Iya bagus kalau begitu Ayah setuju.''
''Oh ya Andinie, apa kamu masih memiliki orang tua ?'' tanya Nayna
''Saya hanya punya bapak saja sekarang nyonya, Ibu saya sudah tidak ada.'' jawab Andinie
''Oh maafkan saya Dien,''
''Em tidak apa-apa nyonya.''
Malam nya.
''Bun.''
''Ya bang,''
''Abang mau membicarakan sesuatu ini tentang Andinie.''
''Ada apa bang ?''
''Begini Bun, Bapak nya Andinie ini dia sikapnya sedikit beda dari kita.''
''Beda bagaimana maksudmu ?''
Kemudian Chillo menceritakan soal bapak Andinie yang tukang mabuk.
Nayna awalnya memang terkejut ia tak menyangka sama sekali, tapi dia harus memikirkan ini dulu dengan matang.
''Yaudah kita bicarakan lagi nanti ya soal ini, tapi kamu gak usah khawatir biar nanti Bunda ikut dengan mu ke rumahnya Andinie untuk mengatakan tujuan kita.'' ucap Nayna
__ADS_1
''Makasih Bun.'' kata Chillo
''Sama-sama sayang.
*
''Bun,''
''Bun!''
''Emh ya Yah ?'' Nayna melamun memikirkan ucapan Chillo tentang Bapak nya Andinie.
''Kamu Ayah panggil gak juga menyahut malah bengong, lagi mikirin apa sih Bun ? Apa kamu sedang memikirkan Pria lain ?'' tiba-tiba tebak Bima sangat menjengkelkan.
''Ayah ih, apa apaan Ayah ini. Memang sejak kapan hm Bunda bisa memikirkan orang lain ? Sedangkan Ayah tidak membiarkan itu terjadi, Ayah selalu ada disini dan disini.'' ucap Nayna menunjuk kepala lalu pada hati entah jantungnya, namun yang jelas Bima selalu ada di dua titik itu.
''Ya Tuhan ... Rupanya istriku ini jujur sekali dan juga sangat romantis, duh ini sih kode kayanya.'' celetuk Bima
''Hah kode apaan maksud Ayah ?'' Nayna kebingungan
''Iya Bun, sepertinya kamu lagi ngasih kode untuk kita kuda kudaan ya Bun, memang sudah lama sekali kita tak itu.'' ucap Bima seraya mengingat kapan terakhir mereka memadu kasih.
''Ayah! Stop memikirkan itu! Ingat umur dong yah, kita sudah tua!'' ucap Nayna malu-malu
''Loh apa yang salah? Bahkan tidak ada larangannya untuk seseorang jangan melakukan itu saat sudah tua, bahkan loh Bun ada jaman sekarang Kakek Kakek dan Nenek nenek, menikah lagi dengan daun muda itu artinya ... ''
''Artinya? Apa?'' tanya Nayna
''Artinya ...Kita juga bisa!''
''Aaaaa! Ayah, Aku ini berat.'' Nayna berteriak kaget
''Bun, jangan meragukan ku. Ayah masih kuat.'' ucap Bima
''Ahh! Yah! Emmh!''
Yang tadinya menolak halus kini justru menikmati permainan Bima yang semakin menggila.
''Ayah! Ayah !'' suara Nayna mendesah menikmati
Tangan Nayna ia kalung kan di leher Bima, dan Bima pria itu asyik menikmati dua gunung yang lama tak dia santap.
''Ayah jangan, jangan !''
Tapi sudah terlanjur Bima menciptakan sebuah karya di lehernya Nayna.
__ADS_1
'Kalau ada bekasnya dan anak-anak lihat ini bagaimana ?' kata batinnya merasa cemas dan malu, tapi Bima begitulah dia akan bodo amat tidak memikirkan efeknya dulu malah semakin beringas.