
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Hasutan Jeevan
•
•
Queen dan teman-temannya kini keluar dari rumah, mereka berniat menghabiskan hari libur di luar karena sudah lama juga mereka tidak pergi liburan bersama seperti ini. Tentu saja Queen setuju dengan usul Aulia itu, sebab dirinya pun membutuhkan refreshing sejenak untuk saat ini.
Mereka memilih pergi menggunakan taksi online, Queen tak ingin ada satu orangpun anak buahnya yang ikut karena ia ingin menikmati liburannya. Meski begitu, tetap saja Reza dan Jago berencana untuk mengikuti nona mereka dari jauh untuk memastikan Queen aman di luar sana.
"Eh guys, mana nih taksinya? Kok lama banget sih katanya udah dekat?" tanya Nina kesal.
"Gak tahu, di gps sih udah deket. Tapi, gue juga bingung kenapa nih mobil malah diam aja dan gak gerak-gerak. Gue coba telpon aja kali ya buat nanya?" ucap Queen.
"Iya deh, lu buruan telpon tuh supir taksi suruh dia kesini gitu jangan malah diem aja!" ucap Aulia.
Queen mengangguk dan mulai menghubungi nomor taksi onlinenya, namun tidak ada jawabannya sehingga Queen tampak kesal.
"Haish, gak diangkat jir sama supirnya!" keluh Queen.
"Waduh, terus gimana dong ini? Apa kita susulin aja dia ke tempat sesuai di gps? Lo tahu kan Queen itu mobilnya lagi dimana?" ujar Aulia.
"Tau sih, cuma ini agak jauh loh dari sini. Yakin kalian semua pada mau susulin dia?" ucap Queen.
"Ya gapapa lah Queen, daripada kita nunggu doang disini kayak orang bego. Kalian juga setuju kan?" ucap Aulia.
"Boleh deh, biar cepat juga kita jalannya," ucap Nina.
"Huweekkk huweekkk.." tiba-tiba Dinda merasa mual dan ingin muntah, membuat Queen serta yang lainnya pun panik.
"Eh eh, lu kenapa Dinda?" ujar Queen cemas.
Dinda menggeleng, "Gak tahu, gue mual banget. Gue mau ke kamar mandi dulu ya guys?" ucapnya.
"Hah? Iya iya, yaudah Nin lu temenin Dinda ya! Gue takut dia kenapa-kenapa!" suruh Queen.
"Oke Queen!" ucap Nina patuh.
__ADS_1
Dinda serta Nina pun kembali ke dalam, sedangkan Aulia dan Queen menunggu di luar sana. Mereka tampak khawatir dengan kondisi Dinda, pasalnya wajah gadis itu juga terlihat pucat dan lemas sedari tadi saat mereka kumpul di dalam.
"Queen, kira-kira Dinda kenapa ya? Kok dia tiba-tiba mual begitu sih?" tanya Aulia pada Queen.
"Mana gue tahu, ya kita berdoa aja supaya gak terjadi apa-apa sama Dinda!" jawab Queen.
"Aamiin, eh tapi apa dia hamil ya?" tebak Aulia.
Queen langsung tersentak mendengar ucapan Aulia, mendadak pikirannya juga ikut terarah kesana. Apalagi yang ia tahu, selama ini Dinda memang sering berhubungan dengan Tom.
•
•
Sementara itu, Jeevan masih berdiskusi dengan seorang supir taksi online yang bernama Mario. Jeevan ingin supir itu pergi dan tidak menjemput Queen, namun tampaknya sang supir tetap kekeuh untuk melaksanakan tugasnya, meski Jeevan sudah menawarkan sejumlah uang padanya.
"Maaf pak, sekali lagi saya tidak bisa menuruti kemauan bapak. Ini pekerjaan saya dan saya harus melakukannya dengan jujur," ucap supir itu.
"Anda keras kepala sekali ya? Saya sudah tawarkan uang besar loh ini, masa gak mau?" ujar Jeevan.
"Saya tahu bapak punya banyak uang, tapi bukan berarti bapak bisa melakukan apapun dengan uang itu. Saya tidak mau disuap seperti ini pak, lagian apa salahnya kalau saya jemput pelanggan saya?" ucap sang supir.
Supir itu berpikir sejenak, sedangkan Jeevan yang sudah tak sabar langsung memberikan selembar cek kosong pada Mario.
"Ini pak, silahkan anda isi berapapun nominal yang anda mau!" ujar Jeevan.
"Saya gak bisa pak, saya hanya ingin lakukan tugas saya. Sudah ya pak, saya harus buru-buru jemput penumpang saya. Dia sudah menunggu cukup lama pak," ucap Mario.
"Sebentar dulu, ayolah pak bantu saya, saya mohon dengan sangat!" bujuk Jeevan.
Mario terdiam sejenak, ia merasa kasihan juga melihat wajah Jeevan yang seperti itu. Akhirnya Mario pun setuju dengan kemauan Jeevan.
"Baiklah pak, saya mau bantu bapak. Tapi, tidak perlu cek kosong ini yang bapak berikan, cukup uang yang sebelumnya saja," ucap Mario.
"Hah? Yang benar pak? Syukurlah, terimakasih banyak ya pak!" ucap Jeevan tampak senang.
"Iya pak sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih ya pak atas uangnya," ucap Mario.
"Silahkan pak," Jeevan menyingkir dan membiarkan Mario masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Setelah mobil Mario pergi, kini Jeevan bergegas memasuki mobilnya untuk segera menuju rumah Queen. Sebelum ini memang ia sudah datang kesana bersama Tom dan memantau keadaan dari jauh, sampai saat Queen keluar Jeevan sadar bahwa wanita itu sedang menunggu taksi online, maka dari itu Jeevan pun pergi mencari sang supir taksi.
•
•
Lova keluar kamarnya memakai pakaian rapih, ia sudah bersiap untuk pergi menikmati hari libur yang cerah ini. Namun, Lova berpapasan dengan papanya saat berada di ruang tamu. Sontak saja Lova merasa cemas, ia tentu tak mau jika papanya kembali melarang ia untuk pergi ke luar.
"Mau kemana kamu Lova? Papa kan sudah bilang, kamu di rumah aja jangan pergi-pergian!" ujar Rio.
"Pa, aku cuma pengen ketemu teman aku. Mereka lagi kumpul-kumpul tau, masa cuma aku yang gak ada disana? Papa gak kasihan apa sama anaknya sendiri?" ucap Lova merengek manja.
"Gausah lebay deh kamu, cuma sehari aja gak ke luar masa gak bisa? Udah kamu diam disini, jangan kemana-mana!" ucap Rio.
"Tapi pa, aku pengen pergi sama teman aku. Papa jangan larang-larang aku begini dong!" ucap Lova.
"Gak bisa sayang, sekarang itu hari liburnya Arul. Dia jadinya gak bisa kawal kamu, makanya papa minta kamu buat di rumah aja," ucap Rio.
"Oh jadi itu alasan papa larang aku pergi? Yah elah pa, dulu juga aku pergi tanpa Arul gak masalah tuh," ucap Lova.
"Iya, tapi abis itu kamu diculik kan sama orang jahat. Kamu mau hal itu terulang lagi, ha?" ujar Rio.
"Papa ih ngomongnya, ya jelas aku gak mau lah! Diculik itu gak enak tau pa, makanan disana juga gak ada yang enak!" ucap Lova.
"Yaudah, kamu nurut aja sama papa. Kalau kamu bantah terus, nanti terjadi sesuatu yang buruk sama kamu loh," ucap Rio.
"Iya pa iya, tapi aku pengen pergi pa, aku gak bisa diam di rumah terus. Boleh ya pa?" bujuk Lova.
Rio menggeleng pelan, "Oke oke, papa coba dulu telpon Arul buat temenin kamu ya? Jadi, kamu boleh pergi asalkan sama Arul," ucapnya.
"Huh, yaudah aku ngikut aja apa kata papa. Yang penting aku bisa pergi ke luar," ucap Lova.
"Sebentar ya sayang? Papa telpon Arul dulu," ucap Rio.
Lova mengangguk saja sembari memainkan bibirnya, jujur ia tak senang dengan papanya yang selalu saja meminta ia untuk pergi bersama Arul. Sungguh ia rindu ketika dahulu sebelum penculikan itu terjadi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1