
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Dimarahi Aqila
•
•
"Loh emang kenapa? Gak boleh ya aku kesini buat jenguk papa kamu?" tanya Jeevan.
"Bukan gitu, maksud aku kan kamu emangnya gak sibuk apa sama urusan kamu? Terus apa kamu diizinin sama orang tua kamu buat datang kesini?" ucap Queen.
"Aku gak perlu izin mereka buat datang kesini sayang, lagian aku cuma mau jenguk papa kamu kok," ucap Jeevan tersenyum.
"Ya iya sih, tapi kan tetap aja kamu pasti bakal dalam masalah besar kalau orang tua kamu tau kamu datang kesini buat jenguk musuh besar kamu," ucap Queen.
"Tenang aja, aku bisa handle semuanya. Kamu gak perlu mikirin soal itu ya sayang?" ucap Jeevan.
Jeevan menangkup wajah gadis itu dan tersenyum lebar, perlahan Jeevan mendekat sembari terus mengusap lembut wajah sang kekasih. Queen dibuat gugup dengan perlakuan Jeevan itu, perlahan ia memejamkan mata seolah bersiap menyambut kecupan yang akan mendarat di bibirnya.
Akan tetapi, suara ketukan pintu dari luar disertai teriakan seorang wanita membuat Jeevan mengurungkan niatnya. Queen pun membuka matanya dan reflek menoleh ke arah pintu, ia penasaran siapa yang ada disana dan berteriak seperti itu.
TOK TOK TOK...
"Jeevan, buka pintunya Jeevan! Kamu pasti ada di dalam kan?" teriak si wanita dari luar.
Sontak Queen mendongak menatap wajah Jeevan, sorot matanya seakan bertanya pada pria itu siapa wanita di luar yang datang marah-marah.
"Jev, kamu kesini sama siapa? Terus kenapa dia malah teriak-teriak begitu?" tanya Queen.
"Aku gak tahu Queen, serius aku cuma datang sendiri. Aku juga heran siapa orang di luar itu," jawab Jeevan dengan panik.
Keduanya pun sama-sama penasaran, lalu dengan perlahan Queen melangkah ke dekat pintu untuk mengetahui siapa yang datang.
Ceklek
Queen membuka pintu, dan matanya langsung terbelalak begitu melihat Aqila alias sang ibu dari Jeevan berdiri di depan sana. Tentu saja Queen tampak sangat terkejut, ia tak percaya jika Aqila lah yang datang dan marah-marah di depan ruangan papanya dirawat.
"Ta-tante Aqila? Ada apa ya tante datang kesini? Terus kenapa tante harus teriak-teriak juga? Ini rumah sakit loh tan, kasihan nanti pasien pada keganggu," ucap Queen.
"Benar kan dugaan saya? Ternyata Jeevan memang datang kesini buat temuin kamu dan papa kamu yang penyakitan itu. Cepat katakan ke saya, dimana Jeevan!" sentak Aqila.
"Tante bicara apa sih? Kalau tante gak bisa tenang, mending tante pergi aja deh! Aku gak mau papaku jadi terganggu," ujar Queen.
"Kamu itu ya benar-benar ngeselin, saya cuma minta kamu kasih tau saya dimana Jeevan, cepat kamu panggilkan dia!" ucap Aqila.
"Jadi tante kesini mau ketemu sama Jeevan anak tante yang mesum itu? Okay, aku bakal panggil dia sekarang. Tapi, tante diam disini dan jangan ikut masuk!" ucap Queen.
"Terserah, yang penting kamu cepat panggil dia karena saya mau ketemu sama dia!" suruh Aqila.
"Iya tante, sabar ya?" ujar Queen.
Aqila hanya mengangguk pelan, Queen pun kembali ke dalam kamar rawat itu meninggalkan Aqila disana tanpa menutup pintu dengan rapat. Queen langsung menemui Jeevan yang masih terpaku di tempatnya sembari mengusap wajahnya.
"Jev!" panggil Queen, seketika Jeevan terkejut lalu menoleh ke arahnya.
"Ah Queen, gimana? Siapa yang datang di depan?" tanya Jeevan penasaran.
"Mama kamu, dia minta ketemu sama kamu. Sana gih kamu keluar temui dia!" jawab Queen santai.
"Apa??" Jeevan tersentak kaget.
•
•
Sementara itu, Lova telah bersiap untuk pergi ke kampus seperti biasanya. Tampak juga Arul sang penjaga sudah berada di dekat mobilnya dan tersenyum memandangnya, tak ayal gadis itu turut membalas senyuman Arul sembari berjalan mendekati pria tersebut.
"Selamat pagi nona!" sapa Arul dengan ramah.
"Iya pagi, lu semangat banget sih udah datang aja?" ujar Lova.
__ADS_1
"Pastinya dong nona, saya kan mau jemput nona. Siapa sih yang gak semangat kalau mau ketemu sama wanita secantik nona?" ucap Arul.
"Hadeh, ada apaan nih? Tumben banget lu ngerayu gue kayak gini, pasti ada maunya kan?" heran Lova.
"Hahaha, duh nona kok ngomongnya gitu sih? Saya kan cuma bicara apa adanya nona, emang nona cantik banget kok," ucap Arul.
"Yaudah, gue gak ada waktu buat dengerin gombalan lu yang basi itu. Sekarang ayo anterin gue ke kampus karena gue ada kelas!" ucap Lova.
"Baik nona, silahkan!" ucap Arul patuh sembari membukakan pintu mobil untuk nona nya.
Tanpa basa-basi lagi, Lova pun bergegas masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman. Arul juga menyusul masuk dan duduk di samping Lova, pria itu sedikit kaget sebab Lova memilih duduk di kursi depan, padahal tadi Arul sudah membukakan pintu belakang agar Lova bisa masuk lebih mudah.
"Non, kenapa nona duduk di depan? Emang nona gak malu deketan sama saya?" tanya Arul.
"Kenapa harus malu? Gue emang pengen duduk di depan, lagian ini juga mobil gue jadi terserah gue lah. Lu gausah banyak protes deh!" jawab Lova.
"I-i-iya nona, saya cuma kaget aja karena gak biasanya nona kayak gini," ucap Arul.
"Lo gausah lebay deh, gue udah pernah juga kan duduk di depan kayak gini? Mending sekarang cepetan lu bawa nih mobil terus kita cabut ke kampus!" ujar Lova.
"Siap nona! Tapi, saya boleh minta sesuatu gak nona?" tanya Arul sambil menatap wajah nona nya.
"Haish, minta apa? Gaji? Ini belum waktunya Arul, lu kerja aja dulu yang bener gausah mikirin gaji terus!" ujar Lova.
"Bukan itu nona, saya mau minta yang lain dan ini sangat penting," ucap Arul.
"Ya apa? Lu mau kasbon sama gue? Gue gak ada uang Arul, sana bilang aja sama bokap atau nyokap!" ucap Lova.
"Enggak nona, saya bukan mau kasbon. Tolong dong nona dengarkan dulu saya bicara!" ucap Arul.
Lova memutar bola matanya sembari menghela nafas, "Iya iya, udah cepat ngomong!" ujarnya.
"Begini nona, saya itu cuma minta satu hal. Boleh gak nona menjauh dari teman-teman nona yang itu?" ucap Arul dengan hati-hati.
Seketika tatapan Lova langsung berubah emosi, sedangkan Arul menunduk tak berani bertatapan langsung dengan sang wanita.
"Maksud lu apa? Lu nyuruh gue menjauh dari sahabat yang udah gue anggap saudara sendiri gitu? Kenapa lu jahat banget sih Arul? Mereka sohib gue, kenapa gue harus jauhi mereka?" tanya Lova.
Lova menggeleng tak percaya dan memalingkan wajahnya sambil menahan emosi.
•
•
Erick membuka matanya, betapa kagetnya ia saat melihat Ariana ada di sebelahnya dan tengah tertidur tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Erick langsung bangkit dan terduduk di ranjang, ia mengusap wajahnya mengingat bagaimana ganasnya permainan ia dan Ariana semalam.
Ia ingat sekali saat Ariana berhasil dibuat lemas dan pingsan olehnya, sudah lama sekali Erick tak merasakan kenikmatan seperti itu sejak dirinya dan Ariana memutuskan berpisah. Namun, semalam kehangatan itu kembali ia rasakan dan Erick pun sangat senang bisa mendapatkannya.
"Ahaha, saya baru ingat semalam kita berdua main sampai hampir pagi. Kamu benar-benar luar biasa sayang, saya jadi ketagihan!" ujar Erick.
Perlahan pria itu mendekat ke tubuh Ariana yang sedikit tertutup selimut, ia usap dengan lembut wajah sang mantan dan sesekali mengecupnya hangat. Erick seolah menyesal telah menceraikan Ariana, terbukti ia hanya bisa meraih kepuasan saat bersama wanita yang pernah dicintainya itu.
"Bangun dong sayang! Kamu gak tahu apa dia udah tegang lagi nih minta dipuaskan?" bisik Erick.
"Eengghh.." Ariana melenguh dan berbalik memunggungi Erick sebab sedikit merasa terganggu dengan suara Erick di telinganya.
Sontak Erick tersenyum, lalu tangannya kembali membelai rambut Ariana dan mengecupi leher jenjangnya. Ariana pun semakin merasa risih, ia berulang kali menggelengkan kepalanya masih dengan mata tertutup. Erick langsung saja memegangi kepala wanita itu dan mencium bibir yang menjadi candu baginya tanpa aba-aba.
"Mmpphh mmpphh.." Ariana sangat kaget, ia membuka matanya dan terkejut ketika Erick tengah mencumbu bibirnya dengan ganas sambil menahan kepalanya dengan kedua tangan.
"Bibir kamu bikin saya candu, Ariana. Baguslah, akhirnya kamu bangun juga sayang!" ucap Erick sensual setelah mengakhiri ciumannya.
"Mmhhh, kamu kenapa sih mas? Ini masih pagi loh, apa gak ada waktu lain sampai kamu harus cium bibir aku lagi?" protes Ariana.
"Enggak sayang, bibir kamu terlalu candu bagi aku dan aku gak bisa berhenti cium kamu. Aku suka sama kamu Ariana, mari kita ulangi kegiatan semalam!" ucap Erick.
Ariana seketika menggeleng dan mendorong tubuh Erick dari atas tubuhnya hingga terjatuh ke samping.
"Kamu gila ya mas? Kamu pikir aku robot yang gak punya rasa lelah? Aku udah puasin kamu semalam sampai aku pingsan, masa masih kurang aja? Aku gak mau lagi ya, cukup semalam aja!" sentak Ariana.
"Ayolah sayang, punyaku udah tegang lagi nih di bawah sana! Aku juga yakin, pasti kamu merasakan hal yang sama kan?" bujuk Erick.
__ADS_1
"Gak tuh, aku mah gak mesum kayak kamu. Aku malah capek banget dan mau istirahat, udah ya aku balik ke kamar dulu?" ucap Ariana.
Ariana hendak bangkit, namun rasa nyeri di bagian bawahnya membuat ia sulit untuk bangun. Erick pun tersenyum menyeringai, dengan begitu pasti Ariana tidak akan pergi meninggalkannya. Erick menjadikan hal itu kesempatan untuk bisa mendapatkan jatahnya kembali pagi ini.
"Awhh kok sakit banget sih? Badanku rasanya remuk semua, udah kayak waktu pertama diperawanin sama kamu!" keluh Ariana.
"Nah kan, udah mending kamu disini aja sama saya Ariana! Kita lanjut main lagi kayak semalam, tapi kali ini saya lebih lembut deh!" ujar Erick.
"Ish, yaudah deh aku mau." Ariana pun akhirnya menyetujui keinginan Erick, yang tentu saja disambut dengan kebahagiaan pria itu.
Tanpa berlama-lama, Erick langsung saja menindih tubuh Ariana dan mencumbu tiap inci wajahnya. Namun, disaat ia hendak melangkah lebih jauh, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk dari luar dan membuat ia sangat jengah.
TOK TOK TOK...
•
•
Victor tengah berdiri di depan kampus tempat Aulia menimba ilmu, ia hanya seorang diri disana sebab kedua temannya memilih melakukan operasi dibanding menemaninya. Victor pun tak masalah, sebab ia yakin akan bisa menemui Aulia walau tanpa bantuan dari kedua temannya itu.
Tak lama kemudian, Aulia akhirnya muncul bersama Nina di sampingnya. Sontak Victor langsung tersenyum lebar, lalu mendekati gadis itu dan menyapanya. Aulia yang sedang asyik berbincang dengan Nina, kebingungan saat Victor tiba-tiba ada di depannya dan tersenyum ke arahnya.
"Hai Aulia!" sapa Victor dengan ramah disertai lambaian tangannya.
"Eh Victor?" Aulia mendongak dan tersenyum memandang wajah pria tersebut. "Kamu datang lagi kesini?" sambungnya.
Victor mengangguk pelan, "Ya Aulia, aku akan terus datang buat temui kamu," ucapnya.
"Buat apa kamu mau temui aku terus? Aku kan harus kuliah," tanya Aulia.
"Ya aku tahu Aulia, tapi aku cuma minta waktu kamu sebentar buat bicara berdua. Aku masih belum bisa lupain dugaan aku ke kamu," jawab Victor.
"Okay, jadi kamu mau ngobrol lagi sama aku sekarang?" tanya Aulia.
"Iya Aulia, itu sih kalau kamu mau dan gak sibuk. Tapi, aku juga gak maksa kok," jawab Victor.
"Aku bisa-bisa aja kok dan gak sibuk juga, soalnya kelas aku masih lama mulainya. Kita bisa ngobrol dulu beberapa menit," ucap Aulia.
"Bagus tuh, makasih banyak ya Aulia?" ucap Victor tampak senang.
Aulia hanya mengangguk disertai senyum manisnya, jujur ia pun senang berbincang dengan lelaki tampan seperti Victor. Namun, Nina yang ada di sebelahnya tentu merasa heran melihat kedekatan antara Aulia dan Victor. Pasalnya Nina belum pernah melihat lelaki itu sebelumnya.
"Eh eh Aul, lu ngobrol sama siapa sih? Gue perasaan baru kali ini lihat tuh cowok, lu temuin dimana dia?" tanya Nina pada Aulia dengan sedikit berbisik.
"Dia namanya Victor, gue juga baru ketemu beberapa kali kok sama dia. Emang kenapa lu tanya begitu soal dia?" jawab Aulia.
"Ya gapapa, gue penasaran aja. Terus Victor ini ada urusan apa sama lu?" tanya Nina lagi.
"Hadeh, lu tanya aja langsung sama orangnya tuh! Gue males kalo harus jelasin ke lu," suruh Aulia.
"Ih lu mah gitu, gue kan belum kenal sama dia. Malu atuh kalau gue tanya ke dia langsung," ujar Nina.
"Gapapa Nina, kenalan makanya sama Victor!" ucap Aulia.
Nina pun beralih menatap pria di depannya, dan Victor yang melihat itu hanya tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya. Perlahan Nina memberanikan diri untuk menyapa pria itu, meski di dalam hatinya ia sangat gugup.
"Ha-halo! Gue Nina, salam kenal ya?" ucap Nina.
"Ya Nina, saya Victor. Kamu ini pasti temannya Aulia kan?" tebak Victor.
"Betul banget, gue sama Aulia udah temenan dari lama. Kita itu sahabat sejati," ucap Nina bangga.
"Baguslah, saya senang dengarnya," ujar Victor.
"Terus gue mau tanya dong, lu ada urusan apa sama sohib gue ini?" tanya Nina.
"Teman kamu ini adik saya yang lama hilang dan sedang saya cari," jawab Victor santai.
"Hah??" Nina langsung menganga lebar terkejut bukan main setelah mendengar jawaban pria itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...