Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 90. Aku hamil?


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Aku hamil?




Jeevan menghela nafasnya dan mendekat ke arah Fritzy, ia menangkup wajah wanita itu sembari mengusapnya perlahan hingga membuat jantung Fritzy berdegup kencang. Wanita itu terdiam kaget seolah tak menyangka dengan apa yang dilakukan Jeevan padanya saat ini.


"Terimakasih atas perhatian kamu ke saya, Fritzy. Saya paham kamu khawatir sekali sama saya, tapi saya juga gak mau bikin kamu sedih kalau tahu apa yang sedang saya pikirkan," ucap Jeevan.


"Emangnya apa sih yang bos lagi pikirin? Saya beneran gapapa kok," tanya Fritzy.


"Ya mungkin nanti saya akan ceritakan ke kamu," ucap Jeevan.


"Kenapa nanti bos? Sekarang aja kali, saya gak tega lihat bos terus terpukul kayak gini. Saya siap dengerin apapun yang bos ceritakan kok," ucap Fritzy dengan tegas.


Jeevan menghela nafas sembari memijat pelipisnya, "Haish, kamu tolong kasih saya waktu untuk sendiri dulu Fritzy! Kamu paham gak sih?!" sentaknya.


"Maaf bos, baiklah kalau bos belum siap buat cerita. Silahkan bos masuk ke kamar dan istirahat!" ucap Fritzy mengalah.


Jeevan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, lalu memasuki kamarnya dan tak lupa mengunci pintu agar siapapun tidak ada yang bisa masuk. Sedangkan Fritzy tetap berada disana sambil berpikir apa yang sedang terjadi pada bosnya saat ini.


Tiba-tiba saja, Fritzy merasa mual seperti hendak muntah. Ia memegangi perutnya sembari berjalan meninggalkan kamar itu, namun rasa mualnya sudah tidak bisa ditahan lagi dan membuatnya ingin muntah saat itu juga. Akhirnya Fritzy bergegas ke kamar mandi dengan langkah cepat.


"Huweekkk huweekkk.." tanpa sadar, Alden mendengar suara tersebut saat ia sedang mencari Fritzy di sekitar sana.


Alden pun berhenti di depan kamar mandi, ia menempelkan telinganya pada pintu untuk mencari tahu suara siapakah di dalam sana yang tengah muntah-muntah. Alden terus menunggu disana, ia yakin sekali bahwa yang berada di dalam adalah Fritzy.


Ceklek


Benar saja, saat pintu dibuka yang muncul adalah Fritzy sambil mengusap wajahnya dan memegangi perutnya. Sontak Alden terkejut, begitupun dengan Fritzy yang tak menyangka jika Alden bisa berada di depan sana. Mereka saling bertatapan dengan wajah bingung masing-masing.

__ADS_1


"Fritzy, kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu sampai bisa muntah-muntah begitu?" tanya Alden.


Fritzy menggeleng pelan dengan wajah pucatnya, "Aku juga gak tahu, mungkin aku masuk angin. Soalnya rasanya aku mual banget," jawabnya pelan.


"Ya ampun, beneran ini mah kamu sakit. Yuk aku antar kamu ke rumah sakit biar diperiksa!" ucap Alden panik.


"Enggak enggak, gausah. Aku gak kenapa-napa kok, aku mungkin cuma gak enak badan sedikit aja," ucap Fritzy menolak.


"Kamu yakin Fritzy? Kamu harus diperiksa loh, aku khawatir kamu sakitnya parah," ucap Alden.


Fritzy pun tersenyum, "Kamu gausah lebay gitu Alden, aku beneran deh gapapa. Lagian kalaupun aku sakit, nanti aku bisa pergi sendiri ke klinik dekat sini," ucapnya.


"Tapi wajah kamu pucat banget Fritzy, aku beneran cemas sama kamu," ucap Alden.


Fritzy terus menolak dan hendak pergi, namun tiba-tiba rasa mual kembali menyerangnya sehingga ia mengurungkan niat dan tetap berada disana sambil menutupi mulutnya. Alden yang melihat itu reflek mendekat, kemudian memegang dua pundak wanita itu karena cemas.


"Eh eh Fritzy, tuh kan kamu mual lagi. Kamu itu sakit, kamu harus diperiksa di rumah sakit Fritzy!" ucap Alden.


"Aku gapapa Alden, kamu kenapa sih cemas banget kayak gitu?!" sentak Fritzy.




Singkat cerita, Fritzy telah berada di rumah sakit bersama Alden yang mengantarnya. Wanita itu baru selesai diperiksa oleh dokter dan masih dalam keadaan lemas saat ini, betapa terkejutnya dokter itu setelah ia mengetahui apa yang terjadi dengan tubuh Fritzy yang lemas itu.


Sang dokter pun menghampiri Fritzy serta Alden yang masih berada disana, tampak Fritzy juga belum bisa terlalu banyak bergerak karena tubuhnya yang lemas, sehingga ia hanya berbaring di atas ranjang. Sedangkan Alden duduk di sampingnya dan terus mengusap wajahnya.


"Permisi mas, mbak!" ucap dokter itu menegur keduanya.


Sontak Alden menoleh ke arah dokter itu, "Eh iya dok, gimana sama kondisi teman saya ini? Dia sakit apa dok?" ujarnya penasaran.


"Eee kondisi mbak Fritzy baik-baik saja kok, dia tidak sakit atau apapun itu," jawab dokter itu.

__ADS_1


"Loh kok gitu sih dok? Terus kenapa tadi dia mual-mual dan pucat banget?" tanya Alden.


"Itu bukan karena sakit, jadi masnya tidak perlu khawatir berlebihan ya. Oh ya, omong-omong dimana suaminya mbak Fritzy ya?" ucap dokter itu.


Tentu saja Alden dan Fritzy kompak terkejut, "Suami? Maksud dokter apa ya? Teman saya ini belum menikah dok," ucapnya.


"Belum menikah? Tapi, dari hasil yang saya cek barusan mbak Fritzy ini sedang mengandung anak usia dua Minggu loh mas," ucap dokter itu.


"Apa??" Alden terkejut bukan main mendengarnya, begitu juga dengan Fritzy.


"Gak mungkin dok, teman saya gak mungkin hamil. Dia masih single dok, dia belum menikah. Gimana caranya dia bisa hamil coba?" ujar Alden.


"Iya dok, dokter pasti salah lihat. Masa iya saya hamil sih dok?" ucap Fritzy.


Dokter itu tersenyum mendekati mereka, "Ini silahkan kalian lihat sendiri hasil tes medis yang baru saja saya lakukan, disini semuanya tertera apa yang terjadi pada mbak Fritzy!" ucapnya.


Fritzy langsung mengambil kertas yang diberikan dokter itu, ia membukanya dan membacanya dengan seksama. Fritzy melongok tak percaya, ternyata semua yang dikatakan dokter itu memang benar adanya. Fritzy tampak tak percaya sehingga ia reflek menutupi mulutnya, begitu juga dengan Alden yang ada di sebelahnya.


"Fritzy, ini bener loh katanya kamu hamil udah dua Minggu. Kok bisa sih Fritzy? Siapa ayahnya?" tanya Alden penasaran.


Fritzy menggeleng pelan, "Aku juga gak tahu Alden, a-aku belum pernah ngelakuin yang kayak gitu kok selama ini. Kamu percaya kan sama aku? Gak mungkin aku begituan di luar nikah," ucapnya.


"Kamu gausah bohong Fritzy, ini buktinya udah ada loh. Kamu ngaku aja deh dan kasih tau siapa yang lakuin ini ke kamu!" ucap Alden.


"Aku udah jujur Al, aku emang gak pernah ngelakuin itu sama siapapun. Masa kamu gak percaya sih sama aku?" ucap Fritzy.


"Gimana aku bisa percaya Fritzy? Ini udah ada buktinya loh dari dokter, kamu hamil. Gimana bisa kamu hamil kalau kamu gak ngelakuin hal yang kayak gitu? Udah lah, kamu jujur aja sama aku Fritzy!" ucap Alden tegas.


"Terserah kamu lah Al, aku capek bicara sama kamu!" ucap Fritzy kesal.


Fritzy langsung memalingkan wajahnya dan seketika tetesan air mata keluar membasahi pipinya, ia masih tak percaya dengan semua ini dan tak tahu harus apa selanjutnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2