
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Jauhi aku
•
•
Lova menemui Arul yang baru selesai diobati oleh perawat di rumah sakit, ia menggelengkan kepala melihat kondisi pria itu yang cukup parah. Hampir di seluruh wajahnya terdapat luka pukul akibat pertarungan tadi, jujur saja di dalam hatinya Lova sangat khawatir pada pria itu.
"Nona, untuk apa nona masuk kesini? Bukannya nona masih harus jenguk teman nona yang masuk rumah sakit itu?" tanya Arul heran.
"Gue mau tau aja kondisi orang sok jagoan yang satu ini, ternyata lu parah juga ya? Makanya jangan sok nantangin orang deh! Sekarang lu tau sendiri kan akibatnya gimana?" ujar Lova.
"Maaf nona, saya melakukan itu kan untuk melindungi nona. Saya gak terima kalau mereka ingin membawa nona pergi," ucap Arul.
"Ya gue tau, untuk itu makasih ya. Tapi, lain kali lu gak perlu maksain diri buat tarung kayak tadi. Untung aja lu masih hidup, coba kalau lu sampai mati. Nanti siapa coba yang harus tanggung jawab?" ucap Lova.
"Gapapa nona, kalaupun saya harus mati untuk melindungi nona, saya terima dengan lapang dada kok. Bagi saya, yang terpenting itu nona baik-baik saja," ucap Arul.
"Hadeh, lu itu sebenarnya kenapa sih? Dibayar berapa lu sama bokap sampe bisa ngomong kayak gitu sama gue?" heran Lova.
"Ya seperti biasa nona," ucap Arul singkat.
"Terserah lu deh, ini luka lu udah gapapa? Atau masih ada yang sakit?" tanya Lova.
"Kok nona perhatian banget sama saya?" goda Arul sambil tersenyum tipis.
Sontak Lova langsung salah tingkah, ia membuang muka dan menggigit bibir bawahnya menahan rasa malu yang ada di tubuhnya. Sedangkan Arul berusaha bangkit dari tidurnya dan duduk tegak menghadap ke arah Lova, hal itu membuat Lova menatap kembali wajahnya dengan sedikit kesal.
"Lo ngapain pake bangun segala? Udah tidur lagi, nanti luka-luka lu itu sakit lagi loh! Lu harus cepat sehat, biar gue bisa pergi dengan aman tanpa cemas!" ucap Lova.
__ADS_1
"Iya nona, saya pasti akan cepat sembuh. Lagipun, saya gak mungkin lama-lama disini, saya itu kan orangnya kuat nona," ucap Arul pede.
"Halah pret! Lu aja tadi ngos-ngosan lawan si Jeevan, untung si Tom datang dan bantu lu, coba kalo enggak? Mungkin lu udah dibikin perkedel kali sama Jeevan tadi," ujar Lova.
"Ahaha, saya gak kalah nona. Tadi saya cuma kelelahan karena habis bertarung dengan anak buahnya," ucap Arul.
"Iyain aja deh, lu selalu benar!" cibir Lova.
"Gak nona, kalau untuk nona saya terima kok disalahkan. Sekarang nona mau pulang atau tetap disini?" ucap Arul menahan sakitnya.
"Ya gue sih bentar lagi pulang, tergantung Dinda udah dibolehin pulang apa belum. Kalau lu, mending lu disini dulu deh sampe dokter bilang lu boleh pulang," ucap Lova.
"Biar saya yang antar nona ya? Saya gak mungkin biarin nona pergi sendiri," ucap Arul.
"Hadeh, lo gausah gila deh. Gimana bisa lu antar gue pulang? Lu aja masih sakit begini, udah deh jangan ngada-ngada!" ucap Lova.
"Saya udah gapapa kok nona, saya bisa antar nona pulang sekarang," ucap Arul memaksa.
"Arul, jangan maksa kalo emang lu belum kuat! Gue bisa pulang sama teman-teman gue, dan gue bakal bilang ke bokap kalau lu tuh lagi sakit jadi gak bisa anterin gue," ucap Lova.
"Udah ya, gak ada tapi-tapian. Gue pulang sama teman-teman gue, dan lu tetap disini!" sela Lova.
"Baik nona!" ucap Arul lirih.
Lova memutar bola matanya, kemudian melangkah ke luar dari ruangan itu. Sedangkan Arul tetap disana memegangi bagian punggungnya yang sempat terkena pukulan Jeevan sebelumnya.
•
•
Sementara itu, Tom menghampiri Dinda dengan tatapan memelas. Ia telah tahu bahwa saat ini Dinda tengah hamil, ya ia mendengar ketika Queen berbicara dengan teman-temannya disana. Oleh karena itu, Tom pun ingin agar Dinda mau memaafkannya dan mengizinkannya ia untuk ikut merawat bayi itu bersama Dinda.
__ADS_1
"Din, kamu kenapa sih gak mau banget aku tahu soal kehamilan kamu? Itu anak aku juga loh, sebagai ayah aku berhak tau!" ucap Tom.
"Eh Tom, kalo emang lu masih anggap Dinda, harusnya lu gak berkhianat dari kita! Buat apa coba lu kasih tahu alamat rumah gue ke Jeevan? Lu tahu sendiri kan itu membahayakan nyawa Dinda juga?" sentak Queen.
"Queen, saya mohon kamu diam dulu! Biar saya bicara berdua dengan Dinda," ujar Tom.
"Lo—" ucapan Queen terhenti saat Dinda melirik ke arahnya dan menganggukkan kepala, seolah meminta Queen untuk membiarkan dirinya bicara bersama Tom.
Akhirnya Queen mengalah, ia menjauh dan tidak ikut campur lagi ke dalam percakapan Tom dengan Dinda. Begitupun dengan Aulia serta Nina, mereka kini membiarkan Dinda menyelesaikan masalah dia dan Tom berdua. Meski sebenarnya Queen merasa khawatir pada Dinda.
Tom pun tersenyum puas, ia mendekat dan meraih kedua tangan Dinda untuk digenggam. Namun, dengan cepat Dinda menepis tangan Tom dan membuang muka. Sontak Tom merasa kecewa, dugaannya kalau Dinda sudah memaafkannya ternyata salah besar.
"Kamu jangan sentuh-sentuh aku lagi ya Tom! Aku mau bicara sama kamu, tapi bukan berarti aku udah maafin kamu. Aku cuma pengen semua ini cepat selesai," ucap Dinda.
"Ya Dinda, kalo gitu apa kamu mau tinggal sama aku mulai hari ini? Aku mau kita sama-sama rawat bayi ini sayang," bujuk Tom.
"Gak bisa, aku udah terlanjur kecewa sama kamu. Kamu bilang kamu mau lindungin aku, tapi apa nyatanya? Kamu malah kasih tau alamat rumah Queen ke Jeevan," ucap Dinda.
"Aku gak ngira semuanya akan jadi begini sayang, aku udah minta Jeevan buat gak sentuh kamu. Tapi, dia malah ingkar janji," ucap Tom.
"Itu sama aja salah kamu Tom, kenapa juga kamu percaya sama mantan bos kamu yang licik itu? Atau ini semua cuma karangan kamu, iya kan? Padahal di belakang aku, kamu tuh masih kerja buat dia kan?" ucap Dinda.
"Kamu salah Dinda, kamu gak lihat tadi aku tarung sama dia? Apa itu kurang membuktikan kalau aku udah enggak kerja lagi sama Jeevan?" elak Tom.
"Entahlah, aku gak tahu harus gimana lagi. Tolong sekarang kamu jauhi aku! Aku gak mau dekat sama kamu lagi, karena aku takut kamu akan serahin aku ke Jeevan!" ucap Dinda.
"Din, Dinda, jangan begitu dong sayang! Kamu ikut aku ya? Kita tinggal sama-sama lagi seperti dulu ya?" bujuk Tom.
Dinda menggeleng, "Enggak! Pergi kamu Tom, dan jangan pernah kamu datangi aku lagi sampai kapanpun!" sentak nya.
Setelah mengatakan itu, Dinda dengan cepat berbalik lalu pergi menyusul teman-temannya. Sedangkan Tom terdiam di tempat sambil merunduk disertai air mata yang mengalir, penyesalan hebat mendatanginya tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...