
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Ketemu
•
•
Bukannya menjawab, Tom justru menendang kaki Erick hingga pegangannya terlepas. Tom pun berhasil kabur dengan cepat, tapi tentunya Erick serta anak buahnya tidak akan semudah itu melepaskan Tom. Mereka bergegas mengejar Tom menuju ke luar taman sambil terus meneriakinya dan meminta Tom berhenti.
"Hey, berhenti kamu! Jangan lari! Kamu harus tanggung jawab karena sudah membohongi saya!" teriak Erick.
Tom tak perduli, ia terus berlari menuju mobilnya. Benar saja ka pun berhasil masuk ke mobil sebelum Erick dan para anak buahnya menyusul, tanpa berpikir panjang Tom langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.
Namun, mobil yang ia kendarai itu tanpa sengaja hampir bertabrakan dengan mobil dari arah berlawanan. Tom sontak kaget, beruntung ia masih sempat menginjak rem dan tabrakan itu tidak terjadi. Tom pun menoleh ke belakang untuk memastikan pasukan Erick sudah tidak mengejarnya, setelah merasa aman barulah Tom keluar menemui pemilik mobil di depannya.
"Huh kayaknya mereka gak kejar saya lagi, lebih baik saya temui pemilik mobil itu deh," ujar Tom.
Betapa terkejutnya Tom ketika melihat Aqila lah yang keluar dari mobil di depan sana, sontak Tom langsung merasa bingung dan khawatir kalau Aqila akan menangkapnya seperti Jeevan. Ia hendak kembali ke mobilnya, namun tertahan saat Aqila memanggilnya.
"Tunggu Tom, kamu gak perlu takut dan jangan lari! Saya ini bukan diminta Jeevan buat tangkap kamu kok, tapi kebetulan kita ketemu disini karena kita bisa bicara berdua," ucap Aqila.
"Hah? Bu Aqila mau bicara apa sama saya?" tanya Tom penasaran.
Aqila hanya tersenyum dan berjalan mendekati Tom, ia berhenti lalu bersandar pada badan mobil pria itu sambil menatapnya.
"Saya yakin kamu pasti tau dimana Queen tinggal, ya kan?" ucap Aqila.
"Eee i-i-iya saya tahu, lalu kenapa Bu?" tanya Tom terheran-heran.
"Saya mau kamu antar saya kesana, sebenarnya saya sudah tahu dimana Queen tinggal dari Alden anak buah Jeevan. Tapi, saya ingin lebih pasti aja. Ayo cepat kamu antar saya!" jelas Aqila.
"Ta-tapi Bu, saya gak bisa lakukan itu," ucap Tom.
"Apa maksud kamu? Memangnya kenapa kamu gak bisa antar saya? Kamu takut sama Jeevan? Tenang aja, Jeevan itu jadi urusan saya!" ujar Aqila.
"Bukan Bu, tapi saya sedang ada masalah dengan Queen dan teman-temannya. Kalau mereka lihat saya dan Bu Aqila disana, pasti mereka akan semakin marah sama saya," ucap Tom.
"Saya gak perduli, yang saya mau kamu antar kan saya kesana!" tegas Aqila.
"Maaf Bu, sekali lagi saya tidak bisa mengantar ibu. Lagian Bu Aqila sudah tahu kan dimana alamat mereka? Kenapa ibu gak datang sendiri aja kesana?" ucap Tom.
"Kamu itu payah banget ya? Cepat kamu antarkan saya, atau saya akan telpon Jeevan dan kasih tau keberadaan kamu disini," ucap Aqila mengancam.
"Ja-jangan dong Bu!" pinta Tom.
"Yasudah, kamu harus mau dong antar saya kesana!" ucap Aqila.
"Iya deh Bu, saya mau antar ibu," ucap Tom pasrah.
"Bagus, sekarang ayo kamu masuk ke mobil dan kita pergi kesana!" suru Aqila.
"Tapi Bu, nanti saya hanya mengantar sampai depan komplek rumahnya ya Bu? Saya gak berani ketemu sama Queen sekarang," ucap Tom.
__ADS_1
"Terserah kamu, yang penting saya bisa ketemu sama Queen sekarang!" ujar Aqila.
"Baik Bu!" Tom mengangguk patuh, ia pun masuk ke mobilnya sedangkan Aqila mengendarai mobilnya sendiri.
•
•
Singkat cerita, mereka sampai di perumahan tempat Queen tinggal. Tom menghentikan mobilnya disana sebab ia tidak berani menemui Queen secara langsung untuk saat ini, ia pun turun dan menghampiri mobil Aqila. Sedangkan wanita itu juga turun dari mobilnya.
"Gimana Tom? Yang mana rumahnya Queen?" tanya Aqila bingung.
"Di depan sana Bu, nomor 115. Saya antar sampai sini aja ya Bu?" jawab Tom.
"Ohh, yaudah kamu boleh pergi sana. Tapi ingat, kalau kamu bohongi saya nanti saya akan bikin hidup kamu gak tenang!" ancam Aqila.
"Tenang aja Bu, saya gak bohong kok. Rumah Queen memang ada disana dan nomornya 115, silahkan aja ibu cek sendiri!" ucap Tom.
"Ya ya," Aqila berbicara singkat dan lalu kembali masuk ke mobilnya.
Sedangkan Tom tetap berdiri di dekat mobil sambil menunggu Aqila pergi, barulah setelah Aqila melaju kini Tom pun masuk ke mobilnya. Lagi-lagi Tom menyesal karena sudah memberitahu alamat rumah Queen pada Aqila, ia yakin pasti akan terjadi masalah yang lebih besar nantinya.
Singkat cerita, Aqila telah sampai di depan rumah bernomor 115 sesuai perkataan Tom. Ia pun turun dari mobil dan menatap sekeliling bangunan rumah yang mewah dan besar itu, ada sedikit rasa tidak percaya dari Aqila kalau Queen sekarang ini tinggal disana dengan rumah yang sangat mewah.
"Beneran ini rumahnya cewek itu? Kok bisa semewah ini sih? Saya gak nyangka kalau dia juga punya rumah seperti ini," gumam Aqila.
Setelahnya, Aqila langsung bergerak cepat menuju rumah tersebut. Ia ingin segera bertemu dengan Queen dan meminta gadis itu untuk menjauh dari putranya, sebab ia tidak senang jika Jeevan terus saja membahas tentang Queen dan sampai mengusir Caitlyn dari hidupnya.
"Dimana sih tuh anak?" Aqila terlihat bingung, tapi tak lama seorang pria datang menghampirinya dan menegurnya, ya dia adalah Jago alias anak buah Queen yang berjaga disana.
"Eh kebetulan ada yang muncul, ini saya mau ketemu sama Queen. Benar kan ini rumahnya dia?" jawab Aqila.
"Ya betul Bu, ibu ini siapa ya? Terus ada urusan apa sama nona Queen?" tanya Jago.
"Saya ada urusan penting sama dia, kamu panggil aja dia dan suruh dia temui saya disini! Majikan kamu juga kenal kok sama saya," jawab Aqila.
"Baik Bu, mohon tunggu sebentar!" ucap Jago.
Aqila mengangguk perlahan, lalu Jago pun mulai berbalik dan pergi menemui Queen di dalam sana. Jago mengatakan pada Queen bahwa ada seorang wanita yang datang ingin bertemu dengannya di luar, sontak Queen merasa penasaran siapa yang datang ke rumahnya saat ini.
Tanpa berpikir panjang, Queen segera melangkah ke luar untuk mencari tahu siapa yang datang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Aqila tengah berdiri di depan pagar sambil tersenyum tipis, ya Aqila telah melihat lebih dulu keberadaan Queen yang baru muncul itu.
Queen pun menghampiri wanita yang merupakan ibu dari Jeevan itu, ia memandang tak suka ke arahnya sebab Queen masih ingat betul betapa Aqila merendahkannya dulu. Sedangkan Aqila hanya tersenyum dengan kedua tangan dilipat di depan.
"Mau apa tante datang kesini? Tahu darimana rumah aku? Oh ya, pasti dari anak tante yang gak tahu diri itu ya?" ucap Queen dengan ketus.
"Jaga bicara kamu ya! Kamu yang gak tahu diri, bukan anak saya!" sentak Aqila.
Queen tersenyum miring sembari menggelengkan kepala, Aqila pun dibuat makin emosi dengan tingkah gadis itu.
•
•
__ADS_1
Dor
Dor
Dor
"Hey, jangan kabur kau penyusup!" teriakan serta dentuman keras terdengar di salah satu gedung besar yang tak lain ialah markas timur wilayah kekuasaan Gatra.
Puluhan pasukan bersenjata itu terus berusaha mengejar seorang pria yang baru saja menyusup masuk dan mencuri beberapa senjata serta sumber daya di markas mereka, tapi dengan kelihaiannya penyusup itu berhasil kabur dan pergi dari kejaran mereka.
Gatra benar-benar emosi, ia sudah kecolongan karena penyusup itu dan bisa saja ia akan dijatuhi hukuman oleh bos besar. Itu sebabnya ia terus mengerahkan pasukannya untuk mengejar dan menangkap si penyusup, namun bukannya berhasil beberapa pasukannya justru tewas di tangan penyusup tersebut.
Ada yang terkena tembakan dan tusukan dari si penyusup, dia memang berpakaian serba hitam dengan masker menutupi wajahnya, sehingga Gatra tidak bisa mengenali siapa orang yang menyusup ke markasnya. Ia pun semakin emosi dan tidak bisa menahan diri.
"Sial, ayo cepat kejar dan tangkap dia! Jangan biarkan dia lepas!" teriak Gatra memerintahkan seluruh anak buahnya.
"Kita bisa kena hukuman dari bos besar, kalau sampai penyusup itu tidak kita tangkap sekarang juga." sambungnya dengan gelagat panik.
Penyusup itu kini telah berhasil keluar dari wilayah Gatra dan pasukannya, ia tinggal beberapa langkah lagi menuju ke mobil yang terparkir di depan sana, yang mana sudah ada dua temannya menunggu untuk bisa melarikan diri. Si penyusup pun mempercepat langkahnya sambil sesekali berbalik dan menggunakan pistolnya.
Dengan cekatan, penyusup itu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang bersama teman wanitanya. Ia membuka masker dan tersenyum lebar menatap teman-temannya, tak lupa nafasnya yang juga masih terengah-engah akibat lari dari kejaran pasukan Gatra.
"Bro, udah simpan aja senjatanya! Kita jangan sampai buang-buang peluru cuma buat mereka, nanti tujuan utama kita jadi gagal terlaksana!" saran teman lelakinya yang ada di kursi kemudi.
"Ya bro, gue gak akan pakai senjata ini lagi. Ayo sekarang cepat kita cabut dari sini!" ucap si penyusup.
"Oke!" mobil itu pun menyala dan langsung melaju dengan cepat.
The fabulousness, kelompok kriminal yang berisikan tiga orang, diantaranya dua pria dan satu wanita itu, merupakan sebuah kelompok yang menjadi buronan polisi sebab sudah seringkali mereka melakukan tindakan kriminal, seperti perampokan dan lain-lain.
Victor Andonios, Danish Sinatria, dan tentunya Ellia Davinia adalah tiga orang anggota kelompok tersebut. Mereka juga kerap kali menyusup ke markas kelompok mafia seperti kali ini yang dilakukan oleh Victor, tujuannya adalah agar mereka bisa memiliki senjata yang dapat digunakan untuk merampok nantinya.
"Hahaha, gue dapat banyak nih guys. Lumayan lah buat pasokan kita sampai seminggu ke depan," ucap Victor dengan bangga.
"Keren emang lu Vic! Gak salah kita percayain lu buat nyusup ke dalam dan ambil senjata mereka, tapi tadi lu kan hampir ketangkap tuh," ujar Ellia.
"Santai aja, gue mah gak bakalan ketangkap. Lagian mereka itu bodoh semua, mana bisa tangkap Victor si lincah ini?" ucap Victor sombong.
"Jangan sombong dulu bro! Kita harus ngerampok lagi nih buat ngisi perut, persediaan makanan kita udah mau habis loh. Emang lu mau gak makan?" ucap Danish.
"Yah elah, tinggal ngerampok minimarket di dekat sini juga bisa dapat makanan bro. Yuk kita cari minimarket yang bisa kita rampok!" ucap Victor memberi usul.
"Nah, itu tuh di depan ada minimarket. Kita ngerampok disana aja kali ya?" ujar Danish.
"Boleh, gue mah dimana aja gas. Lo juga ikut turun ya tapi? Biar lebih cepet juga kita ambil semua uang dan makanan disana," ucap Victor.
"Siap!" Danish setuju dan mengacungkan jempolnya, ia pun menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat minimarket berada.
"Eh Ellia, lu yang pegang kemudi ya? Jadi nanti kalo gue sama Victor udah kelar, kita bisa langsung cabut," ucap Danish pada Ellia.
"Okay," Ellia mengangguk patuh.
Ya seperti biasa, Victor dan Danish pun turun dari mobil lalu bergegas masuk ke dalam minimarket membawa satu senjata. Mereka mengancam orang-orang disana dan mulai mengambil uang serta beberapa makanan, sedangkan Ellia menunggu di mobil sampai kedua pria itu selesai.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...