
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Salah alamat
•
•
Setelah diberitahu oleh Fritzy, akhirnya Jeevan mendatangi lokasi yang diduga adalah tempat kelompok walters berada.
Jeevan membawa cukup banyak pasukannya untuk menyerbu markas itu, ia sangat geram atas tindakan kelompok walters di gedung lelang kemarin.
Selain itu, Jeevan juga berharap bisa menemukan Queen dan membawa wanita itu kembali padanya.
"Saya datang Queen, saya yakin kamu pasti ada di dalam sana! Saya akan bawa kamu pergi dan tinggal bersama saya," batin Jeevan.
Ia turun dari mobil dan memerintahkan pasukannya untuk bersiaga.
"Alden, kamu dan yang lain masuk ke dalam lalu periksa apa benar kelompok walters ada disini! Jika iya, kabari saya!" perintah Jeevan.
"Baik bos!" ucap Alden patuh. "Ayo semua!" sambungnya memerintahkan pasukan yang lain untuk ikut bersamanya.
Mereka pun masuk ke pekarangan rumah yang diduga markas kelompok walters itu.
Sementara Jeevan menunggu di luar dan berharap-harap cemas.
"Duh, kenapa disini sepi banget ya? Ini lokasinya bener apa enggak sih? Awas aja kalo salah, bakal saya hukum kamu Fritzy!" batin Jeevan.
Tak lama kemudian, Alden serta pasukannya pun kembali dengan wajah kecewa.
"Bagaimana?" tanya Jeevan penasaran.
"Eee sepertinya kita salah tempat bos, karena yang ada di dalam itu gangster terkenal di Jakarta dan suka buat rusuh. Mungkin kita sudah dijebak bos sama kelompok walters itu," jelas Alden.
"Maksud kamu gimana?" heran Jeevan.
"Iya bos, mungkin mereka sengaja tinggalin jejak di depan gedung supaya kita ambil dan berusaha buat lacak. Tapi, itu semua cuma jebakan karena disitu sudah disetel lokasi yang salah, yaitu di markas gangster ini," ucap Alden.
"Sial! Kenapa Salman bisa jadi sepintar dan selicik ini? Bertahun-tahun saya bersaing dengan dia, tapi baru kali ini dia berhasil mengelabui saya," geram Jeevan.
"Lalu kita harus gimana bos? Apa kita mau cari lagi di sekitar sini?" tanya Alden.
__ADS_1
"Gausah, kita pulang dulu. Kita diskusi dan pikirkan rencana yang terbaik, saya yakin kita pasti bisa balas perbuatan kelompok walters!" jawab Jeevan.
"Baik bos!" ucap Alden patuh.
Disaat mereka hendak pergi, tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari belakang mengejutkan mereka semua.
"Hey jangan kabur kalian!!"
Jeevan menoleh, menatap heran ke arah sekelompok orang yang berdiri di hadapannya.
"Gawat bos, mereka gangster yang di dalam. Kayaknya mereka marah deh karena kita ganggu," bisik Alden.
Jeevan merasa bingung, namun mau tidak mau ia pun terpaksa melawan gangster tersebut.
•
•
Queen tengah terduduk santai di sofa nya, menikmati secangkir teh hangat sembari memeriksa berita melalui ponsel.
Tak lama, seorang pria yang merupakan karyawannya datang menemui Queen dan berbincang padanya.
"Permisi nona," ucap Angga.
"Saya baru saja dapat info dari tim pengintai kami, kalau ternyata jebakan nona Queen berhasil. Pasukan Jeevan telah mendatangi lokasi tempat gangster berada," jawab Angga menyeringai.
Queen terkejut, ia sontak menoleh ke arah Angga dan menaruh cangkirnya di meja seolah tak percaya mendengarnya.
"Apa? Kamu serius Angga?" kaget Queen.
"Eee iya nona," ucap Angga heran.
"Lalu, bagaimana kondisi Jeevan? Apa dia terluka?" tanya Queen yang terlihat sangat khawatir.
"Saya belum tahu nona, mungkin nanti saya tunggu kabar dari pasukan kita disana," jawab Angga.
Queen langsung mengusap wajahnya, ia sungguh bingung mengapa dirinya bisa secemas itu dengan kondisi Jeevan.
"Gak gak, kamu gak perlu minta kabar lagi dari tim pengintai kita!" ujar Queen.
"Tapi nona, bukannya tadi nona tanya kondisi Jeevan?" heran Angga.
__ADS_1
"Saya berubah pikiran, dan sekarang kamu bisa pergi untuk kembali bekerja!" ucap Queen.
"Baik nona, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Angga pada atasannya.
Pria itu langsung berbalik dan pergi meninggalkan Queen disana, walaupun ia masih tak mengerti apa yang membuat Queen berubah pikiran tadi.
Queen sendiri masih berusaha melupakan sosok Jeevan dari pikirannya, meski sulit tapi ia terus berharap Jeevan segera hilang dari pikirannya.
"Ayolah Queen, kamu pasti bisa kok lupain dia! Dia itu bukan orang baik buat kamu!" ucap Queen.
•
•
Lova tiba di rumahnya bersama seorang pria yang ditugaskan Queen untuk mengantarnya, memang tadi Queen memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengantar Lova dan juga para temannya yang lain pulang ke rumah.
Setelah mengucap terimakasih, Lova pun turun dari mobil yang ia tumpangi tadi. Dengan nafas pendek ia mulai melangkah memasuki halaman rumahnya yang terbilang luas itu.
Gadis itu sebenarnya masih ragu untuk pulang ke rumahnya, ia khawatir tidak akan diterima lagi disana oleh keluarganya, terutama kedua orang tua dan juga kakaknya yang memang selalu bersikap tegas padanya.
Perlahan Lova mendekati pintu, lalu mulai mengetuknya seraya berharap agar ia tidak dimarahi karena tidak pulang selama berbulan-bulan akibat perlakuan Jeevan yang ingin menjualnya di lelang.
TOK TOK TOK...
Suara ketukan pintu itu mengacaukan perbincangan keluarga Lova di dalam sana, sang ayah bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke depan untuk mencari tahu siapa yang datang disaat seperti ini. Memang mereka masih terus membahas mengenai putri mereka yang hilang entah kemana.
Ceklek
Pintu dibuka, Lova reflek memundurkan tubuhnya sembari merapihkan rambut serta pakaiannya. Yang keluar adalah sang ayah, mereka sempat bertatapan cukup lama sebab Rio alias ayah Lova tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Lova? I-ini beneran kamu nak? Kamu Lova anak papa?" ujar Rio gemetar.
Lova mengangguk pelan, "Iya pa, ini aku anak papa yang hilang. Aku sudah kembali pa, aku rindu sama papa. Aku masih diterima kan di rumah ini?" ucapnya menahan isak tangis.
Rio tak menjawab lagi, ia langsung memeluk erat putrinya yang sangat ia rindukan itu. Mereka menangis bersama-sama, empat bulan lebih adalah waktu yang sangat lama dan selama itu pula mereka tidak pernah bertemu. Baik Lova maupun Rio, mereka sama-sama saling merindukan satu sama lain.
Lalu, Maya alias mama Lova menyusul keluar karena penasaran mengapa suaminya tak kunjung kembali untuk membahas rencana pencarian putri mereka. Namun, betapa kagetnya ia saat melihat Lova sudah berada disana dan tengah berpelukan dengan Rio sambil menangis tersedu-sedu. Akhirnya Maya pun ikut memeluk Lova dan mereka bertiga melepaskan kerinduan disana.
Tak hanya Lova, kedua temannya yang lain juga sudah tiba di rumah mereka masing-masing dan menemui orang tua serta keluarga mereka. Aulia serta Nina sama-sama sangat senang karena mereka dapat kembali berkumpul dengan keluarga mereka, setelah cukup lama mereka harus berpisah akibat ulah jahat Jeevan.
Dan kini kebahagiaan menyelimuti ketiga gadis itu, selain karena tidak jadi dijual, mereka berhasil kembali ke keluarga mereka berkat pertolongan dari Queen sang bos baru kelompok mafia walters.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...