
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Dinda hamil?
•
•
Tak lama kemudian, sekumpulan pria berbaju hitam muncul dan mengelilingi mereka. Tampak senjata juga berada di tangan orang-orang itu dan berhasil membuat Jeevan angkat tangan.
"Menyerah saja Jeevan!" ujar Queen.
"Jadi ternyata kamu sekarang pemimpin walters? Pantas aja ada yang beda dari kelompok kalian, saya benar-benar gak nyangka," ucap Jeevan.
"Kalau iya kenapa? Lo takut berhadapan sama gue langsung? Gue bakal bikin kelompok walters makin maju, dan lu gak akan bisa apa-apa lagi Jeevan!" ucap Queen dengan pede.
Jeevan tersenyum lebar, "Baiklah, saya tidak mau ada kekerasan disini. Untuk itu saya memilih mengalah dan akan pergi," ucapnya.
"Yasudah, sekarang lu pergi dan jangan balik lagi!" usir Queen.
"Saya akan pergi, tapi saya akan kembali lagi nanti untuk membawa kamu dan juga Dinda. Tunggu saja waktunya sayang!" ucap Jeevan tersenyum.
"Cih, lo gak akan bisa bawa gue atau Dinda pergi dari sini! Sekali lagi lu balik kesini, gue gak akan segan-segan buat hajar lu!" ucap Queen.
"Iya iya, saya mengerti Queen. Kalau begitu saya permisi, sampai ketemu lagi nanti!" pamit Jeevan.
Queen menggeleng, Jeevan pun berbalik dan pergi dari sana meninggalkan wanitanya. Walau sangat berat, namun Jeevan terpaksa harus pergi karena ia hanya sendiri datang kesana.
"Tunggu saja Queen, saya pasti akan kembali untuk kamu!" batin Jeevan.
Setelah Jeevan pergi, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka. Lova turun dari mobil tersebut dan berjalan mendekati Queen dengan wajah bingung, pasalnya saat ini masih banyak pasukan walters berdiri disana.
"Queen, ini ada apa? Kok pada tegang banget kayak gini? Gue ketinggalan apa?" tanya Lova penasaran.
"Gak ada apa-apa kok, cuma kita baru tau kalau ternyata Tom itu berkhianat dari kita. Gue sendiri gak nyangka dia setega itu sama kita," cibir Queen.
__ADS_1
Mendapat sindiran seperti itu, sontak Tom semakin dibuat menyesal karena sudah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Bisa saja kali ini ia dibenci oleh kelima gadis itu termasuk Dinda, dan ia akan kehilangan kepercayaan dari mereka sehingga ia tidak bisa berdekatan lagi dengan Dinda, wanita yang ia cintai.
"Saya minta maaf, saya akui saya salah dan saya menyesal sudah melakukan itu. Tapi, saya janji akan bantu kalian mengatasi Jeevan. Kalian mau kan maafin saya?" ucap Tom.
"Cih, pintu maaf buat lu udah tertutup. Mending lu pergi sekarang sebelum gue emosi dan perintahin anak buah gue buat hajar lu!" geram Queen.
"Saya gak bisa pergi, saya masih harus tepati janji saya buat jaga dan lindungi Dinda. Saya akan tetap disini Queen, sampai saya bisa yakin kalau Dinda baik-baik aja!" ucap Tom tegas.
Queen menggeram kesal, begitupun dengan Dinda yang sudah tak mau lagi bersama pria itu.
"Kamu gausah perduliin aku lagi Tom, karena aku udah gak butuh kamu! Aku makasih banget kamu udah mau tolong aku waktu itu, tapi untuk sekarang aku benar-benar benci sama kamu! Aku percaya sama kamu, tapi kamu malah khianati aku!" sentak Dinda.
"Tuh, lu denger sendiri kan yang dibilang Dinda? Udah sana pergi, jangan pernah lu balik lagi ke rumah gue!" usir Queen.
"Dinda, aku—"
"Cukup Tom! Aku gak mau dengar apapun lagi dari mulut kamu, cepat pergi!" sela Dinda sembari memegangi keningnya.
Sontak Tom merasa cemas melihat Dinda tampak pucat dan terus memegangi keningnya, sedetik kemudian gadis itu terjatuh ke belakang karena rasa pusing yang ia rasakan. Beruntung Nina serta Queen berhasil menangkap tubuh Dinda dengan sigap.
"Din, lu kenapa Din? Kok lu lemas banget kayak gini? Muka lu makin pucat lagi," panik Nina.
"Yaudah, kita bawa Dinda ke rumah sakit aja! Pake mobil gue biar cepet," usul Lova.
"Boleh tuh, ayo ayo cepetan!" Queen dan yang lainnya pun membantu membawa Dinda ke dalam mobil milik Lova.
"Saya ikut ya?" pinta Tom.
"Gak! Awas ya lu deketin Dinda atau ikutin kita!" sentak Queen.
Tom pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa, ia memilih diam membiarkan yang lain membawa Dinda pergi. Dinda pun dibawa bersama Lova dan Nina, sedangkan Queen serta Aulia tetap disana.
"Kalian berdua kenapa gak ikut ke rumah sakit?" tanya Tom penasaran.
"Gausah kepo lu, ayo Aul kita susul mereka pake mobil gue!" ucap Queen.
__ADS_1
Aulia mengangguk dan pergi bersama Queen.
•
•
Begitu tiba di rumah sakit, Lova dan Nina langsung membawa Dinda ke dalam untuk diperiksa. Mereka pun menunggu di luar sembari Dinda diperiksa oleh dokter, keduanya terlihat panik dan berharap agar Dinda tidak kenapa-napa di dalam sana.
Arul yang sebelumnya menunggu di luar, kini ikut masuk ke dalam menghampiri nona nya. Ia berdiri tepat di hadapan gadis itu, membuat Lova mendongak keheranan. Melihat Arul yang terdiam di dekatnya, Lova pun merasa risih dan langsung menegur pria itu.
"Heh! Lo ngapain sih berdiri aja disitu? Ngerusak pemandangan banget tau gak, sana sana ah!" ucap Lova dengan ketus.
"Kenapa sih nona? Saya kan cuma diam aja disini, saya gak ngapa-ngapain loh," ucap Arul heran.
"Ya emang lu gak ngapa-ngapain, tapi dengan lu diem disitu tuh bikin gue risih. Bisa kan geser sedikit? Jangan di dekat gue banget kayak gini!" ucap Lova.
"Saya harus jagain nona, jadi saya harus ada di dekat nona dong," ucap Arul membela diri.
"Haish, lu gak perlu jagain gue. Sekarang gue kan ada di rumah sakit, disini aman kali!" ujar Lova.
"Kata siapa nona? Banyak kok kejahatan yang terjadi di rumah sakit, jadi saya harus ekstra waspada dan jaga nona," ucap Arul.
"Terserah lu deh, tapi please jangan ganggu gue!" ucap Lova.
Arul mengangguk, "Siap nona! Saya disini cuma mau jagain nona kok, bukan buat gangguin nona. Nah, kalau ada yang berani gangguin nona baru deh saya bergerak," ucapnya.
Lova menggeleng dan memalingkan wajahnya ke arah lain, membuat Arul mengelus dada dan berusaha sabar dengan sikap angkuh nona nya. Karena meski begitu, Lova memang terlihat lucu dan menggemaskan di wajahnya. Membuat Arul ingin terus berada di dekat gadis itu.
Tak lama kemudian, dokter muncul dari dalam ruangan tempat Dinda diperiksa. Sontak Lova dan juga Nina langsung bergerak cepat menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi sahabat mereka, sedangkan Arul memilih diam di tempat agar tidak membuat Lova marah lagi.
"Dok, gimana keadaan teman kita? Dia baik-baik aja kan dok?" tanya Lova cemas.
"Kalian gak perlu khawatir, pasien tidak kenapa-napa kok. Gejala yang dia alami tadi itu karena dia sedang mengandung anak pada usia empat Minggu," jawab dokter itu sambil tersenyum.
"Apa? Dinda hamil??" kaget Lova dan Nina bersamaan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...