
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Pernikahan tanpa restu
•
•
Tak lama kemudian, Dean muncul dari dalam kamar saat mendengar suara keributan di luar sana. Lelaki itu ikut penasaran melihat reaksi Aqila yang seperti itu, ia pun menghampiri ketiganya dengan wajah bingung, terutama saat ia melihat kehadiran Fritzy di rumahnya.
"Ini ada apa sih? Kenapa kalian pada kumpul disini, bukannya di ruang tamu aja? Terus tumben juga kamu datang sama Fritzy, ada masalah sama bisnis kita Jeevan?" tanya Dean kebingungan.
Jeevan menggeleng, "Enggak pa, aku bukan mau bahas soal bisnis. Aku kesini karena aku pengen bilang ke papa dan mama kalau aku akan menikahi Fritzy secepatnya," jawabnya jelas.
"Apa? Kamu sudah gila ya Jeevan? Kenapa kamu malah mau menikahi wanita ini? Lalu bagaimana dengan pernikahan kamu dan Caitlyn nanti?" tanya Dean tak percaya.
"Aku gak gila kok pa, aku cinta sama Fritzy dan aku mau menikahinya," jawab Jeevan mantap seraya merangkul Fritzy.
"Cinta? Kamu bilang kamu cuma cinta sama Queen, kenapa sekarang tiba-tiba kamu mengatakan kalau kamu mencintai Fritzy? Semudah itukah kamu berpaling?" tanya Dean.
"Tidak pa, aku masih tetap mencintai Queen di dalam hatiku. Tapi, aku juga sangat menginginkan Fritzy. Lagipun, aku dan Queen sudah berpisah dan sulit bagi kamu untuk bersatu," ucap Jeevan.
"Bagus kalau kamu sadar, jadinya kamu bisa melupakan wanita itu. Tetapi mengapa kamu malah memilih menikah dengan Fritzy? Padahal ada Caitlyn yang lebih dari segalanya," ujar Dean.
"Iya Jeevan, mama lebih setuju kalau kamu menikah dengan Caitlyn dibandingkan sekretaris kamu ini sayang!" sahut Aqila.
"Itu kan menurut papa sama mama, kalau aku beda lagi ma. Aku maunya nikah sama wanita pilihan aku, bukan pilihan mama ataupun papa," ucap Jeevan tetap kekeuh menolak.
"Haish, terus apa alasan lain kamu menikahi Fritzy? Gak mungkin cuma karena cinta kan? Pasti ada apa-apa nih diantara kalian," ujar Aqila curiga.
"Iya ma, Fritzy memang sudah hamil anak aku sekarang," jawab Jeevan dengan santai.
Seketika Aqila dan juga Dean terkejut bukan main mendengar pengakuan dari mulut Jeevan, sungguh mereka tak menyangka jika putra mereka itu akan melakukan hal seburuk itu pada wanita. Namun, Jeevan malah tampak santai dan terus mendekap serta mengecup pipi Fritzy di hadapan orangtuanya tanpa rasa takut sedikitpun.
Plaaakk
Satu tamparan keras mendarat di pipi Jeevan saat itu juga, ya pelakunya tidak lain tidak bukan adalah Aqila alias mamanya sendiri. Sontak saja Jeevan terkejut dan memegangi pipinya, ia menatap sang mama dengan bingung. Sedangkan Fritzy terlihat syok dan terus menutupi mulutnya.
"Ma, kenapa mama malah tampar aku? Salah apa aku coba? Aku cuma jawab pertanyaan mama dengan jujur," protes Jeevan.
"Kamu keterlaluan Jeevan! Bisa-bisanya kamu hamilin sekretaris kamu sendiri, terus sekarang kamu datang kesini dan minta restu dari kami buat nikahin dia!" sentak Aqila.
"Apa salahnya sih ma? Emang aku gak boleh nikah sama Fritzy gitu? Aku mau tanggung jawab ma, supaya kesalahan aku bisa tertebus," ucap Jeevan.
"Gak gini caranya Jeevan, harusnya kamu bisa tahan diri dan jangan sampai kamu menghamili anak gadis orang!" ucap Aqila.
"Aku juga gak mau kejadian ini terjadi, tapi apa boleh buat ma semua ini sudah takdir? Aku gak bisa menghindar dari takdir, jadi ya aku harus terima aja semuanya," ucap Jeevan.
"Gak Jeevan, sampai kapanpun mama gak akan setuju kamu menikah dengan perempuan selain Caitlyn!" tegas Aqila.
"It's okay, aku gak butuh persetujuan mama atau papa buat nikahin Fritzy. Aku akan tetap nikah sama dia sekarang juga!" ucap Jeevan.
Aqila tersentak mendengarnya, putranya itu selalu saja membuatnya kesal dan emosi. Jeevan sendiri langsung menatap Fritzy serta mengajak wanita itu pergi dari sana karena urusan mereka telah usai, tapi tentu saja Aqila menghadangnya. Rupanya menurut Aqila semuanya belum selesai.
"Fritzy, kita pergi aja yuk! Kita sudah bicara ke mama dan papa, jadi kita tinggal menikah saja besok," ucap Jeevan.
"Tunggu! Kamu pikir kamu mau kemana Jeevan? Kamu gak bisa pergi gitu aja, kamu masih harus disini dan bicara sama kami!" ucap Aqila menahan putranya.
"Apa lagi sih ma? Mama kurang puas sama pembicaraan kita tadi? Aku padahal udah jelasin sejelas-jelasnya loh," ujar Jeevan heran.
__ADS_1
"Mama minta kamu batalkan rencana kamu untuk menikahi Fritzy, mama tidak akan pernah setuju dan tidak mau menganggap Fritzy sebagai menantu mama!" ucap Aqila.
"Itu gak masalah ma, yang terpenting aku bisa hidup bahagia dengan wanita yang aku cintai. Dibanding aku harus menikah dengan Caitlyn, yang ada aku akan menderita," ucap Jeevan.
"Jeevan! Kamu benar-benar keterlaluan, kamu seharusnya menuruti perkataan mama kamu dan bukan membantah terus! Apa kamu lupa kalau kami orang tua kamu?" tegur Dean emosi.
Jeevan terdiam saat mendapati kemarahan papanya itu, ia paling tidak bisa melawan ketika sang papa sudah emosi seperti sekarang. Ya memang kemarahan sang ayah adalah hal yang paling menakutkan, dibanding jika mama lah yang marah.
"Kenapa kamu diam? Kamu sudah tidak menganggap kami ini orang tua kamu, iya?" tanya Dean pada putranya.
"Gak gitu pa, masa iya aku gak anggap papa sama mama? Kalau memang begitu, pasti aku gak akan datang kesini untuk kasih tau papa mama tentang pernikahan aku dan Fritzy," jawab Jeevan.
"Tetap saja kamu telah melakukan kesalahan Jeevan, kamu sudah membangkang dan tidak mau menuruti kemauan kami!" ujar Dean.
"Maaf pa, tapi aku cuma mau menikah dengan Fritzy. Sekarang aku harus pergi untuk mengurus semuanya, permisi!" ucap Jeevan pamit.
Dean dan Aqila tidak dapat berbuat apa-apa lagi, mereka membiarkan Jeevan serta Fritzy pergi begitu saja. Tampak kedua orang tua itu sudah menyerah berbicara dengan Jeevan, mereka pasrah dengan semua keputusan putra mereka itu walau tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Kini Jeevan telah berada di luar bersama Fritzy, namun tiba-tiba Fritzy melepaskan diri dari dekapan Jeevan serta menyingkirkan tangan laki-laki itu dari tangannya. Tentu Jeevan terkejut, ia menatap Fritzy dan terheran-heran dibuatnya. Sedangkan Fritzy sendiri tampak membuang muka seolah tidak ingin menatap wajah lelaki itu.
"Kamu kenapa Fritzy? Kamu gak mau saya pegang?" tanya Jeevan keheranan.
"Saya cuma gak pengen kalau bos harus melawan orang tua bos hanya untuk bertanggung jawab ke saya, lebih baik kita tidak usah jadi menikah bos," jawab Fritzy.
Jeevan melongok lebar, "Kamu bicara apa sih Fritzy? Saya akan tetap nikahin kamu apapun yang terjadi!" ucapnya tegas.
"Tapi bos—"
"Gak ada tapi tapi, kamu nurut aja dan jangan banyak bicara! Kita akan segera menikah besok, jadi kamu persiapkan diri untuk itu!" sela Jeevan memotong ucapan wanitanya.
Setelahnya, Fritzy menurut dan mengikuti langkah kaki Jeevan ke dalam mobilnya.
•
•
Namun, reaksi Jeevan justru biasa saja setelah tahu orangtuanya tidak hadir di acara pernikahan dirinya itu. Bagi Jeevan, ia tidak memerlukan kehadiran papa atau mamanya disana karena yang terpenting dirinya bisa menikah secara resmi dengan wanita yang ia cintai itu.
"Kamu lagi mikirin apa sih Fritzy? Sebentar lagi acara pemberkatan dimulai, kamu harus siap dan jangan gugup! Kamu gak mau kan kalau pernikahan kita gagal?" ucap Jeevan berbisik.
"Sebentar dulu bos, kita jangan mulai dulu acaranya!" pinta Fritzy.
"Maksud kamu gimana? Memangnya apa lagi yang mau kita tunggu? Saya sudah gak sabar mau nikahin kamu Fritzy," ujar Jeevan.
"Iya bos, tapi saya mohon kita tunggu dulu sebentar ya bos!" ucap Fritzy.
"Kamu sebenarnya lagi nunggu siapa sih Fritzy? Kamu berharap mama sama papa saya datang gitu kesini? Mereka gak akan pernah datang, mereka itu keras kepala dan sulit dibilangin!" ucap Jeevan.
"Bukan itu bos, saya lagi tunggu seseorang yang akan datang kesini. Kita tunggu beberapa menit lagi ya bos?" ucap Fritzy.
"Emangnya siapa sih yang kamu tunggu Fritzy? Teman kamu apa gimana? Kasih tahu dong ke saya!" tanya Jeevan penasaran.
"Iya bos, saya lagi tunggu teman saya. Lagian kenapa bos harus buru-buru sih? Kita masih punya banyak waktu kok, sabar dulu ya bos?" jawab Fritzy berbohong.
"Teman kamu siapa Fritzy? Sekolah atau kampus?" tanya Jeevan lagi.
"Eee pokoknya dia teman saya bos, udah ya bos sabar dulu sebentar? Saya yakin dia pasti datang sebentar lagi," ucap Fritzy.
"It's okay, apapun untuk kamu calon istriku yang cantik. Asalkan jangan terlalu lama!" ucap Jeevan.
__ADS_1
Fritzy mengangguk, "Gak lama kok bos, paling sebentar lagi dia datang kesini," ucapnya.
"Yasudah, saya soalnya gak sabar pengen resmi nikah sama kamu Fritzy," ucap Jeevan sambil tersenyum.
Fritzy menunduk saja dengan wajah tersipu mendengar perkataan Jeevan, lalu pria itu menariknya dan memberi kecupan singkat di bibir ranum sang wanita. Fritzy hanya bisa diam dan pasrah mendapat perlakuan seperti itu, karena jujur ia sendiri senang saat Jeevan menciumnya.
Setelah cukup lama menunggu, Jeevan yang tak sabar akhirnya memutuskan untuk segera melaksanakan pernikahan itu. Namun, Fritzy masih berupaya meminta Jeevan bersabar menunggu seseorang yang akan datang. Fritzy tak mau memulai pernikahan itu jika seseorang yang ia tunggu belum datang kesana.
"Kita mau tunggu sampai kapan lagi Fritzy? Saya gak mau terlalu lama, nanti para tamu bisa kabur dari sini," ujar Jeevan.
"Tapi bos, dia belum datang. Kita tunggu sebentar aja ya?" mohon Fritzy.
"Gak bisa Fritzy, acaranya harus dimulai sekarang. Kita gak ada waktu lagi, saya khawatir para tamu akan pergi jika terlalu lama," ucap Jeevan.
Fritzy pun sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, Jeevan tampaknya tidak mau menunggu lebih lama lagi karena khawatir semua yang sudah datang disana akan meninggalkan tempat itu. Jeevan pun memutuskan memulai pemberkatan, meski Fritzy masih terus celingak-celinguk mencari seseorang yang ia tunggu.
Disaat pengucapan janji akan berlangsung, tiba-tiba Fritzy menemukan seorang perempuan yang baru masuk kesana. Ya tentu Fritzy tersenyum melihatnya, ia menghentikan sejenak prosesi tersebut dan meminta Jeevan mau menurutinya.
"Bos, sebentar dulu bos!" ucap Fritzy tampak antusias.
Fritzy langsung berlari menghampiri si wanita yang sedari tadi ia tunggu itu, Jeevan terkejut dan gagal menahan Fritzy untuk tetap di tempatnya. Lalu, Jeevan mengalihkan pandangan ke arah yang dituju Fritzy. Betapa kagetnya ia, sebab ada sosok Queen berdiri di depan sana.
"Queen!" teriak Fritzy menghampiri wanita itu, sontak mereka berdua kini saling berhadapan dan tersenyum satu sama lain.
"Eh Fritzy, selamat ya atas pernikahan kamu dan Jeevan! Maaf aku terlambat, pasti acaranya sudah selesai ya?" ucap Queen.
Fritzy menggeleng, "Enggak kok, acaranya belum dimulai. Kan pengantin wanitanya juga baru datang," ucapnya.
"Hah? Maksud kamu gimana ya?" heran Queen.
"Iya Queen, bukan aku yang bakal nikah sama bos Jeevan, tapi kamu. Aku sengaja undang kamu kesini untuk cari tau apakah kamu masih cinta sama bos Jeevan atau enggak, dan ternyata kamu datang kesini," ucap Fritzy.
"Aku gak ngerti deh, kenapa kamu malah suruh aku buat nikah sama Jeevan? Bukannya ini pernikahan kalian ya? Aku datang kesini sebagai tamu undangan aja kok," ucap Queen keheranan.
"Queen, Fritzy!" tiba-tiba Jeevan mendekat dan menyapa kedua wanita itu.
"Nah, sekarang kalian berdua langsung aja naik ke atas. Pemberkatan sebentar lagi akan dimulai, yuk ah!" ucap Fritzy seraya menyatukan dua tangan Jeevan dan Queen.
"Maksud kamu apa sih Fritzy? Kamu gausah ngada-ngada deh, jangan main-main!" ujar Jeevan tampak emosi.
"Aku tahu kalian berdua masih saling cinta, jadi seharusnya kalian bersatu dan bukan malah berjauhan seperti sebelumnya. Sekarang ini waktu yang pas untuk kalian mengikrarkan janji cinta kalian ke dalam sebuah pernikahan," ucap Fritzy.
Jeevan terdiam saat itu juga, ia kini beralih menatap wajah Queen yang ada di depannya. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik, Fritzy yang melihat itu pun tersenyum dan semakin semangat untuk menjodohkan keduanya, ia yakin mereka memang masih saling cinta dan akan lebih pas jika mereka yang menikah kali ini.
"Queen, apa kamu mau menikah sama saya seperti yang dibilang Fritzy?" tanya Jeevan memastikan.
Queen dibuat bingung saat ini, dirinya tak mengerti harus menjawab apa. Ia beralih menatap Fritzy yang masih terus tersenyum, sungguh ia juga merasa tidak enak pada Fritzy jika ia mengiyakan ajakan Jeevan untuk menikah dan menggantikan peran wanita itu.
"Kalau kita nikah, terus nanti gimana sama Fritzy? Aku gak mau bikin dia sakit hati, lebih baik kalian lanjutin aja ya pernikahan kalian!" ucap Queen.
"Aku gapapa Queen, aku justru gak enak kalau aku yang nikah sama bos Jeevan," ucap Fritzy.
"Tapi—"
"Udah, ayo kalian berdua naik ke atas ya! Pernikahan ini harus segera dimulai, sebelum para tamu kabur!" sela Fritzy yang langsung menarik kedua manusia itu.
Jeevan pun menurut saja dan mengikuti perkataan Fritzy, karena jujur ia sangat senang jika akan menikah dengan Queen.
"Rasanya ini seperti mimpi, harusnya aku sudah hidup bahagia dengan pria lain dan melupakan Jeevan. Tapi, kenapa aku malah sekarang pasrah aja waktu Jeevan ajak aku buat nikah? Apa ini karena kami berjodoh?" gumam Queen dalam hati.
__ADS_1
...~Selesai~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...