
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Kamu mesum banget
•
•
"Saya juga lapar seperti kamu, kebetulan kamu masak jadinya saya bisa sekalian makan bareng kamu. Boleh kan Fritzy?" ucap Jeevan.
"Ya boleh dong bos, masa iya saya tolak perintah bos saya sendiri? Bos mau makan apa? Biar sekalian saya masakin," ucap Fritzy sambil tersenyum.
"Gausah, samain aja sama kamu biar gampang. Saya juga apapun saya makan kok, asalkan itu makanan dan rasanya enak. Tapi karena saya tahu masakan kamu pasti enak, jadi saya gak perlu bilang untuk itu," ucap Jeevan.
"Ih bos bisa aja, yaudah saya masak dulu ya bos? Tapi, boleh gak tolong bos jangan terlalu dekat sama saya! Bukan gimana-gimana bos, geli aja gitu rasanya kena deru nafas bos," ucap Fritzy.
"Hahaha, lucu ya kamu Fritzy? Apa karena kamu lagi hamil jadi tambah lucu ya?" goda Jeevan.
"Maaf bos, saya lagi masak takut gosong. Kalau bos godain saya terus, nanti saya susah buat masaknya," ucap Fritzy.
"Gapapa, saya suka wangi tubuh kamu. Entahlah sepertinya saya mulai candu sama wangi kamu yang ini," ucap Jeevan seraya mengendus leher Fritzy.
"Mmhhh.." Fritzy tanpa sadar merasakan nikmat saat Jeevan melakukan itu, dan berhasil membuat Jeevan menyeringai di sela-sela kegiatannya.
"Kamu suka juga kan?" goda Jeevan.
Fritzy membuka matanya dan menoleh, tapi saat itu juga Jeevan memagut bibirnya dengan lembut sehingga membuat Fritzy terkejut bukan main. Tapi lambat laun, Fritzy menikmati juga apa yang dilakukan Jeevan padanya saat ini dan mulai membalas permainan bibir pria itu.
"Loh pak bos?" keduanya dikejutkan dengan suara seorang pria yang tiba-tiba terdengar.
Jeevan reflek mengakhiri ciumannya, ia menoleh ke asal suara dan menemukan Alden berdiri disana menatap bingung. Sontak Fritzy menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Jeevan, ia merasa malu dan tak bisa berbuat apa-apa saat melihat keberadaan Alden disana.
Sedangkan Alden sendiri mulai melangkah maju mendekati bosnya itu, ia sungguh penasaran apa yang terjadi sebenarnya antara Jeevan dengan Fritzy disana. Alden semakin curiga bahwa ada hubungan spesial diantara bos dan karyawan itu, sehingga ia pun tersenyum lebar saat ini.
"Ngapain kamu senyum-senyum kayak gitu? Ada yang lucu?" tanya Jeevan dengan nada ketus.
"Enggak bos, saya minta maaf. Tadi saya cuma kaget aja lihat bos sama Fritzy mesra-mesraan gitu, makanya saya reflek panggil pak bos," jawab Alden.
"Siapa yang mesra-mesraan? Saya cuma minta sama Fritzy buat masakin saya, soalnya saya lapar nih," ucap Jeevan.
"Ah pak bos pake ngelak segala, saya lihat sendiri kok tadi pas bos cium-cium Fritzy. Kalau emang benar, ya gapapa bos saya ikut senang kok," ucap Alden sambil terkekeh.
"Heh kamu diam ya Alden! Saya dan Fritzy gak ada apa-apa, jangan bikin berita yang enggak-enggak! Sudah sana kamu balik ke kamar!" sentak Jeevan.
"Maaf bos, tapi saya kesini tuh pengen minum. Abis itu iya deh saya tinggalin bos biar bos bisa berduaan lagi sama Fritzy," ucap Alden.
"Yaudah, cepetan kamu ambil minumnya dan pergi! Saya gak mau lama-lama kamu ada disini, ganggu aja!" kesal Jeevan.
"Iya iya bos.." Alden terus terkekeh kecil dan melangkah mengambil minuman, ia lalu pergi dari sana sambil sesekali melirik ke arah mereka.
Sementara Fritzy masih terlihat malu-malu, ia sampai mematikan sejenak kompor tadi saat Jeevan tiba-tiba mengecup bibirnya dan malah hampir kepergok oleh Alden. Untung saja Alden mau disuruh pergi dan tidak terlalu banyak tanya, Jeevan pun memilih menunggu di kursi agar tidak ada orang yang melihat mereka lagi.
•
•
Makanan yang dibuat Fritzy telah siap, wanita itu mengantarnya ke tempat Jeevan berada dan siap untuk menyantapnya bersama. Jeevan langsung tersenyum melihat Fritzy muncul, perutnya yang lapar membuat ia tidak sabar ingin segera memakan makanan tersebut.
"Mmhhh wanginya udah kecium dari jauh, pasti rasanya juga enak banget nih!" ujar Jeevan.
__ADS_1
"Bisa aja kamu bos," Fritzy tersenyum dan menaruh masakannya di atas meja seraya mempersilahkan Jeevan memakannya.
"Silahkan dimakan bos! Biar bisa ngilangin rasa lapar bos," ucap Fritzy.
"Iya Fritzy, yaudah ayo kamu ikut makan juga sini temani saya! Jangan bilang gak mau ya, atau saya hukum kamu nanti!" ucap Jeevan.
"I-i-iya bos, ini saya duduk kok," ucap Fritzy gugup.
Akhirnya Fritzy memilih ikut duduk di sebelah bosnya, meski ia masih merasa canggung karena apa yang mereka lakukan tadi di dapur. Berbeda dengan Jeevan yang malah tersenyum memandangi wajah wanita itu dari jarak dekat, ia raih juga satu tangan Fritzy dan menggenggamnya erat.
"Kamu gak perlu grogi gitu, saya kan gak gigit. Soal yang tadi saya minta maaf deh, saya jadi bikin kamu malu karena hampir kepergok sama si Alden," ucap Jeevan pelan.
"Iya bos, kamu gak perlu minta maaf kok. Aku emang gampang grogi aja," ucap Fritzy.
"Yasudah, mau saya suapin gak biar grogi kamu bisa hilang nanti?" ucap Jeevan menawarkan diri.
Fritzy terbelalak, "Hah? Gausah deh bos, saya bisa makan sendiri kok ini," ucapnya menolak.
"Beneran gapapa, biar anak yang di dalam kandungan kamu itu senang disuapin sama bapaknya. Saya kan mau jadi bapak yang baik tau, boleh ya?" bujuk Jeevan.
"Saya ngerti bos, tapi saya takut aja nanti Alden atau yang lain datang kesini dan mergokin kita lagi kayak tadi," ucap Fritzy.
"Kamu gak perlu takut gitu, saya yang akan urus mereka nanti kalau mereka emang muncul dan ganggu kita. Pokoknya saya akan bela kamu Fritzy," ucap Jeevan sambil tersenyum.
"Iya deh bos, saya ngikut apa kata bos aja," ucap Fritzy pasrah.
"Nah gitu dong, yaudah buka mulutnya biar saya bisa suapin kamu!" pinta Jeevan.
Fritzy pun menurut dan membuka mulutnya sesuai perintah sang bos, lalu dengan perlahan Jeevan memasukkan nasi serta lauk yang dibuat Fritzy itu ke dalam mulutnya. Jeevan tampak tersenyum puas, tak lupa ia juga mengusap bekas makanan yang menempel di dekat rahang wanita itu.
"Bos, saya jadi gak enak sama bos kalo gini. Gimana kalau saya ikut suapin bos juga? Biar kita sama-sama impas gitu bos," ucap Fritzy.
"Ah bos mah paling bisa!" ucap Fritzy malu-malu.
"Hahaha..." Jeevan tertawa dan mendekat sembari membuka mulutnya seperti bersiap menyambut suapan dari Fritzy.
Dengan senang hati Fritzy melakukannya, mereka berulang kali melakukan itu disertai iringan tawa kecil yang menandakan keceriaan di kedua manusia itu. Sudah lama Jeevan maupun Fritzy tak merasakan kebahagiaan seperti ini, keduanya pun tak mau kehilangan momen ini begitu saja.
•
•
Hari sudah pagi, Queen terbangun dan langsung dikejutkan dengan tempat dimana ia berada saat ini. Ya wanita itu sama sekali tak mengenali tempat yang ia tiduri ini, ia menatap sekeliling berusaha mencari tahu tetapi tak berhasil karena memang ia belum pernah datang kesana.
Sontak Queen panik, ia bergegas bangkit karena khawatir kalau ia sedang diculik oleh seseorang yang tak ia kenali. Queen juga mencoba mengingat kembali apa yang ia lakukan semalam, tapi entah kenapa rasanya sulit sekali dan Queen tidak dapat mengingat apapun di kepalanya.
Saat ini Queen juga makin dibuat terkejut karena mengetahui ia mengenakan baju tidur yang tidak pernah ia miliki, bahkan seingatnya semalam ia masih menggunakan pakaian yang sama saat ia pergi ke kampus. Ia pun semakin curiga kalau ia benar-benar diculik.
"Kurang ajar banget! Siapa nih yang berani culik gue kayak gini? Awas aja, gue bakal hajar tuh orang! Gak tahu aja dia gue ini siapa," geram Queen.
Disaat ia hendak berjalan ke luar kamar, tiba-tiba saja pintu lebih dulu terbuka dan membuat niat Queen batal terlaksana. Wanita itu mundur terlebih dulu untuk melihat siapa kiranya yang masuk kesana, dan betapa kagetnya ia saat sosok lelaki muncul lalu tersenyum menatapnya.
"Hah Fahrul??" Queen tersentak menyadari lelaki itu adalah Fahrul, temannya di kampus.
"Iya Queen, ini aku Fahrul. Kamu kenapa kelihatan panik kayak gitu sih? Emang kamu abis mimpi apaan semalam?" ujar Fahrul.
"A-aku tadi kaget aja karena tiba-tiba aku kebangun terus ada disini," ucap Queen gugup.
"Ohh, ya ampun Queen kamu gimana sih?! Masa kamu lupa kalau kamu sendiri semalam yang minta buat nginep disini?" ujar Fahrul.
__ADS_1
"Hah? Apa iya??" tanya Queen terkejut.
"Iyalah Queen, aku mana berani bawa kamu kesini tanpa seizin kamu. Beneran kok semalam kamu sendiri yang bilang gitu, katanya kan kamu sekalian mau tenangin diri," jawab Fahrul.
Queen terdiam sejenak mencoba mengingat momen semalam saat ia berbicara dengan Fahrul, dan benar saja kali ini ia ingat betul kalau semalam ia lah yang sengaja meminta pada Fahrul untuk membawanya kesana. Sungguh Queen amat merasa bersalah karena sudah sempat menuduh yang tidak-tidak pada Fahrul tadi.
"Oh iya ya, sorry banget Rul aku lupa kalau semalam aku emang minta tidur disini. Aku kira aku diculik loh tadi, tapi syukur deh karena ternyata aku aman dan ada di rumah kamu!" ucap Queen merasa lega.
"Iya Queen gapapa, aku mah wajar aja karena emang biasanya orang tuh gitu kalau suasana hatinya lagi gak tenang. Dia pasti jadi gampang lupa dan suka mikir yang enggak-enggak," ucap Fahrul tersenyum.
"Eee terus ini kenapa aku bisa pake baju tidur ya? Perasaan semalam aku gak pake ini," tanya Queen.
"Kamu lupa juga soal yang itu?" ujar Fahrul.
Queen mengangguk dengan polosnya, Fahrul langsung maju mendekat bersiap menjelaskan semuanya pada wanita itu. Ia menarik Queen ke ranjang dan duduk berdampingan disana, lelaki itu lalu mulai bercerita mengenai kejadian semalam yang membuat Queen harus berganti pakaian.
"Kamu tuh emang pelupa banget ya? Yaudah, sini deh aku ceritain semuanya supaya kamu ingat lagi!" ucap Fahrul sambil tersenyum.
•
•
Pagi hari ini, Lova tampak sedih karena ia ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya. Kini ia pun tinggal seorang diri di dalam rumah yang besar itu, sungguh ia sangat bosan dan bingung harus melakukan apa selain makan tidur serta menonton tv. Hampir setiap jam ia melakukan kegiatan seperti itu, contohnya kali ini ia tengah duduk di sofa sembari menikmati cemilan yang ia beli kemarin.
Tapi Lova dibuat tersenyum saat Arul sang bodyguard datang ke rumahnya sesuai perintah Lova, ya gadis itu sebelumnya sengaja meminta Arul datang kesana untuk menemaninya. Tentu saja Lova langsung bangkit dari duduknya bersiap menyambut Arul, sedangkan pria itu terlihat bingung dan gugup karena sikap Lova yang begitu agresif.
"Ah akhirnya kamu datang juga Arul, ayo sini duduk temenin aku ya biar aku gak kesepian!" ucap Lova.
"I-i-iya nona, tapi kenapa nona minta saya kesini ya? Kalau nona kesepian, harusnya nona hubungi teman-teman nona aja. Jujur saya tidak tahu harus gimana disini nona," ujar Arul.
"Gapapa Arul, aku maunya ditemenin kamu kok. Ayo ah kita duduk buruan!" ucap Lova dengan manja.
Arul mau tidak mau menurut saja, ia melangkah ke sofa bersama Lova dan duduk berdampingan disana dengan dua tangan saling bertaut. Lova tersenyum menatap wajah Arul, membuat pria itu gugup dan tidak tahu harus apa saat ini. Perasaan Arul benar-benar tak karuan dan kebingungan.
"Nona, tolong jangan seperti itu! Saya paling tidak bisa kalau ditatap sama wanita cantik, apalagi nona ini cantiknya luar biasa," ucap Arul.
"Terus kalau aku deketin kamu begini kenapa emangnya? Kamu mesum banget sih ih pikirannya, jangan gitu dong Arul aku kan cuma pengen minta ditemenin tau!" ucap Lova.
"Sa-saya gak mesum kok nona, tapi sebagai lelaki normal ya wajar aja kalau saya bereaksi pas nona sentuh saya," ucap Arul.
"Apanya? Masa cuma dipegang tangan sama wajahnya udah begitu sih? Kamu emang mesum banget ya Arul?" heran Lova.
"Enggak nona, saya minta maaf. Saya bukan lelaki yang seperti itu kok nona, beneran deh!" ucap Arul gugup.
"Serius? Kalau kamu pengen coba begituan sama aku, boleh-boleh aja kok Arul," goda Lova.
Glek
Arul terkejut bukan main, ia meneguk ludahnya secara kasar karena tak percaya dengan apa yang dikatakan Lova barusan. Matanya terus terbelalak menatap ke arah wajah nona nya, ada sedikit rasa senang dan berharap di dalam hatinya setelah mendengar kata-kata itu.
Tapi kemudian, Lova justru tertawa terbahak-bahak dan melepaskan genggamannya. Arul sungguh dibuat bingung tak karuan, ia benar-benar heran mengapa Lova tertawa sampai seperti itu. Arul yang kesal pun menggeser posisi duduknya lagi, lalu merangkul pundak Lova dengan erat.
"Hey, kenapa kamu ketawa nona? Apanya yang lucu coba? Asal kamu tahu, ucapan kamu barusan bikin saya berharap lebih dan kamu jangan kecewakan saya!" ucap Arul dingin.
"Hahaha, tuh kan bener kamu emang otak mesum. Nyesel aku godain kamu deh," kekeh Lova.
Lova menyingkirkan tangan Arul dari pundaknya, ia bangkit dan berjalan begitu saja menuju kamar. Namun, Arul juga mengikutinya dari belakang.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...