Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 39. Debaran aneh


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Debaran aneh




Aqila mengangguk perlahan, lalu Jago pun mulai berbalik dan pergi menemui Queen di dalam sana. Jago mengatakan pada Queen bahwa ada seorang wanita yang datang ingin bertemu dengannya di luar, sontak Queen merasa penasaran siapa yang datang ke rumahnya saat ini.


Tanpa berpikir panjang, Queen segera melangkah ke luar untuk mencari tahu siapa yang datang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Aqila tengah berdiri di depan pagar sambil tersenyum tipis, ya Aqila telah melihat lebih dulu keberadaan Queen yang baru muncul itu.


Queen pun menghampiri wanita yang merupakan ibu dari Jeevan itu, ia memandang tak suka ke arahnya sebab Queen masih ingat betul betapa Aqila merendahkannya dulu. Sedangkan Aqila hanya tersenyum dengan kedua tangan dilipat di depan.


"Mau apa tante datang kesini? Tahu darimana rumah aku? Oh ya, pasti dari anak tante yang gak tahu diri itu ya?" ucap Queen dengan ketus.


"Jaga bicara kamu ya! Kamu yang gak tahu diri, bukan anak saya!" sentak Aqila.


Queen tersenyum miring sembari menggelengkan kepala, Aqila pun dibuat makin emosi dengan tingkah gadis itu.


"Maaf ya tante, tapi yang aku bilang itu benar kok. Anak tante itu terus-terusan maksa aku buat ikut sama dia, padahal udah berulang kali aku usir dia dan tolak dia. Mendingan tante kasih tau dia deh buat lupain aku," ucap Queen.


"Justru itu, saya kesini karena saya gak mau Jeevan terus-terusan mikirin kamu. Sebaiknya kamu segera pergi dari sana, cari tempat tinggal yang jauh dari Jeevan!" ujar Aqila.


"Kenapa harus aku tante? Kenapa gak Jeevan aja yang tante suruh pergi dari aku?" tanya Queen.


"Kamu gausah banyak protes, cepat aja kamu nurut dan pergi dari tempat ini! Saya minta kamu sudah pergi sebelum Jeevan datang lagi kesini," ucap Aqila.


"Gak bisa tante, aku bakal tetap tinggal disini karena ini rumah aku. Kalau tante mau, ya tante suruh Jeevan jauhi aku," ucap Queen.


"Kamu itu keras kepala sekali ya?" kesal Aqila.

__ADS_1


Queen kembali menggeleng dengan senyum tipisnya, ia berbalik dan berniat untuk pergi, tetapi Aqila menahannya dari belakang.


"Tunggu Queen!" teriak Aqila.


"Ada apa lagi sih tante? Aku udah gak mau ya bicarain tentang Jeevan lagi," kesal Queen.


"Sebelum kamu janji kalau kamu akan pergi dari sana, saya gak akan biarin kamu hidup tenang!" tegas Aqila.


"Tante ini punya masalah apa sih sama aku? Ini rumah aku loh, masa tante usir aku?" heran Queen.


"Saya tahu ini rumah kamu, tapi saya cuma minta kamu buat tinggal yang jauh dari Jeevan. Saya gak mau ya kamu terus-terusan ganggu hidup anak saya, dia udah mau menikah loh," ujar Aqila.


"Eh tante, yang ganggu itu bukan saya, tapi justru anak tante itu yang selalu aja ganggu saya disini," ucap Queen.


"Udah deh kamu gausah banyak omong! Kamu nurut aja sama saya dan pindah yang jauh! Lagian sebelumnya kan saya udah bilang, kamu jauhi anak saya. Kenapa kamu malah cuma pindah kesini?" ucap Aqila.


"Ya mau gimana lagi tante? Emang cuma ini rumah yang saya punya, supaya saya bisa kontrol bisnis papa saya," ucap Queen.


"Sekarang saya gak mau tau, kamu harus pergi yang jauh atau saya akan bikin hidup kamu menderita Queen!" ancam Aqila.


Aqila menggeram kesal, tubuhnya bergetar menahan emosi disertai kedua tangan yang sudah terkepal. Sedangkan Queen hanya bersikap seperti biasa dan tidak terpancing sama sekali.




Esok harinya, kelompok Victor melakukan pemantauan di area sekitar kampus yang cukup luas. Mereka berniat untuk merampas beberapa barang yang penting dari dalam sana, seperti komputer dan yang lainnya. Ini adalah ide Danish, katanya ia bosan jika terus merampok bank.


Mereka masih terus berada di dalam mobil, berdiskusi mengenai rencana yang akan mereka lakukan untuk bisa menyusup masuk ke dalam sana. Tentu bukan hal yang mudah, sebab kampus tersebut penuh dengan orang termasuk para mahasiswa yang berkeliaran.


Setelah mereka mendapatkan ide, akhirnya seperti biasa Victor dan Danish akan turun lebih dulu untuk masuk ke dalam sana. Sedangkan Ellia menjalankan tugasnya, yakni menunggu di mobil sambil berjaga-jaga dan mengabarkan jika terjadi sesuatu yang berbahaya bagi kedua pria itu.

__ADS_1


Semuanya berjalan sesuai rencana, Victor dengan lihainya berhasil mengambil beberapa aset milik kampus dan memasukannya ke dalam karung, begitupun dengan Danish. Namun, tanpa diduga mereka justru ketahuan oleh penjaga yang kebetulan baru keluar dari toilet.


"Heh! Kalian siapa? Maling ya?" tegur si penjaga sembari mengacungkan tongkatnya.


Sontak Victor serta Danish pun panik, mereka kebingungan sampai terdiam selama beberapa saat disana.


"Vic, gimana nih?" tanya Danish berbisik.


"Cabut!" Victor langsung saja berlari, diikuti Danish dari belakangnya.


"Hey berhenti!" penjaga itu berteriak sambil juga menghubungi rekan-rekannya.


Kedua pria itu terus berlari ke arah luar kampus melewati jalan belakang yang sepi dari para mahasiswa, tapi sangking paniknya Victor malah menabrak Aulia yang memang hendak bersantai di taman belakang kampus.


Bruuukkk


Karena Aulia hampir terjatuh, Victor pun reflek menangkap tubuh gadis itu dan memeluknya. Mereka sempat bertatapan selama beberapa detik, sebelum akhirnya Victor sadar dan melepas pelukannya karena tak ingin satpam tadi dapat mengejarnya.


Sementara Danish yang berlari lebih dulu belum menyadari bahwa Victor tertinggal di belakang, Danish hanya memikirkan keselamatannya karena ia tidak ingin tertangkap seperti bang Igor alias orang yang selama ini mengajarkan pada mereka untuk menjadi seorang penjahat senjati.


"Hey, lu gapapa kan? Sorry ya, gue tadi gak sengaja tabrak lu," ucap Victor pada Aulia.


Gadis itu masih terdiam kaku, entah mengapa ia merasakan debaran aneh di dalam dirinya saat bertatapan dengan Victor. Begitu juga dengan Victor, lelaki itu seperti merasa tak asing dengan tatapan mata Aulia meski mereka baru pertama kali bertemu.


"Woi berhenti! Jangan lari!" suara teriakan satpam itu membuyarkan semuanya, Victor langsung panik dan berniat pergi.


"Gawat!" umpatnya pelan, kemudian ia berlari dengan sekencang mungkin.


Aulia yang tak mengerti, hanya diam memandang ke arah Victor yang sudah menjauh. Tak lama, ia juga melihat gerombolan satpam berlarian mengejar lelaki tersebut. Aulia pun mengira kalau lelaki yang tadi menabraknya adalah penjahat, dengan cepat ia langsung menepis jauh-jauh pikirannya tentang Victor.


"Ish, gue kenapa sih? Dia tuh orang jahat, gue harusnya gak mikirin dia! Ya tapi gue heran sih, kok gue ngerasa kayak pernah ketemu sama tuh cowok ya? Cuma gue gak ingat dimana," gumam Aulia sambil menggaruk kepalanya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2