Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 9. Dibawa Pergi


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Dibawa pergi




Dinda langsung melangkah ke depan mendekati Erick serta Tom yang sedang berhadapan disana.


"Ya Tuhan, semoga saja kedatangan Tom kesini untuk menyelamatkan aku! Jujur aja aku gak mau lama-lama ada disini, aku pengen pulang dan kembali ke orang tua ku!" batin Dinda.


Begitu sampai di dekat kedua pria itu, Dinda tampak gugup karena Tom tersenyum sembari memandang ke arahnya.


"Mister, kami sudah melaksanakan tugas," ucap si pengawal pada Erick.


"Terimakasih, ayo Dinda kamu kesini!" pinta Erick seraya menarik tangan Dinda.


"Ini ada apa ya mister? Siapa dia dan kenapa aku dibawa kesini?" tanya Dinda bingung.


"Dia orang lelang, kamu harus ikut dulu sama dia sampai pembayaran saya lunas. Maaf ya Dinda, tapi saya janji akan secepatnya menyelesaikan pembayaran ini!" jelas Erick.


Perasaan Dinda berubah senang, ternyata yang dipikirkannya sedari tadi menjadi kenyataan.


"Beneran mister?" tanya Dinda memastikan.


"Iya Dinda, gapapa kan?" jawab Erick.


Dinda mengangguk antusias, tentu saja dia sangat ingin pergi dari rumah itu.


"Baiklah, kalian bereskan barang-barang Dinda dan bawa kesini dengan cepat!" perintah Erick pada dua pengawalnya.


"Baik mister!" jawab mereka serentak.


Dinda sangat senang, begitupun dengan Tom. Rencana Tom kali ini berhasil, sehingga ia bisa membawa Dinda pergi.


"Sesuai janji saya ke kamu Dinda, saya akan selalu jaga dan lindungi kamu sampai kapanpun!" batin Tom.


Tak lama kemudian, dua orang pengawal tadi datang kembali membawa barang-barang milik Dinda dan menyerahkannya pada wanita itu.


"Ini barangnya nona," ucap pengawal itu.


"Terimakasih ya," singkat Dinda.


"Sama-sama," ucap pengawal itu serentak.


Erick yang masih belum siap berpisah dengan Dinda pun mendekati gadis itu dan meraih kedua tangannya.


"Dinda, kamu jangan khawatir ya! Saya pasti akan bawa kamu kesini lagi nanti," ucap Erick.


"Iya mister, aku tunggu itu," ucap Dinda.

__ADS_1


Tom sedikit geram mendengarnya, dia cemburu sebab dia memang mencintai Dinda dan tak mungkin bisa membiarkan Dinda mengatakan itu pada pria lain, apalagi di depannya.


"Aku permisi ya mister? Sampai jumpa lagi!" pamit Dinda pada Erick.


Erick hanya bisa mengangguk pelan sembari melambaikan tangan ke arah Dinda, ia sungguh berat harus melepas Dinda saat ini.


Sementara Dinda sudah berbalik, menatap Tom sambil tersenyum lalu melangkah perlahan meninggalkan tempat terkutuk itu.


"Terimakasih Tom, aku tau kamu lakuin ini untuk bantu aku keluar dari sini!" ucap Dinda.


"Laki-laki itu yang dipegang ucapannya, dan aku udah janji buat jagain kamu, jadi aku harus tepati itu," ucap Tom.


Dinda terus tersenyum, secara sadar ia melingkarkan tangannya di pinggang pria itu dan membuat sang empu sedikit kaget.


"Bawa aku pulang Tom!" pinta Dinda.


"Of course," lirih Tom.


Mereka pun pergi dengan mobil yang sebelumnya sudah disewa oleh Tom sebelum datang kesana.




Sementara itu, Queen dibawa oleh Jago serta Reza ke tempat para gadis-gadis lainnya yang juga sempat diselamatkan oleh mereka.


Tentu Queen berharap salah satu dari mereka terdapat Dinda yang merupakan sahabatnya, sebab ia belum mendengar kabar dari gadis itu.


"Dimana mereka?" tanya Queen lantang.


"Sebentar nona, saya panggilkan dulu mereka!" ucap Reza pamit pada Queen.


Queen mengangguk kecil, ia tetap di tempat bersama Jago dan juga ketiga temannya yang memilih ikut.


"Queen, gue gak nyangka deh lu bisa jadi kayak sekarang. Keren banget lu Queen!" puji Aulia.


"Iya Queen, gue beneran takjub lihat lu. Akhirnya gue bisa ngerasain punya teman mafia," ujar Nina.


"Lebay ah kalian berdua, gue kan cuma nerusin bisnis papa gue. Sekarang dia udah gak bisa urus semua ini sendirian, jadi gue sebagai anak ya harus bantu dia dong," ucap Queen.


"Itu dia Queen, makanya kita takjub sama lu. Lu bisa jadi pemimpin di usia lu yang masih muda, padahal lu juga perempuan," ucap Aulia.


"Sekarang itu perempuan sama laki-laki setara, jadi siapapun bisa kayak gue kok," ucap Queen.


"Eh Queen, kalo gitu kenapa lu gak serang si Jeevan itu buat balas dendam? Dia kan udah bikin hidup kita hancur tau," ucap Lova.


Queen terdiam sesaat, ia kembali teringat pada peristiwa beberapa bulan lalu itu yang sangat membekas di hatinya.


"Ish, lu ngapain bilang begitu sih Lova? Tuh lihat si Queen jadi sedih lagi!" tegur Aulia.


"Ya maaf, gue kan cuma nanya," ucap Lova pelan.

__ADS_1


"Gapapa, lagian gue udah belajar buat lupain semuanya kok. Buat apa juga balas dendam? Itu gak akan selesaikan masalah," ucap Queen.


"Lu emang cerdas Queen, makin salut gue sama lu!" puji Aulia.


Tak lama kemudian, Reza kembali beserta gadis-gadis yang diselamatkan dari acara lelang gelap itu menghadap Queen.


"Permisi nona, ini dia gadis-gadis itu!" ucap Reza.


Queen langsung menatap ke depan, berusaha menemukan Dinda tetapi tidak ada.


"Mana Dinda??" ujar Queen panik.




Disisi lain, Fritzy telah berhasil melacak lokasi markas baru kelompok walters melalui sebuah benda yang diberikan Jeevan sebelumnya.


Gadis itu pun tersenyum lebar, lalu beranjak keluar dengan penuh semangat menemui Alden yang berjaga disana.


"Alden, sini dong gue pengen ngomong!" suruh Fritzy sambil tersenyum.


Alden menatap heran, namun karena penasaran ia tetap bangkit dan menghampiri gadis itu untuk mencari tahu ada apa.


"Lu kenapa sih Fritzy?" tanya Alden bingung.


"Gue udah berhasil dapetin lokasi markas barunya kelompok walters dong," jawab Fritzy.


"Hah? Serius lu?" tanya Alden sedikit kaget.


"Iyalah, itu hal mudah bagi seorang Fritzy. Sekarang bos Jeevan mana? Gue pengen kasih tau langsung ke dia," ucap Fritzy.


"Bos Jeevan lagi pergi ke luar, udah lu kasih tau gue aja sih!" pinta Alden.


"Dih gak mau enak aja, nanti malah lu yang dipuji-puji sama bos Jeevan! Pokoknya gue pengen kasih tau info ini langsung ke bos Jeevan," ucap Fritzy.


"Ya terserah lu deh, lu tungguin aja bos Jeevan situ sampai dia pulang!" ucap Alden.


"Iya, gue emang pengen nungguin dia kok. Udah sana lu kerja lagi!" ujar Fritzy.


"Lah ngatur, lu aja sana yang balik kerja! Mumpung bos Jeevan masih di luar, jadi lu bisa kerja deh sebelum nanti pergi dari sini," ucap Alden.


"Maksudnya apa?" tanya Fritzy mengerjap.


"Lu pikir gue gak tahu? Lu kan udah dipecat sama bos Jeevan, tinggal nunggu waktu aja buat lu pergi dari rumah ini," kekeh Alden.


Fritzy mendengus kesal, lalu menginjak kaki Alden dengan kuat untuk melampiaskan emosinya.


"Awhh sakit anjir! Lu apa-apaan sih?!" kesal Alden.


"Bodoamat! Suruh siapa lu nyebelin?" ucap Fritzy sambil berbalik dan pergi ke ruangannya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2