Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 68. Mau ikut bos


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Tetap setia




Tiba-tiba Dinda bergerak menghampiri Queen dan memegang erat dua tangan wanita itu, tentu saja Queen paham dengan ketakutan Dinda yang tidak ingin dibawa pergi oleh Tom. Namun, Tom tetap tak mengerti dan malah terus memaksa untuk bisa bersama Dinda lagi.


"Queen, tolongin gue Queen! Gue gak mau sama tuh cowok, gue pengen disini aja sama lu. Tolong usir dia ya Queen!" pinta Dinda.


"Lu tenang aja ya Dinda, gue janji gue bakal jagain lu dan gue gak akan biarin Tom sentuh lu! Selama lu ada disini, pasti lu aman dan gak ada siapapun yang bisa ganggu lu termasuk dia!" ucap Queen.


"Tolong Queen, kamu jangan halangi saya untuk bawa Dinda pergi dari sini!" ucap Tom.


"Lo diem deh Tom! Jangan sampe gue emosi dan hajar lu sekarang juga!" sentak Queen.


"Saya gak akan diam, saya mau tetap bawa Dinda pergi!" tegas Tom.


"Kenapa sih lu keras kepala banget? Harus berapa kali gue bilang sama lu kalau Dinda gak bakal ikut sama lu?" heran Queen.


"Dinda harus ikut sama saya, dia itu sedang mengandung anak saya dan saya punya hak atas anak di dalam kandungan Dinda," ucap Tom.


"Lo gak perlu khawatir Tom, anak Dinda bakal baik-baik aja kok," ucap Queen.


"Tetap aja saya mau Dinda ikut dengan saya, kamu jangan halangi saya buat bawa dia! Dinda, kamu ikut ya sama saya!" ucap Tom memohon.


"Enggak Tom, sampai kapanpun aku gak akan merubah keputusan aku. Aku gak mau ikut sama kamu!" tegas Dinda.


"Tapi Dinda, saya sayang sama kamu dan saya gak bisa jauh dari kamu," ucap Tom.


"Aku gak perduli, intinya aku gak akan mau ikut sama kamu. Ayo Queen, kita masuk aja yuk!" ucap Dinda.


Queen mengangguk dan melangkah ke rumahnya, namun Tom dengan cepat mencegah tak membiarkan dua wanita itu pergi begitu saja darinya. Perdebatan pun kembali terjadi disana, Queen tampak sangat emosi pada pria itu.


"Lo susah banget dikasih tau ya? Cepat minggir atau gue gak akan segan-segan buat hajar lu disini!" ucap Queen mengancam.


"Saya gak takut Queen, apapun akan saya hadapi yang penting saya bisa bersama Dinda lagi. Karena saya benar-benar cinta sama Dinda, saya gak bisa jauh dari dia," ucap Tom.


"Cinta cinta bullshit! Lo itu cuma suka sama tubuhnya Dinda, gue yakin lu gak cinta beneran sama dia! Mending lu pergi deh sana!" ujar Queen.


"Kamu jangan bikin spekulasi yang enggak-enggak ya Queen! Saya beneran tulus cinta sama Dinda, dan saya cuma mau bertanggung jawab atas bayi yang ada di dalam kandungannya!" tegas Tom.


"Yaudah, kalo gitu lu nikahin dong Dinda! Jangan cuma ngomong cinta doang!" ucap Queen.


Seketika Tom terdiam kaget mendengar perkataan Queen, sebenarnya ia mau-mau saja menikahi Dinda karena ia memang mencintainya, tapi entah kenapa Tom masih belum bisa jika harus menikah sekarang ini. Itulah sebabnya Tom tidak pernah mengatakan akan menikahi Dinda, meski ia sangat mencintai wanita itu.


Bukan hanya Tom yang terkejut dengan ucapan Queen, tapi juga Dinda. Wanita itu reflek menoleh ke arah sahabatnya tersebut dan membulatkan matanya seolah tak setuju dengan apa yang dibicarakan Queen barusan, tentu saja Dinda tidak mau jika harus menikah dengan lelaki yang sangat ia benci itu.


"Kenapa diam? Gak siap lu nikahin Dinda? Tuh kan, lu emang gak cinta sama dia!" ujar Queen.




"Terus kenapa sekarang kamu berubah pikiran? Kamu mau bikin kami sedih?" tanya Aqila.


"Gak juga, aku cuma pengen menghentikan permusuhan ini. Lebih baik papa dan mama sudahi semuanya sebelum terlambat! Lagipun, aku cinta sama Queen dan aku tidak akan menganggap dia musuh aku lagi ma!" jawab Jeevan.


"Kamu itu sudah dibutakan oleh cinta, gak seharusnya kamu bicara begitu di depan kedua orang tua kamu Jeevan!" sentak Aqila.


"Aku memang cinta sama Queen, ma. Aku cinta banget sama dia, demi Queen sekarang aku mau mengundurkan diri dari bisnis papa dan aku gak mau lagi terlibat di dalamnya!" ucap Jeevan.

__ADS_1


Seketika Aqila dan Dean terkejut bukan main mendengar perkataan Jeevan, mereka sama sekali tak menyangka jika Jeevan sampai tega keluar dari bisnis papanya sendiri yang sudah lama dia urus. Dean pun mendekati Jeevan dan mengatakan sesuatu pada putranya itu.


"Maksud kamu bicara begitu apa sih? Kamu gak mau kerja lagi di bisnis papa ini?" tanya Dean.


"Iya pa, aku udah muak dan bosan kerja jadi orang jahat. Lebih baik aku keluar dari sini, papa dan mama gak bisa larang aku karena ini sudah keputusan aku," jawab Jeevan.


"Kamu gak bisa main keluar gitu aja Jeevan, kamu harus bertanggung jawab! Bisnis ini masih membutuhkan kamu, papa gak akan izinkan kamu buat keluar!" tegas Dean.


"Terserah pa, tapi aku tetap mau keluar dan papa atau mama gak bisa halangi aku. Sudah ya aku permisi dulu," ucap Jeevan.


"Jeevan!" sentak Dean dipenuhi emosi.


Dean bergerak maju dan berdiri tepat di hadapan putranya, sehingga Jeevan pun tidak bisa melangkah lagi dan terpaksa menghadapi papanya disana. Tampak Dean sangat kesal dengan kelakuan Jeevan, rahangnya sudah mengeras disertai kedua tangan terkepal menandakan ia sangat emosi.


"Kalau kamu memang ingin keluar, yasudah kamu keluar Jeevan! Tapi ingat, jangan pernah kamu kembali lagi kesini dan semua fasilitas kamu akan papa ambil! Kamu tidak boleh bawa barang yang asalnya dari papa," tegas Dean.


Jeevan sedikit tersentak mendengarnya, "Oke, aku siap terima kemauan papa. Aku bisa keluar dari sini aja aku udah senang kok," ucapnya.


"Yaudah, kamu pergi sana dan kembalikan semua barang pemberian papa!" usir Dean.


Jeevan mengangguk perlahan, sejujurnya ia berat meninggalkan tempat itu apalagi harus kehilangan segala fasilitasnya. Namun, demi Queen ia akan lakukan segalanya agar ia bisa bersama dengan wanita itu selamanya. Baginya hanya Queen lah yang terpenting di dalam hidupnya.


"Baik pa, kalo gitu aku pergi dulu. Semua fasilitas yang papa berikan ke aku akan aku kembalikan, nanti biar diurus sama Alden supaya dia bisa balikin barang-barang itu ke papa," ucap Jeevan.


"Ya, cepat pergi sana papa sudah muak lihat wajah kamu!" geram Dean.


Jeevan melirik sekilas ke arah mamanya, ia bisa melihat kalau Aqila sangat sedih akan kepergiannya. Tapi berbeda dengan Dean, sepertinya papanya itu sudah sangat emosi sehingga tak perduli jika Jeevan memang ingin pergi. Jeevan pun pamit pada keduanya dan tak lupa mencium tangan mereka, lalu Jeevan pergi meninggalkan rumah yang sudah membesarkannya dari kecil itu.


Setelah Jeevan pergi, Aqila menghampiri suaminya diiringi isak tangis. "Pa, apa papa benar-benar yakin mau mengusir Jeevan?" tanyanya.


Dean hanya diam tak menjawab apapun.




Akan tetapi, disaat mereka sedang menunggu taksi tersebut tiba-tiba saja Victor muncul dan menghampiri ketiganya disana. Lelaki itu tersenyum menatap ke arah Aulia yang berdiri di tengah-tengah antara Lova dan Nina, memang hanya Aulia lah yang menjadi incarannya saat pergi ke kampus.


"Hai Aulia! Kamu udah selesai ya kuliahnya? Mau pulang?" sapa Victor.


"Eee iya kak, aku sama teman-teman aku udah mau pulang nih. Kamu sendiri ngapain di kampus kita? Ada urusan apa?" ujar Aulia.


"Aku mau jemput kamu, biar kita bisa pulang bareng dan lanjut ngobrol di luar," ucap Victor.


"Duh, gausah repot-repot deh kak. Aku bisa pulang sendiri kok, ini juga aku sama teman-teman udah pesan taksi online buat pulang," ucap Aulia.


"Yah kamu jangan nolak aku dong Aulia! Gini aja, kamu ajak aja deh teman-teman kamu juga buat pulang bareng aku!" usul Victor.


"Umm.." Aulia pun terlihat bingung dan menatap kedua temannya seolah bertanya.


Lova dan Nina kompak menggeleng memberi kode pada Aulia agar menolak ajakan Victor, mereka memang tidak mau Aulia terlalu dekat dengan Victor karena mereka khawatir Victor ada niat jahat pada mereka. Namun, Aulia berada dalam kebingungan harus percaya pada siapa saat ini.


"Ayolah Aulia, kali ini aja kok! Aku pengen banget ngobrol berdua sama kamu, masih banyak yang mau aku bahas ke kamu," ucap Victor memohon.


"Ya kalau emang kamu maksa, yaudah deh aku mau pulang bareng kamu," ucap Aulia sambil mengangguk. Ia kemudian beralih menatap Lova dan Nina yang tampak tak suka, "Sorry ya guys, gue kayaknya bareng Victor aja deh," ucapnya.


"Hah? Lo gak salah tuh Aul? Masa lu mau pulang sama dia sih? Udah lah sama kita aja, biar lu aman!" ucap Nina.


"Sekali mah gapapa kok, gue juga yakin kak Victor gak mungkin apa-apain gue!" ucap Aulia.


"Itu benar, aku mana mungkin celakai adik aku sendiri? Kalau kalian gak percaya sama aku, boleh lah kalian berdua ikut sama kita," ucap Victor.


"Gak dulu deh, kita udah terlanjur pesan taksi. Gak enak juga kalo dicancel nanti," tolak Nina.

__ADS_1


"Iya tuh, lagian lu ngapain sih Aul pake terima ajakan dia? Mending lu sama kita aja," sahut Lova.


"Gue gak enak tolak ajakan kak Victor, udah ya gapapa kok gue bareng dia aja. Sekali lagi sorry gue gak bisa bareng kalian," ucap Aulia.


"Yaudah deh gapapa," singkat Lova.


Aulia pun beralih menatap Victor dan mengajak pria itu untuk segera pergi, Victor tentu saja mengangguk senang dan langsung meraih satu tangan Aulia untuk digenggam. Sontak perbuatan Victor mendapat kecaman dari Lova serta Nina, kedua gadis itu seolah tak terima Victor memegang tangan Aulia.


"Victor!" tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil nama lelaki itu, Victor pun menoleh tanpa melepas genggamannya pada Aulia.




Jeevan kini berada di markasnya, ia membereskan barang yang sekiranya bisa ia bawa dan bukan pemberian papanya. Biar gimanapun, Jeevan tetap berat harus meninggalkan tempat yang sudah lama ia tinggali itu. Apalagi disana banyak sekali kenangan yang ia buat.


"Bos!" Alden datang menghampirinya dan menyapa sang bos dengan pelan.


"Gimana Alden? Kamu sudah bereskan semua barang milik papa?" tanya Jeevan.


"Sudah bos, tapi sebenarnya ini kenapa? Kok bos suruh saya buat beres-beres barang pemberian tuan?" heran Alden.


"Saya sudah tidak punya hak lagi atas itu semua, karena saya baru saja mengundurkan diri dari bisnis ini," ucap Jeevan.


"Apa bos? Kenapa bos mengundurkan diri? Apa yang terjadi bos?" tanya Alden terkejut.


"Gak ada apa-apa, saya cuma udah gak mau kerja di bisnis ini. Terimakasih ya karena kamu sudah baik sama saya selama ini," jawab Jeevan.


"Tapi bos, berarti bos bakal pergi dari sini dong?" tanya Alden.


"Ya begitulah, saya juga sudah bukan bos kamu lagi. Jadi, kamu berhenti panggil saya bos. Oh ya, saya titip semuanya ke kamu ya Alden? Kamu harus kerja dengan baik disini," ucap Jeevan.


Alden terdiam sejenak seolah menahan sedihnya, ia tak menyangka jika harus berpisah dengan bos yang selama ini bekerja dengannya cukup lama.


"Saya gak bisa bos, izinkan saya ikut dengan bos. Saya sudah terlanjur nyaman kerja sama bos, jadi lebih baik saya ikut sama bos dan keluar dari bisnis ini juga seperti bos," ucap Alden.


"Gak bisa Alden, kamu harus tetap disini dan bantu papa saya mengembangkan bisnis ini!" ujar Jeevan.


"Tapi bos, saya beneran deh udah terlanjur nyaman kerja sama bos. Mending saya keluar dari sini dan ikut sama bos deh, saya rela walau nantinya kerjaan saya harus turun jauh dari yang sekarang. Bagi saya, lebih baik saya ikut sama bos," ucap Alden.


Jeevan tersenyum tipis mendengar ucapan yang dilontarkan sang asisten, ia sungguh terharu sebab kesetiaan Alden memang benar-benar luar biasa. Namun, Jeevan tentunya tetap tak mau mengorbankan karir Alden dan meminta pria itu untuk tetap disana.


"Kamu gak bisa ikut sama saya, mending kamu disini aja dan atur semuanya dengan baik!" ucap Jeevan tegas.


Alden sontak merunduk dengan tampang sedih, sedangkan Jeevan sudah bersiap untuk pergi setelah semua barang-barangnya ia rapihkan ke dalam tas. Alden pun benar-benar tidak bisa lagi menahan sedihnya, ia menitikkan air mata dan membuat Jeevan ikut terharu.


"Kamu kenapa nangis Alden? Udah kayak pisah sama pacar aja, padahal saya kan cuma bos kamu. Justru harusnya kamu senang saya pergi, karena kamu bisa aja naik jabatan," ucap Jeevan.


"Gak bos, saya tetap lebih suka kerja sama bos. Please bos, tolong biarin saya ikut sama bos ya!" bujuk Alden.


Jeevan menggeleng, "Gak bisa Alden," ucapnya.


"Eee lalu gimana dengan nona Caitlyn, bos? Apa dia sudah bisa dibebaskan setelah bos pergi? Atau saya tetap biarkan dia disana?" tanya Alden.


"Oh iya, saya lupa kalau saya suruh kamu culik dia. Yasudah, nanti saya yang temui dia. Sekarang kamu antar barang-barang ini ke rumah papa saya ya!" ucap Jeevan.


"Siap bos! Saya akan laksanakan tugas terakhir saya ini dengan baik," ucap Alden terisak.


Jeevan tersenyum dan menaruh tangan di pundak Alden, "Gausah lebay, nanti kapan-kapan kalau ada waktu kita kan bisa ketemu lagi," ucapnya.


"I-i-iya bos," gugup Alden.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2