Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 98. Dinda takut


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Dinda takut




Deg!


Betapa kagetnya Lova mendengar kata-kata Arul barusan, ia tak menyangka kalau pria itu mudah sekali terpancing walau hanya dengan perkataan. Kini Lova merasa dalam bahaya, ia harus bisa meredakan hasrat Arul yang sedang mencuat tinggi itu akibat ucapannya tadi.


"Rul, lu jangan macam-macam deh! Lepasin gue, tadi itu gue cuma bercanda!" mohon Lova.


"Bercanda atau serius, intinya kamu sudah bikin saya emosi Lova. Kamu tahu kan harus apa sekarang? Dia butuh kamu untuk dipuaskan," ucap Arul.


"Hah? Lo jangan kurang ajar deh! Gue gak mau, awas ah lepasin!" sentak Lova.


Lova coba berontak, tetapi sia-sia karena tenaganya tak sebanding dengan Arul. Justru cengkraman Arul semakin menguat dan membuat Lova tidak dapat melakukan apa-apa, kini Arul beralih membawa Lova menuju ranjang dan melemparnya kesana begitu saja. Setelahnya, Arul langsung melepas pakaian yang ia kenakan hingga sisa setengah.


"Aaaaa Arul gila lu ya? Gue gak mau Rul, jangan!" teriak Lova yang sangat panik sembari menutup matanya dengan kedua tangan.


Perlahan Arul mendekat dengan tubuh setengah polosnya, ia tersenyum seringai dan sudah tidak sabar ingin segera mencicipi tubuh majikannya itu. Jujur sejak lama Arul memang sudah menginginkan itu, dan sekarang adalah saat yang tepat bagi Arul untuk bisa merasakannya.


"Siap-siap saja nona, sebentar lagi kamu akan saya bawa ke sebuah kenikmatan surga dunia. Saya yakin kamu pasti suka, kamu pasrah aja ya dan jangan melawan!" ucap Arul.


"Aaaaa gak mau, gue gak mau!" Lova terus berteriak dan berontak serta memukul-mukul sekitarnya.


"Non, non Lova sadar non!" Arul terlihat panik sebab nona nya tiba-tiba berteriak seperti itu seolah hendak diculik.


"Jangaaannn!!" Lova membuka matanya, ia terengah-engah dan sadar kalau apa yang ia alami tadi hanyalah sebuah halusinasi.


"Haaahhh haaahhh haaahhh.." gadis itu terus mengambil nafas berusaha menenangkan diri.


"Non, nona tenang non! Ada apa sih non? Kok nona sampai teriak-teriak begitu?" tanya Arul heran.


Lova hanya terdiam menatap wajah Arul, seketika wajahnya memerah mengingat peristiwa yang baru ia bayangkan tadi.


"Sial! Kok gue bayangin gituan segala ya?" batin Lova.


Arul masih penasaran sekali pada tingkah nona nya yang sangat aneh itu, ia pun mendekat dan berusaha mencari tahu. Ya sejak kedatangannya tadi untuk menemani Lova, terlihat memang gadis itu seolah sedang membayangkan sesuatu. Namun, Arul sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Lova.


"Non, ada apa sih non?" tanya Arul lagi.


Lova menggeleng bingung, "Gue gapapa, lu ngapain disini coba?" ujarnya bohong.


"Loh gimana sih non? Kan nona tadi yang minta saya kesini buat temenin nona, apa nona lupa?" ucap Arul terheran-heran.


"Ah iya iya, tapi lu tolong jaga jarak dan jangan dekat-dekat sama gue!" ucap Lova.


"Saya daritadi jaga jarak kok nona, malah nona yang nempel terus ke saya," ucap Arul.


"Hah??" Lova terbelalak dan reflek menjauh dari Arul sembari memalingkan wajahnya, jujur ia masih belum bisa melupakan bayangannya tadi.


"Nona sebenarnya kenapa sih? Tadi nona bayangin apa sampai ketakutan banget begitu?" tanya Arul.


Lova hanya diam sambil terus melihat ke arah lain, tak mungkin tentu ia menceritakan semua yang tadi ia bayangkan kepada Arul. Pastinya pria itu akan tertawa terbahak-bahak dan mungkin saja dia bisa mewujudkan apa yang ia bayangkan itu, Lova pun tidak mau itu sampai terjadi.


"Malu, malu banget gue ini mah!" gumam Lova dalam hati.




Tom keluar kamar dan melihat Dinda sedang melamun sendirian di balkon apartemen, ia pun bergerak menghampiri gadis itu sembari membawa segelas teh hangat yang akan ia berikan padanya. Tom senang karena ia bisa tinggal bersama Dinda lagi, walaupun sejak kemarin Dinda selalu saja melamun seperti itu.


Tom sendiri juga belum tahu apa penyebab Dinda terus berdiam diri disana begitu, padahal ia sudah berupaya melakukan apapun untuk bisa membuat Dinda ceria. Namun, entah kenapa Dinda belum mau tersenyum untuknya dan malah seringkali menyendiri tanpa mau mendengarkan kata-kata yang Tom ucapkan.


"Dinda," Tom memanggilnya dengan lembut, seketika gadis itu menoleh ke arahnya sembari menghela nafasnya.


"Kamu ngapain ngelamun disini? Enak ya pemandangannya?" tanya Tom.

__ADS_1


Dinda hanya mengangguk sebagai jawaban, bibirnya benar-benar mengatup seolah ia memang tidak ingin berbicara pada lelaki itu. Tom tersenyum saja dan berdiri di samping Dinda, ia menaruh gelas berisi teh itu di meja lalu fokus pada Dinda.


"Aku buatin teh hangat tuh buat kamu, diminum ya siapa tau bisa bikin tubuh kamu jadi lebih segar dan bersemangat. Biar kamu juga enggak ngelamun terus kayak gini," ucap Tom.


"Makasih," akhirnya ada satu kata yang terucap dari bibir wanita itu.


Tom pun tersenyum seraya merangkul pundak Dinda dengan erat, "Kamu lucu banget deh sayang, aku rasanya makin cinta sama kamu!" ucapnya.


"Apaan sih? Kamu gausah bilang sayang atau cinta kalau kamu masih berkhianat dari aku!" ujar Dinda.


"Kata siapa aku berkhianat? Aku udah bicara jujur kok sama kamu sayang, percaya dong!" ucap Tom membela diri.


"Iya iya, tapi tetap aja aku gak mau ada disini. Aku pengen kembali sama mister Erick," ucap Dinda.


"Kamu kok jadi begini sih Dinda? Apa kamu udah mulai jatuh cinta sama si Erick itu? Dia udah ngelakuin apa aja ke kamu sampai kamu secinta ini sama dia?" ujar Tom terheran-heran.


"Banyak, pertama dia betul-betul sayang sama aku dan perhatian ke aku. Gak kayak kamu yang cuma diomongan doang, makanya aku lebih milih buat ikut sama dia dibanding kamu," ucap Dinda.


"Jangan begitu dong Dinda! Kamu gak kasihan apa sama aku kalau kamu tinggalin aku?" ucap Tom.


"Buat apa kasihan sama kamu? Kamu aja udah jahat kok sama aku, buktinya kamu sebarin alamat Queen ke orang-orang," ucap Dinda.


"Enggak Dinda, bukan aku yang sebarin ke mister Erick. Aku cuma kasih tau ke bos Jeevan aja," ucap Tom.


"Iyain, udah ah sana jangan ganggu aku!" ketus Dinda.


"Aku gak ada niat ganggu kamu sayang, aku cuma mau jelasin yang sebenarnya. Oh ya, ngomong-ngomong soal Queen dia kan sekarang lagi ada di new York juga," ucap Tom.


Dinda menoleh ke arah Tom dengan kaget, "Maksud kamu apa? Bukannya dia di Indonesia?" tanyanya keheranan.


"Enggak sayang, Queen udah berangkat ke new York dari beberapa Minggu yang lalu. Aku juga gak tahu alasannya apa, tapi memang benar kok dia ada disini," jawab Tom.


"Terus kamu tahu gak dia tinggal dimana? Aku mau dong ketemu dia," ujar Dinda.


Tom menggeleng pelan, sayangnya ia memang belum tahu dimana Queen saat ini tinggal, sebab yang ada di pikirannya hanyalah Dinda.




"Ah Jeevan, akhirnya kamu datang juga sayang! Mama sama papa udah nungguin kamu loh daritadi, yuk masuk yuk!" ucap Aqila.


"Eee ada apa ya ma? Kok mama kelihatan senang banget aku datang kesini?" tanya Jeevan heran.


"Ya senang lah sayang, orang tua mana yang gak senang lihat anaknya pulang? Udah ah ayo kita bahas semuanya di dalam aja!" ucap Aqila.


"I-i-iya ma," ucap Jeevan singkat.


Jeevan pun menurut saja pada perkataan mamanya, mereka melangkah masuk ke dalam rumah besar itu dengan saling bergandengan. Jeevan masih merasa penasaran apa yang terjadi pada mamanya itu, tapi ia memilih diam dan melihat saja di dalam nanti.


Sesampainya di dalam, Jeevan langsung terbelalak melihat keberadaan Caitlyn beserta dua orangtuanya yang tengah duduk di ruang tamu. Sungguh Jeevan tak mengerti mengapa mereka bisa ada disana, padahal setahunya Caitlyn sudah tidak tinggal di Indonesia lagi.


"Nah, ini dia kejutan buat kamu sayang. Kamu lihat kan ada siapa disana?" ujar Aqila.


"Ma, kenapa Caitlyn bisa disini? Bukannya dia udah pulang ke luar negeri? Kok dia malah tau-tau ada di rumah mama?" tanya Jeevan keheranan.


"Karena ada yang mau mereka bahas sama kita sayang, kebetulan kamu datang jadinya kita bisa bicara bareng-bareng," ucap Aqila.


"Bicara soal apa ma? Emang ada urusan apa?" tanya Jeevan penasaran.


Baru saja Aqila hendak membuka mulutnya, namun Caitlyn sudah lebih dulu melihat keberadaan Jeevan disana. Sontak Caitlyn langsung bangkit dan menyapa Jeevan dengan semangat, mungkin saja ia sudah melupakan kejadian beberapa waktu yang lalu terkait penculikan dirinya.


"Jeevan!" sapa Caitlyn dengan antusias dan disertai senyuman lebarnya.


"Eh nak Caitlyn, tuh ayo kita kesana sayang! Kayaknya mereka udah gak sabar deh pengen ketemu sama kamu," ucap Aqila mengajak putranya.


"Iya ma," Jeevan menurut saja dan melangkah mendekat ke arah Caitlyn serta keluarganya.


"Ohh, jadi ini anak kamu Qila? Si Jeevan itu?" tanya Keyla, mama Caitlyn.


"Iya benar Keyla, ini anak aku yang sering aku bicarakan sama kamu. Gimana? Dia ganteng kan?" jawab Aqila dengan bangga.

__ADS_1


"Iya, dia tampan sekali seperti yang kamu dan Caitlyn bicarakan. Salam kenal ya Jeevan? Saya Keyla, mamanya Caitlyn!" ucap Keyla.


"Saya Jeevan, tante." Jeevan menyambut uluran tangan Keyla itu dan berjabatan disana.


"Ahaha, kamu sopan juga ya ternyata? Pantas saja Caitlyn suka sama kamu," ucap Keyla.


"Ehem ehem.." Dean serta papa Caitlyn yang masih terduduk disana pun berdehem dan mengagetkan mereka.


"Ah iya, kenalin juga ini suami saya sekaligus papanya Caitlyn, namanya Fatah!" ucap Keyla.


"Halo om!" Jeevan inisiatif menyapa Fatah dan mencium tangannya, tentu saja Fatah menyambut dengan sebuah senyuman.


"Halo juga! Makin besar kamu makin kelihatan tampan ya Jeevan? Jadi lebih mirip sama papa kamu deh," ujar Fatah.


"Hahaha, om bisa aja!" ucap Jeevan sambil terkekeh.


Lalu, mereka pun duduk berdampingan disana bersiap untuk memulai pembicaraan yang sudah membuat Jeevan penasaran.




Victor melongok terkejut, "Waduh! Gue kan udah lama gak beraksi lagi, darimana gue bisa dapat duit coba?" pikirnya dalam hati.


"Kenapa malah diam sih kak? Bisa enggak beliin aku barang-barang yang aku mau?" tanya Aulia.


"Eee iya bisa kok, pokoknya apapun yang kamu mau pasti kakak beliin nanti. Kamu tinggal tunjuk dan pilih, biar kakak yang bayar!" jawab Victor.


"Hore! Makasih ya kak?" ucap Aulia berteriak kegirangan.


"Sama-sama," singkat Victor.


"Oh ya, kakak mau tanya deh sama kamu. Sebenarnya diantara kamu sama kating kamu yang namanya Rifan itu ada hubungan apa sih?" tanya Victor tiba-tiba yang membuat Aulia tersedak.


"Uhuk uhuk uhuk.." Victor sontak panik, ia menyodorkan segelas air putih kepada adiknya untuk menghilangkan rasa sakitnya.


Aulia tentu terkejut mendengar pertanyaan sang kakak, sebab ia juga tak tahu perasaan apa sebenarnya yang ia rasakan pada Rifan. Mungkin saja dirinya memang menyukai pria itu, tetapi ia tidak tahu bagaimana perasaan Rifan padanya. Victor pun makin penasaran apa sebenarnya yang dirasakan adiknya itu pada Rifan.


"Kamu kenapa mendadak jadi keselek kayak gitu Aulia?" tanya Victor heran.


"Eee gapapa kok kak, aku kaget aja karena tiba-tiba kakak tanya begitu. Emangnya gak ada pertanyaan lain apa kak?" ucap Aulia mengelak.


"Untuk saat ini cuma itu yang mau kakak tanyain ke kamu dek," ucap Victor.


"Kayaknya aku gak perlu jawab itu deh, lagian diantara aku sama kak Rifan juga gak ada apa-apa kok. Udah ya kak mending kita bahas yang lain aja?" ucap Aulia.


"Iya iya, kali ini kakak percaya sama kamu. Tapi, lain kali mungkin bakal berbeda tergantung dari kedekatan kamu sama dia," ucap Victor.


"Lagian kenapa kakak tanya soal itu sih? Kakak cemburu sama kak Rifan karena dia dekat sama aku?" tanya Aulia.


Victor terbelalak kaget, "Apa sih kamu? Ngapain juga kakak cemburu sama dia? Kalau kakak mau dekat sama kamu, kan kakak tinggal ajak kamu pergi kayak sekarang," jawabnya.


"Hahaha, nah itu tau. Kalo gitu kakak gausah tanya lagi soal kak Rifan ya?" ucap Aulia.


"Kamu kenapa gak suka banget kakak tanya soal dia sih? Diantara kalian lagi ada masalah ya?" tanya Victor.


"Hah? Enggak kok, masalah apaan coba?!" elak Aulia.


Victor tersenyum saja menyaksikan tingkah adiknya yang menggemaskan, sedangkan Aulia sendiri berpura-pura mengalihkan perhatian dengan cara lanjut memakan makanannya. Tapi, tak lama kemudian seorang pria justru muncul disana menyapa keduanya.


"Hai Aulia! Hai bang!" sapa lelaki itu sambil tersenyum seraya melambaikan tangannya.


Sontak Aulia menoleh ke arah si lelaki tersebut dan langsung terkejut, "Kak Rifan??" ujarnya tampak syok.


"Nah, pas banget kan orangnya nongol nih. Padahal kita juga lagi bicarain dia," ucap Victor.


"Kak, jangan dibahas lagi dong! Malu tau di depan kak Rifan!" tegur Aulia.


"Hahaha.." Victor tertawa lebar sembari mengacak-acak rambut adiknya, Aulia pun mengerucutkan bibirnya karena emosi.


Rifan yang masih berada disana merasa kebingungan, ia tak tahu apa yang sedang dibicarakan Victor serta Aulia tentang dirinya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2