Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 101. Menolak Caitlyn


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Menolak Caitlyn




Jeevan melirik wajah Fritzy dan menganggukkan kepalanya, "Iya Fritzy, saya kan sudah janji kalau saya akan bantu kamu merawat bayi itu sampai dewasa," ucapnya.


"Tapi bos, saya kan udah bilang gausah. Saya bisa rawat dia sendiri kok," ucap Fritzy.


"Kamu jangan bantah Fritzy! Anak itu anak saya juga, saya berhak dong buat bantu urus dia!" tegas Jeevan.


"Iya bos, tapi bos gak perlu minta jatah juga ke saya kayak semalam," ucap Fritzy.


"Ohh, kamu gak mau melayani saya? Terus kenapa semalam kamu diam aja dan gak protes? Kamu malah minta lagi sambil keenakan," goda Jeevan.


"Apaan sih bos? Saya gak gitu ya!" elak Fritzy.


"Hahaha.." Jeevan tertawa dan reflek mencium pipi Fritzy dari samping, Fritzy pun melongok saja mendapat perlakuan seperti itu dari bosnya.


"Fritzy, gimana kalau kita nikah aja? Kayaknya kalau cuma bantu urus itu gak cukup deh, saya juga harus nikahin kamu," ucap Jeevan tiba-tiba.


Deg!


Betapa terkejutnya Fritzy, ia sama sekali tak mengira jika Jeevan akan mengatakan itu padanya. Ia merasa ini semua seperti mimpi, tidak mungkin tentu Jeevan mau menikah dengannya karena pria itu hanya mencintai Queen seorang. Namun, saat ia coba mencubit tangannya ia justru merasakan sakit yang menandakan ini bukan mimpi.


"Awhh!!" Fritzy spontan merintih sesaat setelah ia mencubit lengannya sendiri.


"Loh kamu kenapa Fritzy? Kok tiba-tiba teriak gitu?" tanya Jeevan kebingungan.


"Eee gapapa bos, saya kaget aja tadi dengar kata-kata bos. Barusan bos pasti cuma bercanda kan?" ucap Fritzy.


"Bercanda? Enggak, saya gak bercanda. Saya itu serius mau nikahin kamu Fritzy," ucap Jeevan.


"Udah lah bos, bos gak perlu bicara begitu di depan saya! Saya sendiri tahu kok kalau bos cuma cinta sama Queen, mana mungkin bos mau menikah sama saya?" ucap Fritzy.


"Apa yang kita lakuin semalam itu kurang membuktikan kalau saya sudah mulai bisa mencintai kamu Fritzy?" tanya Jeevan seraya menangkup wajah wanita itu.


Fritzy hanya diam saja, jantungnya sudah berdebar sangat kencang karena wajahnya hampir tak berjarak dengan wajah Jeevan. Pria itu bahkan terus mendekat, memajukan bibirnya seolah hendak memulai sebuah ciuman panas. Fritzy terpejam memberi izin bagi Jeevan melakukannya, tapi tanpa diduga Alden lagi-lagi muncul dan mengacaukan semuanya.


"Bos!" Alden memanggil bosnya yang sedang duduk bersama Fritzy disana, ia sendiri kaget saat melihat apa yang hendak dilakukan Jeevan dan Fritzy barusan.


"Alden?" lirih Jeevan sembari menatap wajah anak buahnya dengan sedikit tampang kesal.


"Maaf bos, saya gak tahu kalo bos sama Fritzy lagi berduaan disini. Tadi saya kira bos sendirian soalnya," ucap Alden tersenyum lebar.


"Udah gausah basa-basi, mau apa kamu temuin saya?" tanya Jeevan sedikit kesal.


"Gak ada kok bos, tadinya saya mau lapor kalau ada pengorder yang ingin membeli barang kita secara besar-besaran," jawab Alden.


"Oh ya? Bagus dong, kalo gitu kamu siapkan semua dan jangan sampai ada yang salah!" perintah Jeevan.


"Baik bos! Kalo gitu saya permisi dulu, sekali lagi saya minta maaf bos," ucap Alden.


"Gapapa, sudah sana kamu pergi dan jangan balik lagi!" sentak Jeevan.


Alden hanya mengangguk dan sesekali tersenyum seraya menatap wajah Fritzy, sedangkan wanita itu sendiri tampak menyembunyikan wajahnya karena merasa malu setelah lagi-lagi kepergok oleh Alden saat sedang bersama Jeevan. Setelahnya, Alden pun pergi membiarkan bosnya itu berduaan dengan sang sekretaris.


"Alden udah pergi tuh, kamu gak perlu ngumpet terus lah Fritzy!" ujar Jeevan sembari menarik wajah Fritzy agar menghadapnya.


"Ish, tapi saya malu tau bos. Ini udah dua kali dia mergokin kita, sekali lagi bisa dapat piring cantik tuh. Pokoknya kita harus hati-hati bos, gak boleh ini kejadian lagi kayak tadi!" ucap Fritzy cemas.


"Ngapain saya harus hati-hati di rumah saya sendiri? Alden itu kan anak buah saya, dia yang harusnya hati-hati bukan saya!" ucap Jeevan.

__ADS_1


"Ya tapi kan—"


"Udah, mending kamu siap-siap terus ikut saya sekarang!" sela Jeevan.


Fritzy melongok lebar, "Kemana bos?" tanyanya penasaran.


"Rumah orang tua saya," jawab Jeevan santai.


"Apa??" Fritzy terkejut bukan main mendengarnya.




"Mister Erick, tunggu!" teriak Queen yang membuat sang pemilik nama menghentikan langkahnya.


Seketika Erick terbelalak, ia ingat betul siapa wanita yang kini berdiri di hadapannya dan tengah menatapnya itu. Ya Erick yakin kalau wanita itu adalah sahabat Dinda yang dahulu menyembunyikan Dinda darinya, tentu saja ia tersenyum lalu mendekatinya.


Queen mengepalkan tangannya disertai rahang gemetar, ia berusaha menahan emosi karena tidak etis rasanya jika ia meluapkan semua kekesalan yang ia rasakan ini di tempat umum. Meskipun Queen sangat sulit menahan rasa kesalnya, sebab Erick sudah membawa paksa Dinda darinya.


"Oh anda, anda ini sahabatnya Dinda itu kan? Mau apa anda panggil saya?" tanya Erick.


"Dimana Dinda? Tolong kamu balikin dia ke saya! Kamu gak berhak buat bawa kabur Dinda gitu aja, dia itu lebih betah tinggal sama saya!" jawab Queen.


"Hahaha, kata siapa? Dinda justru suka sekali tinggal dengan saya, karena dia merasa nyaman. Hanya saja ada seseorang yang sepertinya berani bermain-main dengan saya dan ingin menguji kesabaran saya," ujar Erick.


"Maksud kamu apa? Gausah bertele-tele deh, serahin Dinda ke saya sekarang juga!" ucap Queen.


"Gak bisa, Dinda udah enggak sama saya. Kemarin dia menghilang begitu saja saat kita lagi jalan-jalan di mall, saya juga gak tahu dia kemana," ujar Erick.


"Kamu gausah bohong sama saya! Cepat katakan dimana Dinda, dia pasti ikut kesini juga kan sama kamu!" sentak Queen.


Erick menggeleng, "Saya gak tahu dia dimana, ini saya juga lagi cari dia kok," ucapnya.


"Bohong!" Queen tetap tak percaya dengan perkataan pria itu, sehingga membuat Erick menatap tajam ke arahnya penuh emosi.


"Saya tahu kamu pasti sembunyiin Dinda di sekitar sini kan? Cepat kamu kasih tahu saya dimana dia, atau saya akan bikin kamu menyesal seumur hidup!" ancam Queen.


Erick menggeleng tak mengerti, ia benar-benar bingung karena Queen selalu saja tidak percaya pada apa yang ia katakan. Lalu, Fahrul yang sedari tadi hanya diam pun ikut menyusul Queen kesana dan menemuinya. Lelaki itu berharap agar Queen mau ikut dengannya pergi dari sana.


"Queen, ayo Queen kita cabut Queen! Kamu jangan cari masalah deh sama mereka, kamu gak tahu kan mereka itu siapa!" ujar Fahrul panik.


"Apa sih? Aku gak takut sama dia, aku cuma mau ajak bicara dia kok," ucap Queen.


"Iya Queen, tapi dia ini orang bahaya. Aku khawatir dia apa-apain kamu, mending kamu ikut aku yuk kita pergi dari sini!" ucap Fahrul.


Queen menatap bingung ke wajah Fahrul, satu tangannya kini sudah digenggam erat oleh pria itu dengan sangat cemas. Ya Fahrul memang terlihat sangat mencemaskan kondisi Queen jika wanita itu terus berada disana, apalagi Erick memang terkenal sangat ganas.


"Yaudah, aku ikut sama kamu. Tapi setelah aku dapat jawaban dari orang ini, aku mau tau dimana dia sembunyiin teman aku!" ucap Queen.


"Ah sudahlah, saya gak punya banyak waktu untuk meladeni wanita seperti kamu. Lebih baik saya pergi dan cari keberadaan Dinda," ucap Erick.


"Eh tunggu, kita cari bareng supaya aku tahu kamu beneran sembunyiin dia atau enggak!" ucap Queen.


"Terserah," ucap Erick singkat dan langsung melangkah pergi meninggalkan wanita itu.


Akhirnya Queen serta Fahrul pun menyusul lelaki itu, Queen sangat ingin tahu kemana sebenarnya Dinda dan mengapa Erick berkata jika dia juga sedang mencari keberadaan wanita itu. Padahal sebelumnya Queen yakin sekali jika Dinda ada bersama Erick disana.




Jeevan dan Fritzy tiba di rumah orang tua pria itu, mereka turun dari mobil bersama-sama dengan tangan saling menyatu. Jeevan tampak gembira seraya menatap wajah Fritzy dari samping, sedangkan Fritzy sendiri terlihat gugup serta tak tahu harus berbuat apa saat di dalam nanti.


"Bos, ini sebenarnya kita mau apa sih kesini? Terus kenapa saya harus pakai gaun kayak gini segala?" tanya Fritzy pada bosnya.

__ADS_1


"Udah kamu diam aja dulu, nanti kita bicara di dalam sekalian sama mama dan papa! Kamu juga bakal tahu kok apa maksud saya ajak kamu kesini," ucap Jeevan.


Fritzy menurut saja dan mengikuti langkah kaki Jeevan, mereka pun mulai memasuki rumah besar itu dengan perlahan-lahan. Tak lupa Jeevan juga mengucap salam terlebih dulu dan bergerak mencari orangtuanya di dalam sana, ia terus berteriak karena tak kunjung menemukan mereka.


Barulah saat Jeevan dan Fritzy tiba di dekat tangga, keduanya bertemu dengan Aqila yang baru keluar dari kamarnya dengan pakaian seksi. Seolah tahu apa yang baru mamanya lakukan, Jeevan terkekeh kecil seraya menundukkan wajahnya tak kuasa menahan gelak tawa di dalam dirinya.


"Ada apa Jeevan? Kenapa kamu ketawa kayak gitu? Apa yang lucu dari mama?" tanya Aqila menegurnya.


"Eee gak ada ma, papa mana ma? Aku mau bicara dong sama mama dan papa," ucap Jeevan.


"Ohh, papa masih di dalam lagi mandi. Kamu emang ngapain sih datang kesini? Setelah kamu kemarin mempermalukan mama sama papa di depan orang tua Caitlyn, masih berani kamu datang kesini lagi?" ujar Aqila.


"Maaf ma, aku kesini pengen bicara hal penting aja ke mama sama papa," ucap Jeevan pelan.


"Hal penting apa? Terus kenapa si Fritzy kamu bawa kesini juga? Kamu mau bahas urusan bisnis?" tanya Aqila.


"Bukan kok ma, ini masalah pribadi. Terkait masa depan aku," jawab Jeevan sambil tersenyum.


Aqila sontak membelalakkan matanya, "Hah? Masa depan kamu maksudnya gimana? Mama gak ngerti deh, coba kamu jelasin sekarang!" ujarnya.


"Iya ma, aku sama Fritzy mau menikah. Aku juga sudah memutuskan untuk menolak Caitlyn dan tidak menerima perjodohan itu," jelas Jeevan.


"Apa??" Aqila terkejut bukan main mendengar pernyataan putranya.




Dinda yang sudah kabur menjauh dari tempat tinggal Tom, kini malah kebingungan sendiri harus pergi kemana untuk menyelamatkan diri. Ia juga tak tahu dimana keberadaan Erick saat ini, sebab ia tidak pernah menghafal jalan menuju tempat tinggal Erick sebelumnya.


Akibatnya, Dinda pun hanya bisa terduduk di sebuah taman dengan wajah bingung. Sejak tadi ia hanya bisa mondar-mandir di sekitar sana karena tidak tahu harus kemana, mau bertanya ke orang disana pun percuma sebab dirinya juga tak tahu apa nama tempat tinggal Erick.


"Huft, aku harus cari misteri Erick kemana lagi ya? Bisa-bisanya baru sekarang aku nyesel karena gak tahu apa nama tempat tinggal dia, aku jadi bingung harus gimana sekarang," gumamnya pelan.


Tiba-tiba saja, ia merasa lapar karena memang ia belum sempat sarapan saat kabur dari rumah Tom tadi. Dinda pun terus mengelus perutnya yang berbunyi itu sembari meringis menahan lapar, terlebih saat ini di dalam rahimnya juga terdapat seorang anak.


"Duh, lapar banget lagi. Harusnya tadi aku makan dulu ya di tempat Tom, kan lumayan jadinya aku gak perlu kelaparan kayak gini," ujar Dinda.


"Dinda!" tanpa diduga, Tom berhasil menemukan keberadaannya disana. Sontak Dinda terkejut lalu berniat kabur dari tempat itu, tetapi terlambat sebab Tom sudah lebih dulu mencekal lengannya.


"Kamu mau kemana Dinda? Kamu gak bisa lari dari aku, sekarang kamu ikut aku!" sentak Tom.


"Gak mau, lepasin! Kalau kamu paksa aku, aku bisa teriak biar polisi datang!" ucap Dinda.


"Jangan Dinda! Aku ajak kamu baik-baik loh, lagipula aku bukan orang jahat. Aku justru berniat tolong kamu," ucap Tom.


"Tolong apanya? Aku lebih suka tinggal sama mister Erick dibanding kamu, jadi kamu gak bisa paksa aku buat ikut sama kamu!" ujar Dinda.


"Ayolah Dinda, ini semua demi kebaikan kamu! Aku gak mau kamu atau anak kita terluka, kamu ikut aku ya sayang?" bujuk Tom.


Dinda terdiam sesaat, matanya seketika menatap ke arah perutnya dan membayangkan keadaan sang anak yang ada di dalam sana. Sungguh Dinda juga tidak mau terjadi sesuatu pada calon anaknya itu, tapi entah kenapa rasanya sulit sekali untuk bisa memaafkan Tom dari semua kesalahannya.


"Gimana Dinda? Kamu mau kan ikut tinggal sama aku?" tanya Tom lagi.


Lagi-lagi Dinda hanya terdiam, Tom yang sudah tak sabar pun mencengkram erat lengan Dinda dan berniat membawanya pergi. Namun, Dinda yang tidak terima langsung berontak berusaha melepaskan diri dari genggaman Tom. Akan tetapi, usaha wanita itu sia-sia sebab tenaganya kalah kuat jika dibandingkan dengan Tom.


"Lepasin aku Tom, aku gak mau!" sentak Dinda dengan keras.


"Kamu harus ikut sayang, kamu gak boleh tolak atau bantah! Kamu itu lebih aman kalau sama aku, dibanding sama si cowok mesum itu!" geram Tom.


"Gak! Aku gak mau!" kesal Dinda.


Tanpa diduga, pundak Tom dipegang oleh seseorang dari belakang. Saat pria itu menoleh untuk mencari tahu, tiba-tiba wajahnya dipukul oleh seseorang tersebut sampai ia reflek melepas tangan Dinda dan beralih memegangi wajahnya yang terkena pukulan itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2