Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 65. Jangan dekati dia lagi!


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Jangan dekati dia lagi!




Dinda menggeleng pelan, "Gak ada satupun cara yang bisa kamu lakukan untuk dapat maaf dari aku, karena sampai kapanpun aku gak akan pernah maafin kamu!" ucapnya.


Tom tersentak mendengarnya, rasanya sangat sakit saat Dinda berkata seperti itu. Sedangkan Dinda tak perduli sama sekali dan memilih berbalik lalu berniat pergi, namun Tom kembali menahan wanita itu dengan mencekal lengannya.


"Tunggu dulu Dinda! Kamu jangan pergi!" ucap Tom dengan tegas.


"Haish, kamu tuh kenapa sih selalu aja halangi aku? Aku kan udah bilang, aku gak mau ketemu sama kamu!" sentak Dinda.


"Please Dinda, kasih aku kesempatan satu kali lagi! Aku mau memperbaiki semuanya, aku pengen kita hidup sama-sama lagi kayak dulu!" bujuk Tom.


"Yang dulu biarlah berlalu, itu gak akan pernah bisa terulang lagi sampai kapanpun!" tegas Dinda.


"Aku berharap kita masih bisa bersama seperti dulu Dinda, cuma itu yang aku mau. Aku ini tulus sayang sama kamu," ucap Tom.


"Terserah kamu, tapi aku udah enggak ada rasa lagi sama kamu Tom. Aku justru benci sama kamu, karena kamu udah khianati aku!" ucap Dinda.


Akhirnya Dinda berhasil melepaskan diri dari genggaman Tom, ia langsung berniat pergi sebelum Tom kembali menangkapnya. Kali ini Tom mendekap erat tubuh Dinda dan tidak mau melepasnya walaupun Dinda terus berontak.


"Ih lepasin! Kamu jangan kurang ajar ya Tom! Aku teriak nih kalau kamu gak mau lepasin aku!" ucap Dinda dengan lantang.


"Gak Dinda, aku gak akan lepasin kamu lagi! Aku sayang sama kamu, aku mau kamu kembali sama aku seperti dulu!" ujar Tom.


"Kamu udah gak waras Tom! Aku benci sama kamu!" ucap Dinda emosi.


"Aku mohon sama kamu sayang, maafin aku! Aku janji akan berubah lebih baik dan gak akan mengulangi kesalahan aku!" bujuk Tom.


Dinda menggeleng dan kembali berontak, namun dekapan Tom justru semakin kuat. Sampai Reza keluar dari mobil dan berteriak keras sembari mendekati keduanya.


"Lepaskan nona Dinda!" teriak Reza.


Tom yang masih mendekap tubuh Dinda dibuat terkejut dengan teriakan itu, ia reflek menoleh ke asal suara dan menyeringai tipis menatap Reza yang sudah berjalan mendekatinya. Tom tak sedikitpun merenggangkan dekapannya pada Dinda, sebab ia sangat ingin wanita itu ikut bersamanya.


"Kamu mau apa? Gausah ikut campur urusan saya dan Dinda, lebih baik kamu masuk ke mobil dan diam!" ujar Tom.


"Tidak bisa saya diam saja, karena nona Queen sudah menitipkan nona Dinda pada saya," tegas Reza.


"Ini bukan urusan kamu, tidak usah ikut campur karena saya hanya ingin bicara dengan Dinda!" sentak Tom.


"Maaf pak, saya hanya menjalankan tugas. Cepat lepaskan nona Dinda atau saya akan panggil semua teman-teman saya di dalam untuk mengusir kamu dari sini!" ujar Reza.


"Hahaha, saya gak takut. Panggil aja semuanya, kalau perlu satu komplek sekalian! Saya juga gak mau cari ribut kok, saya cuma ingin bicara dengan Dinda!" ucap Tom.


"Ish, tapi aku gak mau bicara sama kamu. Harusnya kamu ngerti dong, bukan malah maksa aku kayak gini!" ucap Dinda.


"Dengar itu pak Tom? Nona Dinda tidak mau bicara dengan kamu, lebih baik kamu lepaskan nona Dinda dan jangan bikin saya emosi!" ucap Reza.


Tom hanya menyeringai dan tidak sedikitpun berpikir untuk melepaskan Dinda, namun wanita itu cukup pintar dan ia menggigit lengan Tom yang mendekap erat tubuhnya sampai pria itu kesakitan lalu reflek menjauhkan lengannya dari Dinda.


"Awhh akh sial!" umpat Tom sembari mengusap lengannya yang terkena gigit oleh Dinda.




Sementara itu, Jeevan masih berbincang dengan mamanya di pelataran rumah sakit. Tampak sekali Aqila tidak senang sebab Jeevan yang selalu saja mendekati Queen dan malah saat ini lebih sering membela wanita itu, apalagi barusan Jeevan juga menjenguk Salman yang merupakan musuh mereka.

__ADS_1


"Ma, mama mau ngomong apa sama aku? Kalau mama masih aja minta aku buat menjauh dari Queen, maaf ma aku gak bisa turutin kemauan mama itu!" ucap Jeevan.


"Justru itu Jeevan, mama kasih kamu kesempatan satu kali lagi buat menjauh dari perempuan itu! Kalau kamu gak mau nurut, yaudah mama terpaksa ambil semua fasilitas kamu dan minta papa kamu buat usir kamu dari bisnis kita!" ucap Aqila.


"Apaan sih ma? Bisa gak gausah ancam aku yang kayak gitu? Udah basi tau, aku gak takut sama ancaman begitu!" ucap Jeevan.


"Ohh, kamu nantangin mama?" ujar Aqila.


"Bukan gitu ma, tapi aku tuh bosan aja karena mama sering banget ancam aku kayak gitu. Kalau emang mama mau cabut semua fasilitas aku dan singkirin aku dari bisnis papa, yaudah terserah!" ucap Jeevan.


Aqila menggeleng tak percaya, "Kamu sudah gak waras Jeevan! Demi wanita itu kamu rela kehilangan fasilitas kamu?" ujarnya.


"Iya ma, karena aku cuma butuh Queen. Dia itu separuh nafas aku ma, aku gak bisa hidup tanpa dia. Lebih baik aku kehilangan semua fasilitas aku, daripada aku kehilangan Queen!" tegas Jeevan.


Setelah mengatakan itu, Jeevan langsung berbalik dan melangkah begitu saja meninggalkan mamanya.


"Jeevan, kamu jangan main-main sama mama! Kamu harus jauhi Queen atau mama akan singkirkan dia!" ujar Aqila.


Sontak Jeevan menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan mamanya, ia berbalik menatap wajah Aqila dengan tatapan tak percaya dan kembali mendekat ke wanita itu.


"Mama tolong jangan macam-macam ya sama Queen! Aku gak akan tinggal diam kalau mama berbuat yang tidak-tidak sama dia!" pinta Jeevan.


"Hahaha, segitunya kamu belain perempuan itu Jeevan? Mama benar-benar heran sama kamu, kamu sudah berubah drastis!" ucap Aqila.


"Terserah mama mau bilang apa, intinya aku akan selalu jaga Queen dan aku gak akan biarin siapapun menyakiti dia!" tegas Jeevan.


"Mama juga serius Jeevan, mama bisa lakukan apapun yang mama mau untuk Queen. Maka dari itu, mama minta kamu buat menjauh dari Queen dan jangan pernah dekati dia lagi!" ucap Aqila.


"Aku gak bisa ma, aku sudah katakan kalau aku cinta sama Queen dan aku gak akan pernah menjauh dari dia!" ucap Jeevan tegas.


"Kamu itu keras kepala sekali ya? Mama pastikan kamu akan menyesal Jeevan, karena mama akan buat Queen menyingkir dari kamu!" ujar Aqila.


"Udah lah ma, aku gak mau bahas itu lagi. Aku mau balik temuin Queen, silahkan mama pulang aja karena percuma mama terus disini kalau cuma mau bikin keributan!" ucap Jeevan.


Jeevan pun berbalik dan pergi dengan cepat dari sana menuju ruangan tempat Salman dirawat dan menemui Queen, sedangkan Aqila tetap disana menatap jengah ke arah Jeevan yang perlahan sudah menjauh darinya.




Queen masih berada di kamar rawat papanya, ia menjaga sang papa dengan sangat baik sambil menunggu pria itu terbangun dari tidurnya. Queen terus menatap wajah Salman sambil mengusap wajahnya perlahan, jujur saja ia sedih melihat kondisi papanya yang seperti sekarang.


"Pa, aku sedih banget lihat papa kayak gini. Papa cepat sembuh dong pa! Andai aku bisa gantiin posisi papa, pasti aku rela buat tanggung semua sakit yang dirasakan papa ini," lirih Queen.


"Aku gak kuat lihat papa terbaring lemah kayak gini, aku maunya papa kembali sehat kayak dulu supaya aku bisa ngobrol sama papa lagi," sambungnya.


Wanita itu menaruh wajahnya di atas lengan sang papa, ia terus berharap kesembuhan papanya agar bisa segera keluar dari sana. Tetesan air mata jatuh mengenai lengan Salman, membuat pria itu reflek bergerak dan Queen pun mengangkat kepalanya serta menatap tubuh sang papa.


"Hah papa? Papa kebangun ya? Maaf pa, tadi itu aku cuma mau peluk papa. Eh papa malah jadi bangun," ucap Queen saat menyadari papanya membuka mata dan melirik ke arahnya.


"Gapapa sayang, papa senang pas bangun yang pertama papa lihat itu kamu," ucap Salman.


"Ahaha, aku juga senang banget lihat papa udah bisa senyum kayak sekarang. Aku udah gak sabar pengen lihat papa sehat lagi," ucap Queen.


Salman tersenyum tipis dan menggerakkan tangannya untuk mengusap wajah sang putri.


"Kamu kenapa nangis sayang? Gara-gara papa ya? Papa minta maaf ya karena udah bikin kamu sedih," ucap Salman merasa tidak enak.


"Bukan salah papa, aku emang gak tega aja lihat kondisi papa kesakitan begini," ucap Queen.


"Sejak kapan kamu disini sayang? Apa dari semalam?" tanya Salman.


"Iya pa, aku gak mungkin tinggalin papa gitu aja dalam keadaan kayak gini. Aku mau selalu ada di sebelah papa, jadi kalau nanti papa butuh apa-apa kan ada aku," jawab Queen.

__ADS_1


"Ya ampun Queen, harusnya kamu gak perlu tungguin papa nonstop kayak gini. Kamu pasti capek kan sayang?" ucap Salman.


"Gak kok pa, aku gak capek kalau nungguin papa. Justru aku malah senang karena papa kan prioritas utama aku," ucap Queen.


"Tapi Queen, kamu kan tetap harus istirahat. Lebih baik kamu pulang dulu ke rumah sayang," ucap Salman.


"Enggak pa, aku gapapa. Kalau jaga papa mah aku gak akan capek kok, udah ya papa gausah mikirin soal itu!" ucap Queen.


"Makasih ya sayang, kamu udah mau perduli sama papa. Padahal papa udah sakit-sakitan begini, papa emang selalu repotin kamu sayang," ucap Salman.


"Ih papa jangan ngomong gitu ah! Papa gak sama sekali ngerepotin aku kok, ini udah jadi kewajiban aku buat jaga papa, kan aku anak kandung papa," ucap Queen.


"Iya deh, anak papa yang satu ini emang berbakti dan perhatian sama papanya," ucap Salman.


"Harus dong pa, dulu aja papa kan udah rawat aku," ucap Queen tersenyum.


Salman ikut tersenyum dan terus mengusap rambut putrinya, Queen pun kembali mendekatkan diri ke tubuh Salman lalu memeluk papanya itu erat untuk meluapkan kesedihannya. Queen sangat sedih dan ingin papanya segera sembuh dari penyakit itu.


Ceklek


Queen terkejut saat tiba-tiba pintu kamar rawat itu dibuka dari luar, ia reflek menoleh dan melihat Jeevan kembali sambil tersenyum.




Disisi lain, Caitlyn terbangun dari pingsannya dalam keadaan tubuh diikat dengan tali dan mulutnya disumpal oleh kain merah. Gadis itu sontak terkejut dan mengingat momen saat dirinya dibawa secara paksa oleh kumpulan orang, dan kini ia pun berada di sebuah tempat yang tak ia kenali.


Caitlyn coba berontak untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut, tapi usahanya sia-sia sebab semakin ia berontak justru ikatan itu semakin kuat. Sungguh Caitlyn tak tahu harus melakukan apa lagi, ia benar-benar panik dan bingung siapa sebenarnya yang menculik ia saat di depan mall tadi.


"Gimana ini? Siapa yang culik gue? Mampus aja gue kalo gak bisa kabur dari sini, bisa habis gue!" batin Caitlyn merasa panik.


Tak lama kemudian, pintu ruangan tersebut terbuka dan membuat Caitlyn membulatkan matanya. Gadis itu spontan menatap ke arah pintu dan melihat seorang pria masuk mendekatinya sambil tersenyum seringai.


"Mmpphh mmpphh.." Caitlyn terus bergerak mencoba menghindar dari sentuhan pria itu.


"Hahaha, kamu sudah bangun rupanya. Baguslah, saya gak perlu repot-repot untuk bangunin kamu lagi. Oh ya, selamat datang di rumah saya gadis manis!" ucap si pria.


"Mmpphh!!" Caitlyn sampai melotot disaat telapak tangan pria itu mulai menyentuh pipinya.


"Uhh halus sekali, pipi kamu ini benar-benar lembut. Saya gak salah bawa kamu kesini Caitlyn, saya suka itu," ujar si pria disertai seringai tipis.


Caitlyn masih menatap mata pria itu dengan tajam, ia seolah tak asing dengan wajah pria di depannya saat ini. Namun, entah mengapa Caitlyn sulit sekali mengenali siapa pria tersebut.


"Ish, siapa sih nih cowok? Gue kayaknya pernah ketemu sama dia deh, tapi dimana ya? Kenapa susah banget buat gue kenalin dia?" batin Caitlyn.


Pria itu terus mengusap-usap wajah Caitlyn sambil menaikkan dagunya, Caitlyn pun merasa risih dan mencoba berontak serta menyingkirkan tangan pria itu dari wajahnya. Akan tetapi, usahanya sia-sia sebab kini tubuhnya terikat di atas kursi dan ia tak bisa berbuat apa-apa.


Ceklek


Pintu kembali terbuka, pria itu reflek menjauhkan tangannya dari wajah Caitlyn dan menoleh ke arah pintu.


"Surya? Ada apa?" tanya pria itu pada seorang lelaki yang baru masuk kesana.


"Gapapa sih, gue cuma mau periksa kondisi si cewek yang kita culik tadi. Dia udah sadar ya Al?" jawab Surya sambil berjalan mendekat ke arah Caitlyn berada.


"Iya, pas gue masuk tadi ternyata dia udah sadar. Dia kelihatan takut banget," ucap si pria.


"Hahaha, Alden Alden..." Surya tertawa sembari menyebut nama pria di sebelahnya itu.


Seketika Caitlyn terbelalak, ia baru ingat setelah mendengar nama yang disebutkan oleh Surya. Ya pria yang ada di hadapannya kini adalah Alden, kaki tangan Jeevan. Namun, Caitlyn tak mengerti mengapa mereka harus melakukan ini padanya, sedangkan ia adalah calon istri bos mereka.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...KALO MAU VOTE/GIFT BOLEH BANGET, MALAH AUTHOR TAMBAH SENANG GUYS...


__ADS_2