Jerat Cinta Sang Mafia

Jerat Cinta Sang Mafia
Bab 62. Mantan memang menggairahkan


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 2


Mantan memang menggairahkan




Keduanya pun sama-sama penasaran, lalu dengan perlahan Queen melangkah ke dekat pintu untuk mengetahui siapa yang datang.


Ceklek


Queen membuka pintu, dan matanya langsung terbelalak begitu melihat Aqila alias sang ibu dari Jeevan berdiri di depan sana. Tentu saja Queen tampak sangat terkejut, ia tak percaya jika Aqila lah yang datang dan marah-marah di depan ruangan papanya dirawat.


"Ta-tante Aqila? Ada apa ya tante datang kesini? Terus kenapa tante harus teriak-teriak juga? Ini rumah sakit loh tan, kasihan nanti pasien pada keganggu," ucap Queen.


"Benar kan dugaan saya? Ternyata Jeevan memang datang kesini buat temuin kamu dan papa kamu yang penyakitan itu. Cepat katakan ke saya, dimana Jeevan!" sentak Aqila.


"Tante bicara apa sih? Kalau tante gak bisa tenang, mending tante pergi aja deh! Aku gak mau papaku jadi terganggu," ujar Queen.


"Kamu itu ya benar-benar ngeselin, saya cuma minta kamu kasih tau saya dimana Jeevan, cepat kamu panggilkan dia!" ucap Aqila.


"Jadi tante kesini mau ketemu sama Jeevan anak tante yang mesum itu? Okay, aku bakal panggil dia sekarang. Tapi, tante diam disini dan jangan ikut masuk!" ucap Queen.


"Terserah, yang penting kamu cepat panggil dia karena saya mau ketemu sama dia!" suruh Aqila.


"Iya tante, sabar ya?" ujar Queen.


Aqila hanya mengangguk pelan, Queen pun kembali ke dalam kamar rawat itu meninggalkan Aqila disana tanpa menutup pintu dengan rapat. Queen langsung menemui Jeevan yang masih terpaku di tempatnya sembari mengusap wajahnya.


"Jev!" panggil Queen, seketika Jeevan terkejut lalu menoleh ke arahnya.


"Ah Queen, gimana? Siapa yang datang di depan?" tanya Jeevan penasaran.


"Mama kamu, dia minta ketemu sama kamu. Sana gih kamu keluar temui dia!" jawab Queen santai.


"Apa??" Jeevan tersentak kaget.


"Iya Jev, mama kamu itu ada di depan. Buruan deh kamu keluar dan ketemu sama dia, sebelum dia teriak-teriak lagi terus ganggu papa!" ucap Queen.


"Queen, kamu bilang kalau aku ada disini?" tanya Jeevan tampak panik.


"Iya, emang kenapa? Kan emang bener kamu disini," jawab Queen santai.


"Aduh Queen! Kamu gimana sih? Harusnya kamu jangan kasih tau kalau aku ada disini! Pasti mama bakal marah besar sama aku," ujar Jeevan.


"Salah sendiri kamu pergi gak izin dulu sama mama kamu, jadinya begini kan? Makanya lain kali tuh izin Jev!" ucap Queen.


"Ya aku kan mau ketemu kamu Queen, pasti gak bakal diizinin lah," ucap Jeevan.


"Terus sekarang gimana? Kamu gak mau temui mama kamu gitu?" tanya Queen.


"Eee aku takut aja sayang, mending kamu yang temui mama aku dan bilang kalau aku tuh gak ada disini!" suruh Jeevan.


Queen menggeleng, "Apaan sih? Mana bisa coba kayak gitu? Aku kan udah terlanjur bilang kamu ada disini," ucapnya.


"Bisa kok, udah kamu bilang aja kayak gitu ke mama!" ujar Jeevan.


"Gak mau, pokoknya aku gak mau bohong yang nantinya bakal ngeribetin aku sendiri!" tegas Queen.


"Aduh!" Jeevan pun gelisah dan menepuk dahinya memikirkan cara untuk bisa lepas dari amarah sang mama.


Namun, mereka dikejutkan dengan pintu yang didorong dan terbuka lebar. Disana lah sosok Aqila berada, wanita itu memaksa masuk dan meneriaki nama putranya yang membuat kedua orang itu terkejut bukan main.


Braakk


"Jeevan! Kamu benar-benar kelewatan!" teriak Aqila dipenuhi emosi.


Jeevan pun hanya bisa menunduk pasrah sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, sedangkan Queen tampak panik khawatir kalau papanya akan terganggu akibat teriakan Aqila.




Aulia hanya mengangguk disertai senyum manisnya, jujur ia pun senang berbincang dengan lelaki tampan seperti Victor. Namun, Nina yang ada di sebelahnya tentu merasa heran melihat kedekatan antara Aulia dan Victor. Pasalnya Nina belum pernah melihat lelaki itu sebelumnya.

__ADS_1


"Eh eh Aul, lu ngobrol sama siapa sih? Gue perasaan baru kali ini lihat tuh cowok, lu temuin dimana dia?" tanya Nina pada Aulia dengan sedikit berbisik.


"Dia namanya Victor, gue juga baru ketemu beberapa kali kok sama dia. Emang kenapa lu tanya begitu soal dia?" jawab Aulia.


"Ya gapapa, gue penasaran aja. Terus Victor ini ada urusan apa sama lu?" tanya Nina lagi.


"Hadeh, lu tanya aja langsung sama orangnya tuh! Gue males kalo harus jelasin ke lu," suruh Aulia.


"Ih lu mah gitu, gue kan belum kenal sama dia. Malu atuh kalau gue tanya ke dia langsung," ujar Nina.


"Gapapa Nina, kenalan makanya sama Victor!" ucap Aulia.


Nina pun beralih menatap pria di depannya, dan Victor yang melihat itu hanya tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya. Perlahan Nina memberanikan diri untuk menyapa pria itu, meski di dalam hatinya ia sangat gugup.


"Ha-halo! Gue Nina, salam kenal ya?" ucap Nina.


"Ya Nina, saya Victor. Kamu ini pasti temannya Aulia kan?" tebak Victor.


"Betul banget, gue sama Aulia udah temenan dari lama. Kita itu sahabat sejati," ucap Nina bangga.


"Baguslah, saya senang dengarnya," ujar Victor.


"Terus gue mau tanya dong, lu ada urusan apa sama sohib gue ini?" tanya Nina.


"Teman kamu ini adik saya yang lama hilang dan sedang saya cari," jawab Victor santai.


"Hah??" Nina langsung menganga lebar terkejut bukan main setelah mendengar jawaban pria itu.


Gadis itu pun beralih menatap wajah Aulia, seolah meminta penjelasan darinya terkait perkataan yang dilontarkan Victor. Tentunya Nina masih tak percaya jika Victor adalah kakak dari Aulia, padahal selama ini Aulia tidak pernah bercerita kalau dia memiliki seorang kakak yang tampan.


"Aul, seriusan yang dibilang si Victor ini? Emang dia kakak lu?" tanya Nina penasaran.


"Enggak Nin, itu baru dugaan dia aja. Gue masih belum yakin kalau dia saudara gue," jawab Aulia.


"Tapi saya yang yakin kalau kamu emang adik saya, Aulia. Saya juga yakin dugaan saya ini gak salah, karena kamu memang adik yang selama ini saya cari-cari," sela Victor.


"Iya Vic, tapi kan kamu belum ada bukti yang menunjukkan kalau aku emang adik kamu. Jadi, wajar dong kalau aku belum percaya?" ucap Aulia.


"Untuk kali ini gapapa, nanti aku akan cari bukti yang kuat supaya kamu percaya kalau kamu itu adik aku. Sekarang kamu mau kan ikut sama aku sebentar aja?" ucap Victor.


Victor hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu Aulia pun tersenyum dan berjalan ke dekat Victor untuk ikut bersama pria itu. Namun, tiba-tiba Nina menahan tangan Aulia seolah tak membiarkan gadis itu untuk pergi meninggalkannya.


"Ih Aul, lu mau kemana sih? Masa gue ditinggal gitu aja? Gak solid banget lu jadi kawan!" protes Nina.


"Eee..." Aulia pun terlihat bingung.




Ariana hendak bangkit, namun rasa nyeri di bagian bawahnya membuat ia sulit untuk bangun. Erick pun tersenyum menyeringai, dengan begitu pasti Ariana tidak akan pergi meninggalkannya. Erick menjadikan hal itu kesempatan untuk bisa mendapatkan jatahnya kembali pagi ini.


"Awhh kok sakit banget sih? Badanku rasanya remuk semua, udah kayak waktu pertama diperawanin sama kamu!" keluh Ariana.


"Nah kan, udah mending kamu disini aja sama saya Ariana! Kita lanjut main lagi kayak semalam, tapi kali ini saya lebih lembut deh!" ujar Erick.


"Ish, yaudah deh aku mau." Ariana pun akhirnya menyetujui keinginan Erick, yang tentu saja disambut dengan kebahagiaan pria itu.


Tanpa berlama-lama, Erick langsung saja menindih tubuh Ariana dan mencumbu tiap inci wajahnya. Namun, disaat ia hendak melangkah lebih jauh, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk dari luar dan membuat ia sangat jengah.


TOK TOK TOK...


"Stop dulu mas! Tuh denger kan ada yang ketuk kamar kamu?" ucap Ariana.


"Aaarrrgghhh ganggu aja sih tuh orang! Gak tahu apa aku udah tegang banget?!" geram Erick.


Ariana hanya menggeleng melihat tingkah Erick, kemudian pria itu pun bangkit dari tubuh Ariana dan meraih celananya sebelum berjalan menuju ke pintu. Sedangkan Ariana masih terbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuh polosnya.


Erick membuka pintu dengan ekspresi kesal, menatap sang asisten yang datang bersama seorang wanita di sebelahnya. Tentu Erick menatap kebingungan, ia tak mengerti mengapa Arlot membawa perempuan tersebut ke hotelnya.


"Ada apa sih Arlot? Terus siapa perempuan ini? Pacar kamu?" tanya Erick terheran-heran.


"Bu-bukan mister, ini kan wanita yang mister minta kemarin. Maaf mister, saya baru bisa temukan wanita yang sesuai kriteria mister sekarang. Soalnya sulit sekali mister," jawab Arlot.


"Hah? Maksud kamu, wanita ini yang kamu bayar untuk puasin saya?" tanya Erick memastikan.

__ADS_1


"Benar mister, bagaimana? Apa mister tertarik dan ingin bermain dengan dia?" ujar Arlot.


Erick langsung menggeleng cepat, "Saya gak mau, lihatnya aja saya gak bergairah. Kamu aja yang pake dia!" ucapnya.


"Ta-tapi mister..."


"Sudahlah, kamu pergi sana dan jangan ganggu saya lagi kalau tidak ada hal yang penting!" potong Erick.


Braakk


Erick mundur dan menutup pintu dengan keras, sehingga Arlot sampai memejamkan mata sangking kagetnya. Erick yang sudah tak tahan, kembali menghampiri Ariana dan ingin segera menerjang tubuh indah mantannya itu.


"Mas, siapa yang datang?" tanya Ariana begitu Erick datang mendekatinya.


Mata Erick terbelalak, Ariana saat ini sudah mengenakan kembali pakaiannya. Tentu Erick tak suka dengan itu, ia langsung mendekat dan merobek baju yang dikenakan wanita itu. Ariana langsung terkejut bukan main, baju kesayangannya itu dirobek begitu saja oleh Erick.


Sreekk


"Ih mas, kamu apa-apaan sih? Kenapa baju aku dirobek? Ini baju kesayangan aku tau, kamu benar-benar bikin emosi ya mas!" protes Ariana.


"Sssttt diam kamu Ariana! Aku kan minta kamu tunggu, kenapa kamu malah pakai baju kamu? Aku masih belum puas, aku mau main lagi sama kamu!" ujar Erick.


"Aku gak bisa, aku ada urusan penting. Udah ah kamu jangan maksa!" tolak Ariana.


Namun, Erick tetaplah Erick. Pria itu menangkap tubuh Ariana dan membawanya ke ranjang, mereka pun kembali beradu kenikmatan disana.




Dinda berniat pergi ke luar untuk membeli sesuatu, namun Reza sang pengawal di rumah itu mencegahnya. Dinda pun terpaksa berhenti sejenak untuk meladeni pria tersebut, meski ia sedikit kesal lantaran ia sudah ingin pergi. Sedangkan Reza berdiri di hadapannya dengan wajah bingung.


"Tunggu nona, nona Dinda mau kemana? Bukannya nona Queen sudah bilang, sebaiknya nona Dinda di rumah saja dan jangan kemana-mana!" ujar Reza.


"Gue mau keluar sebentar, ada sesuatu yang harus gue beli. Lu gak perlu khawatir, gue bisa jaga diri kok. Lagian nanti kalo udah selesai juga gue bakal balik lagi kok," ucap Dinda.


"Maaf non, tapi sebaiknya nona di rumah saja. Biar saya nanti yang belikan sesuatu itu untuk nona, non tinggal bilang aja apa yang mau nona beli!" ucap Reza.


"Gue pergi sendiri aja, gue gak enak lah kalo nyuruh lu. Udah deh lu gausah terlalu lebay gitu!" ujar Dinda.


"Gapapa nona, biar saya aja yang belikan barang itu untuk nona. Memangnya nona lagi mau beli apa?" ucap Reza.


"Reza, lu susah amat sih dikasih tau. Gue udah bilang gue mau pergi sendiri, jangan maksa deh!" kesal Dinda.


"Saya hanya mau menjalankan perintah dari nona Queen, nona." ucap Reza kekeuh.


"Ya gue tahu, tapi disini kan gak ada Queen. Jadi, gue bisa pergi tanpa diketahui sama dia. Lagian gue cuma pergi sebentar kok," ucap Dinda.


"Eee gimana kalau kita pergi berdua aja nona? Biar saya bisa pastikan kalau nona baik-baik saja, toh nona tetap pergi juga ya kan?" usul Reza.


"Bener juga sih, yaudah boleh deh gue pake usul lu itu. Kita pergi berdua, dan lu yang setirin gue ke minimarket dekat sini!" ucap Dinda.


"Baik nona, mari kita pergi sekarang!" ajak Reza.


Dinda mengangguk kecil sambil tersenyum tipis, lalu melangkah bersama Reza ke luar dari rumah. Dinda sudah menyiapkan segalanya, hari ini ia ingin membeli barang yang lupa ia beli sebelumnya saat belanja bersama Queen. Sedangkan Reza juga tampak sangat siap untuk mengantar wanita itu.


Saat melaju ke luar dengan mobil yang dikendarai Reza, tiba-tiba saja Dinda justru melihat sosok Tom tengah berdiri di dekatnya dan seolah menghalangi laju mobil mereka. Tentu saja Dinda merasa jengkel dan tidak suka dengan keberadaan Tom disana, ini kesekian kalinya pria itu mengganggu hidupnya.


"Ish, ngapain sih tuh orang masih aja datang kesini? Gue heran deh, padahal gue udah usir dia berulang kali dan minta dia buat gak datang kesini!" geram Dinda dengan tangan terkepal.


"Sabar nona! Biar saya aja yang turun dan seret dia pergi dari rumah ini," ucap Reza.


"Ja-jangan!" Dinda malah mencegah Reza yang hendak turun menemui Tom.


"Loh kenapa nona? Bukannya nona tidak ingin bertemu dengan pria itu?" tanya Reza heran.


"Ya emang iya, tapi gausah diseret juga. Gue aja yang turun deh temuin dia, semoga aja dia bisa diajak bicara baik-baik!" jelas Dinda.


"Nona yakin?" tanya Reza ragu.


"Yakin lah, gue udah biasa kali bicara sama dia!" jawab Dinda mantap.


Akhirnya Dinda turun dari mobil dan melangkah mendekati Tom, tampak Tom langsung tersenyum lebar lalu turut berjalan ke arah Dinda.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2