
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Memilih bersamanya
•
•
"Ohh, terus kenapa kamu agak ngangkang gitu?" tanya Alden saat melihat kondisi kaki Fritzy.
Deg!
Fritzy tersentak kaget, ia bingung harus berbohong apa lagi pada Alden setelah pria itu mengetahui bahwa ada yang aneh pada kakinya. Fritzy berupaya merapatkan kedua kakinya, tapi yang ia dapat justru rasa sakit dan tanpa sengaja ia merintih sembari memejamkan mata.
"Awhh!!" Alden terkejut mendengar suara rintihan Fritzy, yang tentu membuat pria itu makin heran.
"Eh eh, kamu tuh sebenarnya kenapa Fritzy? Kaki kamu lagi sakit?" tanya Alden penasaran.
"Umm, iya nih sakit banget. Kayaknya gara-gara kecapekan deh," bohong Fritzy.
"Masa kecapekan? Emang kamu abis ngapain aja sih?" tanya Alden tak percaya.
"Haish, ya capek lah kan semalam abis jalan-jalan keliling sama bos Jeevan," jawab Fritzy.
"Oh gitu, terus bos Jeevan nya mana? Di luar ada temannya bos Jeevan tuh," ujar Alden.
"Hah siapa? Beneran teman bos Jeevan atau cuma ngada-ngada?" tanya Fritzy.
"Ya beneran lah, udah aku cek kok tadi ke depan. Makanya aku kesini sekarang buat panggil bos Jeevan," jawab Alden.
"Tapi, bos Jeevan lagi tidur. Mana pules banget lagi tidurnya, aku aja gak tega tadi buat bangunin dia," ucap Fritzy.
"Yah yaudah deh biar aku ke depan lagi temuin temannya bos Jeevan supaya dia bisa nunggu sampe bos Jeevan bangun," ucap Alden.
"Iya iya.." Fritzy mengangguk setuju dan membiarkan Alden pergi ke depan.
Fritzy akhirnya menghela nafas lega, Alden tak lagi curiga padanya dan malah pergi begitu saja menemui seseorang di depan sana. Disaat Fritzy hendak pergi, tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang dari belakangnya.
"Tunggu Fritzy!" sang empu terkejut dan reflek membalikkan tubuhnya, ia melihat Jeevan lah yang berdiri disana memegang tangannya.
__ADS_1
"Bos? Bos udah bangun?" tanya Fritzy dengan gugup dan sedikit cemas.
Jeevan mengangguk sembari memegangi kepalanya dengan satu tangan, sepertinya ia masih merasa pusing akibat alkohol yang ia konsumsi sebelumnya. Memang Jeevan tak pernah minum sebanyak itu, dan baru semalam lah Jeevan minum dengan dosis banyak sehingga ia kehilangan kesadarannya.
"Eee apa bos masih sakit? Mau saya ambilkan sesuatu?" tanya Fritzy mencoba tenang.
"Gak Fritzy, saya mau bicara sama kamu dan tanya sesuatu ke kamu," ucap Jeevan.
"Bos mau bicara apa? Lebih baik bos istirahat aja dulu, soalnya bos kelihatan masih lemas banget kayak gini," ujar Fritzy.
"Saya gapapa kok, saya bisa kuat dan tahan semuanya. Ayo kamu ikut saya dulu!" ucap Jeevan.
Fritzy hanya bisa menurut dan mengikuti Jeevan berjalan ke sofa, mereka berdua duduk berdampingan disana. Suasana canggung menyelimuti keduanya, terlebih Fritzy yang masih terbayang akan kejadian tadi dimana Jeevan melecehkan dirinya secara paksa.
"Fritzy, saya cuma mau minta maaf ke kamu atas apa yang saya lakukan tadi. Saya benar-benar gak sadar saat saya pakai tubuh kamu, kamu gak marah kan sama saya?" ucap Jeevan.
Fritzy tampak gugup dan gelagapan, ia bingung sendiri harus menjawab apa saat ini. Jujur saja Fritzy marah, wanita mana yang tidak marah saat dirinya dilecehkan secara paksa meski itu oleh bosnya sendiri. Namun, Fritzy juga tak tega jika ia mengatakan semua itu secara jujur.
Fritzy pun menggeleng menatap wajah bosnya, "Gapapa kok bos, saya tahu tadi bos gak sadar karena pengaruh alkohol," jawabnya.
"Kamu beneran gak marah? Saya kan sudah ambil paksa kesucian kamu, gini deh kamu minta apa biar saya kasih apapun yang kamu minta sebagai bentuk tanggung jawab saya!" ujar Jeevan.
•
•
Tom terdiam selama beberapa detik, lagi-lagi ia harus menerima kenyataan bahwa ia memang sempat memberitahu dimana keberadaan Dinda dan Queen pada Jeevan hanya untuk menyelamatkan dirinya. Sungguh Tom menyesal telah melakukan itu, tapi ia sudah berjanji tidak akan mengulangi kejadian itu lagi.
"Saya memang pernah bersalah, tapi saya sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Setiap orang pasti punya dan pernah melakukan kesalahan," ucap Tom.
"Tidak ada kata maaf untuk sebuah pengkhianatan, Tom!" tegas Queen.
"Lo salah Queen!" tiba-tiba Dinda menyela dan menatap wajah Queen tajam.
Sontak Queen terkejut mendengarnya, ia tak mengerti mengapa Dinda malah berbicara seperti itu seolah sedang membela Tom.
"Maksud lu apa sih Dinda?" tanya Queen heran.
"Iya lu emang salah, buktinya lu masih bisa maafin Jeevan dan malah balik lagi sama dia. Harusnya lu jauh-jauh dong dari dia Queen, jangan sampai dia manfaatin lu lagi!" jawab Dinda.
__ADS_1
Queen terdiam bingung, sedangkan Tom yang ada di dekatnya hanya tersenyum penuh harap.
"Ish, lu gausah bahas gue sama Jeevan dong. Kita kan lagi bicara soal si Tom, lagian emangnya lu mau gitu maafin dia dan terima dia lagi? Bukannya tadi lu marah sama dia?" ujar Queen.
Dinda menghela nafas singkat sembari melirik ke arah Tom, "Gue emang masih kesel sama dia, tapi kayaknya gapapa deh kalo gue ikut sama Tom sekarang," ucapnya.
"Apa? Lu serius Din??" kaget Queen.
Mendengar itu, seketika senyum di bibir Tom merekah puas. Tom sangat bahagia kalau memang Dinda mau menerimanya kembali dan ikut dengannya, sedangkan reaksi Queen justru tak terima jika Dinda memilih ikut dengan Tom yang sudah mengkhianatinya.
"Iya Queen, abisnya gue gak mau ngerepotin lu terus disini. Ya gue ikut sama Tom aja buat cari tempat penginapan dekat sini," ucap Dinda.
"Aduh Dinda! Lu gak boleh ambil keputusan cepat kayak gitu dong, lu harus pikir-pikir lagi! Gimana kalo si Tom nyakitin lu?" ucap Queen kesal.
"Nona Queen yang terhormat, anda jangan berasumsi yang tidak-tidak seperti itu ya! Saya gak mungkin nyakitin my Dinda yang cantik jelita ini," ucap Tom membela diri.
"Halah diem lu Tom! Pasti gara-gara lu sering kesini nih, jadinya si Dinda terpengaruh dan mau ikut sama lu!" ujar Queen.
"Lah bagus dong, emang Dinda itu cocoknya sama saya daripada anda. Lagian saya yang selalu bantu Dinda selama ini kok," ucap Tom.
"Ih udah udah, kenapa pada ribut sih? Ayolah kalian jangan berantem terus! Gue ikut sama Tom cuma buat cari penginapan kok," ucap Dinda menengahi.
"It's okay, yang penting kamu mau ikut sama aku. Nanti aku akan bawa kamu ke penginapan yang bagus dan mewah, supaya kamu bisa tinggal nyaman disana," ucap Tom sambil tersenyum.
"Heh, lu jangan macam-macam ya sama Dinda! Gue bakal awasin terus lu dari jauh!" ancam Queen.
Tom hanya terkekeh tanpa berkata apapun, ia sepertinya sudah terbawa bahagia karena Dinda memilih kembali bersamanya. Tom pun berinisiatif membawakan tas milik Dinda, lalu mereka melangkah ke luar dengan Queen mengikuti dari belakang dan masih tampak tak terima.
"Din, lu yakin mau ikut sama Tom? Gue khawatir banget sama lu tau," tanya Queen sekali lagi.
Dinda tersenyum mendekati Queen, "Iya Queen, gue yakin kok. Udah ya lu gak perlu cemas gitu, gue percaya sama Tom kalau dia gak bakal nyakitin gue," jawabnya.
"Tapi Din—" ucapan Queen terhenti saat sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya dan sosok pria berkumis keluar dari dalam mobil tersebut.
"Si-siapa itu??" lirih Queen.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1