Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 59. Gairah Erick


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Gairah Erick




"Bantu aku cari bukti bahwa kamu memang adik aku Aulia, karena aku butuh itu untuk meyakinkan dugaan aku. Walaupun aku udah yakin sekali kalau kamu adik aku," jawab Victor.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu sih? Cuma karena wajah aku mirip sama adik kamu?" tanya Aulia.


"Iya Aulia, saat pertama kali aku lihat kamu, yang ada di pikiran aku itu ya adik aku," jawab Victor.


"Emangnya adik kamu itu kemana sih? Kok bisa hilang gitu?" tanya Aulia penasaran.


"Jadi gini, dulu itu sempat terjadi banjir bandang di kampung tempat aku tinggal. Aku terpisah sama adik aku ya dari situ, dan sampai sekarang aku belum bisa ketemu lagi sama dia," jelas Victor.


Aulia kembali terkejut mendengar cerita dari Victor, ia baru ingat kalau selama ini ia juga sering bermimpi tentang banjir yang sangat besar.


"Eee aku turut berduka ya?" lirih Aulia.


"Terimakasih Aulia, maaf karena udah ganggu waktu kamu. Kalau kamu mau pergi, silahkan aja!" ucap Victor.


"I-i-iya, sorry ya aku harus pergi sekarang? Kamu gapapa kan aku tinggal?" ujar Aulia.


"Gak kok, lagian kamu kan harus kuliah. Justru aku yang gak enak karena udah ganggu kamu," ucap Victor.


"Gak masalah, aku bantu doa semoga adik kamu cepat ditemukan ya!" ucap Aulia.


"Aamiin," ucap Victor mengaminkan.


Disaat Aulia hendak pergi, tiba-tiba saja Lova dan Alif muncul memanggilnya dengan nafas yang terengah-engah.


"Aulia!" teriak Lova dengan keras.


Sontak Aulia dan juga Victor memandang ke asal suara secara bersamaan, mereka sama-sama bingung mengapa Lova serta Alif terlihat sangat cemas dan panik seperti itu. Kini Lova pun sudah berdiri tepat di hadapan Aulia dan coba menetralkan nafasnya sejenak sebelum bicara.


"Aulia, lu gapapa kan? Lu gak diapa-apain sama tuh cowok?" tanya Lova dengan cemas.


"Hah? Lo bilang apa sih Lova? Gue sama Victor ini cuma ngobrol doang daritadi, dia gak apa-apain gue lah jir," jawab Aulia sedikit heran.


"Oh syukur deh kalo gitu, soalnya tadi gue panik banget waktu tau lu pergi sama cowok asing. Gue kira lu mau dijahatin sama dia," ucap Lova.


"Ya enggak lah, Victor ini orangnya baik kok. Lagian lu tau dari siapa sih emang?" ujar Aulia.


"Siapa lagi kalau bukan si Alif ini? Dia cerita ke gue sampe bikin gue panik tau," ucap Lova.


"Yeh emang dasar ya lu Lif, sukanya bikin orang panik aja!" cibir Aulia.


"Gue kan cuma bilang apa yang gue lihat tadi, bener dong lu dibawa pergi sama cowok asing? Makanya gue langsung kasih tau ke Lova," ucap Alif membela diri.


"Ah terserah lu, udah yuk kita balik aja ke kampus! Bentar lagi gue ada kelas nih," ajak Aulia.


"Okay." Lova mengangguk setuju, ia pun saling merangkul bersama Aulia dan melangkah pergi meninggalkan Victor serta Alif.


"Eh guys tunggu!" teriak Alif sembari berlari mengejar kedua gadis itu.


Sementara Victor masih tetap disana memandangi punggung yang perlahan sudah menjauh, jujur Victor masih ingin bicara banyak dengan Aulia, namun ia tidak bisa memaksa gadis itu saat ini. Apalagi Aulia memang harus mengikuti kelasnya dan Victor tak mungkin melarang Aulia kuliah.


"Sabar Vic, pelan-pelan aja! Lo pasti bisa deketin terus Aulia dan cari tahu tentang dia, lu harus semangat!" gumam Victor menyemangati dirinya sendiri.




Tom justru tersenyum dan mengecup punggung tangan Dinda, reflek Dinda menarik tangannya dan menatap tajam ke arah pria itu seolah tak terima jika ia diperlakukan seperti itu olehnya.


"Jangan kurang ajar ya kamu! Aku gak terima kamu cium-cium tangan aku kayak gitu!" tegas Dinda.


"Maaf Dinda, jangan marah-marah dong! Aku kan cuma pengen tenangin suasana, makanya aku cium tangan kamu tadi," ucap Tom.


"Apapun alasan kamu, tetap aja aku gak suka. Awas ya kalau kamu sekali lagi begitu!" ujar Dinda.

__ADS_1


"Aku janji gak akan begitu lagi, maafin aku ya sayang?" ucap Tom.


"Yaudah, sekarang kamu buruan ngomong dan jangan banyak basa-basi lagi!" pinta Dinda.


Tom mengangguk pelan, "Aku datang kesini itu cuma mau minta ke kamu supaya kamu mau maafin aku dan terima aku lagi sayang," ucapnya.


"Terima gimana maksudnya?" tanya Dinda.


"Ya aku mau kita dekat seperti dulu lagi, gak marahan dan jauhan kayak sekarang. Aku juga pengen bantu kamu buat rawat calon bayi yang ada di kandungan kamu itu, karena dia kan anak aku juga sayang," jelas Tom.


"Emang ini anak kamu, tapi aku udah putusin buat rawat dia tanpa bantuan kamu. Aku bisa kok rawat dia sendiri," ucap Dinda.


"Ayolah Dinda, cuma itu aja kok yang aku minta! Masa kamu gak mau nurut sih? Lagian apa kamu gak kasihan sama anak kita nanti kalau dia lahir tanpa ayah?" bujuk Tom.


"Aku tinggal bilang ke dia kalau ayahnya udah lama meninggal, gampang kan?" ujar Dinda.


Tom tersentak mendengarnya, ia yakin sekali bahwa Dinda sudah sangat emosi padanya dan akan sangat sulit untuk mengambil hatinya kembali.


"Gak bisa begitu dong Dinda, aku gak terima kalau kamu bilang begitu ke anak kita nanti!" tegas Tom.


"Kenapa kamu harus gak terima? Kamu itu bukan ayah yang baik buat dia, dan kamu gak berhak dianggap ayah sama dia! Lebih baik kamu pergi sana, jangan pernah kamu datang lagi!" ujar Dinda.


"Aku gak akan pergi sayang, sebelum kamu maafin aku. Tolong dong kamu kasih aku kesempatan satu kali lagi untuk menebus kesalahan aku ke kamu!" mohon Tom.


"Kalau aku gak mau kenapa? Kamu gak bisa maksa aku buat maafin kamu!" ucap Dinda.


"Please Dinda, kali ini aja aku mohon sama kamu!" bujuk Tom.


"Mau sekeras apapun kamu mohon-mohon sama aku, aku gak akan merubah pikiran aku. Aku udah terlanjur kecewa sama kamu Tom!" ucap Dinda.


"Aku minta maaf sama kamu, aku janji bakal lakuin apapun supaya kamu mau maafin aku!" ujar Tom.


"Kamu gak perlu lakuin apapun Tom, kamu cukup pergi dari sini dan jangan pernah kembali apalagi temuin aku!" sentak Dinda.


Tom terdiam beberapa saat mendengar ucapan Dinda, ia sudah kehabisan cara karena semua yang ia lakukan tidak berhasil membuat Dinda mau memaafkannya.


Akhirnya Dinda yang emosi bangkit dari duduknya, wanita itu berniat pergi namun ditahan oleh Tom yang secara tiba-tiba memegang tangannya dan tidak membiarkan Dinda pergi.


"Kamu mau kemana sayang? Aku belum selesai bicara, aku harap kamu tetap disini!" pinta Tom.


Dinda langsung menghentak tangannya lepas dari genggaman Tom, lalu pergi begitu saja meninggalkan Tom. Tak lupa Dinda meminta pada seorang penjaga disana untuk mengusir Tom, ia pun masuk ke dalam rumah dan Tom tidak bisa lagi mengejarnya.




"Uhuk uhuk uhuk.." tiba-tiba suara batuk yang berasal dari Salman mengejutkan keduanya.


"Loh papa?" Queen terkejut lalu reflek menjauh dari Jeevan dan mendekati papanya itu.


"Pa, papa udah sadar kan? Jawab aku dong pa!" ucap Queen dengan semangat.


Salman mengerjapkan matanya, ia tersenyum setelah melihat Queen berada di dekatnya. Ia pun sangat senang dengan kehadiran putrinya itu.


"Queen? Akhirnya kamu ada disini sayang, papa sudah kangen sekali sama kamu!" lirih Salman.


"Ah papa, aku juga kangen banget sama papa!" balas Queen.


Keduanya pun berpelukan selama beberapa menit disana, sampai Salman sadar dengan kehadiran sosok Jeevan di hadapannya saat ini. Ya tentunya Salman sangat tak menyukai jika Jeevan dekat dengan putrinya, apalagi secara terang-terangan datang ke depannya.


"Tunggu dulu sayang, kenapa kamu bisa sama dia? Apa kamu dan dia ada hubungan sampai dia bisa ada disini?" tanya Salman seraya menunjuk dan menatap ke arah Jeevan.


"Pa, biar aku jelasin dulu semuanya ya? Supaya papa gak salah paham juga," ucap Queen.


"Tentu Queen, kamu harus jelaskan semuanya! Kenapa bisa kamu datang kesini sama musuh besar papa?" ujar Salman dengan emosi.


"Pa, Jeevan itu cuma mau jenguk papa. Dia juga perduli loh sama papa," ucap Queen.


"Apanya sayang? Gak mungkin si Jeevan ini perduli sama papa, dia pasti punya rencana jahat buat papa. Lebih baik kamu usir dia sebelum dia melukai papa nantinya!" ucap Salman.


Queen pun terlihat bingung, ia melirik ke arah Jeevan dan dibalas dengan senyuman oleh pria itu. Lalu, Jeevan pun bergerak mendekati Salman.


"Halo om!" sapa Jeevan dengan ramah.

__ADS_1


"Gausah sok ramah kamu, katakan apa rencana kamu sebenarnya Jeevan!" ujar Salman.


"Saya gak punya rencana apapun om, saya cuma mau jenguk om disini," ucap Jeevan.


"Cih! Kamu pikir saya percaya sama kamu? Jelas enggak, saya gak akan pernah percaya dengan orang seperti kamu Jeevan!" sentak Salman.


"Pa, ayolah jangan begitu! Jeevan beneran mau jenguk papa kok," ucap Queen.


"Kamu jangan bela dia Queen! Dia itu musuh besar papa, mana mungkin dia mau jenguk papa kalau tidak ada alasan lain?" ujar Salman.


Queen pun terdiam dan menatap wajah Jeevan sambil meneguk ludahnya, Queen juga bingung bagaimana caranya untuk bisa membuat Salman mau menerima Jeevan disana.


"Pa, papa percaya aja sama aku! Kalau emang Jeevan punya rencana jahat, aku pasti bakal langsung hajar dia!" ucap Queen.


"Kamu yakin Queen?" tanya Salman ragu.


"Iya pa, papa bisa pegang kata-kata aku. Jeevan gak bakal bisa apa-apa selagi ada aku disini, papa tenang aja ya pa!" jawab Queen.


"Baiklah, kali ini papa mau nurut sama kamu. Papa bolehin Jeevan ada disini," ucap Salman.


"Makasih pa, aku yakin kok Jeevan gak ada niat apa-apa selain jenguk papa. Iya kan Jev?" ucap Queen seraya melirik ke arah pria di dekatnya.


Jeevan mengangguk sambil tersenyum, "Pasti, mana mungkin saya berani berbuat jahat di rumah sakit?" ucapnya dengan tegas.




Disisi lain, Erick masih terduduk di kursi kamar hotel yang ia sewa dengan secangkir teh hangat menemaninya. Erick sungguh bingung dan tak tahu lagi harus mencari Dinda kemana, ia bahkan sudah hampir pasrah dan ingin kembali ke negara asalnya jika Dinda tak kunjung ditemukan.


Tak lama kemudian, pintu kamarnya terdengar diketuk oleh seseorang dari luar. Erick yang sedang malas pun hanya berteriak memerintahkan orang di luar sana untuk langsung masuk ke dalam, sebab pintunya tak dikunci. Rupanya orang itu ialah asisten pribadi Erick yang selalu bekerja untuknya.


"Mister, maafkan saya karena hingga kini saya belum bisa menemukan keberadaan nona Dinda," ucap sang asisten yang bernama Arlot.


"Hanya itu yang ingin kamu sampaikan ke saya sekarang? Buat apa kamu harus datang kesini? Yang saya butuhkan itu informasi penting tentang Dinda, bukan yang seperti ini!" geram Erick.


"Ma-maaf mister, tapi saya dan beberapa pasukan masih terus berusaha untuk menemukan nona Dinda. Saya janji mister, saya—"


"Saya tidak butuh janji kamu, saya hanya mau kamu bawakan Dinda ke hadapan saya dan bukan hanya sekedar janji! Paham kamu Arlot?" sela Erick yang sepertinya sangat emosi.


"Pa-paham mister, baiklah saya akan berusaha mencari nona Dinda dan membawanya ke hadapan mister secepat mungkin," ucap Arlot tegas.


"Bagus, lakukan tugas kamu itu dengan cepat dan baik! Kalau kamu tidak berhasil menemukan Dinda, maka saya akan pecat kamu!" ancam Erick.


"Baik mister!" ucap Arlot dengan lantang.


"Sekarang kamu carikan saya wanita yang bisa memuaskan hasrat saya! Sudah lama saya tidak mendapat kepuasan," perintah Erick.


"Eee mister mau yang seperti apa?" tanya Arlot bingung.


"Saya maunya yang seperti Dinda, karena cuma dia yang bisa bikin saya bergairah. Kamu harus bisa temukan perempuan seperti dia!" jawab Erick.


"Ba-baik misteri! Nanti saya akan coba hubungi beberapa kenalan saya yang memiliki bisnis perempuan," ucap Arlot.


"Yasudah, cepat kamu pergi sana! Saya gak mau nunggu lama, saya sudah gak tahan!" perintah Erick.


"Siap mister!" ucap Arlot patuh dan langsung berbalik lalu keluar dari kamar hotel itu.


Erick merogoh saku celananya, mengambil sebuah foto Dinda yang ia simpan disana dan menatapnya sambil tersenyum. Erick sudah benar-benar bergairah dan ingin segera menuntaskan itu dengan siapapun, tak perduli siapa orangnya.


"Sayang, kenapa kamu gak kembali ke tempat saya sampai saat ini? Apa kamu memang tidak ingin menjadi milik saya? Padahal saya sudah janji akan memberikan apapun yang kamu mau," gumamnya.


Ting nong ting nong...


Tiba-tiba bel berbunyi, Erick reflek menaruh kembali foto Dinda di sakit celananya dan lalu bangkit dari tempat duduknya untuk berjalan ke arah pintu.


Ceklek


Erick membuka pintu, tapi matanya langsung melotot lebar begitu melihat sosok perempuan berdiri di depannya saat ini. Erick sangat tak menyangka, bahkan nafasnya sampai terhenti dengan mulut terbuka.


"Ariana? Kenapa kamu..." Erick sampai tak bisa menyelesaikan ucapannya, ia benar-benar terkejut melihat sang mantan berada disana.


"Halo Erick! How are you? Sudah lama ya kita gak ketemu, mantan suamiku yang tampan dan baik hati?" ucap sang wanita bernama Ariana disertai senyuman menggoda.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2