Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 33. Pertarungan di rumah sakit


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Ke rumah sakit




Queen menemui Dinda yang masih berbaring lemas di ranjangnya, gadis itu perlahan mendekati Dinda bersama Aulia di sebelahnya. Jujur ia tak tega melihat kondisi Dinda saat ini, apalagi gadis itu benar-benar melamun dengan tatapan kosong sampai tak menyadari keberadaan mereka disana.


"Dinda!" barulah saat Queen memanggil namanya, gadis itu menoleh dan tersenyum tipis sembari berusaha bangkit dari tidurnya.


"Eh udah udah, gapapa lu tiduran aja Dinda kalau emang masih lemas. Kita kesini cuma buat hibur lu sama lihat kondisi lu kok, santai aja ya?" ucap Queen menahan Dinda yang hendak bangkit.


"Thanks Queen, lu udah mau perduli sama gue dan bantuin gue!" ucap Dinda.


"Sama-sama," singkat Queen.


"Ehem ehem, Queen doang nih yang dibilang makasih? Gue enggak? Padahal Queen datang kesini juga sama gue," cibir Aulia.


Dinda tersenyum tipis, "Ahaha, iya Aul makasih juga ya udah mau datang jenguk gue!" ucapnya.


"Nah gitu dong, kan enak didengarnya. Jadi, gue gak merasa iri gitu sama Queen," ucap Aulia.


"Hehe, gue bercanda tadi Aul. Terus kalian kok cuma berdua sih? Lova sama Nina kemana?" ucap Dinda keheranan.


"Mereka nunggu di luar, lagian mereka katanya tadi udah lihat kondisi lu kan. Sekarang biar kita aja yang jengukin lu," ucap Queen.


"Iya," lirih Dinda.


"Eee sorry ya Din, tapi beneran lu sekarang lagi hamil?" tanya Queen dengan hati-hati.


Dinda merengut sambil menganggukkan kepalanya, "Benar Queen, gue juga gak nyangka ini terjadi ke gue. Padahal gue sebelumnya gak berharap kalau gue hamil loh," jawabnya.


"Lo yang sabar ya! Gue yakin pasti bakal ada jalan keluarnya dari setiap masalah yang kita alami, gue sama yang lain juga bakal bantu lu kok!" ucap Queen.


"Betul itu Din, intinya lu jangan merasa sendiri karena kita semua ada disini buat lu!" sahut Aulia.


"Makasih guys, kalian emang sahabat terbaik gue!" ucap Dinda sambil tersenyum.


"Oh ya, lu udah tahu anak yang lu kandung ini anak siapa?" tanya Queen.


"Pasti anaknya Tom, karena gue cuma pernah main sama dia. Waktu itu mister Erick juga pengen ajak gue main sih, tapi gue gak mau," jawab Dinda.


"Berarti udah fix ini anaknya si Tom? Terus apa lu bakal kasih tau ke dia soal ini?" tanya Queen.


"Gue belum kepikiran Queen, gue masih kecewa juga sama dia," jawab Dinda.


"Menurut gue sih gausah, biar kita-kita aja yang jaga lu sama calon bayi lu itu," ucap Aulia.


"Makasih banget ya guys, aku gak tahu harus gimana lagi buat balas kebaikan kalian. Disaat aku gak ada di dekat keluargaku, aku masih punya kalian yang selalu ada buat aku," ucap Dinda.


"Ah gak perlu makasih segala Din, kita bakal selalu setia kok buat nemenin lu. Udah ya lu jangan sedih lagi sekarang!" ucap Queen.


Queen dan juga Aulia mendekat, kemudian memeluk Dinda dengan erat. Mereka turut menenangkan gadis itu agar tidak terus bersedih, apalagi kondisinya saat ini Dinda sedang hamil sehingga mereka tak ingin hal itu memengaruhi kondisi bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Sekarang lu istirahat aja dulu! Baru kalau dokter udah izinin lu buat pulang, kita bakal antar lu ke rumah gue," ucap Queen.


"Iya Queen, tapi ini kondisi gue juga udah gak kayak tadi kok," ucap Dinda tersenyum.


"Ya syukurlah, cuma tetap aja lu harus istirahat dulu. Yaudah, gue mau ke depan dulu ya?" ucap Queen.


Dinda mengangguk pelan, lalu Queen serta Aulia pergi dari sana.




Sementara itu, Jeevan serta Alden telah tiba di rumah sakit tempat Dinda dirawat. Mereka datang hanya berdua, sebab Jeevan tak ingin pihak rumah sakit mengusirnya jika ia datang bersama pasukannya yang cukup banyak. Meski begitu, Jeevan ia yakin ia pasti bisa membujuk Queen untuk kembali bersamanya kali ini.


"Pak, biar saya yang coba tanya ke resepsionis dimana tempat nona Queen berada," ucap Alden meminta izin pada bosnya.

__ADS_1


"Baiklah, silahkan kamu tanya dimana Queen sekarang!" suruh Jeevan.


Alden mengangguk, kemudian menuju meja resepsionis dan menanyakan dimana tempat Dinda dirawat. Setelah berhasil mendapat info, Alden pun kembali menemui Jeevan disana. Ia memberitahu pada bosnya dimana tempat Dinda saat ini, tentu saja Jeevan langsung tersenyum lebar.


Tanpa menunggu lama lagi, Jeevan langsung mengajak Alden untuk pergi menuju ruangan itu. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Queen dan meminta gadis itu ikut bersamanya, ia rindu sekali dengan wanita itu walau Queen sudah tidak mau ikut dengannya.


Sesampainya disana, Jeevan tersenyum lebar ketika melihat Queen yang baru keluar dari dalam ruangan. Ia dan juga Alden pun bergerak cepat menghampiri wanita itu, tentunya tanpa sepengetahuan Queen sebab Jeevan memang datang kesana setelah mendapat info dari Tom.


"Queen!" Jeevan menyapa wanitanya, sang pemilik nama pun menoleh dan langsung terkejut bukan main ketika melihat keberadaan Jeevan di depannya.


Queen berkata dengan wajah masamnya, "Lo mau ngapain lagi sih kesini, ha? Belum puas lu bikin hidup gue hancur? Sekarang lu mau hancurin gue lagi, iya?" tanyanya ketus.


"Apaan sih Queen? Saya mana pernah nyakitin kamu? Saya ini cinta mati sama kamu, jadi saya akan selalu berusaha untuk bikin kamu bahagia. Ayolah Queen, kembali bersama saya dan tinggal di rumah saya!" bujuk Jeevan.


"Gue ogah! Gue mendingan tinggal sendiri daripada sama lu, karena lu itu cuma cinta sama tubuh gue Jeevan!" sentak Queen.


"Itu gak benar sayang, rasa cinta saya ke kamu ini tulus dan bukan main-main!" ujar Jeevan.


"Halah bullshit! Gue udah gak percaya lagi sama lu, sekarang mending lu pergi atau gue suruh security buat usir lu dari sini!" ancam Queen.


"Saya gak akan pergi tanpa kamu Queen, jadi tolong kamu ikut sama saya ya!" pinta Jeevan.


Lova yang tak tahan lagi dengan sikap Jeevan, bergerak maju mendekati pria itu dan mendorongnya menjauh dari Queen. Kelakuan Lova itu sontak membuat Arul terkejut, sebagai bodyguard tentu saja Arul langsung sigap mengikuti kemana nona nya pergi.


"Heh! Lu itu paham bahasa Indonesia gak sih? Kalo sohib gue bilang enggak, ya enggak. Lu jangan paksa Queen kayak gitu dong Jeevan!" sentak Lova.


"Hey, kamu tidak usah ikut campur! Ini urusan saya sama Queen, kamu gak berhak buat larang saya untuk bawa pergi Queen!" ujar Jeevan.


"Ya jelas gue berhak ikut campur, Queen itu sahabat gue dan gue bakal berdiri paling depan buat jaga dia dari orang kayak lu!" ucap Lova.


"Bukan cuma dia, tapi gue juga." Aulia yang berada di samping Queen pun ikut membela wanita itu.


"Gue juga," sahut Nina yang berjalan dari arah belakang dan berdiri bersama teman-temannya.


Jeevan pun terdiam, bukan karena takut tapi lebih ke arah ia tidak ingin menyakiti wanita. Lagipun, niatnya hanyalah membawa Queen pergi bukan melukai gadis-gadis itu. Namun, sepertinya hal itu akan sangat sulit terlaksana sebab Queen mendapat perlindungan cukup banyak dari orang-orang disana.


"Kalian tolong jangan bikin saya emosi ya! Saya bisa loh bawa kalian semua ke markas saya seperti dulu lagi, apa kalian mau?" ancam Jeevan.


"Hahaha, gak semudah itu lu bawa kita Jeevan. Lu pikir kita bakal diam aja gitu? Enggak!" ujar Lova.


"Udah deh, mending kalian semua nyerah aja! Jangan sampe bos saya ini marah sekarang, kalian gak mau kan terluka hari ini?" ucap Alden.


"Cih, kita gak takut sama lu apalagi bos lu! Ayo maju aja kalo emang berani!" tantang Lova.


Alden yang emosi, berniat maju dan memukul Lova karena ucapannya. Namun, Jeevan menahannya karena tidak ingin Alden melukai wanita. Sedangkan Arul sang penjaga juga reflek maju melindungi Lova saat Alden hendak menyerang wanita itu, sontak apa yang dilakukan Arul membuat Lova senyum-senyum sendiri.


"Jangan bikin saya emosi ya!" geram Alden.


"Anda sebaiknya jangan pernah berani sentuh nona Lova! Atau anda akan berhadapan dengan saya!" ucap Arul dengan tegas.


Alden terkekeh kecil, "Hahaha, kamu pikir saya takut? Kalau kamu memang bisa melindungi dia, ayo maju dan hadapi saya!" ucapnya.


"Al, ini rumah sakit. Kamu gak bisa ngajak ribut orang disini," bisik Jeevan di telinga Alden.


"Iya bos, maaf saya terbawa suasana. Abisnya mereka ini sulit sekali diajak secara baik-baik, padahal bos kan gak mau nyakitin mereka," ujar Alden.


"Kita bisa bertarung di luar," sela Arul tiba-tiba.


Sontak mereka semua menoleh ke arah Arul, seolah tak percaya jika pria itu berani menantang Alden dan juga Jeevan. Alden yang merasa tertantang, tentu saja tidak menolak dan malah mengiyakan ucapan Arul tadi. Ditambah saat ini Alden memang sedang emosi.


"Ohh, kamu nantangin saya? Baiklah, ayo kita bertarung di luar dan buktikan siapa yang terbaik!" balas Alden.


Arul hanya mengangguk pelan, Alden tampak berbalik setelah mendapat izin dari Jeevan dan pergi begitu saja keluar dari gedung tersebut. Lova sempat menahan Arul dengan memegang tangan pria itu, tapi Arul berhasil meyakinkannya sehingga akhirnya Lova membiarkan pria itu pergi.


"Cie, kayaknya lu khawatir banget sama bodyguard lu. Waktu itu aja lu ngomel-ngomel pas dia pertama kali kerja buat lu," cibir Aulia.


"Diem lu Aul! Gue tuh cuma takut dia kalah, nanti yang ada Jeevan bisa bebas bawa Queen pergi. Bukannya gue khawatir dia kenapa-napa, gausah sok tahu deh!" elak Lova.


"Biasa aja kali, kalaupun bodyguard lu itu kalah gue gak bakal semudah itu dibawa pergi sama Jeevan. Gue bisa kok kalahin tuh cowok," ucap Queen.


"Lo yakin? Terus kenapa waktu itu lu gak ngelawan pas Jeevan bawa lu pergi?" tanya Lova.

__ADS_1


"Itu dulu Lova, gue masih belum bisa bela diri seperti sekarang. Makanya gue gak berani lawan dia waktu itu," jawab Queen.


"Ohh, yaudah kita lihat ke depan yuk! Gue pengen tahu sejago apa sih si Arul, sampe dia berani tantangin Jeevan sama anak buahnya," ajak Lova.


"Cie, pengen tahu apa khawatir? Cie cie Lova cie," Aulia terus menggoda sohibnya itu.


"Apaan sih? Jangan bikin gue emosi deh ya!" kesal Lova mencebikkan bibirnya.


Karena kesal, Lova pun memilih pergi saja dari tempat teman-temannya berada saat ini. Ia melangkah ke luar menyusul Arul serta Jeevan dan Alden, sedangkan yang lainnya masih berdiam di tempat menertawakan tingkah Lova.




Sementara itu, Arul dan Alden telah memulai pertarungan mereka. Kedua pria itu bertarung di area parkir rumah sakit yang sebenarnya cukup ramai, ada security juga yang berjaga disana, namun sudah diminta oleh Jeevan untuk diam dan tidak ikut campur.


Tak lama kemudian, Lova datang dan menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana Arul tengah bertarung melawan Alden. Ia sungguh khawatir, tak dapat dipungkiri bahwa ia tidak ingin Arul terluka akibat pertarungan itu. Meski ia selalu saja menampik jika ia mengkhawatirkan Arul.


"Duh, ayo dong Arul lu pasti bisa! Kalahin tuh orang biar mereka bisa cepat-cepat pergi dari sini!" ucap Lova bergumam kecil.


Dari jauh, Aulia dan yang lainnya tersenyum saja melihat kekhawatiran di wajah Lova. Mereka dapat mengetahui jika gadis itu sangat khawatir pada Arul, namun Lova terus saja tidak mau mengakuinya. Mereka pun berjalan mendekati Lova dan membuat gadis itu terkejut.


"Heh Lova! Cie, katanya gak khawatir. Tapi, kok ini mukanya tegang banget gitu?" goda Aulia.


"Aul, please stop ya! Mending lu bantu gue doain Arul supaya menang!" ujar Lova.


"Hahaha, iya iya gue sama yang lain mah udah pasti dukung Arul kok. Mana mungkin kita dukung si Jeevan, ya kan guys?" ucap Aulia.


"Iya Lova, lu gausah khawatir gitu. Gue yakin kok si Arul pasti bisa menang lawan Alden," sahut Queen.


"Kenapa lu bisa seyakin itu? Kalau dilihat-lihat, si Arul kayaknya kalah deh dibanding Alden. Tuh buktinya dia kewalahan ngadepin Alden!" ucap Lova.


"Jangan dilihat dari sekarang, Lova! Mungkin Arul sengaja ngulur waktu, supaya Alden kecapekan dan tinggal dihajar di akhir," ucap Queen.


"Ih sok tahu banget deh, kalau emang Arul kalah gimana?" ucap Lova.


Bruuukkk


Benar saja dugaan Queen, kini Arul berhasil menumbangkan Alden dan membuat pria itu tersungkur ke jalan. Sontak Lova terkejut, tapi tentunya ia senang melihat itu. Begitupun dengan Queen dan yang lainnya, mereka semua seakan bersorak ketika Arul menang melawan Alden.


"Nah kan, gue bilang juga apa. Lo gak percaya sih kalau Arul tuh bakal menang, lihat sendiri kan gimana sekarang!" ucap Queen bangga.


"Hehe, iya lu bener Queen. Gue senang banget Arul bisa menang lawan Alden, tapi gimana ya kalau dia lawan Jeevan? Gue agak ragu deh, soalnya kan Jeevan itu kuat banget," ujar Lova.


"Kita lihat aja, belum tentu kan Jeevan bakal tarung juga sama Arul," ucap Queen.


Lova mengangguk, mereka pun kembali menatap ke depan menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya. Kali ini Jeevan terlihat sudah berada di depan Arul, ia mengarahkan pandangan ke wajah Alden yang masih tergeletak disana sembari memegangi punggungnya yang kesakitan.


"Kamu payah sekali Alden! Bisa-bisanya kamu kalah melawan dia, padahal kamu itu kaki tangan saya. Apa saya harus berpikir ulang untuk menjadikan kamu asisten?" geram Jeevan.


"Ma-maaf bos, saya juga gak nyangka. Ternyata dia lumayan kuat bos," ucap Alden meringis.


"Cih, kamu saja yang lemah dasar bodoh!" umpat Jeevan tampak sangat kesal.


"Sudahlah, tidak perlu menyalahkan anak buah kamu karena kalah. Lebih baik sekarang kamu maju dan lawan saya!" ucap Arul menantang Jeevan.


Mendengar itu, tentu saja amarah Jeevan langsung memuncak. Ia menatap tajam ke arah Arul sebelum bergerak cepat mendekati pria itu, pertarungan pun kembali terjadi disana, Jeevan menyerang dengan membabi buta sehingga membuat Arul kesulitan menahannya.


Berbagai pukulan serta tendangan dilayangkan Jeevan pada tubuh Arul, namun masih dapat ditangkis oleh pria itu. Lambat laun, pertahanan Arul runtuh dan berhasil membuat Jeevan menumbangkan pria itu. Arul terjatuh dengan tangan memegangi perutnya.


"Sekarang kamu masih mau sombong, ha? Jangan harap kamu bisa melawan saya!" ujar Jeevan.


Disaat Jeevan hendak memukul Arul kembali, tiba-tiba saja tangannya dicekal dari belakang oleh seseorang. Jeevan menoleh dan reflek mendorong orang tersebut, matanya terbelalak ketika melihat Tom berdiri disana.


"Kamu lagi kamu lagi, memang dasar pengkhianat! Sekarang kamu ingin melawan mantan bos kamu sendiri gitu?" ucap Jeevan geleng-geleng.


"Ya pak, tidak adil rasanya jika anda bertarung dengan orang yang sudah lelah. Lebih baik anda melawan saya saja, sekalian saya ingin meluapkan emosi saya!" ucap Tom.


"Kamu benar-benar keterlaluan!" Jeevan bertambah emosi dan langsung menyerang Tom.


Pertarungan ini berlangsung sengit, keempat wanita yang menonton dari pinggir tampak berharap-harap cemas. Tom terkena pukulan, tetapi Arul bangkit kembali dan ikut membantu Tom menyerang Jeevan. Ya kini Jeevan harus menghadapi dua orang sekaligus disana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2