Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 10. Mau pulang?


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Mau Pulang?




Queen terdiam sesaat, ia kembali teringat pada peristiwa beberapa bulan lalu itu yang sangat membekas di hatinya.


"Ish, lu ngapain bilang begitu sih Lova? Tuh lihat si Queen jadi sedih lagi!" tegur Aulia.


"Ya maaf, gue kan cuma nanya," ucap Lova pelan.


"Gapapa, lagian gue udah belajar buat lupain semuanya kok. Buat apa juga balas dendam? Itu gak akan selesaikan masalah," ucap Queen.


"Lu emang cerdas Queen, makin salut gue sama lu!" puji Aulia.


Tak lama kemudian, Reza kembali beserta gadis-gadis yang diselamatkan dari acara lelang gelap itu menghadap Queen.


"Permisi nona, ini dia gadis-gadis itu!" ucap Reza.


Queen langsung menatap ke depan, berusaha menemukan Dinda tetapi tidak ada.


"Mana Dinda??" ujar Queen panik.


"I-i-iya Queen, kok gak ada Dinda ya?" heran Nina.


Queen pun beralih menatap Reza dengan tangan terkepal menahan emosi.


"Reza, kamu gimana sih? Ini gak ada teman aku loh diantara mereka, kerja kamu itu gimana sih? Dasar gak becus!" kesal Queen.


Reza hanya bisa menunduk menerima semua amarah Queen yang ditujukan kepadanya.


"Udah Queen, bukan salah si Reza kok. Mungkin aja dia kelupaan kali pas disana, soalnya kan banyak banget cewek-cewek yang harus dia selamatin," ucap Aulia.


"Iya Queen, lagian gadis-gadis itu juga teman kita kok sewaktu di tahan di penjara Jeevan. Kita senang lihat mereka juga bisa selamat," sahut Nina.


"Ya bagus deh kalo kalian kenal sama mereka, tadinya sih gue pengen lepasin mereka aja dari sini," ucap Queen.


"Jangan lah Queen, kasihan dong mereka kalo dilepasin gitu aja!" ucap Aulia.


"Iya iya, yaudah gue mau ke depan dulu. Reza sama Jago ayo ikut gue! Ada yang kalian berdua harus kerjakan lagi," ucap Queen.


"Siap nona!" ucap Reza patuh.


Queen pun pergi ke luar bersama Reza serta Jago, sedangkan Aulia serta yang lain menghampiri teman mereka dan berpelukan disana.


__ADS_1



Jeevan tiba di rumahnya bersama Caitlyn yang meminta ikut untuk bertemu dengan Aqila.


Pria itu pun menatap Caitlyn, mengajak sang gadis turun dari mobilnya.


"Yuk kita turun sekarang!" ucap Jeevan.


"Eee oleh-oleh nya kan ada di bagasi, kamu boleh tolong ambilin dulu gak Jev? Biar nanti sekalian aku mau kasih ke mama kamu," ucap Caitlyn.


"Oh iya iya, kamu turun terus tunggu sebentar ya! Saya ambil dulu barangnya di bagasi," ucap Jeevan.


"Makasih banyak ya Jev," ucap Caitlyn tersenyum.


Jeevan mengangguk pelan, lalu turun dari mobilnya bersama Caitlyn.


Caitlyn tersenyum menatap Jeevan yang tengah berjalan menuju bagasi mobilnya dan mengambil barang milik Caitlyn disana.


Setelahnya, Jeevan pun kembali menemui Caitlyn dan membawa koper milik gadis itu.


"Ini koper kamu Caitlyn," ucap Jeevan.


"Ah iya, terimakasih Jeevan. Kamu tenang aja, disini juga ada untuk kamu kok," ucap Caitlyn.


"Saya gak terlalu ngarepin oleh-oleh, lagian saya bisa beli apapun yang saya mau," ucap Jeevan.


"Hahaha, kamu ternyata orangnya sombong ya?" kekeh Caitlyn.


"Yuk!" Caitlyn mengangguk setuju.


Mereka pun melangkah bersamaan ke dalam rumah pria itu dan langsung disambut oleh Aqila yang kebetulan ada di luar rumah.


"Loh Jeevan? Caitlyn? Kalian kesini?" ujar Aqila.


"Halo tante! Apa kabar?" Caitlyn menyapa dan mencium tangan Aqila.


"Iya halo cantik, tante baik kok. Kamu sendiri gimana kabarnya?" ucap Aqila.


"Aku juga baik tante, seneng deh bisa ketemu tante lagi!" ucap Caitlyn.


"Iya sama, tante juga senang banget ketemu kamu sayang. Yuk yuk kita masuk aja, ayo Jeevan!" ucap Aqila.


"Eee gak bisa ma, aku ada urusan penting di luar. Ini aku cuma antar Caitlyn sebentar, abis itu aku mau langsung pergi," ucap Jeevan.


"Urusan apa sih yang lebih penting daripada Caitlyn? Udah ayo kamu masuk dulu, kita bicara sebentar ya!" bujuk Aqila.


Aqila langsung menarik paksa lengan Jeevan dan membawanya masuk ke dalam bersama Caitlyn.


Jeevan pun pasrah, meski ia sebenarnya ingin mendatangi markas kelompok walters.

__ADS_1




Setelah berhasil lepas dari Erick, kini Dinda masih bersama Tom di salah satu restoran terbaik di kota untuk mengisi perut lebih dulu.


Ya Tom memang belum makan sedari malam, sejak ia berhasil melarikan diri dari penjara buatan Jeevan dan menyelamatkan Dinda.


"Dinda, kamu beneran baik-baik aja kan? Gak ada yang luka atau apa gitu?" tanya Tom cemas.


"Kamu gausah cemas begitu Tom, aku gak kenapa-napa kok. Kamu kan bisa lihat sendiri nih aku baik-baik aja," jawab Dinda sambil tersenyum.


"Iya sih, tapi serius deh aku khawatir banget sama kamu Dinda!" ucap Tom.


"Makasih ya Tom, aku gak nyangka kamu malah bisa jadi penyelamat bagi aku. Mungkin bisa dibilang kamu itu superhero aku," ucap Dinda.


"Ahaha, kalau itu bisa bikin kamu ngerasa nyaman maka aku siap kok jadi superhero kamu," ucap Tom tersenyum lebar.


Dinda hanya tersenyum tipis, lalu kembali fokus memakan makanannya.


"Oh ya, teman-teman kamu ketangkap juga kan sama bos Jeevan? Sekarang mereka kemana?" tanya Tom penasaran.


"Aku kurang tahu sih, soalnya semalam itu ada sekumpulan orang yang datang ke tempat lelang dan bawa kabur gadis-gadis disana," jawab Dinda.


"Hah? Orang siapa?" kaget Tom.


"Gak tahu juga, mereka semua pake topeng dan bawa senjata gitu. Kayaknya mereka emang udah niat buat bebasin gadis-gadis disana deh," jawab Dinda.


"Terus kenapa kamu gak dibebasin juga sama mereka?" tanya Tom heran.


Dinda menggeleng, "Aku gak tahu, mungkin mereka lupa. Atau mungkin juga karena aku udah lebih dulu dibawa sama mister Erick," jawabnya.


"Ohh, yaudah kamu abisin makanannya ya!" suruh Tom sambil tersenyum.


Dinda mengangguk antusias, ia memang sudah menahan lapar sedari tadi. Sehingga saat Tom mengajaknya kesana, tentu ia tidak menolak.


"Umm Tom, kamu masih kerja sama si Jeevan itu?" tanya Dinda penasaran.


"Hahaha, kalo aku kerja sama dia gak mungkin lah aku ditahan di ruang penyiksaan selama beberapa bulan ini. Terus mana mungkin juga aku bebasin kamu dari si Erick," jawab Tom.


"Tapi, apa kamu gak takut kalau nantinya kamu bakal dihukum lagi?" tanya Dinda.


"Aku lebih takut kehilangan kamu Dinda," jawab Tom singkat.


Dinda sontak bersemu mendengar ucapan Tom, ia sampai harus menyembunyikan senyumnya untuk menutupi rasa malunya saat ini.


"Kamu mau pulang ke rumah?" tanya Tom.


Kini Dinda reflek mendongak, haruskah ia pulang ke rumah setelah cukup lama ia tidak pulang? Dan apakah kehadirannya masih bisa diterima oleh orang rumah?

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2