Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 18. Masalah terjadi


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Masalah terjadi




Lova diantar ke sebuah toko buku oleh Arul selalu bodyguardnya untuk membeli novel yang ia cari, awalnya Lova hanya ingin pergi sendiri tapi lagi-lagi Arul memaksa untuk mengantarnya dengan dalih perintah dari bosnya yang juga merupakan ayah Lova sendiri.


Akhirnya kini mau tidak mau Lova terpaksa pergi ke toko buku tersebut bersama Arul, mereka hanya berdua seperti biasanya saat Lova hendak pergi kemana-mana. Sudah berulang kali Lova meminta Arul berhenti mengikutinya, tapi tak pernah sama sekali digubris oleh pria itu.


"Nona, sebenarnya nona mau cari novel apa? Siapa tahu saya bisa bantu cari biar lebih cepat ketemu," tanya Arul.


"Gak perlu, biar gue aja yang cari. Lo tunggu aja disini kalo capek mah, nanti gue balik lagi kok kesini. Gue masih mau lihat-lihat di sebelah sana dulu," ucap Lova.


"Tidak bida nona, tugas saya adalah menemani nona dan tidak membiarkan nona pergi sendiri. Jadi, saya akan tetap bersama nona," ucap Arul.


Lova memutar bola matanya malas, lagi dan lagi pria itu mengucapkan hal tersebut. Ia pun tidak bisa pergi menjauh dari Arul, sebab pria itu selalu saja mengikutinya. Seolah-olah Arul tahu apa rencana jahat Lova untuk melarikan diri, sehingga pria itu tak membiarkannya pergi begitu saja.


"Lo ngapain sih? Jaraknya jangan dekat-dekat dong!" protes Lova.


"Maaf nona, tapi saya rasa satu meter sudah cukup jauh kok buat kita," ucap Arul membela diri.


"Awas ya nanti gue laporin ke papa kalo lu mau modus ke gue! Biar lu dihukum atau dipecat aja sekalian," ucap Lova mengancam.


"Silahkan nona, tapi sekali lagi saya katakan kalau aktivitas kita sekarang juga diawasi oleh kamera pengintai. Jadi, tuan nanti bisa tau yang sebenarnya terjadi nona," ucap Arul.


"Halah, gue tau lu ngibul. Mana coba kameranya kalo emang ada? Tunjukin dong ke gue, jangan cuma ngomong doang!" ucap Lova.


"Ada nona, nanti nona juga tau," ucap Arul.


"Yaudah, gue mau cari novel dulu. Lu disini aja gausah ngikut-ngikut, sempit tau jalannya!" ucap Lova kesal.


"Ini lebar kok nona, untuk ukuran badan nona yang kecil saya rasa sih masih cukup lah ya," ucap Arul.


"Lo ngeledek gue? Ngatain gue kurus kerempeng gitu, iya?" kesal Lova.


"Saya gak bilang begitu nona, kan saya cuma bilang ukuran badan nona kecil," ucap Arul membela diri.

__ADS_1


"Au ah, gue benci banget sama lu! Udah sana menjauh!" sentak Lova.


Arul menggeleng, "Saya akan terus mengikuti nona, sampai nanti kita kembali ke rumah," ucapnya.


Lova menggeram kesal, ia akhirnya memilih pergi lebih dulu meninggalkan Arul dan mencari novel yang ingin ia beli.




Jeevan kembali ke markas setelah mendapat kabar dari Fritzy bahwa terjadi penyerangan disaat, cepat-cepat pria itu masuk dan menghentikan peperangan yang terjadi antara pasukannya dengan Erick.


"Hey hey, berhenti! Apa-apaan ini?" Jeevan berteriak untuk memisahkan semuanya.


Sontak Erick serta pasukannya berhenti, mereka menatap ke arah Jeevan dengan tatapan dingin. Erick langsung menghampiri Jeevan karena ia datang kesana memang untuk menemui pria itu.


"Akhirnya anda datang juga, mister Jeevan. Saya ingin bicara dengan anda empat mata," ujar Erick.


"Baiklah, tapi kamu gak seharusnya menyerang pasukan saya juga seperti tadi. Kalau kamu ingin bicara dengan saya, kan bisa baik-baik," ucap Jeevan tampak emosi.


"Saya minta maaf, tapi anak buah anda duluan yang memulai. Mereka menantang saya dan saya hanya membela diri," ucap Erick.


Erick mengangguk, ia pun mengikuti langkah kaki Jeevan ke dalam rumah itu. Mereka berdua kini masuk ke ruang pribadi Jeevan, disana mereka akan berbincang dan membahas mengenai Dinda yang dibawa pergi oleh Tom.


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan sekarang dengan saya? Hal penting?" tanya Jeevan.


"Pastinya, ini sebuah hal yang menurut saya sangat penting. Wanita yang saya beli dari pelelangan di malam itu, dibawa kabur oleh orang suruhan anda. Saya rasa ini penting sekali," jawab Erick.


"Maksudnya apa? Saya tidak pernah menyuruh orang untuk membawa pergi wanita yang sudah saya jual, kecuali kamu belum membayar," ucap Jeevan mengelak.


"Ya, saat itu saya memang belum melunaskan pembayaran. Tapi, kemarin kan saya sudah selesaikan semuanya dan anda juga sudah mendapat bagian. Lalu kenapa wanita saya belum dikembalikan juga?" ujar Erick.


"Maaf ya mister Erick, sekali lagi saya tegaskan kalau saya tidak pernah menyuruh orang saya untuk melakukan itu. Jadi, kamu tidak bisa meminta tanggung jawab dari saya," ucap Jeevan.


"Ah bohong, orang itu mengaku disuruh sama anda kok!" sentak Erick.


"Bagaimana bisa kamu percaya begitu saja? Apa dia punya sesuatu yang menunjukkan kalau dia bagian dari kelompok saya?" tanya Jeevan.


"Dia menunjukkan kartu identitas kelompok black wolf, dan itu kelompok anda!" jawab Erick.

__ADS_1


Jeevan terkejut, "Siapa nama orang itu?" tanyanya.


"Tom." dan lagi-lagi Jeevan semakin terkejut setelah mendengar nama itu.




Fritzy menemui Alden yang sedang berjaga di depan ruangan bosnya, ia penasaran apa yang terjadi dan mengapa Jeevan justru berbincang bersama Erick di dalam sana. Padahal sebelumnya Erick sudah menyerang markas mereka secara membabi buta.


"Al, itu kenapa bos Jeevan malah ajak orang yang sedang kita buat ngobrol di dalam sih? Dia gak takut diapa-apain apa?" tanya Fritzy heran.


"Gue juga bingung, tapi ya udah lah biarin aja terserah bos Jeevan. Pasti si bos udah tau apa yang harus dia lakuin, yang penting gue jaga-jaga aja disini biar aman," jawab Alden.


"Dih gimana bisa aman? Lu aja sendiri doang disini, palingan juga lu kalah sama orang itu," ujar Fritzy.


"Hey, jangan ngeremehin gue ya! Gue bisa bikin lu gak berdaya di atas ranjang," kesal Alden.


Glek


Fritzy menelan saliva nya membayangkan perkataan Alden tadi menjadi kenyataan, selama ini memang ia sering diajak begituan oleh anak buah Jeevan disana, tetapi tak ada satupun yang berhasil memakainya hingga kini.


"Kenapa lu? Bayangan punya gue yang besar ini bersarang di milik lu ya?" goda Alden.


"Apaan sih? Gila lo ya?! Gue laporin ke bos Jeevan baru tau rasa lu!" geram Fritzy.


"Laporin aja, paling juga bos Jeevan setuju sama usul gue. Malahan nanti dia ikut join juga buat nganuin lu," kekeh Alden.


"Emang gak waras ya otak orang-orang disini, untung gue masih butuh duit jadi gue gak mau keluar dari sini," ujar Fritzy.


"Hahaha, kalau lu mau layani gue nanti gue kasih duit yang banyak kok," ucap Alden.


"Ogah, jangan pikir gue cewek yang begitu ya! Gue ini beda, gue cuma mau begituan sama suami gue nanti!" tolak Fritzy.


"Iya deh iya," Alden mengangguk saja.


Fritzy yang kesal akhirnya memilih pergi, daripada obrolan mereka semakin tidak jelas nantinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2