Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 7. Dipecat


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Dipecat




Queen terbelalak, ia tak menyangka Jeevan akan mengatakan seperti itu pada teman-temannya.


"Itu gak bener kok, dia mah cuma ngarang. Buktinya gue masih ada disini dan bisa kalian peluk, ya kan?" ucap Queen.


"Bener Queen, kita sekarang percaya kalo lu masih hidup dan belum meninggal. Gue senang banget akhirnya kita bisa kumpul lagi," ucap Aulia.


"Gue juga sama, gue senang banget bisa ketemu kalian dengan selamat! Tapi, kalian gak kenapa-napa kan beneran?" ucap Queen.


Mereka saling melepas pelukan, menatap satu sama lain dan tersenyum lebar.


"Iya, kita semua baik-baik aja. Si Jeevan itu emang sempat nyiksa kita waktu di penjara, terus mau jual kita di acara lelang. Untung aja pasukan si Jago ini datang dan bebasin kita," ucap Aulia.


"Bener Queen, makanya kita mau bilang makasih banyak sama si bos Jago dan Reza ini. Tapi, kita gak tahu siapa orangnya.


Queen hanya tersenyum mendengarnya.


"Eh ya, ini kok kalian cuma bertiga sih? Dinda mana?" tanya Queen heran.


Deg!


Seketika Aulia, Nina dan juga Lova baru tersadar jika mereka kehilangan satu sahabatnya.


"Oh iya bener lu Queen, mana ya si Dinda? Perasaan waktu itu dia ada juga deh di acara lelang itu," ujar Aulia.


"Hadeh, kalian gimana sih? Kok bisa-bisanya kalian lupa sama teman kalian sendiri? Kasihan loh Dinda kalo dia kenapa-napa," ucap Queen panik.


Tiga gadis itu pun sontak merunduk menyesal karena telah melupakan Dinda.


Sementara Queen beralih menatap Jago serta Reza dengan ekspresi marah.


"Kalian berdua juga, kerja kalian gimana sih? Kan gue udah bilang sama kalian, teman gue itu ada empat. Kenapa kalian cuma bawa tiga?" tegur Queen.


"Maaf nona, tapi yang kita selamatin tuh bukan cuma mereka. Ada juga gadis-gadis lainnya kok," ucap Jago.


"Oh ya? Terus dimana mereka?" tanya Queen.


"Eee mereka dibawa sama pasukan yang lain langsung ke rumah masing-masing," jawab Jago.


"Syukurlah, semoga ada Dinda diantara mereka!" ucap Queen merasa lega.


Aulia, Nina dan Lova masih tak menyangka jika Queen ternyata yang sudah menyuruh Jago serta Reza untuk menyelamatkan mereka.


"Tunggu tunggu, ini maksudnya bos mereka tuh lu Queen? Lu yang suruh mereka?" tanya Aulia.


"I-i-iya gitu deh Aul, gue kan teman kalian. Gue mana tega kalian dijual kayak gitu?" jawab Queen.


"Aw lu bener-bener sahabat kita deh Queen, thanks banget ya!" ucap Aulia reflek memeluk Queen.


Nina dan Lova pun ikut memeluk Queen dengan erat untuk mengucapkan terimakasih setelah mendapat pertolongan dari wanita itu.



__ADS_1


Jeevan kini menemui Fritzy di ruangannya, ia langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu hingga membuat wanita itu terkejut.


"Eh bos Jeevan?" kaget Fritzy seraya bangkit dari duduknya.


"Kamu disini ternyata, baguslah saya mau tanya ada masalah apa di rumah ini!" sentak Jeevan.


Fritzy sontak melongok lebar dan bingung harus mengatakan apa, ia khawatir Jeevan akan curiga kalau ia lah yang membantu Tom kabur.


"Kenapa diam? Jawab Fritzy!" kesal Jeevan.


"I-i-iya bos, tahanan kita kabur bos," ucap Fritzy spontan.


"Apa? Maksud kamu tahanan kita itu si Tom?" tanya Jeevan memastikan.


"Betul bos," jawab Fritzy sambil menunduk.


Braakkk


Jeevan langsung memukul meja dengan keras untuk melampiaskan kekesalannya, dan Fritzy pun tampak sangat ketakutan saat ini.


"Sial! Gimana itu bisa terjadi? Siapa yang menjaga Tom, ha?" geram Jeevan.


"Sa-saya bos, tadi saya—"


"Hah? Kamu yang jaga dia? Terus kenapa dia bisa lepas dari pengawasan kamu? Kerja kamu tuh gimana sih Fritzy?" sela Jeevan langsung mendekat dan mencengkram rahang wanita itu.


"Ma-maaf bos, sa-saya.."


"Ah saya gak mau tahu, karena kesalahan kamu sangat fatal maka kamu saya pecat!" potong Jeevan dengan lantang.


"A-apa bos? Sa-saya dipecat? Tapi bos, saya beneran gak sengaja. Saya gak tahu kalau Tom mau kabur," ucap Fritzy gugup.


Fritzy tak mempunyai pilihan lain, ia pun harus menerima kenyataan bahwa dirinya dipecat.


Perlahan Fritzy melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan itu sembari membawa barangnya.


Namun, tiba-tiba Jeevan bersuara. Ia memanggil kembali gadis itu dan membuat Fritzy heran.


"Tunggu Fritzy!" ucap Jeevan tegas.


"Ah iya bos, pasti bos berubah pikiran ya? Bos gak jadi kan pecat saya?" ucap Fritzy penuh yakin.


"Kata siapa? Saya cuma mau minta bantuan kamu buat lacak lokasi markas baru kelompok walters, karena cuma kamu yang bisa," ucap Jeevan.


"Hah??" seketika Fritzy cemberut, harapan ternyata memang tak seindah realita.




Disisi lain, Tom tiba di lokasi sesuai dengan kartu nama yang sebelumnya diberikan oleh penjaga di gedung pelelangan sebelumnya.


Tom yakin bahwa rumah itu memang benar rumah milik mister Erick alias orang yang sudah membeli Dinda dengan harga mahal.


"Ini pasti rumahnya, saya harus masuk dan ketemu sama si Erick Erick itu!" ujar Tom.


Disaat ia hendak melangkah ke dekat gerbang, langkahnya terhenti lantaran tiga orang penjaga langsung mendatanginya.


"Hey! Siapa kamu? Mau apa datang kesini?" tegur si penjaga berambut pirang.


"Eh eee saya mau ketemu sama mister Erick, dia ada di rumah kan?" ucap Tom santai.

__ADS_1


"Ada urusan apa kamu ingin menemui mister Erick? Dia sibuk tidak bisa diganggu," ucap penjaga itu lagi masih dengan tatapan tajamnya.


"Santai, saya cuma mau tagih biaya lelang yang belum dia lunasi. Jangankan lunasi, bayar sedikit aja belum ada. Jadi, biarkan saya masuk dan ketemu sama dia!" ucap Tom.


"Baiklah, kami akan temui dulu mister Erick di dalam. Kamu tunggu disini sampai kami kembali, jangan menyusup!" ucap penjaga itu.


"Oke." Tom mengangguk setuju.


Dua orang penjaga itu pun berbalik dan masuk ke dalam untuk menemui Erick selaku bos mereka.


Sementara Tom tetap disana menunggu sampai keduanya kembali.


"Dinda, i'm coming!" batin Tom.




Erick kini tengah bersantai di pinggir kolam dengan Dinda duduk di pangkuannya.


"Gimana baby? Kamu suka tinggal disini?" tanya Erick sembari mengusap rambut basah Dinda, ya mereka habis berenang bersama tadi.


"Suka, disini menyenangkan," jawab Dinda singkat.


"Bagus deh, saya harap kamu betah tinggal disini dan gak merengek minta pulang. Karena kamu sekarang udah jadi milik saya," ucap Erick.


"Yes sir, i'm yours."


Erick langsung mengecup bibir Dinda dengan cepat dan berujung pada ******* yang panas.


Tapi sayang, baru beberapa menit bibir mereka beradu sudah ada seseorang yang datang.


"Permisi mister,"


Sontak Erick menggeram kesal, dengan terpaksa ia melepas tautan bibirnya dan menoleh ke arah pekerjanya tersebut.


"Ada apa kamu ganggu saya?" tanya Erick kesal.


"Maaf mister kalau saya mengganggu! Di depan ada orang dari pelelangan yang ingin menagih pembayaran, dia minta bertemu dengan mister secara langsung sekarang," jawab penjaga itu.


"Apa?" Erick terkejut dan sedikit was-was, ia khawatir akan kehilangan Dinda jika tak segera melunasi pembayaran itu.


"Baby, kamu saya tinggal dulu ya?" pamit Erick pada Dinda.


"Iya mister, silahkan aja mister temuin orang itu! Aku akan tetap disini menunggu sampai mister kembali," ucap Dinda.


"Ahaha, kamu emang gemesin banget Dinda! Saya suka sama kamu!" kekeh Erick.


Setelahnya, Dinda bangkit dari pangkuan Erick untuk membiarkan pria itu pergi ke depan menemui seseorang yang datang.


Karena penasaran, akhirnya Dinda mengikuti langkah Erick perlahan-lahan untuk mengetahui siapa yang akan ditemui pria itu.


Matanya terbelalak ketika melihat dengan jelas sosok pria yang tengah berdiri di depan sana menghadap ke arah Erick.


Ya tentu Dinda mengenalnya dengan jelas, sebab sosok tersebut yang sudah merenggut kesuciannya kala itu.


"Tom..??" lirih Dinda.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2