Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 57. Caitlyn Menyerah?


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Caitlyn Menyerah?




Victor tersenyum tipis, kemudian mengajak Aulia pergi dari sana setelah pamit pada teman-temannya. Akan tetapi, tiba-tiba seorang lelaki meneriaki nama Aulia dari belakang dan membuat keduanya terkejut.


"AULIA!" mereka berdua kompak menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Alif?" lirih Aulia begitu menatap wajah pria yang mendekat ke arahnya.


"Kamu kenal sama dia Aulia?" tanya Victor pada gadis di sebelahnya itu.


Aulia mengangguk, "Ya dia teman kampus aku, sebentar ya aku mau bicara dulu sama dia?" jawabnya.


"Oke." Victor mengangguk mengizinkan.


Lalu, Aulia bergerak maju mendekati Alif dan mereka pun berhadap-hadapan saat ini. Langsung saja Aulia menanyakan apa maksud Alif memanggilnya seperti tadi dan mengagetkannya.


"Ada apa? Ngapain lu teriak-teriak kayak tadi?" tanya Aulia ketua.


"Lu kok mau pergi sama orang asing sih Lia? Lu gak takut diculik gitu?" ujar Alif.


"Heh! Lu gausah sok perduli deh, dah sana pergi!" usir Aulia.


"Kenapa lu jutek gitu dah ke gue? Emang gue punya salah apa sih sama lu, Lia?" heran Alif.


"Lo lupa ya? Lo kan yang udah bikin gue sama teman-teman gue waktu itu diculik, jadi sekarang lu gausah sok perduli sama gue!" ucap Aulia.


Alif sontak menunduk merasa bersalah, "Maafin gue ya Aulia? Saat itu gue benar-benar dibutakan oleh uang, gue sampai mau kerjasama sama si Tom buat jebak lu dan yang lain," ucapnya.


"Kalau aja gue gak ditahan sama Queen, mungkin gue udah laporin lu ke dekan atau malah polisi biar lu di penjara sekalian!" ucap Aulia.


"Eh ja-jangan dong Lia! Lu gak mikir apa gimana perasaan keluarga gue kalo gue di penjara nanti?" ucap Alif memelas.


"Terus lu mikirin perasaan keluarga gue sama yang lain gak waktu itu? Enggak kan? Buat apa gue harus mikirin keluarga lu?" sentak Aulia.


Alif kembali terdiam, sedangkan Victor yang sedari tadi mendengarkan percakapan itu terlihat sangat bingung dan tak mengerti apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan.


"Udah ah, gue gak punya banyak waktu buat ladenin orang kayak lu!" ketus Aulia.


"Aulia tunggu!" Alif berteriak dan mencekal lengan Aulia bermaksud menahannya.


"Lepasin!" pinta Aulia sembari menghentak tangannya, tetapi gagal.


"Lu gak bisa pergi sama orang asing Lia, lu gak kapok apa sama penculikan itu?" ujar Alif.


"Gue bisa jaga diri, sekarang lepas atau gue teriak!" ucap Aulia.


"Kalau emang lu bisa jaga diri, kenapa waktu itu lu bisa sampai diculik?" tanya Alif.


"Bisa gak sih gausah bahas yang udah lalu? Lepasin gue!" sentak Aulia.


Melihat Aulia merasa kesulitan dan tidak nyaman, akhirnya Victor bergerak menolong gadis itu dengan cara melepaskan tangannya dari genggaman Alif. Sontak Victor mendorong Alif sampai pria itu nyaris terjatuh ke jalan, Victor juga menatap tajam ke arah Alif pertanda ia sangat emosi saat ini.


"Anda tolong jangan ganggu Aulia! Dia ada urusan sama saya, jadi anda lebih baik diam kalau tidak tahu apa-apa! Saya bukan penculik, saya cuma mau bicara sama Aulia," ucap Victor tegas.


Alif hanya terdiam, Victor pun beralih menatap Aulia dan mengajak gadis itu segera pergi. Aulia mengangguk mengiyakan ajakan Victor, mereka pun pergi dari sana menuju tempat yang pas untuk berbincang berdua. Sedangkan Alif tetap pada tempatnya bersama Danish dan juga Ellia.




Sementara itu, Lova baru keluar dari kelasnya dan berniat mencari para sahabatnya di sekitar sana. Namun, yang ia temui justru Arul si penjaga yang tampaknya sudah bersiaga di dekatnya untuk menjemput gadis itu. Tentu saja Lova merasa jengkel dan tidak senang bertemu dengan Arul.

__ADS_1


"Halo nona! Apa urusan nona di kampus sudah selesai semua?" sapa Arul.


"Iya udah, tapi lu ngapain sih masuk-masuk kesini segala? Gue kan suruh nunggu di luar," ujar Lova.


"Saya cuma mau jemput nona, soalnya barusan saya dihubungi sama tuan untuk bawa nona pulang ke rumah setelah selesai kuliah," ucap Arul.


"Ohh, emang ada apa sih? Kok papa sampe telpon lu segala buat bawa gue pulang?" tanya Lova.


"Saya tidak tahu nona, hanya itu yang tuan katakan ke saya tadi. Lebih baik kita pulang saja nona, supaya nona bisa tahu lebih jelas," jawab Arul.


"Yaudah, tapi gue mau cari teman-teman gue dulu. Lu tunggu disini aja ya sebentar?" pinta Lova.


"Gak bisa nona, perintah tuan itu saya harus segera antar nona pulang ke rumah," ucap Arul.


"Ish bawel banget sih! Gue cuma mau temuin teman gue sebentar doang, ayolah lu kasih gue waktu sebentar aja gitu!" ucap Lova kesal.


"Kalau saya bilang tidak bisa, itu artinya tidak bisa nona. Saya harap nona mau mengerti apa yang saya katakan ya nona!" ucap Arul dengan tegas.


"Lo benar-benar ngeselin deh! Iya deh iya gue gak mau cari teman gue lagi," ujar Lova.


Arul tersenyum lebar, "Begitu dong nona, jadinya kan kita tidak perlu berdebat lagi seperti tadi. Yuk kita langsung pulang aja!" ucapnya.


"Bawel lu!" Lova kesal dan melangkah lebih dulu melewati Arul tanpa berbicara apapun.


Arul menggeleng pelan lalu mengejar nona nya itu dengan langkah cepat, Arul sungguh gemas disaat Lova bersikap seperti tadi, sebab menurutnya Lova terlihat sangat imut dan ingin sekali mencubit pipi gadis itu. Hanya saja Arul harus bisa menahan diri karena tahu Lova adalah nona nya.


Saat dalam perjalanan menuju tempat parkir, Lova justru tak sengaja berpapasan dengan Alif yang terlihat ngos-ngosan. Sontak Lova dibuat bingung saat Alif memanggil dan menahannya, ia tak mengerti apa yang terjadi pada pria itu. Namun, Lova tetap berhenti menuruti kemauannya.


"Eh eh, lu kenapa sih Lif? Kok lari-larian begitu?" tanya Lova terheran-heran.


"Ga-gawat Va, lu harus tahu kalau sekarang Aulia lagi dibawa sama laki-laki asing! Gue khawatir banget sama dia, gue takut dia mau diapa-apain sama tuh cowok!" jawab Alif terengah-engah.


"Hah? Laki-laki asing siapa sih maksud lu? Emang di kampus kita ada orang asing yang bisa masuk apa?" tanya Lova tak mengerti.


"Gak tahu Va, tapi tadi tuh cowok ada di depan kampus. Terus dia ajak Aulia buat pergi berdua, gue gak tahu dah tuh mereka kemana," jawab Alif.


"Iya Va, ayo gue antar lu ke depan! Kebetulan disana juga masih ada teman-teman tuh cowok, soalnya dia datang bertiga kayaknya," ucap Alif.


"Oke!" Lova mengangguk paham.


Tanpa berlama-lama lagi, Lova pun ikut bersama Alif menuju ke depan kampus. Arul yang ada di belakang mereka hanya bisa menggeleng meskipun ia ingin sekali menahan Lova agar tidak pergi.




Dinda akhirnya terpaksa membiarkan Tom masuk ke dalam rumah Queen dan berbincang dengannya di taman samping, walau sebenarnya Dinda tidak ingin lagi bertemu dengan pria itu sebab ia sangat membencinya. Namun, usaha Tom untuk meyakinkan Dinda pun kali ini berhasil.


Tom tersenyum senang karena Dinda mau berbincang dengannya kali ini, meskipun ia butuh waktu yang sangat lama tadi untuk meyakinkan gadis itu. Kini Tom meraih satu tangan Dinda dan menatapnya disertai senyuman lebar, ia berharap hubungannya dan gadis itu bisa kembali baik seperti dulu saat mereka pertama bertemu.


"Terimakasih ya Dinda, kamu udah mau bolehin aku buat masuk dan bicara sama kamu disini sekarang. Jujur aku senang banget loh sayang," ucap Tom.


"Kamu gausah banyak basa-basi, buruan kamu bilang apa yang mau kamu omongin ke aku! Aku gak punya banyak waktu buat ladenin kamu lagi sekarang," ujar Dinda.


"Santai dulu dong Dinda, kamu gak usah terlalu buru-buru kayak gitu! Aku masih mau menikmati waktu berdua sama kamu tau," ucap Tom.


"Tom, udah ya gausah basa-basi terus! Aku pergi nih kalo kamu gak mau bicara apa yang mau kamu sampaikan ke aku!" ancam Dinda.


"Jangan dong sayang! Iya deh, aku mau bicara nih sekarang. Tapi, aku mohon kamu dengerin dengan baik-baik ya ucapan aku!" ucap Tom.


"Haish, iya udah buruan ngomong! Aku bakal dengerin kok apapun itu yang kamu mau omongin, makanya cepetan!" sentak Dinda.


Tom justru tersenyum dan mengecup punggung tangan Dinda, reflek Dinda menarik tangannya dan menatap tajam ke arah pria itu seolah tak terima jika ia diperlakukan seperti itu olehnya.


"Jangan kurang ajar ya kamu! Aku gak terima kamu cium-cium tangan aku kayak gitu!" tegas Dinda.


"Maaf Dinda, jangan marah-marah dong! Aku kan cuma pengen tenangin suasana, makanya aku cium tangan kamu tadi," ucap Tom.

__ADS_1


"Apapun alasan kamu, tetap aja aku gak suka. Awas ya kalau kamu sekali lagi begitu!" ujar Dinda.


"Aku janji gak akan begitu lagi, maafin aku ya sayang?" ucap Tom.


"Yaudah, sekarang kamu buruan ngomong dan jangan banyak basa-basi lagi!" pinta Dinda.


Tom mengangguk pelan, "Aku datang kesini itu cuma mau minta ke kamu supaya kamu mau maafin aku dan terima aku lagi sayang," ucapnya.


"Terima gimana maksudnya?" tanya Dinda.


"Ya aku mau kita dekat seperti dulu lagi, gak marahan dan jauhan kayak sekarang. Aku juga pengen bantu kamu buat rawat calon bayi yang ada di kandungan kamu itu, karena dia kan anak aku juga sayang," jelas Tom.


"Emang ini anak kamu, tapi aku udah putusin buat rawat dia tanpa bantuan kamu. Aku bisa kok rawat dia sendiri," ucap Dinda.


"Ayolah Dinda, cuma itu aja kok yang aku minta! Masa kamu gak mau nurut sih? Lagian apa kamu gak kasihan sama anak kita nanti kalau dia lahir tanpa ayah?" bujuk Tom.


"Aku tinggal bilang ke dia kalau ayahnya udah lama meninggal, gampang kan?" ujar Dinda.


Tom tersentak mendengarnya, ia yakin sekali bahwa Dinda sudah sangat emosi padanya dan akan sangat sulit untuk mengambil hatinya kembali.




Disisi lain, Caitlyn pergi ke rumah Aqila dan menemui wanita itu untuk mengatakan sesuatu. Tampak kini wajah Caitlyn sangat murung seperti orang yang sedang bersedih, ia pun bergegas mengetuk pintu sembari memanggil nama Aqila agar wanita itu bisa keluar menemuinya.


Betul saja, Aqila pun keluar sesaat setelah Caitlyn memanggilnya. Aqila tersenyum dan langsung memeluk gadis di hadapannya dengan rasa bangga, namun reaksi Caitlyn berbeda sebab ia memang sedang merasa bersedih. Melihat ekspresi Caitlyn yang seperti itu, sontak membuat Aqila penasaran.


"Loh kamu kenapa Caitlyn? Tante ada salah sama kamu sampai kamu bete gitu pas lihat tante? Apa kamu gak suka dipeluk sama tante barusan?" tanya Aqila keheranan.


Caitlyn menggeleng sambil mengusap matanya, "Gak gitu tante, aku cuma lagi sedih aja karena sampai sekarang belum ada kejelasan terkait hubungan aku sama Jeevan. Makanya aku datang kesini temui tante," jawabnya.


"Oalah, tante minta maaf ya sama kamu sayang?" ucap Aqila merasa tidak enak.


"Ini bukan salah tante kok, emang mungkin aku aja yang terlalu berharap sama Jeevan. Tapi, kayaknya Jeevan gak bisa balas perasaan aku karena dia lebih mencintai wanita lain," ucap Caitlyn.


"Kamu gak boleh bicara begitu, tante yakin kok si Jeevan pasti bisa cinta sama kamu juga!" ucap Aqila.


"Terlambat tante, aku udah gak punya kesabaran lagi. Aku mau putuskan buat berhenti berharap sama Jeevan, aku juga gak mau dijodohin lagi sama dia tante," ucap Caitlyn.


"Kok kamu bicara gitu sih sayang? Tante gak akan izinin kamu buat menyerah, kamu harus terus semangat buat bujuk Jeevan!" ucap Aqila.


"Gak bisa tante, aku udah gak kuat lagi. Aku rasa semua ini sia-sia aja deh, lebih baik aku kembali aja ke tempat asal aku," ucap Caitlyn.


"Hey, Caitlyn jangan begitu ya! Kamu gak boleh ngomong kayak gitu, kamu harus tetap kuat dan semangat sayang! Tante kan selalu dukung kamu," ucap Aqila.


"Percuma aja tante, gak ada hasilnya sampai sekarang. Aku gak pernah bisa bikin Jeevan suka sama aku," ucap Caitlyn.


"Kamu sabar dulu ya sayang! Tante akan usaha lebih keras lagi supaya Jeevan mau terima kamu, kamu percaya ya sama tante?" ucap Aqila.


Caitlyn menggeleng pelan, "Aku tetap gak mau tante," ucapnya.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di dekat mereka dan menampakkan sosok Dean keluar dari dalam mobil tersebut. Lalu, Aqila pun tersenyum menyambut suaminya yang baru datang itu. Ia juga punya rencana yang sangat mantap agar Caitlyn tak menyerah begitu saja.


"Eh eh, ada Caitlyn juga disini? Kenapa gak masuk cantik? Kasihan loh kamu kepanasan begitu," ujar Dean sambil tersenyum.


"Gapapa om, aku cuma mau bicara sebentar kok tadi sama tante Aqila. Abis ini aku juga mau langsung pulang," ucap Caitlyn.


"Lah kenapa buru-buru banget Caitlyn? Yuk kita masuk dulu ke dalam! Kita sekalian bicara sama om Dean juga, siapa tahu dia bisa bantu kamu supaya kamu dekat sama Jeevan," ujar Aqila.


Dean langsung memasang wajah kaget, "Memangnya ini ada apa sih?" tanyanya heran.


Aqila mengambil nafas panjang dan menjelaskan semuanya pada sang suami dari awal sampai akhir, hingga Dean pun dapat mengerti.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2