Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 60. Tergoda sang mantan


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Bermain bersama mantan




Erick merogoh saku celananya, mengambil sebuah foto Dinda yang ia simpan disana dan menatapnya sambil tersenyum. Erick sudah benar-benar bergairah dan ingin segera menuntaskan itu dengan siapapun, tak perduli siapa orangnya.


"Sayang, kenapa kamu gak kembali ke tempat saya sampai saat ini? Apa kamu memang tidak ingin menjadi milik saya? Padahal saya sudah janji akan memberikan apapun yang kamu mau," gumamnya.


Ting nong ting nong...


Tiba-tiba bel berbunyi, Erick reflek menaruh kembali foto Dinda di sakit celananya dan lalu bangkit dari tempat duduknya untuk berjalan ke arah pintu.


Ceklek


Erick membuka pintu, tapi matanya langsung melotot lebar begitu melihat sosok perempuan berdiri di depannya saat ini. Erick sangat tak menyangka, bahkan nafasnya sampai terhenti dengan mulut terbuka.


"Ariana? Kenapa kamu..." Erick sampai tak bisa menyelesaikan ucapannya, ia benar-benar terkejut melihat sang mantan berada disana.


"Halo Erick! How are you? Sudah lama ya kita gak ketemu, mantan suamiku yang tampan dan baik hati?" ucap sang wanita bernama Ariana disertai senyuman menggoda.


"Bagaimana kamu bisa ada disini Ariana? Darimana kamu tahu saya ada disini?" tanya Erick keheranan.


"Aku gak sengaja ketemu sama Arlot tadi di depan, aku yakin kalau dia ada disini pasti kamu juga ada disini. Eh ternyata benar dong dugaan aku, kamu emang ada di hotel ini," jelas Ariana.


Sontak Erick terdiam sesaat memandangi lekuk tubuh sang mantan dari atas sampai bawah, ia sangat terpesona dengan keindahan tubuh Ariana yang sekarang semakin menggoda. Tentu saja gairahnya mencuat tinggi melihat bagaimana tampilan Ariana saat ini yang berdiri di hadapannya.


"Kamu lagi ada urusan apa di Indonesia? Gak biasanya loh kamu ke luar negeri kalau gak ada urusan yang jelas," tanya Ariana.


"Saya punya urusan penting, kamu gak perlu tahu soal itu Ariana," ujar Erick.


"Ya okay, aku tahu aku udah bukan istri kamu lagi dan aku juga gak berhak tau apa yang lagi kamu urus disini. Tapi, boleh dong kalau aku mampir dan ngobrol sebentar sama kamu disini?" ucap Ariana.


Erick sampai susah payah menelan saliva nya melihat ekspresi menggoda dari sang mantan, kejantanannya di bawah sana sudah mengembung ingin berontak dari sangkarnya. Namun, Erick terus berusaha menahan diri karena ia tidak mungkin mengajak Ariana berhubungan seperti dulu.


"Kamu itu mau apa sih Ariana? Udah lah kamu jangan ganggu saya karena diantara kita itu kan sudah tidak ada apa-apa sekarang!" tegas Erick.


"Aku gak mau ganggu kamu kok, gausah ge'er deh. Aku kan cuma pengen ngobrol sama kamu. Ya tapi kalau gak boleh gapapa sih," ucap Ariana.


"Yaudah, karena kamu maksa jadi saya bolehin kamu buat masuk ke dalam. Tapi, sebentar aja ya? Soalnya saya ada urusan penting," ujar Erick.


"Okay." Ariana mengangguk setuju disertai senyum lebarnya.


Tanpa basa-basi lagi, Erick langsung memberi jalan bagi Ariana dan keduanya pun masuk ke dalam kamar hotel itu. Tak lupa Erick mengunci pintu, ia tak ingin ada orang yang mengganggu momen mereka berdua kali ini, ya sepertinya Erick sudah tak tahan ingin meminta jatah dari sang mantan.


Keduanya pun duduk berdampingan di sofa, tampak Erick yang sudah sangat tegang terus saja melirik ke arah buah sintal milik Ariana sembari meneguk ludahnya. Ariana sendiri sadar akan hal itu, ia mencoba menggoda Erick dengan cara menggenggam tangan pria itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa ngeliatin punya aku terus? Kamu kepengen pegang ya?" goda Ariana.


Deg!




Jeevan pulang ke rumah setelah menjenguk Salman di rumah sakit, namun begitu sampai ia langsung disambut oleh Dean dan juga Aqila yang sudah berada disana lebih dulu. Sontak Jeevan merasa bingung, pasalnya kedua orangtuanya itu menatap ke arahnya dengan tajam seperti ada sesuatu.


Langsung saja Jeevan menghampiri mereka dengan wajah bingung, ia tak mengerti apa yang terjadi sampai keduanya itu tampak marah padanya seakan ia telah melakukan kesalahan. Padahal sedari tadi Jeevan hanya berada di rumah sakit bersama Queen dan juga Salman.


"Pa, ma, ini ada apa sih? Kok mukanya pada tegang gitu? Terus juga tumben banget papa sama mama datang kesini barengan," tanya Jeevan heran.


Aqila maju dan berkata, "Kamu masih tanya ada apa? Darimana aja kamu, ha?" pertanyaan sang mama itu membuat Jeevan mulai resah dan bingung saat hendak menjawabnya.


"Eee aku abis ada urusan di luar ma," jawab Jeevan.


"Urusan apa? Kamu pasti habis ketemu lagi sama si Queen itu kan? Ayolah Jeevan, mau sampai kapan kamu terus-terusan deketin cewek gak tahu diri itu?" tegas Aqila.


"Ma, mama gak bisa bicara begitu tentang Queen! Dia bukan perempuan gak tahu diri!" sentak Jeevan.


"Ohh, kamu sekarang berani lawan mama dan bela perempuan itu ya? Otak kamu sudah benar-benar dicuci sepertinya Jeevan!" ujar Aqila.


"Enggak ma, aku cuma bicara jujur dan apa adanya. Mama itu gak tahu apa-apa tentang Queen, jadi lebih baik mama diam!" ucap Jeevan.


"Jeevan!" tiba-tiba saja Dean membentak dan mendekat ke arah Jeevan dengan emosi.


"Kamu benar-benar kelewatan Jeevan! Kamu sudah membuat papa emosi! Bisa-bisanya kamu dekat dengan anak musuh besar kita!" geram Dean.


"Kenapa pa? Aku cinta sama Queen, aku gak bisa lupain dia. Aku juga gak perduli dia itu anak musuh kita atau siapa lah, yang penting aku bisa bersatu sama dia!" tegas Jeevan.


"Itu tidak akan pernah terjadi Jeevan, berhentilah bermimpi!" ucap Dean emosi.


"Aku gak bermimpi pa, aku yakin Queen bisa jadi milik aku seutuhnya! Papa sama mama gak bisa halangi aku buat dapetin dia," ucap Jeevan.


Dean mencekal lengan putranya yang hendak melangkah pergi itu dengan erat.


"Kamu mau kemana Jev? Papa belum selesai bicara sama kamu, jadi sebaiknya kamu tetap disini dan kita lanjut berbincang!" tegas Dean.


"Apa lagi sih pa?!" tanya Jeevan sedikit kesal.


"Papa minta kamu untuk jauhi Queen, dia itu bukan perempuan yang baik untuk kamu. Masih ada Caitlyn yang bisa kamu dekati, papa yakin kalian berdua pasti cocok kok," ucap Dean.


"Tuh kan, Caitlyn lagi Caitlyn lagi. Udah berapa kali aku bilang sama papa dan mama, aku gak akan pernah mau dijodohin sama dia!" ujar Jeevan.


"Kamu jangan gegabah dulu Jeevan! Kamu belum mengenal Caitlyn lebih jauh," ucap Dean.


"Buat apa pa? Aku gak butuh waktu lama untuk bisa tahu tentang seseorang, dan aku tahu kalau aku sama Caitlyn gak akan pernah cocok!" ucap Jeevan.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Jeevan langsung menghentak tangannya dan pergi begitu saja melewati papa serta mamanya. Jeevan tampak sangat kesal, bahkan ia menghiraukan panggilan Aqila dan lebih memilih masuk ke dalam rumahnya.




Hari berganti, Queen terbangun dari tidurnya saat sebuah cipratan air mengenai wajahnya. Ia reflek bangkit lalu mengucek mata dan melihat Jeevan ada di hadapannya, sontak saja Queen terkejut dan spontan bangkit dari posisinya. Ya semalaman ia tertidur di sofa saat menjaga ayahnya di rumah sakit.


Namun, Queen sungguh tak menyangka kalau Jeevan sudah hadir disana. Padahal semalam pria itu pamit untuk pulang, dan sekarang pagi-pagi sekali Jeevan justru ada di tempat itu. Jeevan sendiri pun tersenyum melihat keheranan di wajah Queen sembari membelai rambutnya.


"Jev, kamu kok bisa ada disini sih? Kapan kamu datangnya coba?" tanya Queen.


"Ahaha, baru aja kok sayang. Maaf ya aku bangunin kamu pake cara gak bener, soalnya kamu daritadi susah banget sih dibanguninnya. Padahal aku juga udah cium bibir kamu," ucap Jeevan.


"Apa? Kamu cium bibir aku?" Queen langsung memegangi bibirnya dan menatap kesal ke arah pria di depannya.


"Kamu kurang ajar ya Jeevan, berani banget cium-cium bibir orang!" sambungnya dengan penuh emosi.


"Bercanda sayang, mana berani aku cium kamu tanpa izin? Aku udah bukan Jeevan yang dulu lagi, aku kan udah janji sama kamu kalau aku bakal berubah jadi orang yang lebih baik," ucap Jeevan.


"Iya iya, aku percaya sama kamu. Omong-omong kamu kok malah kesini lagi sih?" heran Queen.


"Loh emang kenapa? Gak boleh ya aku kesini buat jenguk papa kamu?" tanya Jeevan.


"Bukan gitu, maksud aku kan kamu emangnya gak sibuk apa sama urusan kamu? Terus apa kamu diizinin sama orang tua kamu buat datang kesini?" ucap Queen.


"Aku gak perlu izin mereka buat datang kesini sayang, lagian aku cuma mau jenguk papa kamu kok," ucap Jeevan tersenyum.


"Ya iya sih, tapi kan tetap aja kamu pasti bakal dalam masalah besar kalau orang tua kamu tau kamu datang kesini buat jenguk musuh besar kamu," ucap Queen.


"Tenang aja, aku bisa handle semuanya. Kamu gak perlu mikirin soal itu ya sayang?" ucap Jeevan.


Jeevan menangkup wajah gadis itu dan tersenyum lebar, perlahan Jeevan mendekat sembari terus mengusap lembut wajah sang kekasih. Queen dibuat gugup dengan perlakuan Jeevan itu, perlahan ia memejamkan mata seolah bersiap menyambut kecupan yang akan mendarat di bibirnya.


Akan tetapi, suara ketukan pintu dari luar disertai teriakan seorang wanita membuat Jeevan mengurungkan niatnya. Queen pun membuka matanya dan reflek menoleh ke arah pintu, ia penasaran siapa yang ada disana dan berteriak seperti itu.


TOK TOK TOK...


"Jeevan, buka pintunya Jeevan! Kamu pasti ada di dalam kan?" teriak si wanita dari luar.


Sontak Queen mendongak menatap wajah Jeevan, sorot matanya seakan bertanya pada pria itu siapa wanita di luar yang datang marah-marah.


"Jev, kamu kesini sama siapa? Terus kenapa dia malah teriak-teriak begitu?" tanya Queen.


"Aku gak tahu Queen, serius aku cuma datang sendiri. Aku juga heran siapa orang di luar itu," jawab Jeevan dengan panik.


Keduanya pun sama-sama penasaran, lalu dengan perlahan Queen melangkah ke dekat pintu untuk mengetahui siapa yang datang.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2