Janda Muda 2 Anak

Janda Muda 2 Anak
Orang sakit, keras kepala.


__ADS_3

Bagai di sambar petir di siang bolong, itu lah yang kini Bima rasakan. Wanita yang ia cintai dan dia yakini yang terbaik sebagai pilihan nya selama ini, tapi kini dia, wanita itu dengan tega memutuskan hubungan hanya gara-gara Bima tidak bisa lagi berjalan. Sungguh ini tidak adil rasanya.


''Tidak, Calista . Kenapa kamu memutuskan hubungan seperti ini, Calista.'' Bima terduduk lemas tak berdaya dan sudah menganggap dirinya tak berguna.


Sementara Nayna bingung harus bagaimana, dia ingin menenangkan Bima tapi Nayna juga masih terkejut.


''Tinggal kan aku!'' tiba-tiba suara Bima berubah jadi dingin dan menunjuk ke arah pintu menyuruh Nayna keluar


''Ta-tapi Bim --''


''Cepat lah keluar, saya ingin sendiri.'' tegas nya dengan suara yang amat dingin


''Iya sudah, tapi kalau kamu butuh sesuatu, Mbak ada di luar.''


Bima dia tidak menjawab hanya membuang muka.


Nayna pun pergi keluar, dan memang mungkin seharusnya begitu. Sebab Bima butuh waktu menenangkan diri.


Bima pria tampan , memiliki karir yang cemerlang, juga pintar dalam mengelola per bisnis' an selama ini, dapat memudahkan segala sesuatu yang sulit dalam hidupnya.


Namun rasanya saat ini, Bima telah gagal mengurus tentang percintaan nya. Dari sejak dulu dia sudah mengalah menunggu kepulangan Calista yang memilih ke luar negeri.


Sekarang justru Calista pergi lagi dan kini mungkin untuk selamanya. 'Sungguh miris hidup mu, Bim.' bisik batinnya


''Calista kau telah salah membuat perhitungan dengan ku Lista.''


''Kau menganggap ku pengecut? Ok bila itu yang kalian pikirkan, tapi tidak akan bisa semudah itu kalian hidup bahagia, di atas penderitaan ku.'' ucap Bima dengan rahang mengeras


**


''Mbak permisi, itu ibu nya memanggil Mbak.'' beritahu salah satu suster


''Mama, kenapa dengan Mama sus?'' Nayna panik


''Tidak terjadi apa-apa kok, hanya memanggil anda.'' jawabnya


''Oh gitu, iya makasih sus.''


''Baik sama-sama, permisi Mbak.''


''Iya.''


Nayna menemui Mama Ayyu.


''Ma.''


''Nay kemarilah.'' panggil Mama


''Iya ma.'' Nayna duduk dekat Mama


''Nay, Bima sudah sadar belumm ?'' iya Mama belum tahu kalau Bima sudah sadarkan diri, Mama juga kondisinya lemah sehingga baru sekarang bisa menanyakan Bima anak nya.


''Sudah ma.'' jawab Nayna mengangguk


''Benar kah, ah syukurlah terimakasih Tuhan.'' Mama mengucapkan syukur.

__ADS_1


''Mama ingin temui dia Nay.'' pinta Mama


Nayna panik, bila Mama menemui sekarang dengan kondisi Bima yang menyedihkan, takutnya Mama akan drop lagi.


''Nay.''


''Eh i-iya.''


''Mama ingin ke ruangan Bima.''


''Tapi ma, itu ... ''


''Ada apa Nay, ayo katakan Nak ?'' Mama ingin tahu


''Ma, bi-bima sedang bersedih ma.'' jawab Nayna


''Bersedih, sedih bagaimana maksudmu Nay ?'' Mama sudah cemas


''Ma, Bima dia tidak jadi me-menikah sama Calista.'' beritahu Nayna dengan hati-hati sambil melihat tanggapan Mama Ayyu.


''Apa Nay? Tidak jadi menikah, kenapa bisa?'' Mama terkejut bagaimana pun acaranya akan berlangsung besok hari, dan Mama tak ingin Bima malu bila batal menikah.


''Ma, Bima dia ... dia mengalami patah tulang di kaki nya dan Bima dinyatakan lumpuh,''


''Lumpuh Nay, Bima lumpuh tidak mungkin Nay.'' Mama merasa kehilangan nyawa nya .


''Ma, tenang lah ma.'' dan ini yang Nayna takutkan sebab kondisi Mama masih lemah.


''Ayo Nay, ceritakan apa, apa yang terjadi Nay ayo katakan pada Mama. Semuanya apa yang terjadi.'' pinta Mama


Mama mengangguk tanda ia baik-baik saja.


''Calista kemarin kesini ma, dan saat Bima merasakan sakit di kaki nya, lalu ketika dokter memeriksa Bima. Dokter mengatakan kalau Bima, dia mengalami lumpuh. Lalu hari ini, Calista datang lagi bersama pria nya dan mengatakan Calista membatalkan pernikahan nya dengan Bima.'' ucap Nayna menjelaskan dengan air mata yang tak dapat di tahan sebab Nayna merasa ikut sakit hati ketika Bima di putuskan begitu saja, tentu karena Nayna tahu bagaimana rasa kehilangan orang yang di cintai itu---sulit.


Mama langsung terdiam tapi mencerna yang di ucapkan Nayna barusan.


''Bima lumpuh, lalu Calista mengatakan dia membatalkan pernikahan, karena apa Nay?'' tanya Mama


''Ka-karena Bima dia tidak bisa berjalan lagi ma.'' jawab Nayna merasa tak enak mengatakan ini


''Ya Tuhan, Bima anakkku. Kenapa jadi seperti ini sayang hidupnya.'' Mama tidak menyangka Walaupun tidak dapat di pungkiri bahwa sebenarnya ada rasa bahagia dalam diri Mama, ya katakan lah kalau Mama ini egois tapi demi kebenaran kenapa tidak.


**


Hari sudah berlalu , dan tidak ada acara pernikahan yang terjadi. Yang ada hanya penderitaan Bima sekarang ini.


''Aku ingin pulang.'' tiba-tiba suatu hari Bima meminta pulang


''Tapi Bim, kata dokter---''


''Pokoknya aku mau pulang sekarang juga, biarkan terserah kata dokter apa, yang jelas aku ingin pulang aku tidak mau di tempat ini terus.'' kukuh Bima dengan setengah berteriak.


Akibat dari putus cinta nya, Bima ini jadi sedikit pemaksa dan suka marah-marah.


''Tapi setidaknya harus beritahu dulu pada dokter dan di periksa dulu ya, mau kan Bim.'' bujuk Nayna

__ADS_1


''Ok, aku akan pulang sendiri.'' Bima keras kepala.


Huuuffftt..


Merawat Bima ini, sangat melelahkan melebihi dulu ketika Nay merawat Bimo.


Kini akhirnya Nayna sudah membawa Bima pulang paksa , sebab dokter masih melarang Bima untuk pulang. Karena masih harus di lakukan lagi beberapa perawatan. Tapi semua atas keras kepalanya Bima yang kukuh ingin pulang , dan mengancam akan pulang sendiri saja.


Bima diam-diam, menengok pada Nayna yang saat ini tengah menyetir mobil dan rupanya sudah bisa menyetir sendiri. Sebenarnya lidahnya sudah gatal ingin menanyakan Nayna bisa mengemudi kapan dan di ajarkan siapa. Tapi ego nya untuk diam tak bersuara mengalahkan rasa ingin bertanya nya .


''Bagaimana anak-anak, dan selama ini dengan siapa Mbak?'' akhirnya Bima bersuara dengan menanyakan si kembar


''Mereka baik dan tak rewel untunglah selama ini, juga di rumah sama bibi Tia.'' jawab Nayna


''Oh.'' balas Bima singkat , tapi lagi Bima ingin tanya dari kapan Nayna bisa mengemudi.


Beberapa saat, sudah sampai di rumah.


Nayna turun lebih dulu. Lalu membantu membuka pintu bagian Bima berada.


kursi roda sudah siap Bima naiki, tapi Bima masih bergeming. Dan hal ini membuat Nayna merasa aneh


''Mbak, kok masih diam saja sih.'' omel Bima


''Eh, memang harus bagaimana?'' Nayna bingung sendiri


''Sini, bantu aku naik roda.'' pintanya menyuruh Nayna mendekat dan ini seenaknya saja.


Nayna mendekat, tapi dengan bibir mengerucut . Tadi saja di rumah sakit, sok soan mengomel gak mau aku bantu, lihat sekarang butuh bantuan juga kan. omel Nayna di hati


Lagi Bima merangkul badan Nayna dan akhirnya ia duduk juga di kursi roda.


Saat kedekatan mereka ini ada yang melihat nya, orang itu tersenyum bahagia. Dan ada satu lagi yang melihat kedekatan antara Bima dengan Nayna yang bukan muhrim dengan pandangan yang berbeda.


Apa mereka suami istri, kok saling rangkul dan mendekap begitu ya? ucap orang tersebut bertanya-tanya kemudian berlalu pergi.


''Bim, tolong lain kali jangan sembarangan seperti tadi.'' ucap Nayna


''Sepeerti gimana Mbak?'' tanya Bima polos


''Ya itu kaya barusan, kamu terlalu dekat Bim.'' Nayna mengingatkan sebab tak enak bila tetangga lihat


''Ya biarkan saja Mbak, toh ini kan darurat aku lagi sakit.'' jawab Bima masa bodo dengan tetangga dan dia memang selalu begitu, yang terpenting kata dia benar udah deh.


''Di kasih tau kok ngeyel.'' Nayna mendorong Bima yang duduk di kursi roda. Kini memasuki rumah.


Dddduuuaaarrrrr


Suara terompet dan petasan menyambut kedatangan mereka di rumah.


''Welcome, Paman bunda ... ''


''Welcome, Ayah, Bunda ... '' si kembar menyambut kedatangan Bima dan Nayna.


Ayok semangati lagi dengan like dan komentar nya. Jangan sampai kendorrrr Okkkk.... .

__ADS_1


__ADS_2