Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 78. Menikahi Queen


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Menikahi Queen




Erick tersenyum datar, "Kamu tidak usah berkelik Tom, kamu kan memang yang kasih tahu saya tempat Dinda berada sekatang," ucapnya.


"Kurang ajar!" Tom menggeram emosi, dengan tangan terkepal ia maju mendekati Erick dan berniat menghajar pria itu.


Queen serta Dinda dibuat melongok lebar melihat Tom menghampiri Erick di depan sana, mereka yakin akan terjadi pertengkaran hebat sebentar lagi diantara kedua pria itu. Namun, entah kenapa Dinda merasa khawatir pada Tom sebab ia tahu seberapa kuatnya Erick beserta pasukannya.


"Mau apa? Anda mau apa, ha? Berkelahi? Hey dengar ya, saya bukan tipe orang yang suka berkelahi di jalanan seperti ini! Jika anda mau, mari kita cari tempat bertarung di dekat sini dan selesaikan semuanya!" ucap Erick.


"Tidak perlu, saya akan menghajar anda saat ini juga!" ucap Tom yang kemudian langsung melayangkan pukulan ke wajah Erick.


Tetapi pukulannya melesat sebab Erick menghindar, Tom pun mencoba melakukan lagi dan hasilnya masih sama, yakni meleset. Erick tertawa meledek, membuat Tom makin geram dan coba melayangkan pukulan berikutnya. Kali ini Erick sigap menangkap telapak tangan Tom yang hendak meninju wajahnya, dia justru berbalik memukul wajah Tom tepat mengenai hidungnya.


Bugghhh


Tom sampai terhuyung ke belakang memegangi hidungnya yang mulai mengeluarkan darah meski hanya sekali pukulan, tapi itu tak membuat amarah Tom padam, ia malah maju kembali dan berkelahi dengan Erick disana. Pertarungan satu lawan satu pun terjadi, Tom terus melayangkan serangan demi serangan yang mudah ditahan oleh Erick.


"Hahaha, anda ini terlalu lemah untuk menjaga Dinda! Anda tidak pantas untuknya!" ujar Erick.


"Diam! Orang seperti anda tidak bisa menilai saya pantas atau tidak untuk Dinda, karena anda jauh lebih tidak pantas!" geram Tom.


"Berhenti!!" Dinda berteriak lantang membuat kedua pria itu menoleh bersamaan ke arahnya.


Tampak Dinda berjalan mendekati keduanya dan memisahkan perkelahian diantara mereka, ia sudah tak tahan lagi melihat apa yang ada di depan matanya tadi.

__ADS_1


"Tolong kalian jangan berkelahi di depan rumah sahabat saya kayak gini ya! Saya gak suka, sekarang saya minta kalian berdua pergi dari sini dan jangan pernah kembali apalagi untuk membawa saya!" tegas Dinda.


"Dinda, kamu jangan usir aku dong! Tadi kamu kan udah mau ikut sama aku," ucap Tom.


"Itu sebelum aku tahu kamu berkhianat lagi Tom, kamu tega kasih tau tempat ini ke dia padahal kamu tau aku gak mau ikut dia!" ujar Dinda.


"Kamu percaya dong sama aku, bukan aku yang kasih tahu ke dia!" ucap Tom coba terus meyakini wanitanya itu.


Dinda menggeleng, "Enggak, aku udah gak bisa percaya lagi sama kamu. Sekarang kamu lebih baik pergi dan lanjutkan perkelahian kalian di luar, jangan disini!" ucapnya.


"Aku gak akan pergi sayang, aku cinta sama kamu dan aku bisa buktikan ke kamu kalau bukan aku yang bilang ke dia!" ucap Tom.


"Apa yang mau kamu buktikan, ha?" tanya Dinda.


Tiba-tiba saja Erick mendekat dan mendorong tubuh Tom menjauh dari Dinda, lalu ia pun tersenyum menatap wanita itu.


"Dinda, kamu mau kan kembali tinggal di rumah saya seperti dulu?" ujar Erick.


"Hey, jangan sembarangan ya anda! Saya orang pertama yang melarang anda bawa pergi Dinda, karena saya tidak akan biarkan Dinda tinggal dengan anda!" tegas Tom.


Tom menggeleng dan berganti mendorong tubuh Erick, tak lupa ia juga menggenggam tangan Dinda dengan erat pertanda ia tak akan melepaskan wanita itu dari genggamannya.




Fritzy terdiam, entah mengapa ia merasa direndahkan dengan perkataan pria itu. Jeevan yang melihatnya merasa heran sebab Fritzy tak kunjung menjawab pertanyaan darinya, justru wanita itu malah memalingkan wajahnya dan tampak menahan sesuatu di dalam dirinya.


"Hey, kamu kenapa Fritzy? Kalau memang kamu mau marah sama saya, silahkan aja! Kamu juga boleh kok tampar saya dan pukul saya, itu hak kamu Fritzy!" ujar Jeevan.


Fritzy menggeleng, "Enggak kok bos, saya diam karena saya bingung aja harus bicara apa. Lagian percuma juga saya marah ke bos, itu gak bakal membalikkan kesucian saya kan?" ucapnya.

__ADS_1


Jeevan tersenyum dan menggeser posisi duduknya lebih dekat seraya merangkul Fritzy, ia masih merasa tidak enak dengan apa yang sudah ia lakukan sebelumnya pada wanita itu, apalagi selama ini Fritzy sudah banyak membantunya dalam mengurus bisnis yang ia jalan.


"Maafin saya ya Fritzy? Saya tadi benar-benar gak sadar, yang saya lihat kamu itu Queen bukan Fritzy," ucap Jeevan menyesal.


"Iya bos, saya paham kok semuanya," ucap Fritzy lirih.


"Mulai hari ini, apapun yang kamu mau pasti saya turuti. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan ke kamu," ucap Jeevan.


Fritzy tiba-tiba menyingkirkan tangan Jeevan dari pundaknya dan bergeser menjauh, "Maaf bos, tapi itu gak perlu dilakukan. Saya juga gak minta apa-apa dari bos kok," ucapnya.


"Kamu kenapa Fritzy? Apa saya salah bicara?" tanya Jeevan keheranan saat melihat sikap Fritzy barusan.


"Iya bos, saya merasa yang bos katakan tadi merendahkan harga diri saya sebagai wanita. Saya bukan wanita malam bos, yang habis dipakai lalu diberi bayaran dan selesai," jawab Fritzy.


"Ohh, tapi saya juga tidak anggap kamu seperti itu kok Fritzy. Gini deh, kamu mau saya harus apa untuk menebus kesalahan saya? Kamu bilang aja dengan jujur sekarang!" ucap Jeevan.


"Kalau memang bos mau bertanggung jawab, apa bos bersedia menikahi saya?" tanya Fritzy.


Deg!


Tentu saja Jeevan terkejut mendengar permintaan Fritzy, bagaimana mungkin ia menikahi wanita itu yang sama sekali tidak ia cintai. Selama ini Jeevan hanya mencintai Queen seorang, bahkan saat bercinta dengan Fritzy kemarin, wajah Queen lah yang muncul di kepalanya.


"Saya minta maaf Fritzy, untuk itu saya tidak bisa lakukan. Saya gak cinta sama kamu, mana mungkin saya nikahi kamu? Nanti yang ada hubungan kita malah berantakan," ucap Jeevan.


Fritzy pun tertunduk seolah kecewa dengan jawaban bosnya, jujur saja ia sangat sedih karena ternyata Jeevan tidak berani bertanggung jawab dan menikahinya, padahal pria itu sudah merenggut kesuciannya walau secara tak sadar. Fritzy tentunya tak terima karena bagaimanapun ia bukanlah wanita penghibur.


"Terus kenapa bos harus perkosa saya tadi? Harusnya bos mikir dua kali dong, apalagi saya ini masih virgin!" tegas Fritzy.


"Kamu kan tahu sendiri, saya tadi dalam keadaan tidak sadar alias mabuk. Bagaimana saya bisa kendalikan diri saya coba? Lagipun, saya ini sudah berjanji akan menikahi Queen. Saya gak mungkin dong menikah dengan kamu juga," ucap Jeevan.


Lagi-lagi Fritzy dibuat kecewa, memang betul kalau bosnya itu sudah tergila-gila dengan wanita bernama Queen sejak dulu hingga sekarang.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2