Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 14. Getaran cinta


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Getaran Cinta




Dinda masih terus terbayang wajah kesal Erick di kepalanya, sejak kemarin ia memang sulit untuk mengusir Erick dari pikirannya sebab ia sangat khawatir jika Erick akan datang dan membawanya secara paksa dari rumah itu. Dinda sungguh tidak ingin semua itu terjadi.


Sampai saat ini semuanya memang aman, Dinda masih bisa bersantai selama tinggal di rumah Tom tanpa ada gangguan apapun. Namun, tetap saja perasaannya tidak tenang jika ia belum mendapat kabar mengenai Erick. Entah pria itu sedang terluka lah atau sedang bangkrut sehingga tak akan bisa mengejarnya sampai kesana.


"Hey Dinda!" Tom datang menyapa gadis itu, lalu menaruh tangannya di bahu terbuka sang kekasih.


Dinda terkejut kemudian menoleh, "Eh Tom, maaf ya aku tadi lagi ngelamun," ucapnya.


"Gapapa, tapi emang kamu ngelamunin apa sayang? Mister Erick?" tanya Tom coba menebak.


Dinda menjawab dengan anggukan, Tom yang melihatnya mulai merasa geram sebab Dinda selalu saja seperti ini. Padahal Tom sudah mengatakan pada Dinda jika dia aman, tetapi sepertinya Dinda masih belum percaya seratus persen dan malah terus kepikiran.


"Harus berapa kali sih aku bilang sama kamu? Mister Erick yang bodoh itu gak akan mungkin datang kesini dan bawa kamu, kalau emang itu terjadi maka aku bakal lindungi kamu!" ujar Tom.


"Aku percaya sama kamu Tom, tapi disini masalahnya aku khawatir kalau Erick akan nekat bawa seluruh pasukannya dan mengitari kota demi mencari aku," ucap Dinda.


"Pikiran kamu terlalu berlebihan, aku yakin dia gak mungkin sampai segitunya. Mengerahkan seluruh pasukannya untuk datang ke Indonesia, itu adalah sebuah keputusan yang gila. Erick bisa saja bangkrut kalau melakukan itu," ucap Tom.


"Kamu gak tahu Tom, mister Erick itu orang kaya dan hartanya gak akan habis sampai tujuh turunan," ucap Dinda.


"Dia emang kaya, tapi dia gak sepintar yang kamu kira Dinda," ucap Tom.


"Kenapa kamu bisa berpikir begitu? Kalau misal ternyata dia malah datang kesini gimana?" tanya Dinda dengan cemas.


Tom tersenyum, kemudian memeluk Dinda dengan erat. Wanita itu sontak terkejut saat tubuhnya dipeluk secara tiba-tiba oleh Tom, tapi ia tak berontak dan malah menikmati pelukan itu. Dinda juga merasakan hawa aneh saat ini, mungkinkah ini yang disebut dengan getaran cinta?


"Gak perlu cemas sayang, jika memang dia datang kesini, pasti aku akan langsung usir dia dan aku akan selalu lindungi kamu!" ucap Tom.

__ADS_1


Dinda mengangguk saja, meski sebenarnya ia masih belum bisa tenang karena selalu memikirkan Erick. Tapi setidaknya berada dalam pelukan Tom membuat dirinya merasa nyaman.




Lova kini berniat pergi dengan kedua temannya setelah kuliahnya selesai, tapi Arul sang bodyguard seolah tak membiarkan dirinya pergi begitu saja tanpa pengawalan darinya. Hal itu membuat Lova sangat geram, ia benar-benar kesal dengan sikap Arul yang pemaksa dan tidak bisa diatur.


"Ish, lu ngapain sih ngikutin kita terus? Lu pulang aja sana jangan ganggu kita! Gue tuh pengen main sama teman-teman gue, gak enak lah kalau ada lu juga!" kesal Lova.


"Maaf nona, saya hanya melaksanakan tugas. Saya tidak bisa meninggalkan nona begitu saja, karena tugas saya belum selesai," ucap Arul.


"Haish, tugas tugas tugas. Daritadi itu mulu yang lu omongin, gue heran deh sama lu. Kenapa lu bisa patuh banget sih sama bokap gue? Udah deh lu pergi aja sana, nanti gue bisa balik bareng teman-teman gue kok!" ujar Lova.


"Tetap tidak bisa nona, biar saya yang mengantar nona jika nona ingin pergi dengan teman-teman nona," ucap Arul.


"Lo minta dihajar ya?" geram Lova.


Gadis itu mendekat sembari mengambil ancang-ancang untuk menyerang Arul, dengan sigap ia melakukannya dan melayangkan sebuah pukulan, tapi Arul tak kalah sigapnya dan langsung berhasil menahan tangan Lova bahkan memutarnya ke belakang.


"Saya cuma membela diri, kan tadi nona mau serang saya," ucap Arul santai.


"Ih ya harusnya lu jangan ngelawan dong! Bodyguard macam apa sih lu? Lepasin tangan gue, sakit ah!" kesal Lova.


"Baik nona," Arul akhirnya melepaskan tangan Lova dan tampak gadis itu langsung memegangi tangannya yang memerah.


"Akh, lihat nih jadi merah gara-gara lu! Gue bakal laporin lu ke papa," ancam Lova.


"Tuan pasti sudah tahu kejadian sebenarnya, sebab di sekitar kita ada kamera pengintai nona. Jadi, nona tidak perlu repot-repot," ucap Arul.


"Hah??" Lova terbelalak kaget.



__ADS_1


Jeevan pulang ke rumah orangtuanya, ia dibuat terkejut ketika melihat Caitlyn baru keluar dari rumahnya bersama Aqila sang mama. Kini ia tahu alasan Aqila memintanya pulang kesana, sebab ada Caitlyn yang pastinya Aqila ingin mereka bertemu disana.


Begitu melihat putranya datang, Aqila langsung saja mengajak Aqila mendekati Jeevan sambil tersenyum renyah. Jeevan sungguh malas, namun ia terpaksa meladeni keinginan mamanya karena sudah terlanjur juga ia datang kesana. Meski tentunya ia sulit menerima Caitlyn.


"Jeevan, akhirnya kamu datang juga. Ini loh nak Caitlyn mau pulang, kamu antar dia ya sampai ke rumahnya!" ucap Aqila.


"Kenapa harus diantar segala sih ma? Caitlyn udah besar, dia pasti bisa pulang sendiri. Lagian aku mau ketemu papa, ada hal penting yang aku pengen kasih tau ke papa," ucap Jeevan.


"Itu bisa diurus nanti, sekarang kamu antar aja Caitlyn dulu, gak ada penolakan!" paksa Aqila.


"Eee tante, kayaknya gapapa deh aku pulang sendiri aja. Kasihan juga Jeevan pasti capek abis pergi dari luar," ucap Caitlyn.


Aqila beralih menatap Caitlyn dan menatapnya tajam, "Kamu jangan bicara gitu! Jeevan pasti mau antar kamu kok, ya kan Jeevan?" ucapnya.


"Iya ma iya, yaudah ayo Caitlyn pake mobil aku aja!" ucap Jeevan pasrah.


Aqila tersenyum lebar, "Nah gitu dong Jeevan! Kamu jadi laki-laki itu harus peka dong sama sikap cewek, jangan terlalu kaku!" ucapnya.


"Aku ngerti ma, udah yuk kita pergi sekarang!" ucap Jeevan mengajak Caitlyn pergi.


"Iya Jeevan, tapi bener nih kamu gapapa anterin aku pulang?" tanya Caitlyn ragu.


"Gapapa kok, aku bisa urus yang lain nanti. Yuk mumpung belum hujan nih!" ucap Jeevan.


Caitlyn mengangguk setuju lalu pamit pada Aqila, "Tante, aku pulang dulu ya? Makasih udah bolehin aku main disini tadi," ucapnya.


"Iya sayang, hati-hati ya kamu!" ucap Aqila.


Mereka berpelukan sejenak, sedangkan Jeevan hanya menatap dingin sembari menggaruk pelipisnya. Ia berharap yang sedang dipeluk mamanya saat ini adalah Queen bukan Caitlyn, tapi itu hanya sekedar harapan yang tidak akan mungkin bisa ia wujudkan.


"Queen, pokoknya sampai kapanpun saya akan cari kamu dan saya gak akan biarkan kamu pergi begitu saja dari saya!" batin Jeevan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2