Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 88. Hidup baru


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Hidup baru




Seminggu sudah Queen tinggal di new York, dan kini hidupnya telah berubah drastis menjadi lebih baik serta ceria dari sebelumnya. Bahkan wanita itu telah memiliki cukup banyak teman di kampusnya, tentu Queen sangat senang sehingga ia bisa melupakan orang-orang yang pernah dekat dengannya di Jakarta sebelumnya.


Saat ini Queen bersiap berangkat menuju kampus dengan mobil Lamborghini miliknya, ia menyetir sendiri sebab disana ia tak menyewa supir atau pengawal dikarenakan harganya yang mahal. Selain itu, Queen juga ingin hidup mandiri tanpa merepotkan orang lain lagi. Ya kecuali saat di dalam rumahnya, Queen tentu masih butuh pelayan untuk menyiapkan segala kebutuhannya.


"Nona Queen tunggu!" tiba-tiba saja Emily salah seorang pelayan disana berteriak dan menahan Queen yang hendak masuk ke mobilnya.


"Ya Emily, kenapa? Aku harus segera pergi ke kampus, sebentar lagi kelasku dimulai. Kalau kamu perlu atau membutuhkan sesuatu, kamu bisa minta ke yang lainnya saja," ucap Queen.


"Tidak nona, aku hanya ingin memberikan ini nona." Emily menyerahkan sebuah liontin milik Queen yang tertinggal di ruang tamu tadi.


"Eh iya, ya ampun aku sampai lupa bawa ini. Ini kan satu-satunya peninggalan papa yang aku punya dan bawa sampai kesini, terimakasih ya Emily?" ucap Queen sangat bahagia.


"Sama-sama nona, yang semangat ya belajar di kampusnya nona!" ucap Emily.


"Tentu." Queen tersenyum setelah memakai liontin tersebut di lehernya.


Tin Tin...


Lagi-lagi Queen dibuat terkejut, kali ini oleh sebuah klakson mobil yang berhenti tepat di dekatnya. Queen mengernyitkan dahinya melihat ke arah mobil itu, ia kemudian tersenyum setelah mengenali siapa pemilik mobil yang datang ke rumahnya. Ya dia adalah Andro, sahabat lelakinya yang ia jumpai dan kenali di kampus beberapa hari lalu.


"Halo Queen, good morning!" Andro menyapanya sembari turun dari mobil dan tersenyum.

__ADS_1


"Morning!" Queen turut menyapa pria itu dan menutup kembali pintu mobilnya.


Cup!


Tanpa diduga, sebuah kecupan mendarat di kening serta kedua pipi Queen yang tentunya diberikan oleh Andro. Queen terdiam saja tak bereaksi, memang sudah biasa ia dikecup seperti itu oleh teman-temannya baik perempuan atau lelaki, jadi Queen tidak terkejut lagi saat Andro datang dan mengecupnya di hadapan Emily.


"Kamu mau berangkat ke sekolah kan? Bareng aku aja yuk! Biar orang-orang kampus pada tau kalau kita ini sudah jadi sahabat sejati, mereka gak bakal ganggu kamu lagi deh," ucap Andro.


"Aku sih mau-mau aja, tapi apa gak ngerepotin kamu?" tanya Queen.


Andro merangkul pundak serta mendekap erat tubuh Queen sambil mengusapnya lembut, "Jelas enggak, aku ini orangnya baik kalau sama wanita cantik seperti kamu," ucapnya sembari mencubit hidung Queen yang seketika tersenyum.


Sontak Emily yang menyaksikan itu dibuat senyum-senyum sendiri, ia sampai harus menutupi mulutnya karena tak kuasa menahan rasa senang saat melihat majikannya bermesraan dengan seorang lelaki di depannya. Meski tak mengenali siapa lelaki itu, tapi Emily yakin kalau dia adalah pasangan Queen.


"Ehem ehem, aduh mesranya kalian! Saya masuk dulu deh ya non, den? Takut ganggu kalian soalnya," ucap Emily sambil terkekeh kecil.


Queen reflek membalikkan tubuhnya ke arah Emily tanpa melepaskan diri dari dekapan Andro, "Eh Emily, kamu ternyata masih disitu? Maaf maaf, aku gak lihat kalau ada kamu," ucapnya.


Emily pun pergi dari sana dengan suasana girang, sedangkan Queen merasa malu karena dipergoki pelayannya sendiri saat sedang berpelukan bersama Andro disana.




Berbeda dengan Queen yang terlihat bahagia di kehidupan barunya, Jeevan justru masih terus bersedih dan berulang kali melamun. Seperti saat ini ketika ia sedang berdiskusi dengan anak buahnya mengenai kemajuan bisnis yang mereka jalani, pria itu justru melamun memikirkan Queen.


Fritzy serta Alden yang ada disana tampak saling memandang dan kebingungan, mereka tidak mengerti apa yang terjadi pada bos mereka itu karena sedari tadi terus melamun. Akhirnya Fritzy yang berada tepat di sampingnya pun mencoba menegur Jeevan dengan perlahan.


"Eee bos, bos lagi kenapa bos? Ini pertanyaan yang tadi kita bahas belum ada jawabannya loh, menurut bos gimana?" ujar Fritzy.

__ADS_1


Namun, lagi-lagi Jeevan hanya diam dengan pandangan kosong. Di pikirannya masih terus terbayang sosok Queen yang sangat ia cintai, jujur ia rindu dengan wanita itu dan ingin sekali bertemu dengannya saat ini. Meski tentu sangat sulit baginya untuk bisa menemuinya lagi.


"Bos, maaf bos kalau saya lancang, tapi sekarang kita sedang ada pertemuan penting bos. Saya terpaksa sadarin bos," ucap Fritzy meminta maaf terlebih dulu sebelum mencolek bosnya.


"Eh Fritzy, kenapa?" Jeevan terkejut lalu menoleh ke arah sekretarisnya itu.


"Saya gapapa bos, justru bos yang kenapa. Kok bos ngelamun aja daritadi? Kita kan lagi bahas tentang bisnis kita bos," ucap Fritzy.


"Ah iya, maaf maaf saya gak fokus. Sampai dimana kita tadi?" ucap Jeevan memijat dahinya.


"Kayaknya kita tunda aja deh bos rapat kali ini, soalnya bos kelihatan pusing banget," ucap Fritzy.


"Bener juga kamu, saya memang lagi banyak pikiran. Kamu atur aja semuanya ya? Saya mau istirahat dulu ke kamar, makasih Fritzy!" ucap Jeevan langsung bangkit dari duduknya.


Fritzy serta yang lainnya hanya bisa melongok tak percaya melihat Jeevan melangkah pergi begitu saja dari sana, akhirnya mereka pun terpaksa mengikuti perintah Jeevan untuk membubarkan meeting kali ini dan menundanya sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.


Tanpa disadari, Fritzy rupanya mengejar Jeevan sampai ke depan kamarnya. Ia mencekal lengan pria itu dari belakang dan membuat Jeevan terkejut lalu menoleh, Jeevan mengernyit heran saat melihat sekretarisnya itu ada disana dengan tampang khawatir.


"Ada apa nih? Ngapain kamu kejar saya dan tahan saya kayak gini?" tanya Jeevan heran.


"Eee saya cuma mau mastiin aja ada apa sebenarnya sama bos, soalnya tadi saya lihat bos kayak lagi mikirin sesuatu. Bos cerita aja ke saya biar pikiran bos lebih tenang!" jelas Fritzy.


Jeevan tersenyum tipis dan melepas paksa tangannya dari genggaman Fritzy, "Maaf Fritzy, saya gak bisa cerita ke kamu. Saya khawatir bikin kamu jadi ikut sedih," ucapnya sembari mencolek dagu sang wanita.


"Yaudah ya, saya mau masuk dulu ke kamar. Kamu urus aja semuanya selagi saya tenangin diri, jangan sampai ada yang ganggu saya!" sambungnya.


"Tapi bos, saya cuma pengen bantu bos. Saya tahu bos lagi ada masalah, lebih baik bos cerita sama saya sekarang!" bujuk Fritzy.


Jeevan menghela nafasnya dan mendekat ke arah Fritzy, ia menangkup wajah wanita itu sembari mengusapnya perlahan hingga membuat jantung Fritzy berdegup kencang. Wanita itu terdiam kaget seolah tak menyangka dengan apa yang dilakukan Jeevan padanya saat ini.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2