
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Caitlyn kecewa
•
•
Lova dan Nina kompak menggeleng memberi kode pada Aulia agar menolak ajakan Victor, mereka memang tidak mau Aulia terlalu dekat dengan Victor karena mereka khawatir Victor ada niat jahat pada mereka. Namun, Aulia berada dalam kebingungan harus percaya pada siapa saat ini.
"Ayolah Aulia, kali ini aja kok! Aku pengen banget ngobrol berdua sama kamu, masih banyak yang mau aku bahas ke kamu," ucap Victor memohon.
"Ya kalau emang kamu maksa, yaudah deh aku mau pulang bareng kamu," ucap Aulia sambil mengangguk. Ia kemudian beralih menatap Lova dan Nina yang tampak tak suka, "Sorry ya guys, gue kayaknya bareng Victor aja deh," ucapnya.
"Hah? Lo gak salah tuh Aul? Masa lu mau pulang sama dia sih? Udah lah sama kita aja, biar lu aman!" ucap Nina.
"Sekali mah gapapa kok, gue juga yakin kak Victor gak mungkin apa-apain gue!" ucap Aulia.
"Itu benar, aku mana mungkin celakai adik aku sendiri? Kalau kalian gak percaya sama aku, boleh lah kalian berdua ikut sama kita," ucap Victor.
"Gak dulu deh, kita udah terlanjur pesan taksi. Gak enak juga kalo dicancel nanti," tolak Nina.
"Iya tuh, lagian lu ngapain sih Aul pake terima ajakan dia? Mending lu sama kita aja," sahut Lova.
"Gue gak enak tolak ajakan kak Victor, udah ya gapapa kok gue bareng dia aja. Sekali lagi sorry gue gak bisa bareng kalian," ucap Aulia.
"Yaudah deh gapapa," singkat Lova.
Aulia pun beralih menatap Victor dan mengajak pria itu untuk segera pergi, Victor tentu saja mengangguk senang dan langsung meraih satu tangan Aulia untuk digenggam. Sontak perbuatan Victor mendapat kecaman dari Lova serta Nina, kedua gadis itu seolah tak terima Victor memegang tangan Aulia.
"Victor!" tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil nama lelaki itu, Victor pun menoleh tanpa melepas genggamannya pada Aulia.
"Ellia? Danish?" lirih Victor saat menyadari dua sahabatnya datang menemuinya.
"Vic, lu kenapa main pergi gitu aja sih? Operasi kita tadi belum berhasil tau, harusnya lu jangan tinggalin kita dong!" ujar Ellia.
"Ellia, jangan bahas soal itu disini!" pinta Victor.
Tentu Victor tak mau Ellia membeberkan pekerjaan yang selama ini ia lakukan kepada Aulia serta teman-temannya, Victor juga tidak ingin Aulia membencinya hanya karena dia tahu kalau ia adalah seorang perampok kelas kakap dan juga buronan polisi.
"Kenapa? Lu gak mau si Aulia ini tahu siapa lu sebenarnya?" tantang Ellia.
"Maksudnya apa? Emang kak Victor itu siapa?" tanya Aulia penasaran.
"Iya Aul, jadi cowok ini tuh sebenarnya ram—mmpphh" Victor langsung menutup mulut Ellia dengan telapak tangannya sebelum gadis itu mengatakan yang sebenarnya pada Aulia.
"Lu bisa diem gak sih? Mau lu gue abisin, ha? Jangan pernah kasih tau apa-apa ke Aulia!" bisik Victor mengancam.
Ellia manggut-manggut panik, lalu Victor pun melepaskan tangannya dari mulut gadis itu dan beralih menatap wajah Aulia yang tengah menanti jawaban dari Ellia. Victor dibuat bingung harus mengatakan apa pada Aulia, ia memang tidak pandai dalam hal berbohong.
"Kalian kenapa sih? Kasih tau aku dong siapa kak Victor emangnya!" ucap Aulia.
"Eee apa yang dibilang Ellia mah gausah didengar, dia kadang-kadang suka konslet. Kamu mending dengerin aku aja ya?" ucap Victor.
"Terus maksudnya operasi tadi itu apa?" tanya Aulia.
"Iya Aulia, itu tuh maksudnya kerjaan aku gitu. Tadi emang aku tinggalin gitu aja demi buat jemput kamu disini," jawab Victor.
Aulia pun terdiam, ia bingung apakah harus percaya pada Victor atau tidak.
•
•
Queen mengangguk dan melangkah ke rumahnya, namun Tom dengan cepat mencegah tak membiarkan dua wanita itu pergi begitu saja darinya. Perdebatan pun kembali terjadi disana, Queen tampak sangat emosi pada pria itu.
__ADS_1
"Lo susah banget dikasih tau ya? Cepat minggir atau gue gak akan segan-segan buat hajar lu disini!" ucap Queen mengancam.
"Saya gak takut Queen, apapun akan saya hadapi yang penting saya bisa bersama Dinda lagi. Karena saya benar-benar cinta sama Dinda, saya gak bisa jauh dari dia," ucap Tom.
"Cinta cinta bullshit! Lo itu cuma suka sama tubuhnya Dinda, gue yakin lu gak cinta beneran sama dia! Mending lu pergi deh sana!" ujar Queen.
"Kamu jangan bikin spekulasi yang enggak-enggak ya Queen! Saya beneran tulus cinta sama Dinda, dan saya cuma mau bertanggung jawab atas bayi yang ada di dalam kandungannya!" tegas Tom.
"Yaudah, kalo gitu lu nikahin dong Dinda! Jangan cuma ngomong cinta doang!" ucap Queen.
Seketika Tom terdiam kaget mendengar perkataan Queen, sebenarnya ia mau-mau saja menikahi Dinda karena ia memang mencintainya, tapi entah kenapa Tom masih belum bisa jika harus menikah sekarang ini. Itulah sebabnya Tom tidak pernah mengatakan akan menikahi Dinda, meski ia sangat mencintai wanita itu.
Bukan hanya Tom yang terkejut dengan ucapan Queen, tapi juga Dinda. Wanita itu reflek menoleh ke arah sahabatnya tersebut dan membulatkan matanya seolah tak setuju dengan apa yang dibicarakan Queen barusan, tentu saja Dinda tidak mau jika harus menikah dengan lelaki yang sangat ia benci itu.
"Kenapa diam? Gak siap lu nikahin Dinda? Tuh kan, lu emang gak cinta sama dia!" ujar Queen.
"Kamu kalo bicara jangan seenaknya ya Queen! Saya ini benar-benar tulus sama Dinda, saya mau menikah dengan dia kok. Tapi bukan sekarang, saya akan cari waktu yang tepat nantinya," ucap Tom tegas.
"Halah alasan aja lu, udah deh lu mending gausah balik lagi kesini atau gue bakal suruh orang buat habisin lu!" ujar Queen.
"Saya sudah bilang, saya gak perduli mau apapun yang kamu lakuin. Silahkan aja kamu habisi saya, saya gak takut!" tantang Tom.
"Lo nantangin gue? Okay, gue bakal panggil seluruh anak buah gue buat habisin lu. Sekarang lu minggir dan biarin gue lewat supaya gue bisa bawa Dinda ke dalam!" ucap Queen.
Tom tersenyum sambil menggeleng, "Tidak akan Queen, saya gak mau menyingkir karena saya sayang sama Dinda," ucapnya.
"Hadeh, bosen banget gue dengarnya tau gak. Kenapa lu selalu aja ngomong kayak gitu? Gue muak tau dengar omong kosong lu itu!" ucap Queen.
Dengan kesalnya Queen mendorong tubuh Tom hingga hampir terjatuh, ia melakukan itu agar Tom mau menyingkir dan ia bisa lewat bersama Dinda. Untung saja Tom mampu menahan diri, sehingga ia tidak terjatuh walau tetap saja ia tak mampu mencegah Queen dan Dinda yang sudah berlari masuk ke dalam rumah itu.
"Aaarrrgghhh sial! Lagi-lagi saya gagal bawa pergi Dinda, memang kurang ajar Queen itu! Kenapa coba dia pake ikut campur segala?" geram Tom.
•
•
"Hey Caitlyn!" sapa Jeevan yang membuat Caitlyn terkejut lalu menoleh ke arahnya.
Caitlyn sangat-sangat kaget melihat keberadaan Jeevan disana, ia langsung coba berontak untuk melepaskan diri dari ikatan di tubuhnya itu. Tapi apa daya, Caitlyn tidak mungkin bisa lepas dari sana sebab ikatan tersebut sangat kuat. Caitlyn pun hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan Jeevan padanya kali ini.
"Jeevan, kamu mau apa? Kenapa kamu suruh anak buah kamu buat culik aku? Apa salah aku Jeevan? Kalau kamu gak mau nikah sama aku, it's okay aku terima kok," ujar Caitlyn.
"Ya saya tahu, tapi masalahnya kamu masih terus gangguin hidup saya dan hubungan saya dengan Queen. Andai saja kamu tidak muncul di kehidupan saya, mungkin mama saya juga tidak akan menjodohkan saya dan kamu," ucap Jeevan.
"Itu bukan salah aku Jeevan, mama kamu yang maksa aku buat tetap pertahanin perjodohan ini. Aku udah coba mundur, tapi sulit," ucap Caitlyn.
"Saya gak percaya dengan kata-kata perempuan seperti kamu, Caitlyn. Sekarang kamu nikmati saja kehidupan baru kamu disini, karena saya tidak akan pernah melepaskan kamu," ucap Jeevan.
"Kamu gak waras Jeevan, bisa-bisanya kamu culik aku dan gak mau bebasin aku!" geram Caitlyn.
"Terus kenapa? Lagian mana ada sih penculik di dunia ini yang bebasin tawanannya secara cuma-cuma?" ujar Jeevan.
"Maunya kamu apa Jeevan? Aku siap kok lakuin apapun yang kamu mau, asalkan kamu bebasin aku sekarang juga," ucap Caitlyn.
"Huh sayangnya saya lagi gak butuh apapun, karena yang saya butuhkan itu cuma Queen. Tapi, sekarang dia minta saya menjauh dan gak boleh mendekati dia lagi. Kamu tahu itu semua karena siapa? Ya benar, karena kamu Caitlyn," ucap Jeevan.
"Kamu gak bisa salahin aku kayak gitu, bukan aku yang nyuruh Queen buat jauh-jauh dari kamu. Semua itu permainan mama kamu," ucap Caitlyn.
"Gausah salahin orang lain atas kesalahan yang kamu perbuat, Caitlyn. Kamu lebih baik diam dan tenang disini!" ucap Jeevan.
Caitlyn menggeleng dengan mata berkaca-kaca, "Enggak Jev, aku gak mau terus disini. Aku kangen sama keluarga aku, aku pengen pulang sekarang. Tolong kamu kasihani aku dong Jev!" ucapnya.
"Hahaha, buat apa saya mengasihani orang yang sudah bikin saya hancur? Masih mending saya tidak apa-apakan kamu sekarang, jadi seharusnya kamu bersyukur Caitlyn!" ucap Jeevan.
"Kenapa kamu jadi kayak gini sih Jev? Kamu gak seperti Jeevan yang aku kenal dulu," ucap Caitlyn.
__ADS_1
"Asal kamu tahu Caitlyn, kamu yang ubah sifat saya jadi seperti sekarang ini. Suruh siapa kamu hadir di kehidupan saya dan bikin saya hancur?" ujar Jeevan.
"Kamu gak bisa salahin aku begitu aja Jeevan, aku juga gak mau semuanya jadi begini," ucap Caitlyn.
"Alasan aja kamu, saya gak percaya dengan apapun yang keluar dari mulut kamu. Sudahlah saya mau pergi, nikmati semuanya ya Caitlyn!" ucap Jeevan.
Pria itu langsung berbalik dan pergi meninggalkan Caitlyn secara perlahan, hingga membuat gadis tersebut ketakutan dan berteriak meminta Jeevan agar tidak pergi dari sana.
•
•
Setelah berhasil pergi dari rumah tempat dimana ia dibesarkan dan sukses, kini Jeevan masih merasa sedih seolah tak percaya jika ia akan menjalani kehidupan baru tanpa adanya kedua orang tua serta fasilitas mewah yang menemaninya. Pria itu juga tak tahu harus melangkah kemana lagi, sebab ia pergi tanpa tujuan dan tidak tahu hendak kemana.
Tiba-tiba saja, namanya dipanggil oleh seseorang dari belakang yang membuat Jeevan terkejut. Ya Jeevan menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang dan menemukan Alden serta Fritzy berjalan mengikutinya dengan membawa tas di punggung mereka. Jeevan pun keheranan melihat kedua anak buahnya tersebut.
"Bos Jeevan!" teriak Alden dengan lantang sambil melambaikan tangan.
"Hah Alden? Fritzy?" kaget Jeevan, mulutnya bahkan menganga lebar melihat kedua anak buahnya berada disana.
"Ya bos, akhirnya kita ketemu lagi disini. Kami udah cari-cari bos tau daritadi," ucap Fritzy.
"Ngapain kalian ikutin saya? Bukannya kalian harus tetap di markas dan urus semuanya, terus sekarang siapa yang urus itu?" tanya Jeevan keheranan.
"Entahlah bos, kita berdua udah ambil keputusan buat ikut sama bos. Pokoknya kita mau ikut kemanapun bos pergi," jawab Alden.
"Apa-apaan sih kalian? Saya gak izinin kalian buat ikut sama saya, lebih kalian kembali ke markas dan kerja seperti biasa!" ujar Jeevan.
"Jangan gitu dong bos! Kita ini setia loh sama bos, kita mau ikut sama bos terus," ucap Alden.
"Saya gak bisa bawa pergi kalian gitu aja, karena kalian masih terhitung anak buah papa saya," ucap Jeevan.
"Gapapa bos, kita udah ajuin surat pengunduran diri kok dari bisnis itu. Sekarang kita bebas dari perusahaan manapun bos," ucap Alden.
"Iya bos, boleh ya kita ikut sama bos sekarang?" sahut Fritzy.
"Yasudah, terserah kalian aja. Tapi, bantu saya buat cari tempat penginapan yang murah di dekat sini ya? Soalnya saya masih bingung nih mau tinggal dimana malam ini," ucap Jeevan.
"Ah siap bos! Saya kebetulan kenal orang yang punya tempat penginapan, nanti saya hubungi dia deh bos," ucap Fritzy sambil tersenyum.
"Nah boleh tuh, sekalian juga cari makanan yang enak di dekat sini," pinta Jeevan.
"Eee kalo gitu saya boleh bantu bawa barang-barang punya bos Jeevan kan? Soalnya kelihatan bos kayak keberatan gitu bawanya," tawar Alden.
"Boleh boleh," Jeevan mengangguk setuju dan memberikan tas yang ia bawa itu kepada asistennya.
Akhirnya Jeevan memang membiarkan Alden serta Fritzy ikut bersamanya, meskipun awalnya ia ragu untuk membawa mereka karena khawatir papa atau mamanya tidak akan mengizinkannya. Namun, Jeevan juga merasa butuh bantuan orang untuk mengurusi kehidupannya.
"Bos, kita istirahat aja dulu bos di depan sana tuh. Kelihatannya bos juga capek banget, biar sekalian nanti saya beliin minum," ucap Alden.
"Iya bos, ini teman saya juga masih belum balas pesan dari saya," sahut Fritzy.
"Okay, kalo gitu Alden beli minum dan kamu temani saya disini Fritzy," ucap Jeevan.
"Siap bos!" ucap Alden dan Fritzy bersamaan.
Setelah Alden pergi membeli minum, tak lama seorang pria muncul menghampiri Jeevan dan Fritzy yang sedang terduduk berdua.
"Halo mister Jeevan!" sapa pria itu pelan.
Sontak Jeevan dan Fritzy menoleh ke asal suara, mereka terkejut bukan main melihat sosok pria tersebut berdiri menatap ke arah mereka. Bahkan Jeevan langsung reflek bangkit dari duduknya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1