
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Rindu Queen
•
•
Baru saja Aqila hendak membuka mulutnya, namun Caitlyn sudah lebih dulu melihat keberadaan Jeevan disana. Sontak Caitlyn langsung bangkit dan menyapa Jeevan dengan semangat, mungkin saja ia sudah melupakan kejadian beberapa waktu yang lalu terkait penculikan dirinya.
"Jeevan!" sapa Caitlyn dengan antusias dan disertai senyuman lebarnya.
"Eh nak Caitlyn, tuh ayo kita kesana sayang! Kayaknya mereka udah gak sabar deh pengen ketemu sama kamu," ucap Aqila mengajak putranya.
"Iya ma," Jeevan menurut saja dan melangkah mendekat ke arah Caitlyn serta keluarganya.
"Ohh, jadi ini anak kamu Qila? Si Jeevan itu?" tanya Keyla, mama Caitlyn.
"Iya benar Keyla, ini anak aku yang sering aku bicarakan sama kamu. Gimana? Dia ganteng kan?" jawab Aqila dengan bangga.
"Iya, dia tampan sekali seperti yang kamu dan Caitlyn bicarakan. Salam kenal ya Jeevan? Saya Keyla, mamanya Caitlyn!" ucap Keyla.
"Saya Jeevan, tante." Jeevan menyambut uluran tangan Keyla itu dan berjabatan disana.
"Ahaha, kamu sopan juga ya ternyata? Pantas saja Caitlyn suka sama kamu," ucap Keyla.
"Ehem ehem.." Dean serta papa Caitlyn yang masih terduduk disana pun berdehem dan mengagetkan mereka.
"Ah iya, kenalin juga ini suami saya sekaligus papanya Caitlyn, namanya Fatah!" ucap Keyla.
"Halo om!" Jeevan inisiatif menyapa Fatah dan mencium tangannya, tentu saja Fatah menyambut dengan sebuah senyuman.
"Halo juga! Makin besar kamu makin kelihatan tampan ya Jeevan? Jadi lebih mirip sama papa kamu deh," ujar Fatah.
"Hahaha, om bisa aja!" ucap Jeevan sambil terkekeh.
Lalu, mereka pun duduk berdampingan disana bersiap untuk memulai pembicaraan yang sudah membuat Jeevan penasaran. Jeevan menatap wajah Caitlyn beserta kedua orangtuanya, ia berniat memulai pembicaraan karena sudah tak sabar ingin tahu apa yang sedang mereka bahas.
"Umm, ini sebenarnya ada apa ya? Kok pada kumpul disini? Ada masalah apa?" tanya Jeevan.
"Gak ada masalah apa-apa kok Jeevan, kita kesini karena mau membicarakan terkait hubungan kamu dan Caitlyn anak kami," jawab Keyla sambil tersenyum.
Jeevan tersentak mendengarnya, matanya terbelalak kaget karena tahu alasan dari orang tua Caitlyn datang kesana. Tentu Jeevan tak mengerti mengapa mereka berbicara seperti itu, padahal selama ini antara dirinya dengan Caitlyn tidak ada hubungan apa-apa.
"Hubungan apa ya maksudnya tante? Saya benar-benar gak ngerti deh," ujar Jeevan.
"Jeevan, kamu gimana sih? Memangnya kamu lupa kalau kamu dan Caitlyn akan segera menikah?" sela Aqila.
"Menikah? Apaan sih ma? Sejak kapan aku mau menikah dengan Caitlyn?" sangkal Jeevan.
Mendengar itu, sontak Aqila menatap tajam ke arah putranya seolah menandakan bahwa apa yang dikatakan Jeevan tadi tidak benar. Aqila tentunya khawatir Caitlyn ataupun kedua orangtuanya akan merasa kesal dan tak terima dengan perkataan Jeevan barusan yang dinilai kurang ajar.
"Jeevan, jaga bicara kamu di depan tante Keyla sama om Fatah! Kamu itu sebentar lagi akan menikah dengan Caitlyn, otomatis mereka juga akan jadi orang tua kamu," ucap Aqila.
"Ya aku ngerti ma, tapi aku kan bicara apa adanya. Diantara aku sama Caitlyn emang gak ada apa-apa kok, gimana caranya coba aku bisa nikah sama dia nanti?" ucap Jeevan.
"Kita sekatang emang gak ada apa-apa Jeevan, tapi sebentar lagi bakal ada kok," ucap Caitlyn.
Jeevan terdiam bingung, ia menatap mata Caitlyn yang seolah memberikan sesuatu. Entah kenapa Jeevan yakin ada yang ingin disampaikan oleh gadis itu padanya, meskipun ia juga tak tahu ada apa sebenarnya disana. Ia pun heran kenapa keluarga Caitlyn bisa tiba-tiba datang begini.
•
•
Setelah meminta izin dari kedua orang tua mereka, kini Jeevan bersama Caitlyn tengah berada di taman samping rumah pria itu. Caitlyn tampak tersenyum karena akhirnya ia bisa berbincang berdua dengan Jeevan disana, ia pun tidak sabar untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.
Mereka berdua duduk berdampingan pada sebuah kursi panjang yang tersedia, Jeevan menghela nafasnya kemudian menatap wajah gadis di sebelahnya dengan serius. Caitlyn tersenyum lebar turut memandangi wajah Jeevan, sudah lama ia menginginkan momen yang seperti ini.
__ADS_1
"Gak nyangka ya kita bisa berduaan lagi kayak gini sekarang? Setelah dulu kamu culik aku, hubungan kita kan sempat renggang," ucap Caitlyn.
"Kenapa kamu bawa-bawa penculikan itu sih? Kamu bilang kamu udah maafin saya, harusnya kamu lupain itu dong dan jangan dibahas lagi!" tegur Jeevan.
"Oh tenang tenang, aku cuma mau ingetin kamu aja kok kalau dulu kamu sempat culik aku," ucap Caitlyn tersenyum.
"Terus kalau saya pernah culik kamu kenapa? Kamu masih belum terima dan pengen balas perbuatan aku? Kalau iya, harusnya kamu jangan malah minta nikah sama saya dong!" ujar Jeevan.
"Justru itu Jeevan, aku bisa laporin perbuatan kamu ke papa sama mama. Kamu bayangin deh kalau mereka tahu, semarah apa mereka sama kamu dan orang tua kamu Jev," ucap Caitlyn.
"Maksudnya apa? Kamu ngancam saya nih sekarang? Jahat banget sih kamu, saya makin yakin buat enggak mau nikahin kamu!" ucap Jeevan tegas.
"Oh yaudah, aku bakal nekat buat laporin tentang itu ke papa sama mama nanti," ucap Caitlyn.
"Silahkan aja, terserah kamu Caitlyn! Kamu mau laporin ke papa mama kamu juga silahkan, saya gak akan larang kamu!" ucap Jeevan tegas.
Caitlyn mengernyit heran, "Kamu kok gitu sih? Kamu nantang aku gitu?" ujarnya.
"Saya cuma gak mau debat aja, intinya saya menolak perjodohan ini dan saya gak mungkin mau menikah sama kamu. Saya hanya cinta sama Queen, dan selamanya saya akan terus mencintai dia!" ucap Jeevan.
"Queen lagi Queen lagi, kenapa sih kamu selalu aja sebut nama dia? Gak bisa apa kamu hargai aku sedikit gitu?" protes Caitlyn.
"Buat apa? Saya dan kamu kan bukan siapa-siapa," ucap Jeevan.
"Sekarang mungkin iya, tapi gak lama lagi kita bakal jadi suami-istri loh Jeevan. Kamu harus belajar buat melupakan Queen," ucap Caitlyn.
"Mau sekeras apapun saya berusaha, tetap aja saya gak bisa lupain dia Caitlyn!" ucap Jeevan.
"Segitu cintanya ya kamu sama dia? It's okay, aku yakin lambat laun kamu pasti bisa melupakan dia saat kita sudah menikah nanti," ucap Caitlyn.
Jeevan beranjak dari tempat duduknya dengan keadaan emosi, "Itu gak akan pernah terjadi, pernikahan itu hanya khayalan semata!" ujarnya.
"Bukan sebuah khayalan Jeevan, sebentar lagi itu bakal terlaksana kok. Kita menikah dan kamu gak mungkin bisa menghindar dari itu!" ucap Caitlyn.
"Wanita keras kepala seperti kamu itu sulit dibilangin," ucap Jeevan sambil menggeleng pelan dan melangkah pergi dari sana.
"Loh loh Jeevan, kamu mau kemana?" Caitlyn berteriak keras seraya bangkit dari duduknya dan berupaya mengejar lelaki itu.
•
•
Karena kesal dan tak terima dengan perjodohan yang mamanya lakukan, Jeevan memilih pamit dari rumahnya dan pergi kembali ke markas dengan cepat. Jeevan juga sampai lupa kalau tujuan ia datang kesana tadi adalah untuk menyampaikan mengenai bisnis papanya yang mulai krisis.
Kini Jeevan sampai di markasnya, ia langsung duduk di sofa dan melamun membayangkan wajah Queen sosok wanita yang ia cintai. Entah kenapa sulit sekali bagi dirinya untuk bisa melupakan Queen dari pikirannya, hampir setiap hari ia selalu teringat bayangan mengenai wanita itu.
"Haish, sampai kapan ya saya kayak gini terus? Disini saya selalu mikirin dia, tapi disana apa dia juga masih mikirin saya? Rasanya gak mungkin itu terjadi, Queen kan benci sama saya," gumamnya.
Tak lama kemudian, Fritzy muncul dengan membawakan secangkir minuman untuk bosnya disana. Ia tersenyum, menaruh cangkir itu di meja lalu menatap wajah Jeevan dari dekat. Jeevan pun ikut tersenyum dibuatnya, ia menatap wajah Fritzy seraya mengusapnya dengan lembut.
"Bos, silahkan diminum dulu!" ucap Fritzy pelan.
"Makasih Fritzy, lihat wajah kamu perasaan saya jadi lebih tenang sedikit. Kamu disini aja dulu ya? Jangan kemana-mana!" ucap Jeevan.
"Eee emangnya bos lagi kenapa sih? Daritadi saya perhatiin bos ngelamun terus, kalau bos mau coba dong bos cerita aja ke saya siapa tahu saya bisa bantu!" ucap Fritzy.
"Gak ada apa-apa, saya cuma lagi sedih aja. Makanya saya minta kamu tetap disini," ucap Jeevan.
"I-i-iya bos," ucap Fritzy menurut.
"Oh ya, kondisi anak kita gimana?" tanya Jeevan sembari menaruh telapak tangannya di perut rata sang sekretaris.
"Umm, dia baik-baik aja kok bos. Tapi, sebaiknya bos jangan sebut anak kita kayak gini takut didengar sama orang!" ucap Fritzy gugup.
"Gapapa, saya kan udah pernah bilang kemarin. Kamu gak perlu tutup-tutupi berita kehamilan ini, saya akan tanggung jawab!" ucap Jeevan.
"Maksud bos gimana? Bos mau tanggung jawab kayak gimana?" tanya Fritzy keheranan.
__ADS_1
"Ya saya akan tanggung jawab dengan cara membantu kamu merawat bayi kita ini sampai dia dewasa," jawab Jeevan.
"Makasih bos, kalo gitu saya permisi dulu ya bos? Saya mau lanjut kerja nih," ucap Fritzy pamit.
Jeevan menahan tangan Fritzy agar wanita itu tidak bisa pergi dari sana, sontak Fritzy menatap bingung ke arah bosnya seolah tak mengerti mengapa pria itu malah menahannya. Jeevan pun mendekat, lalu merangkul pundak Fritzy dan membuat jarak diantara mereka makin sempit.
"Bos, kenapa bos tahan saya? Masih banyak kerjaan yang harus saya urus bos, sa-saya—" ucapan Fritzy terhenti lantaran Jeevan menaruh jari telunjuk di bibirnya.
"Sssttt, gausah mikirin pekerjaan kamu dulu Fritzy! Saya kan minta kamu buat disini, jadi ya kamu harus temani saya sampai saya merasa cukup!" ucap Jeevan menyela.
"Ta-tapi bos, kerjaan saya gimana?" tanya Fritzy.
"Tadi saya bilang apa? Gausah mikirin pekerjaan kamu, biar itu jadi urusan yang lain!" jawab Jeevan.
"Ya tapi saya gak enak bos," ucap Fritzy.
"Kenapa harus gak enak? Bukannya malah bagus ya kalau kamu gak kerja?" ujar Jeevan.
"Eee..."
Jeevan tersenyum dan langsung menangkup wajah Fritzy serta memberi kecupan hangat di seluruh area wajahnya bertubi-tubi.
•
•
Sementara itu, Queen tengah pergi bersama Fahrul ke sebuah pusat perbelanjaan di kota. Queen sengaja pergi kesana karena ia ingin membeli beberapa pakaian untuk dirinya, sebab ia sekarang ini memilih tinggal di rumah Fahrul karena khawatir Andro akan datang ke rumahnya lagi.
Sebagai seorang sahabat yang baik hati, Fahrul manut saja menemani wanita itu pergi kesana sekaligus menjaganya. Fahrul juga merasa kasihan pada Queen yang terlihat emosi sekali pada Andro setelah kejadian kemarin, pria itu pun dengan senang hati membantunya dan mengizinkan wanita itu tinggal di tempatnya.
"Queen, kamu masih mau beli baju lagi? Perasaan ini udah banyak deh, aku aja sampai pegal nih bawain barang belanjaan kamu," ucap Fahrul.
"Kenapa? Kamu gak mau bantuin aku? Jahat banget sih kamu, kalau aku yang bawa sendiri kan berat tau. Lagian tadi katanya kamu pengen bantu aku, kok sekarang malah ngeluh gitu?" ujar Queen.
"Gak gitu Queen, aku cuma nanya aja. Soalnya ini udah banyak banget loh, masa masih kurang? Emang kamu mau nginep berapa hari sih di rumah aku?" ucap Fahrul.
"Tergantung, sampai aku merasa aman dan bisa kembali ke rumah aku," ucap Queen.
"Tapi kamu udah ngabarin ke orang rumah kan kalau kamu gak pulang kesana? Takutnya nanti mereka cemas dan nyariin kamu," tanya Fahrul.
Queen mengangguk, "Iya udah kok, gak mungkin lah aku lupa buat kabarin mereka," jawabnya.
"Bagus deh, kalo gitu kan aku jadi tenang. Mau selamanya kamu tinggal di rumah aku juga gapapa, yang penting kamu udah kasih tau orang rumah kamu," ucap Fahrul tersenyum.
"Ngapain kamu senyum gitu? Jangan mikir yang enggak-enggak ya! Aku tinggal di rumah kamu itu buat menghindar dari Andro, bukan karena alasan yang lain!" ucap Queen.
"Ya iya Queen, emang siapa juga yang mikir aneh-aneh? Kamu itu kadang lucu deh, aku suka gemas sendiri lihatnya," kekeh Fahrul.
"Halah bisa aja kamu!" cibir Queen.
Tanpa sengaja, mata Queen menangkap sosok pria yang terasa tak asing di pandangannya. Ya Queen yakin sekali kalau ia pernah melihat pria itu, ia pun coba mendekat untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Benar saja, rupanya pria di depan itu adalah Erick alias orang yang sudah membawa pergi Dinda dari rumahnya waktu itu.
"Itu kan si mister Erick, dia kok bisa ada disini ya? Apa jangan-jangan Dinda juga ikut kesini?" gumam Queen lirih.
Fahrul yang melihat ekspresi Queen itu merasa bingung, ia bergerak mendekati Queen dan bertanya langsung pada wanita itu mengapa dia tiba-tiba berhenti lalu menatap ke arah depan tanpa alasan yang jelas.
"Eh Queen, kamu ngeliatin apa sih? Belanjanya udahan nih?" tanya Fahrul.
"Belum, tapi aku ngeliat orang yang aku kenal di depan sana. Sebentar ya, aku mau kesana dulu samperin dia?" jawab Queen.
"Ish tunggu! Siapa orang yang kamu kenal? Terus dia siapa?" tanya Fahrul penasaran.
"Ah nanti aja aku jelasinnya, keburu dia pergi tuh!" sentak Queen.
Akhirnya Fahrul membiarkan Queen pergi sesuai keinginannya, Queen pun bergerak cepat mendekati Erick untuk menanyakan mengenai Dinda yang dibawa pergi olehnya.
"Mister Erick, tunggu!" teriak Queen yang membuat sang pemilik nama menghentikan langkahnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...