
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Kenapa kamu menculikku?
•
•
Salman tersenyum tipis dan menggerakkan tangannya untuk mengusap wajah sang putri.
"Kamu kenapa nangis sayang? Gara-gara papa ya? Papa minta maaf ya karena udah bikin kamu sedih," ucap Salman merasa tidak enak.
"Bukan salah papa, aku emang gak tega aja lihat kondisi papa kesakitan begini," ucap Queen.
"Sejak kapan kamu disini sayang? Apa dari semalam?" tanya Salman.
"Iya pa, aku gak mungkin tinggalin papa gitu aja dalam keadaan kayak gini. Aku mau selalu ada di sebelah papa, jadi kalau nanti papa butuh apa-apa kan ada aku," jawab Queen.
"Ya ampun Queen, harusnya kamu gak perlu tungguin papa nonstop kayak gini. Kamu pasti capek kan sayang?" ucap Salman.
"Gak kok pa, aku gak capek kalau nungguin papa. Justru aku malah senang karena papa kan prioritas utama aku," ucap Queen.
"Tapi Queen, kamu kan tetap harus istirahat. Lebih baik kamu pulang dulu ke rumah sayang," ucap Salman.
"Enggak pa, aku gapapa. Kalau jaga papa mah aku gak akan capek kok, udah ya papa gausah mikirin soal itu!" ucap Queen.
"Makasih ya sayang, kamu udah mau perduli sama papa. Padahal papa udah sakit-sakitan begini, papa emang selalu repotin kamu sayang," ucap Salman.
"Ih papa jangan ngomong gitu ah! Papa gak sama sekali ngerepotin aku kok, ini udah jadi kewajiban aku buat jaga papa, kan aku anak kandung papa," ucap Queen.
"Iya deh, anak papa yang satu ini emang berbakti dan perhatian sama papanya," ucap Salman.
"Harus dong pa, dulu aja papa kan udah rawat aku," ucap Queen tersenyum.
Salman ikut tersenyum dan terus mengusap rambut putrinya, Queen pun kembali mendekatkan diri ke tubuh Salman lalu memeluk papanya itu erat untuk meluapkan kesedihannya. Queen sangat sedih dan ingin papanya segera sembuh dari penyakit itu.
Ceklek
Queen terkejut saat tiba-tiba pintu kamar rawat itu dibuka dari luar, ia reflek menoleh dan melihat Jeevan kembali sambil tersenyum. Jeevan masuk ke dalam sana dan melangkah mendekati Queen serta Salman, ia melirik Salman yang sudah sadar dan ikut senang melihatnya.
"Halo om! Saya senang om sudah bangun, jadinya kita bisa ngobrol berdua lagi. Jujur aja masih banyak yang mau saya bahas sama om," ucap Jeevan.
"Kamu kenapa datang kesini lagi Jeevan? Apa tidak cukup kemarin kamu sudah datang dengan alasan menjenguk saya?" tanya Salman agak sinis.
"Belum om, saya akan terus datang kesini sampai kondisi om membaik," jawab Jeevan.
"Kamu seharusnya gak perlu terus-terusan datang kesini, Jeevan! Saya gak mau orang tua kamu lihat dan nantinya malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ucap Salman.
"Tenang aja om, saya bisa jaga diri kok. Saya juga akan pastikan kalau semua yang om cemaskan itu tidak akan terjadi," ucap Jeevan tersenyum.
"Jangan terlalu percaya diri jadi orang! Belum tentu yang kamu inginkan itu bakal terwujud, ingat Tuhan punya kehendak yang kita tidak tahu!" ucap Salman.
"Ya om, saya tahu itu. Tapi, untuk kali ini saya yakin seribu persen kalau tidak akan terjadi apapun disini om," ucap Jeevan.
Salman menghela nafasnya dan beralih menatap Queen yang hanya terdiam di sebelahnya, wanita itu pun tersenyum begitu melihat papanya kembali menatapnya. Sedangkan Jeevan membiarkan saja sepasang ayah dan anak itu menikmati waktu mereka berdua.
•
•
Sementara itu, Caitlyn masih syok setelah mengetahui orang-orang yang menculiknya adalah rombongan anak buah Jeevan. Caitlyn sama sekali tak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan, ia juga belum tahu apa niat mereka sebenarnya melakukan semua ini.
Kini Alden dan Surya masih berada di ruangan itu bersama Caitlyn yang terikat di atas kursi, Caitlyn hanya bisa pasrah saat kedua pria itu menggerayangi tubuhnya. Walau Caitlyn sangat jijik dan rasanya ingin menghajar mereka berdua jika saja tubuhnya tidak terikat seperti ini.
"Al, dia wangi banget ya? Gue suka nih ciumin tubuh cewek yang wangi kayak gini," ujar Surya sembari menciumi leher jenjang gadis itu.
"Bener lu, kira-kira kenapa ya bos Jeevan gak mau sama nih cewek?" heran Alden yang juga masih membelai seluruh wajah Caitlyn dengan jari-jari tangannya.
__ADS_1
"Mmpphh mmpphh!!" Caitlyn berusaha menghindari tiap sentuhan dua lelaki itu, tapi lagi-lagi usahanya gagal dan tidak pernah berhasil.
"Hahaha, lihat Al dia mau coba menghindar dari kita! Kasihan banget sih lu cantik, gak bisa apa-apa ya sekarang?!" ujar Surya.
"Eh Sur, kayaknya dia mau ngomong sesuatu deh. Lepasin tuh kain dari mulutnya biar kita bisa dengar dia ngomong apa!" suruh Alden.
"Oh oke sip!" Surya mengacungkan jempol dan langsung mendekati Caitlyn untuk melepas kain yang menutupi mulut gadis itu.
Setelah terlepas, Caitlyn langsung mengambil nafas panjang sebab sedari tadi ia kesulitan untuk bernafas. Surya dan Alden pun tertawa pelan melihat ekspresi Caitlyn saat ini, mereka mundur selangkah untuk dapat mengamati wajah cantik Caitlyn disaat sedang ngos-ngosan.
"Nah, sekarang lu udah bisa ngomong. Ayo dah buruan lu mau ngomong apa!" ujar Surya.
"Kalian itu anak buahnya Jeevan kan? Kenapa kalian culik gue? Apa kalian lupa kalau gue ini perempuan yang dijodohkan sama Jeevan? Emang kalian mau Jeevan bakal hukum kalian?" tanya Caitlyn.
"Hahaha, lu gausah kebanyakan mimpi deh! Bos Jeevan itu gak bakal milih lu, jadi mending lu lupain bos Jeevan!" ucap Surya.
"Maksudnya?" tanya Caitlyn tak mengerti.
"Iya, bos Jeevan itu gak akan milih lu buat nikah sama dia. Karena yang dia cinta itu cuma Queen, makanya dia nyuruh kita buat culik lu dan sekap lu disini supaya lu gak ganggu dia lagi!" jelas Surya.
"Betul tuh, kamu mendingan diam aja disini sama kita ya?" sahut Alden.
Caitlyn memalingkan wajahnya, seketika air matanya menetes setelah tahu Jeevan lah yang menyuruh orang-orang itu untuk menculiknya. Caitlyn sungguh tak mengerti mengapa Jeevan tega melakukan itu, padahal selama ini ia sangat mencintai lelaki tersebut.
"Hey, kenapa nangis cantik? Kamu jangan sedih begitu dong! Lupain aja bos Jeevan, terus kamu buka hati buat saya!" ucap Alden.
Caitlyn melirik wajah Alden dengan sinis, "Lo jangan gila! Sekarang cepat lepasin gue, gue gak mau ada disini!" ucapnya emosi.
"Hahaha, lepasin? Sorry Caitlyn, tapi kita gak akan lepasin kamu sebelum bos Jeevan kasih perintah ke kita," ujar Alden.
"Please, gue akan bayar kalian berapapun yang kalian mau asal kalian bebasin gue dari sini! Gue mohon sama kalian!" ucap Caitlyn.
"Hah? Bayar? Kita gak butuh uang Caitlyn, kita udah dapat semua itu dari bos Jeevan. Jadi, kita gak akan berkhianat dari dia!" ucap Alden.
"Hahaha hahaha.." dua lelaki itu tertawa keras dan membuat Caitlyn semakin emosi.
•
•
Kini keduanya duduk di taman rumah sakit, Jeevan tersenyum dan menatap wajah wanita yang ia cintai itu dengan tulus. Jeevan selalu menginginkan momen seperti ini, dimana ia bisa berdua dengan Queen dalam waktu yang lama. Namun, tidak dengan Queen yang malah jengkel ditatap seperti itu oleh Jeevan.
"Kamu bisa gak sih gausah tatap aku kayak gitu? Aku mau bicara serius sama kamu, jadi tolong kamu jangan main-main kali ini!" ucap Queen.
"Ya ya ya, aku minta maaf. Aku akan serius dan gak bercanda lagi, ini semua aku lakuin demi kamu sayang," ucap Jeevan.
"Yaudah, kalo gitu aku cuma minta kamu buat stop dekati aku lagi!" ucap Queen.
"Kok kamu jadi gitu sih? Perasaan kemarin-kemarin kamu udah mau terima aku lagi, kenapa sekarang kamu malah kayak gini? Apa kamu udah gak sayang sama aku?" heran Jeevan.
"Emang sejak kapan aku mau terima kamu dan aku sayang sama kamu Jeevan? Aku gak pernah bilang begitu, tapi kamu aja yang berspekulasi sendiri!" elak Queen.
"Enggak Queen, aku yakin banget kamu masih sayang sama aku. Bahkan, kamu bicara begini bukan karena keinginan kamu kan?" ujar Jeevan.
"Kata siapa? Aku bicara berdasarkan apa yang aku pengen, aku udah malas punya masalah sama kamu dan keluarga kamu yang ribet itu!" ucap Queen.
"Mama? Pasti mama kan yang bikin kamu jadi kayak gini? Udah kamu bilang aja sama aku sayang!" tebak Jeevan.
"Ya baguslah kalau kamu udah tahu, aku emang gak pengen mama kamu terus-terusan bicara yang enggak-enggak ke aku," ucap Queen.
"Tuh kan bener," singkat Jeevan.
Queen pun bangkit dari duduknya, menatap tajam ke arah Jeevan yang masih terduduk di kursi dengan wajah bingung. Queen berniat meyakinkan Jeevan untuk pergi dan tidak lagi mendekatinya, ia juga mau Jeevan berhenti menjenguk papanya karena ia khawatir akan terjadi masalah.
"Sekarang kamu pergi dari sini Jeevan dan jangan pernah kembali!" usir Queen.
Jeevan ikut bangkit dan mendekati Queen, "Kamu gak bisa usir aku Queen, aku masih mau disini. Aku gak akan pernah pergi sayang," ucapnya.
__ADS_1
"Kamu jangan keras kepala deh Jeevan! Kamu nurut aja sama aku dan pergi dari sini sekarang!" sentak Queen.
"Iya iya, kali ini aku pergi sesuai kemauan kamu. Tapi, aku akan kembali lagi nanti," ucap Jeevan.
"Mau apa lagi sih? Ayolah kamu gausah dekati aku lagi dan jangan bikin hidup aku makin susah! Kamu ngertiin dong perasaan aku Jeevan!" ucap Queen.
"Kamu minta aku ngertiin perasaan kamu? Tapi kamu sendiri aja gak mau ngertiin aku," ujar Jeevan.
"Gausah drama deh, cepat kamu pergi aja Jeevan!" usir Queen.
"Okay, aku pergi untuk kamu. Aku akan usahakan supaya hubungan kita bisa berlanjut tanpa harus terusik oleh siapapun, aku janji sama kamu sayang!" ucap Jeevan.
Queen terdiam seraya memalingkan wajahnya, Jeevan pun menghela nafas dan lalu berbalik pergi meninggalkan wanita itu.
•
•
Disisi lain, Lova telah menyelesaikan kuliahnya. Ia keluar kelas dan menemui Nina serta Aulia yang sudah menunggu di taman seperti biasa, namun kali ini Lova berbeda dengan sebelumnya sebab ia masih memikirkan permintaan Arul yang tidak masuk akal itu.
"Eh Va, lu kenapa cemberut gitu dah? Ada masalah?" tanya Aulia.
Lova menggeleng sambil menarik kursi dan duduk di dekat teman-temannya, "Gue lagi mikirin perkataan si Arul aja," jawabnya.
"Hah? Emangnya si Arul bilang apa ke lu Va?" tanya Aulia penasaran.
"Itu loh si Arul minta Lova buat menjauh dari kita, katanya dia gak pengen Lova kena masalah karena dekat-dekat sama kita," sela Nina menjelaskan pada Aulia.
"Apa? Seriusan? Bener yang dibilang Nina itu, Va?" ucap Aulia terkejut.
Lova pun mengangguk pertanda bahwa yang dikatakan Nina itu benar, sontak Aulia menganga lebar tak percaya jika Arul meminta Lova untuk menjauh dari mereka. Aulia pun mendekati Lova dan kembali bertanya tentang itu.
"Emang ada apa sih Va? Kenapa si Arul pengawal lu itu minta lu buat jauhin kita? Apa salah kita coba?" tanya Aulia kebingungan.
"Gak tahu Aul, dia bilangnya sih disuruh sama bokap gue. Ya tapi gue gak tahu benar apa enggak yang dia bilang," jawab Lova.
"Ish, gue yakin dia bohong tuh! Masa iya bokap lu nyuruh lu buat menjauh dari kita? Gak mungkin banget tau, secara kan bokap lu aja udah akrab banget sama kita," ujar Aulia.
"Bener tuh, bisa jadi ini cuma permainan si Arul. Padahal dia sendiri yang emang gak mau lu dekat-dekat sama kita," sahut Nina.
"Entahlah, gue gak mau berpikir yang enggak-enggak dulu sebelum ada buktinya. Nanti biar gue cari tahu secara langsung ke dia," ucap Lova.
"Yah jangan lah Lova! Si Arul mah gak bakal ngaku kalo ditanya langsung," ucap Aulia.
"Yaudah, kita lihat aja nanti. Sekarang mending bahas soal lu, gimana tuh sama laki-laki yang ngaku jadi abang lu?" ucap Lova.
Aulia langsung menunduk saat Lova membahas tentang Victor di depannya.
"Nah iya tuh, gue juga penasaran banget sama tuh cowok yang ngaku-ngaku jadi saudara lu. Emang bener ya dia itu abang lu?" ucap Nina.
"Eee gue gak tahu guys, dia sih bilangnya begitu dan dia kelihatan yakin banget kalau gue ini adiknya dia. Tapi, dia masih belum bisa tunjukin buktinya ke gue kalau ucapan dia itu benar," ucap Aulia.
"Ohh, kalo gitu lu jangan percaya dan dekat-dekat sama dia deh Aulia! Gue takut dia tuh orang jahat yang cuma mau manfaatin lu," ucap Lova.
"Iya gue setuju sama Lova, jaman sekarang kan banyak modus-modus kejahatan yang kayak gitu. Mending lu hati-hati deh Aul," sahut Nina.
"Ya gue ngerti, gue juga gak terlalu percaya atau dekat sama dia kok. Gue cuma mau ngobrol sama dia karena siapa tahu dia ada bukti gitu, bisa aja kan dia beneran abang gue?" ucap Aulia.
"Gini deh, gue mau tanya sama lu. Emang lu ngerasa pernah punya saudara gitu?" tanya Nina.
Aulia terdiam, bayangan mengenai banjir bandang itu kembali terbayang di kepalanya. Ia semakin bingung ada hubungan apa sebenarnya ia dengan banjir tersebut, sampai berulang kali ia mimpi tentang banjir bandang di sebuah desa.
"Ehem ehem.." suara deheman berat itu mengagetkan ketiganya yang sedang serius berbincang.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1