Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 97. Kepengen banget


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Kepengen banget




Disaat ia hendak berjalan ke luar kamar, tiba-tiba saja pintu lebih dulu terbuka dan membuat niat Queen batal terlaksana. Wanita itu mundur terlebih dulu untuk melihat siapa kiranya yang masuk kesana, dan betapa kagetnya ia saat sosok lelaki muncul lalu tersenyum menatapnya.


"Hah Fahrul??" Queen tersentak menyadari lelaki itu adalah Fahrul, temannya di kampus.


"Iya Queen, ini aku Fahrul. Kamu kenapa kelihatan panik kayak gitu sih? Emang kamu abis mimpi apaan semalam?" ujar Fahrul.


"A-aku tadi kaget aja karena tiba-tiba aku kebangun terus ada disini," ucap Queen gugup.


"Ohh, ya ampun Queen kamu gimana sih?! Masa kamu lupa kalau kamu sendiri semalam yang minta buat nginep disini?" ujar Fahrul.


"Hah? Apa iya??" tanya Queen terkejut.


"Iyalah Queen, aku mana berani bawa kamu kesini tanpa seizin kamu. Beneran kok semalam kamu sendiri yang bilang gitu, katanya kan kamu sekalian mau tenangin diri," jawab Fahrul.


Queen terdiam sejenak mencoba mengingat momen semalam saat ia berbicara dengan Fahrul, dan benar saja kali ini ia ingat betul kalau semalam ia lah yang sengaja meminta pada Fahrul untuk membawanya kesana. Sungguh Queen amat merasa bersalah karena sudah sempat menuduh yang tidak-tidak pada Fahrul tadi.


"Oh iya ya, sorry banget Rul aku lupa kalau semalam aku emang minta tidur disini. Aku kira aku diculik loh tadi, tapi syukur deh karena ternyata aku aman dan ada di rumah kamu!" ucap Queen merasa lega.


"Iya Queen gapapa, aku mah wajar aja karena emang biasanya orang tuh gitu kalau suasana hatinya lagi gak tenang. Dia pasti jadi gampang lupa dan suka mikir yang enggak-enggak," ucap Fahrul tersenyum.


"Eee terus ini kenapa aku bisa pake baju tidur ya? Perasaan semalam aku gak pake ini," tanya Queen.


"Kamu lupa juga soal yang itu?" ujar Fahrul.


Queen mengangguk dengan polosnya, Fahrul langsung maju mendekat bersiap menjelaskan semuanya pada wanita itu. Ia menarik Queen ke ranjang dan duduk berdampingan disana, lelaki itu lalu mulai bercerita mengenai kejadian semalam yang membuat Queen harus berganti pakaian.


"Kamu tuh emang pelupa banget ya? Yaudah, sini deh aku ceritain semuanya supaya kamu ingat lagi!" ucap Fahrul sambil tersenyum.


"Jadi tuh, semalam kamu kan numpang mandi juga disini dan kamu bilang kalau kamu gak bawa baju ganti. Yaudah deh aku pinjamin kamu baju tidur punya adik kamu, simpel kan?" sambungnya.


"Serius begitu doang?" kaget Queen tak percaya.


Kali ini Fahrul yang menganggukkan kepalanya, "Iyalah emang begitu aja ceritanya, kamu maunya gimana lagi Queen?" ucapnya.


"Hehe, gak kok. Yaudah, aku percaya sama kamu. Maaf banget ya tadi aku udah curiga sama kamu?" ucap Queen.


"Gapapa Queen, kalo gitu aku keluar dulu ya? Kamu mau dibikinin sarapan apa?" tanya Fahrul.


"Apa aja aku mah, aku orangnya gak pilih-pilih kalau soal makanan. Tapi, yang pasti harus enak dan anget," jawab Queen sambil tersenyum.


"Yeh oke deh, sebentar ya aku buatin dulu? Kamu disini aja!" ucap Fahrul.


"Kamu gak butuh bantuan nih? Aku bisa masak loh walau jarang," tawar Queen.


Fahrul tersenyum dan menaruh tangannya di wajah wanita itu, "Gausah Queen, nanti kamu kecapekan lagi. Kamu kan tamu disini, gak enak lah kalau kamu ikut buat makan," ucapnya.


"Bener juga sih, yaudah buatin makanan yang enak dan hangat ya Fahrul?" ujar Queen.


"Siap tuan putri!" sarkas Fahrul disertai tawa kecilnya.




Queen duduk di meja makan menanti sarapan yang dibuat Fahrul, ia melamun memegangi pipinya memikirkan tentang Jeevan yang entah kenapa sangat sulit ia lupakan. Bayangan mengenai wajah pria itu selalu terlintas di kepalanya, ia pun sampai dibuat stres karena memikirkan pria itu.


"Haish, kenapa ya aku jadi kepikiran Jeevan terus?" ujar Queen merasa risih.


Tanpa diduga, Fahrul sudah kembali dengan membawa makanan di tangannya untuk dirinya dan juga Queen. Sontak Queen terkejut karena tiba-tiba lelaki itu muncul lalu menaruh mangkuk di depannya, seketika wanita itu pun tersadar dari lamunannya dan beralih menatap Fahrul.

__ADS_1


"Ih Fahrul, kamu kenapa sih ngagetin aja?! Kalau mau taruh makanannya, kamu bilang dulu dong sama aku jangan diam-diam aja kayak gini!" ucap Queen kesal.


"Hehe maaf Queen, abisnya aku lihat kamu malah ngelamun aja sih. Lagi mikirin apa sih kamu emang sampai kayak gitu? Ah aku tahu nih, pasti kamu mikirin Andro kan?" ujar Fahrul.


"Dih apaan? Enak aja, ngapain coba aku mikirin si Andro yang gak jelas itu?!" elak Queen.


"Halah pake ngelak lagi kamu Queen, udah sih ngaku aja sama aku mah! Kamu tuh sebenarnya suka kan sama si Andro? Tapi, kamu gengsi buat bilang dan malah pura-pura kesal sama dia," goda Fahrul.


"Kamu kalau ngomong dijaga deh, aku hajar nanti baru tau rasa kamu! Aku tuh gak suka sama Andro, aku juga tadi bukan lagi mikirin dia!" sentak Queen.


"Iya iya, galak amat sih kamu. Kalau bukan mikirin Andro, terus kamu mikirin siapa coba? Emang kamu ada laki-laki lain selain dia?" ucap Fahrul.


Queen mengangguk, "Di Indonesia aku pernah kenal sama satu cowok, aku akui kalau aku cinta sama dia dan dia pun cinta juga sama aku. Tapi karena permusuhan diantara kedua orang tua kami, akhirnya aku terpaksa tinggalin dia," jelasnya.


Fahrul sontak terbelalak kaget, "Jadi, kamu punya pacar dan kamu tinggalin dia hanya karena hubungan kalian tidak direstui gitu?" tanyanya.


"Ya gitu deh, abisnya kalau terus disana aku jadi makin susah buat lupain dia. Aku malah kepikiran terus sama dia nantinya," jawab Queen.


"Kenapa kamu gak berjuang buat hubungan kalian, katanya kalian berdua saling cinta?" tanya Fahrul.


"Udah aku coba Rul, tapi gak ada hasilnya. Daripada aku terus terjebak dalam masalah cinta yang gak tahu ujungnya gimana itu, mendingan aku lanjutin kuliah disini," jawab Queen.


"Ohh, iya emang bagus sih pemikiran kamu itu. Tapi kan kasihan pacar kamu itu, dia pasti lagi galau sekarang gara-gara mikirin kamu," ucap Fahrul.


"Mana aku tahu?" ucap Queen ketus.


"Kamu berarti tadi lagi mikirin pacar kamu itu ya? Cie cie, tandanya kamu masih cinta sama dia dan belum bisa lupain dia ya?" goda Fahrul.


"Kayaknya iya Rul, mungkin karena aku udah terlanjur cinta sama dia. Ya tapi aku lagi berusaha buat lupain dia, kamu bisa kan bantu aku supaya bisa moveon?" ucap Queen.


"Tenang aja, apapun yang kamu mau pasti aku bantu kok!" ucap Fahrul singkat.


"Makasih banyak ya Fahrul? Kalo gitu aku boleh makan sekarang kan?" ucap Queen.


Fahrul mengangguk pelan, memberi izin bagi Queen untuk menikmati santapan yang sudah ia buat dan akhirnya mereka pun melakukan sarapan bersama-sama.




Arul juga meraih dua tangan Lova, tak lupa ia menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat yang semakin membuat Lova terbelalak sangat kaget. Pria itu menarik tubuhnya sampai mepet ke tembok, Arul kini mengunci pergerakan Lova sehingga gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa.


"Akh! Lo kenapa sih Arul? Lepasin gue, jangan kurang ajar ya sama gue! Lo itu cuma pengawal disini, jadi lu gak berhak giniin gue!" sentak Lova.


"Saya memang pengawal kamu nona, tapi bukan berarti kamu bisa berbuat seenaknya ke saya. Apalagi ucapan kamu tadi sudah benar-benar bikin saya emosi," ucap Arul kesal.


"Eee gue tadi cuma bercanda, lu aja yang mesum dan baperan!" ucap Lova.


"Saya gak mau tau, pokoknya kamu harus tanggung jawab karena kamu sudah bikin saya tegang dan berharap. Tadi katanya kamu mau kasih milik kamu ke saya kan? Kebetulan saya sudah kepengen banget nih," goda Arul.


Deg!


Betapa kagetnya Lova mendengar kata-kata Arul barusan, ia tak menyangka kalau pria itu mudah sekali terpancing walau hanya dengan perkataan. Kini Lova merasa dalam bahaya, ia harus bisa meredakan hasrat Arul yang sedang mencuat tinggi itu akibat ucapannya tadi.


"Rul, lu jangan macam-macam deh! Lepasin gue, tadi itu gue cuma bercanda!" mohon Lova.


"Bercanda atau serius, intinya kamu sudah bikin saya emosi Lova. Kamu tahu kan harus apa sekarang? Dia butuh kamu untuk dipuaskan," ucap Arul.


"Hah? Lo jangan kurang ajar deh! Gue gak mau, awas ah lepasin!" sentak Lova.


Lova coba berontak, tetapi sia-sia karena tenaganya tak sebanding dengan Arul. Justru cengkraman Arul semakin menguat dan membuat Lova tidak dapat melakukan apa-apa, kini Arul beralih membawa Lova menuju ranjang dan melemparnya kesana begitu saja. Setelahnya, Arul langsung melepas pakaian yang ia kenakan hingga sisa setengah.


"Aaaaa Arul gila lu ya? Gue gak mau Rul, jangan!" teriak Lova yang sangat panik sembari menutup matanya dengan kedua tangan.


Perlahan Arul mendekat dengan tubuh setengah polosnya, ia tersenyum seringai dan sudah tidak sabar ingin segera mencicipi tubuh majikannya itu. Jujur sejak lama Arul memang sudah menginginkan itu, dan sekarang adalah saat yang tepat bagi Arul untuk bisa merasakannya.


"Siap-siap saja nona, sebentar lagi kamu akan saya bawa ke sebuah kenikmatan surga dunia. Saya yakin kamu pasti suka, kamu pasrah aja ya dan jangan melawan!" ucap Arul.

__ADS_1


"Aaaaa gak mau, gue gak mau!" Lova terus berteriak dan berontak serta memukul-mukul sekitarnya.


"Non, non Lova sadar non!" Arul terlihat panik sebab nona nya tiba-tiba berteriak seperti itu seolah hendak diculik.


"Jangaaannn!!" Lova membuka matanya, ia terengah-engah dan sadar kalau apa yang ia alami tadi hanyalah sebuah halusinasi.


"Haaahhh haaahhh haaahhh.." gadis itu terus mengambil nafas berusaha menenangkan diri.


"Non, nona tenang non! Ada apa sih non? Kok nona sampai teriak-teriak begitu?" tanya Arul heran.


Lova hanya terdiam menatap wajah Arul, seketika wajahnya memerah mengingat peristiwa yang baru ia bayangkan tadi.


"Sial! Kok gue bayangin gituan segala ya?" batin Lova.




Sementara itu, Aulia tengah menikmati mie ayam di pinggir jalan bersama Victor, kakaknya. Sejak mereka saling mengetahui identitas satu sama lain, Aulia memang sering sekali mengajak kakaknya itu untuk pergi bersama. Sebab, Aulia sangat ingin merasakan kasih sayang dari seorang kakak yang dari dulu ia dambakan.


Tentu Victor tak menolak, ia justru dengan senang hati menerima ajakan Aulia karena ia juga sangat mendambakan momen ini. Apalagi setelah Victor dapat memastikan bahwa Aulia adalah adiknya, walau hingga kini Victor belum bisa membawa Aulia untuk tinggal bersamanya.


"Kak, mie ayam disini enak kan? Kakak pasti suka sama mie ayam ini deh," ujar Aulia.


"Iya dek, kakak suka banget kok. Pilihan kamu emang paling top sayang, gak pernah salah deh dari kemarin!" ucap Victor.


"Ahaha, baguslah kalau kakak suka. Abis ini kita mau kemana lagi kak?" ucap Aulia.


"Bebas sih terserah kamu, kakak mah ngikut aja. Kamu pengen kemana ya kakak ikut, daripada nanti kakak kasih usul tapi ternyata kamu gak suka atau gak mau," ucap Victor.


"Ih tapi aku jadi bingung mau ajak kakak kemana lagi, kasih saran kek atau apa gitu!" ucap Aulia.


"Iya iya, gimana kalau kita ke taman bermain aja? Mau gak?" usul Victor.


"Hah? Masa ke taman bermain sih kak? Emangnya aku anak kecil apa?" ujar Aulia.


"Tuh kan, kamu gak setuju sama usul kakak," ucap Victor.


"Ya kakak kasih usul tuh yang bener dong, masa iya ke taman bermain? Kita itu udah dewasa kak, bukan anak kecil lagi. Emang kakak mau diledekin sama anak kecil disana?" ucap Aulia.


"Yaudah, terus kamu pengennya kemana?" tanya Victor bingung.


"Ke mall," jawab Aulia antusias.


"Nah, itu kamu tau mau kemana. Kenapa tadi pake bilang bingung segala terus nyuruh kakak kasih usulan?" heran Victor.


"Baru kepikiran sekarang kak, soalnya aku udah lama gak ke mall. Sekalian nanti kakak beliin aku barang-barang disana ya?" ujar Aulia.


Victor melongok terkejut, "Waduh! Gue kan udah lama gak beraksi lagi, darimana gue bisa dapat duit coba?" pikirnya dalam hati.


"Kenapa malah diam sih kak? Bisa enggak beliin aku barang-barang yang aku mau?" tanya Aulia.


"Eee iya bisa kok, pokoknya apapun yang kamu mau pasti kakak beliin nanti. Kamu tinggal tunjuk dan pilih, biar kakak yang bayar!" jawab Victor.


"Hore! Makasih ya kak?" ucap Aulia berteriak kegirangan.


"Sama-sama," singkat Victor.


"Oh ya, kakak mau tanya deh sama kamu. Sebenarnya diantara kamu sama kating kamu yang namanya Rifan itu ada hubungan apa sih?" tanya Victor tiba-tiba yang membuat Aulia tersedak.


"Uhuk uhuk uhuk.." Victor sontak panik, ia menyodorkan segelas air putih kepada adiknya untuk menghilangkan rasa sakitnya.


Aulia tentu terkejut mendengar pertanyaan sang kakak, sebab ia juga tak tahu perasaan apa sebenarnya yang ia rasakan pada Rifan. Mungkin saja dirinya memang menyukai pria itu, tetapi ia tidak tahu bagaimana perasaan Rifan padanya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2