Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 82. Melamarnya


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Melamarnya




Queen malah membuang muka dan tidak meladeni pria itu lagi, ia juga meminta pada Jago untuk lanjut melajukan mobilnya dan pergi dari sana. Jago pun menurut, tetapi Tom juga masih kekeuh tidak mau pergi dan berusaha menghalangi mobil tersebut untuk melaju.


"Lu apa-apaan sih Tom? Minggir deh, jangan sampe kita tabrak lu!" geram Queen.


"Saya gak mau minggir Queen, sebelum kamu setuju buat bekerjasama dengan saya. Ayolah, hanya itu yang saya mau Queen!" pinta Tom.


"Hadeh, nyusahin banget sih lu!" kesal Queen.


"Nona, gimana ini? Apa saya tabrak aja dia? Soalnya saya juga kesal sama dia," tanya Jago.


"Hus ngaco aja lu! Gue gak mau masuk penjara karena membunuh orang, itu gak keren! Apalagi mau puasa, masa gue lebaran di penjara?" jawab Queen dengan sewot.


"Hehe iya nona, kirain saya nona gak bakal puasa," kekeh Jago.


Queen memutar bola matanya, lalu karena kesal ia pun turun dari mobil menghampiri Tom yang berdiri di depan mobilnya. Queen berusaha meminta Tom untuk menyingkir, namun pria itu masih saja kekeuh dan bertahan disana. Queen terbawa emosi dan menendang tulang kering pria itu dengan ujung sepatunya, Tom pun reflek meringis kesakitan sambil memegangi tulang keringnya yang terasa sakit.


"Awhh sakit banget! Kok kamu tendang saya sih? Saya kan cuma minta buat kerjasama, apa saya salah?" protes Tom.


Wanita itu hanya diam dengan kedua tangan terlipat, lalu tak lama kemudian seorang pria yang sangat ia benci justru muncul di hadapannya dan mendekati mereka. Sontak Queen merasa heran, ia tak menyangka bisa bertemu kembali dengan pria tersebut disana.


"Queen, kamu lagi apa disini? Kok bisa sama Tom? Kalian gak berbuat macam-macam kan di belakang aku? Ingat loh, kamu itu masih sah kekasih aku Queen," ucap Jeevan.


"Ih kamu ngapain sih tiba-tiba datang terus ngomong kayak gitu? Ngaco banget deh jadi orang, kita itu bukan siapa-siapa!" kesal Queen.

__ADS_1


Jeevan hanya tersenyum tipis memandang wajah wanitanya itu, "Kamu kalo lagi marah-marah begini tuh tambah lucu deh, aku jadi gak sabar buat nikahin kamu," ucapnya seraya mencolek pipi Queen dengan lembut.


"Ish, gausah sentuh-sentuh aku deh! Sana kamu pergi, sekalian nih kamu bawa asisten kamu yang nyebelin ini!" ketus Queen.


"Loh kenapa emang sama si Tom? Dia bikin kamu kesal? Yaudah, biar aku kasih pelajaran ke dia!" ucap Jeevan.


"Gausah, mending kamu pergi aja deh dari sini!" usir Queen.


"Kamu itu kenapa sih sering banget usir aku? Ayolah Queen, kasih aku kesempatan untuk buktiin ke kamu kalau aku masih cinta sama kamu!" ucap Jeevan memaksa.


"Iya aku percaya, tapi masalahnya aku udah gak ada rasa sama kamu Jeevan. Bahkan, dari dulu juga aku gak cinta sama kamu," ucap Queen.


Deg!


Jeevan sedikit syok mendengarnya, tapi ia coba menguatkan diri dan meraih satu tangan wanita itu. Perlahan Jeevan merendahkan posisinya dan berlutut di hadapan Queen dengan tangan saling menggenggam, pria itu mendongak menatap wajah Queen disertai senyuman yang membuat Queen amat penasaran.


"Kamu apa-apaan sih? Ngapain kamu pake kayak gini segala?" ujar Queen.


"Aku serius sama kamu, Queen. Aku cinta dan aku sayang sama kamu, aku pengen memiliki kamu seutuhnya!" ucap Jeevan dengan serius.


"Quennara Azwa Walters, dengan cincin ini saya mau kamu terima saya untuk jadi pendamping di hidup kamu. Apakah kamu bersedia sayang?" ucap Jeevan.


Queen menggeleng dengan mata berkaca-kaca, ia masih tak percaya akan dilamar oleh pria itu.




Ceklek


"Mas Erick!" keduanya sangat kaget ketika tiba-tiba seorang wanita masuk begitu saja ke dalam unit apartemen mereka dan menegurnya.

__ADS_1


Itu adalah Ariana, yang merupakan mantan dari Erick yang tentunya tinggal satu gedung dengan pria tersebut. Ariana tampak tak percaya melihat Erick duduk disana dengan seorang perempuan yang belum ia kenal sebelumnya, sontak saja Ariana bergegas menghampiri mereka.


"Mas, kamu apa-apaan? Siapa perempuan ini mas?" tanya Ariana.


Erick sontak beranjak dari sofa dan menatap ke arah Ariana dengan bingung, sedangkan Dinda juga tampak tak mengerti apa yang terjadi dan ia pun sangat bingung siapa perempuan yang baru datang tersebut dan terlihat emosi.


"Riana, kamu kenapa masuk apartemen aku gak pake ketuk pintu dulu? Kamu gak punya hak disini Riana!" kesal Erick.


"Aku gak sengaja mas, tadi aku lihat pintu kamu gak kekunci jadi aku buka aja. Aku juga gak tahu kalau kamu lagi sama cewek lain disini, siapa lagi dia mas? Partner ranjang baru kamu?" ujar Ariana.


"Kamu salah paham Riana, dia ini calon istri aku alias pengganti kamu!" ucap Erick.


Ariana terkejut mendengarnya, begitupun dengan Dinda yang tak menyangka jika Erick akan berkata demikian. Sebenarnya Dinda mau-mau saja menikah dengan Erick, namun ia masih belum yakin jika Erick benar-benar akan menikahinya yang hanya wanita kotor ini.


"Apa? Kamu mau menikah lagi mas? Lalu kenapa kemarin-kemarin kamu minta jatah dari aku? Aku pikir kamu udah berubah mas, ternyata kamu sama aja!" sentak Ariana.


"Bukan aku yang minta Riana, tapi kamu sendiri yang menawarkan tubuh kamu untuk aku sentuh. Jadi, tolong jangan playing victim di depan aku sekarang!" ujar Erick.


"Kamu benar-benar keterlaluan mas, tega ya kamu mempermainkan perasaan aku! Kamu jahat mas!" kesal Ariana.


"Aku gak pernah kasih kamu harapan Riana, kamu aja yang terlalu berharap dan pengen balikan sama aku," ucap Erick.


Ariana menggeleng tak percaya, "Aku kecewa sama kamu mas! Aku benci! Dan kamu wanita murahan, awas ya aku bakal bikin hidup kamu menderita!" ucapnya.


"Aku gak akan biarin kamu menyakiti perempuan yang aku sayangi, Riana!" tegas Erick.


Ariana yang sudah tak kuat pun memilih pergi dari sana dengan air mata menggenang, ia sangat kecewa karena telah dicampakkan begitu saja oleh sang mantan yang sempat memberi harapan dengan mau tidur bersamanya. Namun, Erick tampak tak perduli dengan kelakuan mantan istrinya tersebut. Erick malah merangkul pundak Dinda kembali dan mengusapnya lembut.


"Kamu gak perlu mikirin dia ya sayang, dia itu cuma masa lalu saya. Sekarang ayo kita ke kamar!" ucap Erick pelan.


Dinda mengangguk saja menuruti kata-kata pria itu, setelahnya mereka pun melangkah menuju kamar disana dan masuk bersama-sama. Erick mengunci pintu rapat-rapat, ia tak mau ada peristiwa lagi yang bisa menggangu momen romantisnya dengan sang wanita.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2