
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Laksanakan!
•
•
"Apa??!" Dean terkejut bukan main mendengar perkataan salah seorang anak buahnya yang baru datang melapor terkait masalah di wilayah timur.
Ya Dean baru mengetahui jika beberapa senjata dan sumber daya lainnya di markas timur berhasil dicuri oleh seseorang, tentu saja Dean sangat murka dan ingin segera bertemu dengan Gatra selaku pimpinan wilayah timur. Ia memerintahkan Cobra, sang asisten untuk memanggil Gatra.
Setelahnya, Dean pun mengepalkan tangannya dan menggebrak meja dengan kuat. Saat ini ia berada di markas besar, tempat dimana ia selalu memantau segala aktivitas yang dilakukan anak buahnya, juga tempat untuk ia bertemu dengan para bos-bos di luar sana yang ingin bekerjasama dengannya atau membeli barangnya.
Dean ditemani oleh dua orang wanita penghibur dengan pakaian seksi di tempatnya duduk saat ini, mereka berusaha menenangkan Dean dengan cara mengusap lembut tubuh lelaki itu dan menggodanya. Namun, kondisi Dean yang tengah berapi-api tak mudah ditenangkan begitu saja.
"Aaarrgghh!! Dimana Gatra? Sudah datang atau belum dia?" teriak Dean bertanya pada tiga anak buahnya yang berdiri di hadapannya.
Ketiganya kompak menggeleng dan kembali menundukkan kepala, mereka tidak ada yang berani menatap langsung wajah bos mereka itu. Dean mengambil gelas di meja dan mencengkeramnya kuat sampai gelas itu pecah, sontak dua wanita di sebelahnya kaget lalu reflek bangkit menghindari pecahan itu.
"Kenapa kalian bangun? Takut sama pecahan gelas itu? Apa pecahan itu lebih menakutkan daripada saya, iya?" tanya Dean pada wanita-wanita itu.
"Tidak tuan." akhirnya kedua wanita itu kembali duduk di sebelah kanan dan kiri Dean, dengan tangan kekar Dean berada di pundak mereka.
"Rhyzen, kamu temui algojo dan suruh dia siap-siap!" perintah Dean.
Salah satu anak buahnya yang bernama Rhyzen itu mendongak kaget, "Untuk apa bos?" tanyanya penuh penasaran.
Mendapat tatapan tajam dari Dean, membuat Rhyzen merunduk takut dan melupakan pertanyaan yang ia ajukan tadi. Pria itu gemetar dan memutuskan langsung pergi sebelum Dean semakin emosi padanya, sedangkan dua lainnya tetap berdiri disana sebagai penjaga.
"Tuan, jangan marah-marah dong! Tuan harus tetap tenang dan gak boleh emosi!" ucap salah satu wanita di sebelah kiri Dean, sebut saja namanya Yessica.
__ADS_1
"Gak bisa, masalah seperti ini sangat besar dan tidak seharusnya terjadi di bisnis ini. Gatra harus mempertanggungjawabkan segala kesalahan yang sudah dia perbuat!" ujar Dean.
"Ya tuan, tapi nanti tuan harus bisa tahan emosi! Kita kan gak mau juga kalau tuan sampai kenapa-napa," ucap Yessica.
"Betul tuan, kalau tuan kenapa-napa nanti siapa yang bayar kita dong?" sahut wanita lainnya yang bernama Sandra.
"Kalian gausah khawatir, saya gak akan kenapa-napa. Saya cuma mau bicara sama si Gatra itu, dan setelahnya biar anak buah saya yang urus dia!" ucap Dean.
Tak lama kemudian, Cobra kembali menemui Dean di tempat itu. Ia melapor kalau ia sudah berhasil membawa Gatra kesana, tentu saja Dean senang dan ia langsung meminta Cobra mengajak Gatra masuk ke dalam menemuinya. Dean sudah tak sabar lagi ingin menghukum pria itu.
"Lepasin, gue bisa jalan sendiri!" Gatra terus berontak, dari pegangan dua orang anak buah Dean.
"DIAM!!" bentak Dean yang langsung membuat Gatra ciut.
Akhirnya Gatra berhasil dipertemukan oleh Dean, ia duduk berlutut dengan kedua tangan dipegangi oleh orang-orang itu. Ia menatap wajah Dean yang masih duduk di kursi kebesarannya bersama para wanitanya, satu kakinya Dean naikkan ke atas kaki yang lainnya dan bertepuk tangan.
"Bagus Gatra, bagus! Setelah kamu melakukan kesalahan besar, lalu sekarang kamu mau coba mangkir dari panggilan saya? Luar biasa! Kamu itu tidak pantas ada di kelompok ini lagi!" ucap Dean.
"Apa? Kamu bilang gak mau dipecat? Terus saya harus apa dong ke kamu? Kamu itu sudah salah Gatra, dan sekarang saya yang rugi karena ulah kamu. Bisa-bisanya kamu minta saya buat gak pecat kamu," ujar Dean.
"Itu semua bukan kesalahan saya, memang maling itu aja yang pintar bos," ucap Gatra membela diri.
Dean emosi dan bangkit dari duduknya, "Lancang sekali kamu! Ucapan kamu barusan itu justru bikin saya makin merasa bersalah sudah mempekerjakan kamu disini!" sentaknya.
"Bos, tapi—"
"Sudah, bawa dia keluar! Mulai hari ini, kamu sudah bukan lagi bagian dari kelompok ini!" sela Dean.
"Bos tunggu bos, saya gak salah bos. Jangan pecat saya!" teriak Gatra memohon.
Dean membuang muka dan seolah tuli, Gatra yang berontak terus dipegangi dengan kuat oleh para anak buah pria itu. Gatra pun dibawa ke luar sesuai perintah Dean, dan kini Dean kembali duduk di kursinya sembari mengerutkan keningnya yang terasa pusing akibat memikirkan itu.
__ADS_1
Satria dan Xander, menatap ke arah Dean dengan bingung. Mereka heran mengapa Dean melepas Gatra begitu saja tanpa melakukan apapun padanya, padahal Gatra sudah berbuat sesuatu kesalahan yang sangat besar bagi berlangsungnya bisnis mereka saat ini.
"Bos, kenapa bos lepasin Gatra gitu aja? Dia kan sudah melakukan kesalahan besar bos, harusnya dia dihukum berat!" tanya Satria.
"Kamu diam aja Satria! Saya disini pimpinannya, saya yang atur semuanya. Kamu sebagai anak buah, lebih baik diam jika kamu tidak tahu apa-apa!" tegas Dean.
"Maaf bos!" Satria langsung menunduk dengan kedua tangan di depan.
Lalu, Dean menyuruh Sandra mengambilkan ponselnya di atas meja. Gadis itu menurut dan memberikan ponsel tersebut pada Dean, pria itu pun langsung menghubungi seseorang dengan ponselnya yang membuat orang-orang disana kebingungan.
📞"Laksanakan!" ucap Dean di telpon, ia langsung menutup telponnya setelah mengatakan itu.
•
•
Di luar, anak buah Dean mendorong tubuh Gatra sampai terhempas ke jalan dan mengusir pria itu dari sana. Gatra benar-benar emosi karena ia merasa dihina oleh orang yang dulunya bekerja bersamanya di wilayah timur, ia sungguh kesal tapi tak mampu berbuat apa-apa.
"Pergi kamu dari sini! Jangan pernah kembali atau tampakkan diri kamu lagi disini, atau kamu akan menyesal!" sentak orang itu.
"Sial! Gue udah gak ada harga dirinya lagi, mereka benar-benar keterlaluan! Awas aja, gue pasti bakal balas perlakuan mereka ke gue!" batin Gatra.
Gatra bangkit dari posisinya, lalu berjalan perlahan sambil memegangi perutnya. Sesekali ia menoleh menatap bangunan yang tidak akan pernah ia datangi lagi, jujur ia sangat sedih harus meninggalkan tempat yang sudah lama ia tinggali dan bekerja disana.
Namun, bagaimanapun Gatra harus menerima semuanya dengan lapang dada, meski ia sangat kesal dan emosi pada Dean. Mungkin saja lain waktu Gatra akan membalas segala perbuatan Dean padanya, tapi siapa yang tahu kalau tiba-tiba ada sebuah peluru yang melesat mengenai kepala bagian belakangnya.
Dor!
Seketika semua orang disana kaget, saat itu juga Gatra langsung terjatuh dengan posisi tengkurap dan darah yang mengalir di kepala bagian belakangnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...