Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 71. Habis ngapain?


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Habis ngapain?




Fritzy mengangguk pelan, ia meletakkan nampan tersebut di atas meja dan duduk di sebelah Jeevan sesuai perintah bosnya itu. Ia menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Jeevan, tapi yang terjadi justru pria itu menariknya dan malah merangkul pundaknya.


"Kamu kenapa cantik banget sih, hm?" ucap Jeevan sembari mengusap rambut Fritzy, namun yang ada di penglihatannya saat ini adalah sosok Queen yang ia cintai.


"Bos, sa-saya pergi aja ya bos? Saya gak mau sesuatu terjadi, soalnya saya beneran belum pernah sentuhan sama cowok," panik Fritzy.


"Eits, kamu gak boleh pergi sayang. Kamu harus tetap disini sama saya, pokoknya saya akan bikin kamu puas Queen!" ucap Jeevan yang sudah mengecup pipi Fritzy.


Seketika Fritzy melongok, belum pernah ada pria yang menciumnya sebelum ini. Jujur saja ia bingung harus apa, di satu sisi ia senang dengan sentuhan ini, tetapi ia juga kecewa karena ternyata Jeevan melihatnya bukan sebagai Fritzy, tapi sebagai Queen.


"Bos, saya bukan nona Queen. Saya ini Fritzy anak buah bos, nanti kalau bos apa-apain saya takutnya bos nyesel loh," ucap Fritzy berusaha berontak.


Namun, Jeevan malah semakin mendekapnya dengan erat dan terus menciumi lehernya. Fritzy sudah mulai merasakan sensasi yang aneh, ia berontak pun percuma dan akhirnya memilih pasrah saja pada apa yang dilakukan Jeevan.


"Kamu menggoda sekali sayang, saya jadi gak tahan buat masukin kamu!" goda Jeevan.


Fritzy melongok lebar, bisa dipastikan saat ini ia benar-benar gugup. Jeevan juga langsung mengangkat tubuhnya secara paksa dan membawanya ke kamar, pria itu membaringkan tubuh Fritzy di atas ranjang dan mulai menerjangnya dengan membabi buta. Ya hilang lah keperawanan Fritzy yang sudah lama ia jaga untuk suaminya kelak.


Disaat Fritzy tengah menangis menyesali semuanya, dan Jeevan juga sudah tertidur lemas akibat pertempuran panas mereka, tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar dan suara pria membuat Fritzy seketika menghapus air matanya.


TOK TOK TOK...


"Bos, ini saya Alden bos. Bisa tolong buka pintunya sebentar bos?" teriak Alden dari luar.


Fritzy pun panik, ia melirik ke arah Jeevan yang sedang tertidur di sebelahnya dan tidak mungkin membangunkan pria itu. Ia segera bergerak turun dari ranjang, meski sangat sulit sebab bagian bawahnya terasa sakit sekali setelah digempur habis-habisan oleh Jeevan.


Wanita itu mengambil bathrobe dari dalam lemari, sebab pakaiannya sudah tidak bisa dikenakan lagi setelah dirobek paksa oleh Jeevan saat mereka bercocok tanam tadi. Ia juga berusaha bersikap tenang saat hendak menemui Alden di luar, ia tak mau membuat pria itu curiga padanya.


Ceklek


Pintu dibuka olehnya, seketika Alden melongok melihat penampilan Fritzy yang hanya mengenakan bathrobe berwarna putih. Terlebih gadis itu berada di dalam kamar Jeevan, padahal kamar Fritzy dengan Jeevan itu berjauhan. Sontak saja Alden merasa heran dan penasaran.


"Loh Fritzy, kok kamu bisa ada disini? Ini kan kamarnya bos Jeevan, ngapain kamu disini?" tanya Alden.


"Eee iya Al, aku tuh tadi kasih sarapan buat bos Jeevan," jawab Fritzy.


"Terus kenapa kamu cuma pakai pakaian kayak gini? Udah kayak abis mandi aja," heran Alden.


"Gak lah Al, barusan aku gak sengaja ketumpahan air minum pas lagi di dalam. Makanya aku ganti pakai ini deh," bohong Fritzy.


"Ohh, terus kenapa kamu agak ngangkang gitu?" tanya Alden saat melihat kondisi kaki Fritzy.


Deg!


Fritzy tersentak kaget, ia bingung harus berbohong apa lagi pada Alden setelah pria itu mengetahui bahwa ada yang aneh pada kakinya.




Mereka pun masuk ke dalam, dan disana mereka bertemu dengan Surya serta Rezham yang tampak membawa sejumlah makanan juga minuman di tangan mereka masing-masing.


"Hey hey, tunggu!" ujar Dean.


"Hah bos besar? Iya bos, ada apa ya?" tanya Rezham dengan gugup.


"Itu makanan buat siapa? Terus kenapa kalian kaget gitu lihat saya datang?" ujar Dean.


"Eee gak kok bos, kita tadi kan lagi bawa makanan ini dan gak sadar kalau ada bos, jadi makanya kita reflek kaget gitu," ucap Rezham.


"Terus itu makanan buat dikasih ke siapa? Kalau mau makan, disini kan bisa," ucap Dean.


"Masalahnya ini bukan buat kita bos, tapi buat—awhh!!" ucapan Surya terpotong karena Rezham tiba-tiba menginjak kakinya.


"Lo jangan kasih tau ke bos besar, dasar bodoh!" bisik Rezham di telinga Surya.


Surya langsung terdiam begitu mendengarnya, ia merasa bersalah karena hampir saja membongkar rahasia Jeevan yang telah menyembunyikan Caitlyn di dalam rumah itu.

__ADS_1


"Ada apa sih? Kenapa kalian bisik-bisik? Terus tadi kamu mau bilang apa Surya?" tanya Dean.


"Eee enggak kok bos, saya gak mau bilang apa-apa. Biar Rezham aja yang bicara bos," bohong Surya masih sedikit gugup.


"Yang benar? Kamu jangan sembunyikan sesuatu dari saya loh ya! Kamu tahu kan saya siapa? Saya bisa loh habisi kalian berdua disini," ucap Dean.


"I-i-iya bos, kita gak mungkin lah kayak gitu sama bos besar," ucap Rezham.


"Yasudah, sekarang jelaskan ke saya ada apa! Kenapa kalian kelihatan gugup begitu? Pasti ada sesuatu kan di tempat ini?" tanya Dean.


"Eee eee..." kedua pria itu terlihat gugup dan tak berani berbicara.


Praaangg


Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara seperti barang jatuh dari arah kamar kosong di rumah itu, sontak Aqila serta Dean terkejut bukan main mendengar suara tersebut.


"Hah? Itu suara apa? Bukannya kamar itu kosong ya?" heran Dean.


Deg!


Surya dan Rezham sama-sama terkejut mendengar pertanyaan Dean, mereka berdua sangat khawatir bila Dean tahu bahwa di dalam kamar itu ada Caitlyn yang sedang disekap.


"Ki-kita gak tahu juga bos, mungkin aja itu cuma tikus atau hewan lainnya yang gak sengaja jatuhin barang," ucap Surya.


"Ah masa? Setahu saya disini kan gak ada binatang apapun itu, coba deh kamu cek kesana dan lihat apa yang ada disana!" perintah Dean.


"Eee gausah lah bos, palingan cuma tikus kok. Soalnya kemarin saya juga sempat lihat tikus gitu lari-larian di luar, bisa jadi dia masuk kesana bos tanpa sepengetahuan kita. Buat apa lah kita cek yang kayak gitu?" ucap Rezham.


"Kamu nolak perintah saya? Sudah berani kamu melawan saya?" ujar Dean.


"Eh bukan gitu maksudnya bos, kita cuma—"


"Sudahlah, kalau kalian gak mau cek biar saya yang pastikan sendiri ada apa disana!" sela Dean dengan cepat memotong ucapan Rezham.


Setelahnya, Dean langsung pergi menuju kamar yang tadi ia curigai. Aqila pun tampak mengikuti suaminya itu dari belakang, sedangkan Surya serta Rezham masih berusaha mencegah kedua bos itu walau sulit.


Begitu sampai di depan kamar tersebut, Dean menempelkan telinganya pada pintu lalu mencoba membuka pintu sambil mengetuk-ngetuk untuk memastikan apakah ada orang atau tidak di dalam sana.


"Halo! Apa ada orang? Kalau memang iya, kamu teriak yang kencang!" ucap Dean.




Dinda mengangguk lemah, "Itu salah satunya Queen, tapi yang utama ya gue gak mau bikin lu repot terus karena harus ngurus gue," jawabnya.


"Lu gak perlu bicara begitu, gue gak repot kok kalo harus jagain lu," ucap Queen.


"Iya gue ngerti lu baik Queen, lu kan sahabat gue yang paling ngertiin gue. Tapi, tetap aja gue ngerasa gak enak sama lu tau," ucap Dinda.


"Gak gak gak, pokoknya gue tetap gak bakal izinin lu buat pergi dari sini! Titik gak pake koma!" tegas Queen.


"Tapi Queen—" ucapan Dinda terpotong karena tiba-tiba Jago datang menemui mereka.


"Permisi nona, gawat nona ada masalah di depan!" ucap Jago dengan nafas terengah-engah.


Queen sontak terkejut dan menampakkan wajah cemasnya, "Hah? Masalah apa?" tanyanya penasaran.


"I-i-iya non, itu si Tom maksa masuk ke dalam buat ketemu sama nona Dinda," jawab Jago.


"Lah jadi ternyata dia balik lagi kesini terus maksa buat masuk? Ya ampun, tuh orang emang gak ada kapoknya ya! Yaudah, suruh dia masuk biar kita yang bicara sama dia!" ucap Queen.


"Baik nona!" ucap Jago patuh.


Setelahnya, Jago langsung pergi ke luar menemui Tom yang sudah berteriak-teriak meminta untuk masuk ke dalam rumah itu agar bisa menemui Dinda. Sedangkan Dinda sendiri merasa heran dengan keputusan Queen, ia pun beralih menatap wanita itu dan menunjukkan wajah herannya.


"Queen, lu kenapa malah suruh si Jago buat bawa Tom masuk? Kalau dia macam-macam gimana?" tanya Dinda.


"Udah santai aja, gue bakal hadapin tuh cowok supaya dia gak ganggu lu terus!" ucap Queen dengan pede.


Dinda manggut-manggut saja dengan ucapan Queen, lalu tak lama Tom muncul dan langsung meneriaki namanya sembari berjalan mendekati ke arahnya.


"Dinda!" teriak Tom dengan lantang yang membuat kedua wanita itu terkejut.


"Hadeh Tom Tom, mau sampai kapan sih lu terus datang kesini dan ganggu hidup Dinda? Lu gak puas apa?" ucap Queen.

__ADS_1


"Saya sudah bilang, saya tidak akan berhenti sampai keinginan saya terwujud untuk bisa membawa Dinda dari rumah ini," ucap Tom.


"Apa sih? Aku gak mau ikut sama kamu Tom, jangan paksa aku terus dong!" sentak Dinda.


"Oh ya? Saya akan terus paksa kamu Dinda, karena saya ingin kamu ikut dengan saya. Tolong dong kamu mau nurut dan tinggal bareng saya lagi seperti dulu Dinda!" ucap Tom.


"Tapi aku gak pengen tinggal sama kamu Tom, harusnya kamu paham dong!" tegas Dinda.


"Iya Tom, kalau emang lu cinta dan sayang sama Dinda, lu gak boleh dong paksa-paksa dia kayak gini!" sahut Queen.


Tom beralih menatap Queen dengan tatapan tajam, namun hanya sebentar sebab ia kembali menoleh ke arah Dinda dan malah menghampiri wanita itu. Tentu saja Dinda reflek menjauh menghindari telapak tangan Tom yang hendak menyentuhnya.


"Ish, kamu jangan kurang ajar ya! Aku gak mau disentuh sama kamu, jadi kamu harus tahu batasan!" sentak Dinda.


Tom hanya tersenyum dan terus memberikan tatapan hangat ke wajah Dinda.




Disisi lain, Victor datang ke rumah Aulia dengan maksud untuk menemui gadis itu. Ya setelah tahu dimana rumah Aulia dan berkenalan dengan kedua orang tua angkat gadis itu, kini Victor jadi lebih semangat untuk mencari tahu tentang Aulia. Pria itu pun turun dari mobilnya sembari membawa sebungkus kue di tangannya.


Disaat ia hendak masuk ke halaman rumah Aulia, tiba-tiba saja gadis itu justru sudah muncul menemuinya. Tampak Aulia juga terkejut melihat kehadiran Victor disana, pasalnya Victor tak memberi kabar lebih dulu jika dia akan kesana hari ini. Aulia pun menghampiri pria itu dengan wajah bingung dan terheran-heran.


"Loh kak Victor, kok kamu ada disini? Mau apa kak? Ada barang yang ketinggalan ya kemarin pas disini?" tanya Aulia keheranan.


Victor tersenyum mendekati Aulia, "Gak kok, aku emang sengaja kesini buat ketemu kamu," jawabnya singkat.


"Eee mau apa ya kak? Bukannya kemarin kita baru ketemu, kok udah pengen ketemu aku lagi sih?" tanya Aulia lagi dengan bingung.


"Gak ada, aku cuma kangen aja. Jujur sejak ketemu kamu, aku tuh selalu terbayang wajah kamu. Makanya aku kesini biar aku bisa tenang dan gak kepikiran terus sama kamu," jawab Victor.


"Hah? Ya ampun, masa gitu sih kak? Apa gara-gara kamu ngira aku ini adik kamu ya?" ujar Aulia.


"Entahlah, bisa jadi karena itu. Tapi, kayaknya itu sekarang bukan sekedar dugaan lagi deh. Kamu mungkin emang adik aku yang hilang," ucap Victor.


"Kamu udah dapat buktinya?" tanya Aulia.


Victor menggeleng lesu, "Belum, sampai sekarang aku masih belum bisa temuin bukti-bukti itu. Tapi aku yakin banget kamu emang adik aku, Aulia!" jawabnya.


"Kalau cuma berdasarkan keyakinan, sulit buat aku percaya sama kamu. Jadi, maaf ya kak lebih baik kamu pergi deh dari sini?" ucap Aulia.


"Kamu kok gitu sih? Kamu usir aku? Ini aku udah bawain kue pukis loh buat kamu, masa iya kamu malah usir aku?" kaget Victor.


"Bukan ngusir, aku cuma minta kamu buat pergi dari rumah aku. Soalnya aku gak mau bikin keributan disini," ucap Aulia.


"Itu sama aja ngusir, Aulia." ucap Victor kesal.


Aulia terkekeh saja, Victor yang gemas reflek mencubit dua pipi gadis itu dan seketika membuat sang empu melongok tak percaya jika Victor akan melakukan itu. Melihat reaksi Aulia, sontak Victor reflek melepas tangannya dan merasa tidak enak pada gadis itu.


"Umm, ma-maaf aku gak sengaja. Tadi aku reflek aja karena kamu gemesin banget," ucap Victor.


"Iya gapapa, tadi aku juga cuma kaget karena jarang ada cowok yang pegang-pegang pipi aku kayak barusan," ucap Aulia.


"Oh ya? Bagus dong, jadi perempuan itu gak boleh gatal. Kamu harus bisa jaga diri supaya gak mudah disentuh sama cowok-cowok," ucap Victor.


"Iya, tapi cowoknya juga harus jaga tangan kali. Kayak contohnya kamu barusan," cibir Aulia.


"Hehe, aku kan udah minta maaf Aulia. Masa kamu gak mau maafin aku sih?" ucap Victor.


"Maafin gak ya??" Aulia sengaja meledek Victor agar lelaki itu jengkel.


"Harus maafin dong, aku bawain kue pukis loh buat kamu. Siapa tahu kamu lapar belum sarapan, jadi kue ini bisa kamu jadiin santapan," ucap Victor.


"Iya iya, aku maafin kok. Makasih juga kue pukisnya ya kak?" ucap Aulia.


"Sama-sama adikku sayang," ucap Victor spontan mengelus puncak kepala gadis itu.


Lagi dan lagi Victor tidak bisa mengontrol diri, itu membuat Aulia merasa canggung dan bingung sendiri harus apa. Terlebih Victor memanggilnya dengan sebutan adikku sayang, tentu saja Aulia jadi semakin tersipu.


Tin tin...


Keduanya dikagetkan dengan suara klakson yang muncul secara tiba-tiba itu, Victor pun reflek melepas tangannya dan menoleh ke arah mobil disana itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2