
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Beritahu keberadaannya
•
•
Queen mengangguk, "Iya udah kok, gak mungkin lah aku lupa buat kabarin mereka," jawabnya.
"Bagus deh, kalo gitu kan aku jadi tenang. Mau selamanya kamu tinggal di rumah aku juga gapapa, yang penting kamu udah kasih tau orang rumah kamu," ucap Fahrul tersenyum.
"Ngapain kamu senyum gitu? Jangan mikir yang enggak-enggak ya! Aku tinggal di rumah kamu itu buat menghindar dari Andro, bukan karena alasan yang lain!" ucap Queen.
"Ya iya Queen, emang siapa juga yang mikir aneh-aneh? Kamu itu kadang lucu deh, aku suka gemas sendiri lihatnya," kekeh Fahrul.
"Halah bisa aja kamu!" cibir Queen.
Tanpa sengaja, mata Queen menangkap sosok pria yang terasa tak asing di pandangannya. Ya Queen yakin sekali kalau ia pernah melihat pria itu, ia pun coba mendekat untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Benar saja, rupanya pria di depan itu adalah Erick alias orang yang sudah membawa pergi Dinda dari rumahnya waktu itu.
"Itu kan si mister Erick, dia kok bisa ada disini ya? Apa jangan-jangan Dinda juga ikut kesini?" gumam Queen lirih.
Fahrul yang melihat ekspresi Queen itu merasa bingung, ia bergerak mendekati Queen dan bertanya langsung pada wanita itu mengapa dia tiba-tiba berhenti lalu menatap ke arah depan tanpa alasan yang jelas.
"Eh Queen, kamu ngeliatin apa sih? Belanjanya udahan nih?" tanya Fahrul.
"Belum, tapi aku ngeliat orang yang aku kenal di depan sana. Sebentar ya, aku mau kesana dulu samperin dia?" jawab Queen.
"Ish tunggu! Siapa orang yang kamu kenal? Terus dia siapa?" tanya Fahrul penasaran.
"Ah nanti aja aku jelasinnya, keburu dia pergi tuh!" sentak Queen.
Akhirnya Fahrul membiarkan Queen pergi sesuai keinginannya, Queen pun bergerak cepat mendekati Erick untuk menanyakan mengenai Dinda yang dibawa pergi olehnya.
"Mister Erick, tunggu!" teriak Queen yang membuat sang pemilik nama menghentikan langkahnya.
Seketika Erick terbelalak, ia ingat betul siapa wanita yang kini berdiri di hadapannya dan tengah menatapnya itu. Ya Erick yakin kalau wanita itu adalah sahabat Dinda yang dahulu menyembunyikan Dinda darinya, tentu saja ia tersenyum lalu mendekatinya.
Queen mengepalkan tangannya disertai rahang gemetar, ia berusaha menahan emosi karena tidak etis rasanya jika ia meluapkan semua kekesalan yang ia rasakan ini di tempat umum. Meskipun Queen sangat sulit menahan rasa kesalnya, sebab Erick sudah membawa paksa Dinda darinya.
"Oh anda, anda ini sahabatnya Dinda itu kan? Mau apa anda panggil saya?" tanya Erick.
"Dimana Dinda? Tolong kamu balikin dia ke saya! Kamu gak berhak buat bawa kabur Dinda gitu aja, dia itu lebih betah tinggal sama saya!" jawab Queen.
"Hahaha, kata siapa? Dinda justru suka sekali tinggal dengan saya, karena dia merasa nyaman. Hanya saja ada seseorang yang sepertinya berani bermain-main dengan saya dan ingin menguji kesabaran saya," ujar Erick.
"Maksud kamu apa? Gausah bertele-tele deh, serahin Dinda ke saya sekarang juga!" ucap Queen.
"Gak bisa, Dinda udah enggak sama saya. Kemarin dia menghilang begitu saja saat kita lagi jalan-jalan di mall, saya juga gak tahu dia kemana," ujar Erick.
"Kamu gausah bohong sama saya! Cepat katakan dimana Dinda, dia pasti ikut kesini juga kan sama kamu!" sentak Queen.
Erick menggeleng, "Saya gak tahu dia dimana, ini saya juga lagi cari dia kok," ucapnya.
"Bohong!" Queen tetap tak percaya dengan perkataan pria itu, sehingga membuat Erick menatap tajam ke arahnya penuh emosi.
•
•
Sementara itu, Dinda berusaha keluar dari tempat Tom untuk menyelamatkan dirinya. Jujur Dinda merasa tidak aman jika terus berada disana, ia khawatir sewaktu-waktu Erick bisa datang dan menghajar Tom karena sudah dianggap menculiknya dan memaksanya pergi.
Ini adalah kesempatan bagi Dinda, sebab Tom sedang pergi ke luar untuk membelikan makan siang bagi mereka. Dinda pun mengendap-endap berjalan keluar kamar, lalu mencoba membuka pintu depan dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, usahanya sia-sia karena pintu itu sudah terkunci dari luar dan tidak dapat dibuka olehnya.
"Aaarrgghh sial! Aku kira pintunya gak dikunci, eh ternyata malah begini. Awas ya kamu Tom, berani banget kamu kunciin aku di dalam kayak gini!" geram Dinda mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Akhirnya Dinda putus asa dan memilih duduk di sofa menanti kepulangan Tom, ia tidak tahu lagi harus bagaimana agar bisa lepas dari sana dan kembali ke tempat Erick untuk mengamankan dirinya juga Tom. Dinda pun mengambil ponselnya berusaha untuk menghubungi nomor Erick dan meminta bantuan dari pria itu.
Ceklek
Baru saja Dinda hendak menelpon, pintu sudah lebih dulu terbuka dan membuat Dinda panik. Wanita itu pun reflek menekan tombol mati di layar ponselnya, lalu menyimpan kembali benda pipih itu di dalam sakunya. Ia bangkit dari sofa dan melihat Tom telah kembali membawa makanannya.
"Loh Tom, kamu kok cepat banget sih udah balik aja? Emang kamu beli makanan dimana?" tanya Dinda heran.
"Iya Dinda, aku gak mau bikin kamu nunggu terlalu lama. Makanya aku beli makanan dekat-dekat sini aja biar cepat," jawab Tom.
"Oh gitu, yaudah yuk kita makan sekarang aja! Aku juga udah ngerasa lapar nih," ajak Dinda.
"Okay, sebentar ya aku ambil piring sama alat makannya dulu? Kamu tunggu disini aja, biar aku yang siapin semuanya!" ucap Tom.
"Iya Tom," singkat Dinda sambil tersenyum.
Tom pun pergi menuju dapur untuk menyiapkan makanan, sedangkan Dinda tetap disana dan tampak melihat ke arah pintu yang tidak terkunci. Sontak Dinda mempunyai pikiran untuk kabur dari tempat itu saat ini, karena pintunya tidak dalam kondisi terkunci.
"Ah aku harus kabur sekarang, ini kesempatan buat aku lepas dari tempat ini. Maaf ya Tom, aku cuma gak mau kamu terluka karena aku?" gumam Dinda dalam hati.
Setelah menimang-nimang di dalam pikirannya, Dinda akhirnya mantap memutuskan untuk keluar dari tempat itu demi menyelamatkan Tom juga. Dinda tidak ingin jika sampai Erick tahu keberadaan mereka dan mendatangi tempat itu, sudah pasti Tom lah yang akan jadi korban nantinya.
Wanita itu langsung bergerak cepat keluar dari sana, meninggalkan Tom yang masih berkutat di dapur menyiapkan makanan untuk mereka. Dinda merasa lega, namun ia tetap terus berlari menjauh dari tempat itu agar Tom tidak bisa mengejarnya atau tahu keberadaannya.
Tom yang baru selesai menyiapkan makanan, kembali ke tempat tadi ia meninggalkan Dinda. Hanya saja disana sudah tidak ada jejak wanita itu lagi, Tom panik lalu mengecek seluruh penjuru rumahnya tetapi tetap tidak berhasil menemukan Dinda disana.
Tom lalu melihat ke pintu, ia terbelalak karena pintu tersebut terbuka dan seketika ia berpikir bahwa mungkin saja Dinda kabur lewat sana. Ia berlari ke arah pintu untuk mengecek, namun Dinda sudah tak terlihat lagi.
"DINDAAA!!!"
•
•
Jeevan membuka matanya, ia terkejut saat menyadari dirinya berada di dalam kamar dengan kondisi tanpa busana. Sontak ia menoleh ke arah sampingnya, lagi-lagi ia dibuat kaget karena ternyata ada Fritzy disana yang sedang tertidur juga tanpa mengenakan apapun.
"Haish, kenapa saya ceroboh banget sih? Harusnya saya bisa tahan diri, tapi rasanya sulit sekali karena sepertinya saya sudah mulai tertarik dengan tubuh kamu Fritzy!" ucap Jeevan kesal sendiri.
"Eeuunggghh.." Fritzy yang tertidur itu tiba-tiba melenguh dan membuka matanya.
"Loh bos?" wanita itu langsung panik dan terduduk memegangi selimutnya.
"Eee saya minta maaf ya Fritzy? Kita seharusnya gak melakukan itu semalam, lagi-lagi saya gak bisa tahan diri karena ngeliat kamu," ucap Jeevan gugup.
Fritzy sontak tersenyum mengingat momen panas mereka semalam, entah kenapa ia justru senang kali ini sebab semalam Jeevan menyebut namanya saat mereka bermain dan bukan nama Queen seperti sebelumnya. Ia pun merasa lebih dihargai dibanding saat pertama kali mereka melakukan itu.
"Gapapa bos, saya juga ngerasa enak kok semalam. Jadi, ini bukan murni salahnya bos," ucap Fritzy tersenyum.
"Tapi tetap aja, harusnya saya gak begitu ke kamu. Apalagi kamu kan lagi hamil," ucap Jeevan.
"Bos gak perlu cemas, anak kita baik-baik aja kok bos. Dia itu kan kuat seperti ayahnya, ya walau semalam bos ganas banget sih," ujar Fritzy.
"Ahaha, sudahlah jangan diingat terus! Nanti yang dibawah ini bangun lagi tau," ucap Jeevan.
"Oh dia baperan ya bos? Masa cuma digituin aja langsung bangun lagi?" kekeh Fritzy.
"Ya gitu deh, apalagi kamu belum pake apa-apa sekarang. Kayaknya saya harus buru-buru keluar deh, sebelum saya khilaf dan malah terkam kamu lagi Fritzy," ucap Jeevan.
"Eh ini kan kamar bos, kenapa bos yang mau keluar? Harusnya saya dong bos yang keluar dari kamar ini," ucap Fritzy heran.
"Gapapa, kamu biar disini aja sekalian pakai baju kamu. Saya aja yang keluar, kamu pasti masih sakit kan gara-gara kejadian semalam? Nanti kamu malah susah jalan lagi," ucap Jeevan.
"Eee enggak kok bos, ini gak sesakit waktu pertama kali kita lakuin," ucap Fritzy.
Jeevan mendekati wanitanya dan menaruh tangan di wajah wanita itu, ia usap perlahan serta mengecupnya dengan lembut. Jari jemarinya perlahan turun membelai bibir merah muda sang sekretaris hingga membuat wanita itu memejamkan mata, Jeevan juga menurunkan selimut yang menutupi tubuh Fritzy itu.
__ADS_1
"Kamu nurut aja, biar saya yang keluar ya?" ucap Jeevan sensual.
"Terus kenapa bos lepas selimut saya? Saya kan jadi malu bos, jangan dilihatin terus ah bos!" ucap Fritzy yang reflek menutupi bagian dadanya dengan dua telapak tangan.
Namun, Jeevan menyingkirkan dua tangan wanita itu dan malah menyentuh aset berharganya. "Jangan ditutupi, biar saya lihat semua keindahan tubuh kamu Fritzy!" ucapnya lembut.
Fritzy hanya bisa melongok dan terdiam merasakan sensasi nikmat yang diberikan bosnya itu pada tubuhnya.
•
•
Jeevan sudah keluar dari kamarnya, ia kini menunggu di ruang tamu sampai Fritzy selesai memakai pakaiannya. Ya tentunya Jeevan juga telah mengenakan kembali pakaiannya secara lengkap di hadapan Fritzy tadi, barulah ia pergi dan menunggu disana.
Tak lama kemudian, Fritzy muncul dengan pakaian yang telah ia kenakan. Sontak Jeevan tersenyum lalu meminta Fritzy duduk di sebelahnya, Fritzy menurut saja dan melakukan apa yang diminta bosnya itu. Jeevan pun merangkul pundak Fritzy mendekapnya dengan erat.
"Bos, kenapa bos jadi perhatian dan lembut banget sama saya kayak gini? Bukannya bos bilang kalau bos cuma cinta dan sayang sama nona Queen ya?" tanya Fritzy keheranan.
"Emangnya kalau saya kasih perhatian ke kamu, itu gak boleh ya?" ujar Jeevan.
"Bukan gak boleh, saya kan cuma tanya bos. Harusnya bos jawab bukan malah balik nanya ke saya," ucap Fritzy.
"Ahaha, iya iya pertanyaan kamu itu menurut saya gak perlu dijawab. Kamu juga pasti udah tahu alasan saya perhatian ke kamu," ucap Jeevan.
"Karena bayi di kandungan saya?" tebak Fritzy.
Jeevan melirik wajah Fritzy dan menganggukkan kepalanya, "Iya Fritzy, saya kan sudah janji kalau saya akan bantu kamu merawat bayi itu sampai dewasa," ucapnya.
"Tapi bos, saya kan udah bilang gausah. Saya bisa rawat dia sendiri kok," ucap Fritzy.
"Kamu jangan bantah Fritzy! Anak itu anak saya juga, saya berhak dong buat bantu urus dia!" tegas Jeevan.
"Iya bos, tapi bos gak perlu minta jatah juga ke saya kayak semalam," ucap Fritzy.
"Ohh, kamu gak mau melayani saya? Terus kenapa semalam kamu diam aja dan gak protes? Kamu malah minta lagi sambil keenakan," goda Jeevan.
"Apaan sih bos? Saya gak gitu ya!" elak Fritzy.
"Hahaha.." Jeevan tertawa dan reflek mencium pipi Fritzy dari samping, Fritzy pun melongok saja mendapat perlakuan seperti itu dari bosnya.
"Fritzy, gimana kalau kita nikah aja? Kayaknya kalau cuma bantu urus itu gak cukup deh, saya juga harus nikahin kamu," ucap Jeevan tiba-tiba.
Deg!
Betapa terkejutnya Fritzy, ia sama sekali tak mengira jika Jeevan akan mengatakan itu padanya. Ia merasa ini semua seperti mimpi, tidak mungkin tentu Jeevan mau menikah dengannya karena pria itu hanya mencintai Queen seorang. Namun, saat ia coba mencubit tangannya ia justru merasakan sakit yang menandakan ini bukan mimpi.
"Awhh!!" Fritzy spontan merintih sesaat setelah ia mencubit lengannya sendiri.
"Loh kamu kenapa Fritzy? Kok tiba-tiba teriak gitu?" tanya Jeevan kebingungan.
"Eee gapapa bos, saya kaget aja tadi dengar kata-kata bos. Barusan bos pasti cuma bercanda kan?" ucap Fritzy.
"Bercanda? Enggak, saya gak bercanda. Saya itu serius mau nikahin kamu Fritzy," ucap Jeevan.
"Udah lah bos, bos gak perlu bicara begitu di depan saya! Saya sendiri tahu kok kalau bos cuma cinta sama Queen, mana mungkin bos mau menikah sama saya?" ucap Fritzy.
"Apa yang kita lakuin semalam itu kurang membuktikan kalau saya sudah mulai bisa mencintai kamu Fritzy?" tanya Jeevan seraya menangkup wajah wanita itu.
Fritzy hanya diam saja, jantungnya sudah berdebar sangat kencang karena wajahnya hampir tak berjarak dengan wajah Jeevan. Pria itu bahkan terus mendekat, memajukan bibirnya seolah hendak memulai sebuah ciuman panas. Fritzy terpejam memberi izin bagi Jeevan melakukannya, tapi tanpa diduga Alden lagi-lagi muncul dan mengacaukan semuanya.
"Bos!" Alden memanggil bosnya yang sedang duduk bersama Fritzy disana, ia sendiri kaget saat melihat apa yang hendak dilakukan Jeevan dan Fritzy barusan.
"Alden?" lirih Jeevan sembari menatap wajah anak buahnya dengan sedikit tampang kesal.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...VOTE JUGA YA😉...