
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Jeevan keluar
•
•
Lova pun mengangguk pertanda bahwa yang dikatakan Nina itu benar, sontak Aulia menganga lebar tak percaya jika Arul meminta Lova untuk menjauh dari mereka. Aulia pun mendekati Lova dan kembali bertanya tentang itu.
"Emang ada apa sih Va? Kenapa si Arul pengawal lu itu minta lu buat jauhin kita? Apa salah kita coba?" tanya Aulia kebingungan.
"Gak tahu Aul, dia bilangnya sih disuruh sama bokap gue. Ya tapi gue gak tahu benar apa enggak yang dia bilang," jawab Lova.
"Ish, gue yakin dia bohong tuh! Masa iya bokap lu nyuruh lu buat menjauh dari kita? Gak mungkin banget tau, secara kan bokap lu aja udah akrab banget sama kita," ujar Aulia.
"Bener tuh, bisa jadi ini cuma permainan si Arul. Padahal dia sendiri yang emang gak mau lu dekat-dekat sama kita," sahut Nina.
"Entahlah, gue gak mau berpikir yang enggak-enggak dulu sebelum ada buktinya. Nanti biar gue cari tahu secara langsung ke dia," ucap Lova.
"Yah jangan lah Lova! Si Arul mah gak bakal ngaku kalo ditanya langsung," ucap Aulia.
"Yaudah, kita lihat aja nanti. Sekarang mending bahas soal lu, gimana tuh sama laki-laki yang ngaku jadi abang lu?" ucap Lova.
Aulia langsung menunduk saat Lova membahas tentang Victor di depannya.
"Nah iya tuh, gue juga penasaran banget sama tuh cowok yang ngaku-ngaku jadi saudara lu. Emang bener ya dia itu abang lu?" ucap Nina.
"Eee gue gak tahu guys, dia sih bilangnya begitu dan dia kelihatan yakin banget kalau gue ini adiknya dia. Tapi, dia masih belum bisa tunjukin buktinya ke gue kalau ucapan dia itu benar," ucap Aulia.
"Ohh, kalo gitu lu jangan percaya dan dekat-dekat sama dia deh Aulia! Gue takut dia tuh orang jahat yang cuma mau manfaatin lu," ucap Lova.
"Iya gue setuju sama Lova, jaman sekarang kan banyak modus-modus kejahatan yang kayak gitu. Mending lu hati-hati deh Aul," sahut Nina.
"Ya gue ngerti, gue juga gak terlalu percaya atau dekat sama dia kok. Gue cuma mau ngobrol sama dia karena siapa tahu dia ada bukti gitu, bisa aja kan dia beneran abang gue?" ucap Aulia.
"Gini deh, gue mau tanya sama lu. Emang lu ngerasa pernah punya saudara gitu?" tanya Nina.
Aulia terdiam, bayangan mengenai banjir bandang itu kembali terbayang di kepalanya. Ia semakin bingung ada hubungan apa sebenarnya ia dengan banjir tersebut, sampai berulang kali ia mimpi tentang banjir bandang di sebuah desa.
"Ehem ehem.." suara deheman berat itu mengagetkan ketiganya yang sedang serius berbincang.
Sontak ketiga gadis tersebut pun bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah seseorang yang datang, mereka membelalakkan mata melihat Victor berdiri di dekat mereka dengan senyum merekah di pipinya. Aulia reflek membalas senyuman itu entah kenapa.
"Kalian lagi bicarain saya ya? Maaf saya menyela, abisnya saya dengar pembicaraan kalian tadi sewaktu lewat sini," ucap Victor.
"Lo gausah sok asik deh! Siapa juga yang ngomongin lu? Jangan kege'eran jadi orang!" sentak Nina.
"Nina, lu jangan kasar gitu dong sama kak Victor! Dia kan nanya baik-baik, harusnya lu juga jawabnya baik-baik aja!" tegur Aulia.
"Lah kenapa lu jadi belain dia Aulia? Terus sejak kapan lu panggil dia kakak? Apa lu udah terpengaruh sama omongan dia?" heran Nina.
Aulia tak mampu menjawab, ia justru beralih menatap Victor dengan sedikit gugup.
•
•
Jeevan datang ke rumah orangtuanya dengan kondisi penuh emosi, ia sudah tak tahan lagi sebab mama papanya itu selalu saja menentang apa yang ia inginkan. Awalnya Jeevan hanya diam, namun jika sudah menyangkut hubungannya dengan Queen, maka Jeevan tidak bisa terima dan diam begitu saja.
Pria itu pun memasuki area rumah sang papa, yang juga merupakan bos besar mafia di kota itu. Jeevan melangkahkan kaki, memanggil papa mamanya agar bisa segera keluar menemuinya. Jeevan sangat emosi, sampai-sampai kini kedua tangannya terkepal dan rahangnya mengeras.
"Mama! Papa!" teriak Jeevan yang sudah berada di ruang tamu.
Setelah berteriak beberapa kali, akhirnya Aqila serta Dean muncul dari dalam. Mereka terkejut melihat keberadaan Jeevan disana, tanpa banyak bicara mereka langsung menghampiri putra mereka yang tengah tersulut emosi itu dan coba bertanya ada apa sampai dia sangat emosi.
__ADS_1
"Ya Jeevan, kamu ini kenapa? Gak biasanya loh kamu teriak-teriak kayak gini," tanya Aqila.
"Aku rasa gausah basa-basi lagi deh ma, aku mau bicara sama mama dan papa sekarang. Aku udah terlalu kesal buat tahan diri, karena kelakuan papa sama mama!" ucap Jeevan.
"Maksud kamu apa? Memangnya apa yang kita lakukan sampai bikin kamu emosi kayak gini?" tanya Aqila keheranan.
"Mama gausah pura-pura lupa! Aku yakin mama tahu apa yang bikin aku kesal begini, itu karena mama sudah melarang aku untuk dekat dengan Queen dan keluarganya!" jawab Jeevan.
"Lalu kamu salahkan mama atas semua itu? Mama cuma mau menghindari kamu dari mereka, kamu harus ingat mereka itu musuh kita!" ucap Aqila.
"Ya memang mereka musuh kalian, tapi bukan musuh aku. Sejak dulu aku gak mau punya musuh ma, aku terpaksa anggap mereka musuh karena aku gak mau bikin mama dan papa sedih," ucap Jeevan.
"Terus kenapa sekarang kamu berubah pikiran? Kamu mau bikin kami sedih?" tanya Aqila.
"Gak juga, aku cuma pengen menghentikan permusuhan ini. Lebih baik papa dan mama sudahi semuanya sebelum terlambat! Lagipun, aku cinta sama Queen dan aku tidak akan menganggap dia musuh aku lagi ma!" jawab Jeevan.
"Kamu itu sudah dibutakan oleh cinta, gak seharusnya kamu bicara begitu di depan kedua orang tua kamu Jeevan!" sentak Aqila.
"Aku memang cinta sama Queen, ma. Aku cinta banget sama dia, demi Queen sekarang aku mau mengundurkan diri dari bisnis papa dan aku gak mau lagi terlibat di dalamnya!" ucap Jeevan.
Seketika Aqila dan Dean terkejut bukan main mendengar perkataan Jeevan, mereka sama sekali tak menyangka jika Jeevan sampai tega keluar dari bisnis papanya sendiri yang sudah lama dia urus. Dean pun mendekati Jeevan dan mengatakan sesuatu pada putranya itu.
"Maksud kamu bicara begitu apa sih? Kamu gak mau kerja lagi di bisnis papa ini?" tanya Dean.
"Iya pa, aku udah muak dan bosan kerja jadi orang jahat. Lebih baik aku keluar dari sini, papa dan mama gak bisa larang aku karena ini sudah keputusan aku," jawab Jeevan.
"Kamu gak bisa main keluar gitu aja Jeevan, kamu harus bertanggung jawab! Bisnis ini masih membutuhkan kamu, papa gak akan izinkan kamu buat keluar!" tegas Dean.
"Terserah pa, tapi aku tetap mau keluar dan papa atau mama gak bisa halangi aku. Sudah ya aku permisi dulu," ucap Jeevan.
"Jeevan!" sentak Dean dipenuhi emosi.
•
•
"Hey stop!" teriak Queen dengan lantang yang seketika membuat dua lelaki itu berhenti berkelahi.
"Nona Queen?" lirih Reza sembari menatap ke arah Queen berada.
"Ini apa-apaan sih? Kenapa kalian malah kelahi di depan rumah gue? Masalahnya apa coba?" tanya Queen penasaran.
"Maaf nona, pria ini memaksa untuk membawa nona Dinda dari rumah ini," jawab Reza.
Queen tersentak dan beralih menatap Tom, "Lo lagi lu lagi, bisa gak sih lu stop ganggu Dinda?" ucapnya dengan emosi.
"Saya hanya mau membantu Dinda merawat anak di dalam kandungannya," ucap Tom membela diri.
"Dinda gak perlu bantuan lu, Tom. Gue juga ada disini kok buat bantu dia, jadi lu gak perlu khawatir. Lebih baik lu menjauh aja dari dia dan jangan pernah lu berpikir buat deketin dia lagi!" ucap Queen.
"Saya gak bisa Queen, saya sayang sama Dinda dan saya mau bertanggung jawab atas bayi yang dikandung dia," ucap Tom tegas.
Tiba-tiba Dinda bergerak menghampiri Queen dan memegang erat dua tangan wanita itu, tentu saja Queen paham dengan ketakutan Dinda yang tidak ingin dibawa pergi oleh Tom. Namun, Tom tetap tak mengerti dan malah terus memaksa untuk bisa bersama Dinda lagi.
"Queen, tolongin gue Queen! Gue gak mau sama tuh cowok, gue pengen disini aja sama lu. Tolong usir dia ya Queen!" pinta Dinda.
"Lu tenang aja ya Dinda, gue janji gue bakal jagain lu dan gue gak akan biarin Tom sentuh lu! Selama lu ada disini, pasti lu aman dan gak ada siapapun yang bisa ganggu lu termasuk dia!" ucap Queen.
"Tolong Queen, kamu jangan halangi saya untuk bawa Dinda pergi dari sini!" ucap Tom.
"Lo diem deh Tom! Jangan sampe gue emosi dan hajar lu sekarang juga!" sentak Queen.
"Saya gak akan diam, saya mau tetap bawa Dinda pergi!" tegas Tom.
"Kenapa sih lu keras kepala banget? Harus berapa kali gue bilang sama lu kalau Dinda gak bakal ikut sama lu?" heran Queen.
__ADS_1
"Dinda harus ikut sama saya, dia itu sedang mengandung anak saya dan saya punya hak atas anak di dalam kandungan Dinda," ucap Tom.
"Lo gak perlu khawatir Tom, anak Dinda bakal baik-baik aja kok," ucap Queen.
"Tetap aja saya mau Dinda ikut dengan saya, kamu jangan halangi saya buat bawa dia! Dinda, kamu ikut ya sama saya!" ucap Tom memohon.
"Enggak Tom, sampai kapanpun aku gak akan merubah keputusan aku. Aku gak mau ikut sama kamu!" tegas Dinda.
"Tapi Dinda, saya sayang sama kamu dan saya gak bisa jauh dari kamu," ucap Tom.
"Aku gak perduli, intinya aku gak akan mau ikut sama kamu. Ayo Queen, kita masuk aja yuk!" ucap Dinda.
Queen mengangguk dan melangkah ke rumahnya, namun Tom dengan cepat mencegah tak membiarkan dua wanita itu pergi begitu saja darinya. Perdebatan pun kembali terjadi disana, Queen tampak sangat emosi pada pria itu.
•
•
Fritzy datang ke tempat Caitlyn disekap dengan membawa makanan serta minuman untuknya, perlahan ia mengetuk pintu ruangan tersebut dan berhati-hati karena khawatir mengganggu aktivitas orang-orang di dalam sana, meski Fritzy juga tak tahu apa yang mereka lakukan sekarang.
Tak lama kemudian, ada balasan dari dalam yang meminta Fritzy untuk masuk saja ke dalam. Fritzy pun membuka pintu dan melangkah masuk sembari membawa nampan di tangannya, ia sedikit kaget ketika melihat Caitlyn dalam kondisi terikat di kursi dan kedua pria berada di dekatnya.
"Eh Fritzy, ngapain diam aja disitu? Sini lah kasih makanannya ke tawanan kita yang cantik ini, dia kelihatannya udah lapar tuh!" ujar Alden.
"I-i-iya Al," Caitlyn merasa gugup dan sedikit gemetar saat berjalan menghampiri pria itu.
"Kamu kenapa sih gemetaran gitu? Takut diikat juga kayak gini?" tanya Alden.
"Eh enggak, aku cuma masih gak percaya aja kalau mbak Caitlyn diikat kayak gini. Emang kalian pada gak takut apa sama Bu Aqila atau pak Dean kalau sampai mereka tahu?" jawab Fritzy.
"Gausah mikirin soal itu, tugas kamu itu kan cuma mengantar makanan buat si Caitlyn. Udah sini biar saya yang kasih ke dia!" ucap Alden.
"Iya iya.." Fritzy pun memberikan nampan itu pada Alden dengan perlahan.
Pria itu langsung menaruh nampan di dekat Caitlyn dan meminta Caitlyn memakannya, namun Caitlyn hanya diam membuang muka seolah tak mau menyentuh makanan tersebut.
"Lo beneran gak mau makan nih? Nanti sakit loh," ucap Alden.
Caitlyn menggeleng dengan tatapan mengarah ke tempat lain, sontak Alden emosi dan menarik wajah gadis itu agar menghadap menatapnya. Alden memajukan wajahnya lebih dekat pada gadis itu sampai membuat Caitlyn ketakutan, jantungnya bahkan sudah berdetak sangat cepat.
"Lo harus makan Caitlyn! Kalau enggak, nanti lu bakal kita genjot rame-rame. Mau lu digituin?" ancam Alden.
"Ngomong apaan sih lu? Gue bukan cewek begituan yang suka nganu sama banyak cowok, lu jangan seenaknya deh jadi orang mentang-mentang gue sekarang lagi diikat!" ucap Caitlyn.
"Terus mau lu apa? Disuruh makan gak mau, giliran digenjot juga gak mau," tanya Alden.
"Lepasin gue! Jangan kurang ajar deh lu! Gue gak takut sama lu atau kalian semua, gue bisa hadapin kalian sendiri!" sentak Caitlyn.
"Hahaha, lu gausah kebanyakan gaya deh. Lu aja sekarang diikat kayak gini, gimana bisa lu lawan kita cantik?" ujar Alden.
Fritzy yang merasa kasihan pada Caitlyn pun mulai angkat bicara, "Al, udah sih lepasin aja mbak Caitlyn nya! Serius deh aku gak tega ngeliat dia diikat kayak gitu," ucapnya dengan wajah memelas.
"Kamu diam aja Fritzy, jangan ikut campur! Urusan kamu udah selesai, sekarang kamu pergi dan gausah banyak omong!" ucap Alden.
"Tapi Al—"
"Fritzy, kalo kamu gak pergi nanti saya akan beritahu soal ini ke bos Jeevan. Apa kamu mau dipecat dari pekerjaan kamu ini?" sela Alden.
"Eh eee enggak Al, iya iya aku keluar deh. Tapi, kamu jangan terlalu siksa mbak Caitlyn ya!" ucap Fritzy.
"Tenang aja, udah sana keluar!" ucap Alden.
Fritzy mengangguk gugup, lalu ia melangkah perlahan keluar dari ruangan itu meski perasaannya masih tidak tega setelah melihat Caitlyn dalam kondisi seperti itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...KALO MAU KASIH VOTE/GIFT JUGA BOLEH BANGET...